TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 54: SIAPA TUA BANGKA?


__ADS_3

BRAKKK


Aina terjingkat kaget, saat seseorang menendang kasar kursi disebelahnya. Padahal mereka tahu bahwa saat itu Aina sedang makan siang dikantin sekolah. Vio segera membenahi makanan Aina yang sedikit tumpah dan mengotori meja.


"Jadi ini... Anak panti asuhan yang dibela oleh Pak Hariz? Cih, pantas saja sejak tadi aku mencium bau busuk!" ucap Leona sembari menatap jijik kearah Aina.


Aina diam saja. Dia lebih memilih meneruskan makannya dari pada harus menanggapi para pembully ini. Namun nampaknya, mereka semakin geram dengan sikap Aina yang biasa saja. Seolah tak terjadi apapun.


Padahal mereka tidak tahu, bahwa Aina sebenarnya sedang berperang melawan dirinya sendiri agar tidak terprovokasi oleh mereka. Namun apalah daya.


Kesabaran Aina nyaris habis saat mereka dengan sengaja menumpahkan segelas minuman keatas kepala Aina. Sontak hal itu membuat tubuh Aina basah dan lengket oleh minuman itu. Mereka juga sesekali menoyor kepala Aina.


Merasa telah puas membully Aina habis-habisan. Merekapun pergi dengan perasaan senang dan puas. Namun langkah mereka terhenti, saat mendengar suara keras dari Aina.


"HEY!"


'Ya Tuhan, perasaanku tidak enak jika Aina sudah marah,' gumam Vio bergetar ketakutan.


Aina mendekati mereka dengan langkah tegasnya.


Membuat Leona sang ketua dari geng itu melipat tangannya didada dan menatap Aina dengan angkuh.


Tanpa banyak bicara, Aina langsung menerjang Leona dengan sekuat tenaganya. Membuat Leona tersungkur dibawah meja sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.


Teman-teman Leona mendekati Aina untuk mengeroyoknya. Namun dengan sigapnya Aina menahan tangan mereka satu persatu dan mendorongnya. Aina juga sempat memukuli anak buah Leona sampai babak belur.


Leona sudah mulai ketakutan melihat Aina yang kembali mendekatinya. Apalagi ditangan Aina kini memegang sebuah botol yang berisi minuman berwarna.


Saat Aina sudah berdiri didepan Leona. Dia menyiramkan minuman itu seperti yang dilakukan oleh Leona padanya sebelumnya. Aina juga menoyor kepala Leona sepuluh kali lipat dari yang dilakukan oleh Leona padanya. Setiap yang Leona lakukan padanya dia membalasnya dengan berkali-kali lipat. Sehingga bukan hanya sakit yang Leona dan temannya rasakan. Tapi juga malu.


"Kalian anak orang kaya. Tapi kelakuan kalian seperti anak brandalan. Apa yang membuat kalian begitu senang, setelah membully anak orang?


Asal kalian tahu....


Aku lebih bersyukur dibesarkan di panti asuhan. Tapi orang tua asuhku merawat dan mendidikku dengan baik dan benar. Tidak seperti kalian para orang kaya. Orang tua kalian pasti sibuk mencari uang, tanpa tahu bagaimana kelakuan anak mereka diluar.

__ADS_1


Kalian hanya sampah tidak berguna!" Aina menendang tubuh Leona sebelum meninggalkannya.


"Aina kau keren.... " Vio mengacungkan jempolnya untuk memuji Aina.


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Tapi meski begitu... Sekolah ini tidak akan menjunjung tinggi kebenaran. Mereka tidak mungkin membelaku meski aku ini benar sekalipun. Karena prinsip mereka yang kaya yang berkuasa. Mau benar atau salah asal orang itu kaya, maka dia tidak boleh disalahkan."


"Tenang saja Aina. Aku rasa kali ini akan ada yang membelamu," ucap Vio yang membuat Aina sedikit bingung.


"Siapa?"


"Pak Hariz."


Aina memutar bola matanya. "Dia tidak akan membelaku terus. Dia memang pernah membelaku. Tapi aku rasa... Itu hanya sebagai bentuk terimakasihnya padaku. Karena aku pernah menghiburnya dari keterpurukan. Kau tahu kan... Pak Hariz sedang patah hati dengan Kak Syma. Jadi aku menghiburnya.


Sebab itulah dia membelaku."


"Oh ya? Tapi kenapa aku merasa ada yang aneh dari caranya menatapmu. Seperti..... "


"Cukup Vio. Buang semua pikiran kotormu. Dan berhenti membicarakan pria itu."


"Memangnya kenapa? Apa kau mulai suka padanya?"


"Siapa yang kau sebut tua bangka?"


Aina langsung kaget saat orang yang mereka bicarakan tiba-tiba sudah ada di belakang mereka. 'Kau dalam bahaya Aina. Aku tidak mau ikut campur. Sebaiknya aku pergi dulu... '


"Hey.... Kau mau kemana? Dasar teman sialan! Tidak berguna."


*****


Ting


Ersad mengalihkan perhatiannya pada ponsel Syma yang tiba-tiba berbunyi. Lalu menatap kearah kamar mandi, dimana Syma masih sibuk dengan ritualnya.


Ersad tidak ingin membuka privasi Syma. Jadi dia menunggu wanita itu keluar baru memberitahunya.

__ADS_1


Namun suara dentingan lagi-lagi terdengar. Kali ini cukup mengganggu pikiran Ersad dan menimbulkan rasa penasaran didalam dirinya.


Tanpa ragu lagi, Ersad mengambil ponsel Syma dan membuka isi pesan tersebut.


Betapa terkejutnya dia ketika melihat potonya sendiri sedang berada di sebuah klab bersama seorang wanita.


Bukan hanya satu poto yang dikirim. Tapi ada beberapa. Satu hal yang Ersad sadari, bahwa poto yang lainnya sudah sempat dibuka oleh Syma. 'Itu artinya Syma sudah melihatnya. Tapi kenapa wanita itu terlihat biasa saja. Sepertinya ada yang ingin merusak kebahagiaan kami,' batin Ersad.


"Mas?" Syma menatap suaminya bingung, karena sedang memegang ponselnya.


Ersad mengangkat wajahnya dan menatapnya. Kemudian perlahan mendekati istrinya itu.


"Ada yang mengirimimu poto."


Syma terkejut mendengarnya. Namun dia mencoba acuh. "Biarkan saja," sautnya sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.


"Kenapa? Kau percaya dengan poto ini? Kau tidak ingin bertanya atau meminta penjelasan dariku?" Ersad semakin mendekatinya dan semakin dekat. Hingga Syma sedikit mundur, namun Ersad menahannya.


"Untuk apa? Kalaupun yang difoto itu benar adanya. Itu urusanmu dengan Allah. Urusanku sebagai istrimu sudah kulakukan. Jika Mas berkhianat, silahkan pertanggung jawabkan sendiri nanti diakhirat."


Ersad menarik sedikit sudut bibirnya. Tangannya meraih pinggang sangat istri sehingga tubuh mereka menempel sempurna. "Kalau begitu mari kita selesaikan. Aku tidak ingin istriku ini salah paham. Akan aku ceritakan agar hatimu merasa tenang. Karena aku tahu, mulut seorang wanita terkadang tidak sesuai dengan isi hatinya.


Mereka bisa mengatakan seolah tak perduli. Padahal sebenarnya mereka peduli dan rasa ingin tahu yang begitu tinggi. Dan akhirnya mereka akan memilih diam sembari meratapi nasib dan menangis setiap malam dipojokkan kamar dengan pikiran negatif yang melayang kemana-mana, benar kan?"


"Itu berlebihan, Mas. Kami para wanita tidak seperti itu," ucap Syma mengulum senyumnya. Padahal yang dikatakan Ersad memang benar adanya. Hanya saja caranya bicara terlalu dilebih-lebihkan.


"Benarkah? Baiklah kalau begitu aku tidak perlu menjelaskan."


"Tapi Mas sudah bilang ingin menjelaskan! Kenapa tidak jadi?" rajuknya.


"Bukankah tadi kau bilang bahwa itu urusanku dengan Allah. Kalau begitu aku bicaranya pada Allah saja."


"Tidak bisa seperti itu. Akukan istrimu, aku berhak tahu semua urusanmu!" rengek Syma menahan tangan suaminya.


Ersad terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


Sekarang dia paham kenapa wanita sangat sulit dimengerti, sementara mereka selalu memaksa untuk selalu dimengerti.


Sebab itulah dia memilih untuk menjelaskan daripada menimbukan masalah baru dikemudian hari.


__ADS_2