
"Lalu dimana Kau menyembunyikan Dokter yang membantumu?"
Nora mengangkat wajahnya. Dia tersenyum geli mendengar pertanyaan Ersad.
"Dokter itu....
Dia sudah mati." Nora sedikit terkikik saat mengatakannya.
"Kau membunuhnya.... "
"Tidak... Tidak. Bukan aku yang membunuhnya," Nora menyela dengan menggeleng keras kepalanya.
"Lalu siapa?"
Nora kembali mengangkat wajahnya untuk mengatakan sesuatu. Namun sayangnya dia keburu pingsan, sehingga Ersad tidak begitu puas dengan informasi yang dia dapatkan.
"Sial... Benar-benar sial!" Ersad menggebrak mejanya.
Keadaan seperti ini membuatnya bertambah gusar. Nora wanita yang berbahaya. Dan sialnya dalam hal ini Ersad menyadari sesuatu. Ada lagi seseorang yang membantunya. Tapi siapa? pikirnya.
Kemudian pikirannya tertuju pada Hariz. Kecurigaannya sekarang tertuju pada pria itu. Karena Satu-satunya orang yang membencinya, hanyalah pria itu.
'Ya... Pasti dia pelakunya.
Brengsekk! Aku tidak akan mengampuninya lagi kali ini. Dia harus membayar semuanya," gumam Ersad dengan kemarahan yang nampak jelas diwajahnya.
*****
"Mas mau kemana?" Mia bertanya sedikit takut.
"Bukan urusanmu!" cetusnya.
"Biarkan aku ikut. Aku ingin bertemu Syma. Mas pasti mau kepanti, bukan?"
"Untuk apa? Untuk membuat keributan lagi disana?
Aku cukup muak dengan tingkahmu itu Mia. Aku malu memiliki istri sepertimu. Jika saja bukan karena Syma, mungkin aku sudah menceraikanmu."
Mia sudah terbiasa menerima setiap makian dari suaminya. Rasa sesak dan sakit hatinya tidak sebanding dengan rasa cintanya pada Revan. Mia tetap tegar dan bertahan meski Revan kerap kali mengacuhkannya.
__ADS_1
"Percayalah padaku Mas. Aku ingin memperbaiki semuanya." Mia merengkuh lengan Revan sembari memohon.
"Percaya?
Setelah semua yang kau lakukan. Bagaimana aku bisa mempercayaimu, Mia? Aku tidak tahu bagaimana aku akan bertahan tinggal satu atap dengan wanita mengerikan sepertimu. Aku bahkan tidak yakin bisa memenuhi permintaan Syma dengan mempertahankan rumah tangga kita," ucapnya dingin, Dan tajam.
Dan tanpa perasaan, Revan melepaskan tangan Mia dari lengannya dengan begitu kasar, hingga terhentak. Revan segera pergi tanpa memperdulikan Mia yang terluka karena sikapnya.
'Apa ini karma untukku? Sampai kapan Mas Revan akan bersikap dingin padaku. Aku tidak ingin dia membenciku seperti ini...
Aku pikir dengan bersikap jujur, Mas Revan akan memaafkanku, tapi ternyata aku salah.' Mia tersenyum pahit.
******
"Kau sudah bertindak terlalu jauh... " Ersad berucap pelan, namun terkesan dingin. Aura yang dia keluarkan begitu mengerikan.
Hariz merasakannya. Namun pria itu bersikap setenang mungkin.
"Apa maksud dari ucapanmu, saudaraku?" Hariz menatapnya polos, seakan tak pernah bermasalah dengan Ersad.
BUGH
Hariz mengelap darah disudut bibirnya, akibat pukulan Ersad. Sembari menatap Ersad dingin.
"Kau datang ketempat ku seenaknya dan menghajarku secara tiba-tiba. Apa kau tahu perbuatanmu ini bisa membawamu kejeruji besi!"
Ersad mendengus. "Kau yang lebih pantas masuk kedalam sana. Akibat perbuatanmu, Syma harus berada dalam bahaya. Keparat seeprtimu lebih pantas mati membusuk di bui..... " Sarkasnya. Mata Ersad berkilat penuh amarah dan dendam.
"Tuduhan tak mendasarmu itu hanyalah sia-sia. Kau menghakimi orang yang salah, sementara pelaku yang sebenarnya sedang berkeliaran diluar sana," jawab Hariz begitu dingin dan datar. Mendengar Ersad menyebutkan tentang Syma, emosi didalam diri Hariz tiba-tiba surut.
Entah mengapa, ada sesuatu didalam dirinya yang bergejolak ingin melindungi wanita itu. Padahal selama ini dia begitu membencinya. Bahkan Hariz sempat hampir mencelakainya.
"Kau pikir aku percaya dengan ucapanmu ! Selama ini kau membencinya, bukan? Begitu pula diriku. Kau membenci kami berdua, hingga kau bekerja sama dengan Nora untuk menghancurkan kami !
Kau memang Keparat busuk !!" Maki Ersad tiada hentinya. Namun Hariz tetap saja dengan tenang menghadapinya.
"Aku memang pernah membenci kalian... Aku tidak mengelak kenyataan itu. Aku juga pernah mencoba mencelakai Syma. Tapi bukan berarti dalam masalah kalian kali ini, aku juga pelakunya.
Pikiranmu terlalu pendek jika mengira akulah pelakunya. Jika aku ingin mencelakai Syma, kenapa tidak aku lakukan sejak kemarin malam? Saat dimana aku dan Syma hanya berdua. Bukankah itu peluang yang bagus untuk menghabisinya?" Hariz berdesis ketika mengatakannya.
__ADS_1
"Lalu siapa yang membunuh Dokter itu, jika bukan kau!"
Hariz diam sejenak dan hanyut didalam pikirannya.
"Pembunuhnya bukanlah orang sembarangan. Seseorang yang membantu Nora, dia pasti sudah merencanakan hal ini sejak awal. Herannya... Apa keuntungan orang itu membantu Nora? Jika karena uang, aku rasa Nora tidak begitu banyak uang. Dia hanya mengandalkan harta warisan dari orang tuanya."
"Meski begitu aku tetap tidak bisa mempercayaimu. Aku akan mengungkap semuanya. Dan ingatlah... Jika kau terbukti terlibat dalam urusan ini, maka aku benar-benar akan menghancurkanmu." Ersad berucap dengan ancaman yang kental. Sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.
*****
"Pria itu tidak bisa dipercaya. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu pada Nora. Semua ini harus diakhiri." Ersad menghentikan ucapannya dan menatap Kevin. "Kevin, aku butuh bantuanmu untuk menyekap Nora dan membuatnya bicara jujur. Tidak perduli bagaimanapun keadaannya nanti. Siapkan semuanya digudang minyak tanah. Aku akan menyekap Nora disana,"
Kevin terdiam ditempatnya. Tidak pernah dia melakukan hal se ekstem ini sebelumnya. Namun karena itu permintaan Ersad, mau tidak mau dia harus melakukannya. Meski tatapannya tak terbaca oleh siapapun, tentang apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
*****
Syma merasa ada yang berbeda dengannya hari ini. Dia tidak bisa fokus melakukan apapun kegiatannya. Padahal setelah masak dia ingin pergi kepanti. Namun karena kondisinya yang terasa pusing dan lemas membuat Syma sepertinya tidak bisa datang kesana.
Namun dia tetap berusaha untuk menyelesaikan masakannya.
Keningnya berkerut, ketika keanehan yang melandanya tidak sampai disitu saja. Syma merasa mual ketika mencium aroma masakkannya sendiri.
Cepat-cepat Syma mematikan kompor. Niatnya ingin menyelesaikan masakan, akhirnya pupus sudah. Dia sudah tidak kuat lagi. Keringat dingin menetes di sekujur tubuhnya. Wajahnya yang pucat pasi terlihat jelas.
"Ndaa? Apa Nda sakit?" Tanya Zea yang melihat Syma nampak kelelahan.
"Tidak sayang. Bunda hanya sedikit lelah,"
"Kalau begitu sebaiknya Nda istirahat dikamar. Apa perlu Ze ambilkan minum?"
"Tidak perlu sayang, terimakasih. Bunda akan istirahat saja dikamar."
Syma membaringkan tubuhnya. Entah mengapa semakin dia berbaring, maka tubuhnya semakin tidak enak. Perutnya semakin bergejolak.
'Apa aku kurang darah? Atau magh ku kambuh? Uh... Bahkan air liurku terasa tidak enak.' gumamnya sedikit gelisah.
TBC
AFF REAL
__ADS_1