
Mia duduk dengan gelisah. Meski Mia telah membuang wajahnya, namun entah mengapa dia bisa merasakan bahwa mata tajam itu masih mengarah padanya.
Mia berusaha menguasai dirinya, agar tetap terlihat tenang dan elegan.
"Sebenarnya ini pesta kecil untuk merayakan kemenangan kami. Aku berhasil membuat sepupu kesayanganku terbebas dari masalah besarnya. Dan aku akan memperkenalkan kalian padanya. Dialah Revan... "
Deg
Jantung Mia berdetak kencang. Apalagi saat Revan berdiri dan sedikit membungkukan badanya. Namun tatapannya masih mengarah pada Mia. Karena rasa tidak enak, Mia juga ikut bertepuk tangan seperti yang lainnya.
"Tidak sia-sia aku memiliki sepupu sepertimu, Azkhan. Terimakasih banyak untuk itu."
"Tidak masalah. Bagiku keluarga adalah hal yang penting. Tidak akan aku biarkan keluargaku hancur. Akan aku bawa dia bangkit kembali meraih kesuksesannya."
"Mia!"
Mia mengangkat wajahnya, saat ada yang memanggil namanya. Dan orang itu adalah Azkhan.
"Kemarilah," perintahnya yang tidak ingin ditolak. Dengan senyuman manisnya, Azkhan ingin memperkenalkan Mia dengan sepupunya.
Mia menelan ludahnya. Hal yang sangat tidak dia inginkan rupanya terjadi. Satu-satunya hal yang sejak tadi dia hindari rupanya mendekat dengan sendirinya.
Jika sudah begini, apa yang harus dia lakukan?
Karena semua mata tertuju padanya, Mau tidak mau Mia bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Azkhan dan juga Revan.
"Revan, ini adalah wanita yang sering aku bicarakan padamu. Dialah Mia," ucap Azkhan dengan bangganya. Revan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Pria itu saat ini sedang menahan geramannya. Wanita yang kini masih menjadi istrinya telah berani-beraninya bermain api disaat dia sedang terpuruk didalam penjara. Lalu tatapan Revan mengarah pada Zico. Bocah kecil yang sedang sibuk dengan makanannya. Dia sangat yakin, bahwa Zico adalah anak dari hasil perselingkuhannya dengan Azkhan.
Hal itu membuat Revan menggertakkan giginya. Ekspresinya mengeras. Namun sebisa mungkin dia menguasai dirinya.
Sementara Mia hanya tersenyum canggung. Entah bagaimana dia menghadapi ini, yang jelas Revan benar-benar membuatnya takut.
__ADS_1
"Hai, Mia. Aku Revan. Lelaki yang baru saja keluar dari tahanan. Ditinggalkan dengan keji oleh istri pembangkang." Revan sengaja menekankan ucapannya. Membuat bulu kuduk Mia berdiri. Apa yang dia maksud dengan wanita keji? apa dia masih belum sadar kenapa Mia sampai meninggalkannya?
"Aku Sonia Mia. Panggil saja Mia."
Sejenak, mereka saling menatap dalam kebencian. Sampai akhirnya suara seorang wanita paruh baya membuyarkan mereka.
"Apa-apaan ini! kenapa wanita ini datang lagi!!"
Mereka semua menoleh ke sumber suara yang mana merupakan berasal dari ibunya Azkhan. Melihat gelagat Esme yang akan membuat Mia merasa tidak nyaman, cepat-cepat Azkhan membawa Esme sedikit lebih menjauh dari mereka. Agar Mia tidak perlu mendengar ucapan Esme yang akan menyakitinya.
"Mia adalah temanku, dia tamu penting disini. Tolong sedikit saja Bu, jangan membuat malu didepan temanku." Azkhan mendekati ibunya dan berbicara lembut. Namun karena kebencian Esme pada Mia, hal itu tidak membuatnya berhenti.
"Malu? Ibu yang seharusnya malu, Azkhan! wanita seperti itu sangat berbahaya. Dia pasti akan menjeratmu menggunakan anak haramnya. Ibu tidak ingin nama keluarga besar kita tercoreng hanya karena seorang janda!"
"Jangan bicara seperti itu, Bu. Zico sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Dan Mia... seorang janda bukanlah aib bagi keluarga. Dia wanita baik-baik."
"Seorang janda memang bukanlah aib. Tapi mereka adalah penggoda licik yang akan menjerat mangsanya menggunakan anak haram mereka. Bukankah itu sangat menjijikan, Azkhan. Buka matamu lebar-lebar!!" kali ini Esme sengaja mengeraskan suaranya agar Mia mendengar.
Mia bisa mendengar jelas, meski jarak mereka sedikit jauh. Mia hanya menunduk malu. Dia sangat ingin sekali membantah setiap ucapan Esme. Namun dia tidak ingin itu terjadi karena jika dia sudah bicara, maka mulutnya tidak akan berhenti. Mia takut ucapannya akan menyakiti orang lain.
Sebab itulah Mia memilih pergi.
Dengan membawa Zico bersamanya.
"Ayo Zico, kita pulang sekarang. Pestanya sudah selesai."
"Tunggu Mia! aku akan-"
"Jangan coba-coba untuk mengantarnya pulang!" Esme berteriak keras. Membuat langkah Azkhan terhenti.
Hal itu membuat Revan menyeringai. Dalam keadaan ini, dia punya kesempatan untuk mengintimidasi Mia.
__ADS_1
"Sudahlah Azkhan. Biar aku saja yang mengantarnya pulang. Lagi pula sekalian aku juga harus pulang. Sebaiknya kau tenangkan dulu Ibumu." Revan menawarkan diri seolah dia adalah penengah masalah.
Mia mengangkat wajahnya. Menatap Azkhan penuh permohonan. Berharap pria itu tidak mengijinkan. Namun apalah daya, harapannya tidak juga terkabul.
"Baiklah, Revan. Aku percayakan mereka padamu. Dan lagi, ingat tujuanmu untuk mencari istrimu. Jangan sampai pesona Mia membuatmu lupa," ucap Azkhan sedikit bergurau. Namun hal itu tidak membuat Revan tersenyum sedikitpun. Matanya melirik Mia yang masih tertunduk.
"Kau tenang saja, Azkhan. Aku tidak akan pernah berpaling dari istriku. Aku benar-benar akan membuat pelajaran padanya nanti. Dia akan menyesali perbuatannya." Lagi-lagi Mia dibuat khawatir olehnya. Dengan sigap, wanita itu mengangkat tangannya agar Azkhan tidak perlu membiarkan Revan mengantarnya pulang.
"Tidak perlu repot. Aku bisa pulang sendiri."
"Ah, tidak perlu sungkan Mia. Ini sudah malam. Bukan kau yang aku khawatirkan, melainkan putra kalian berdua. Lihatlah dia sudah sangat kelelahan." Revan menunjuk Zico yang kini sudah terlelap digendongan Mia.
Kini tidak ada pilihan lagi.
Mia tidak punya alasan lagi untuk menolak. Dan dengan sangat terpaksa akhirnya dia kembali terjebak dalam situasi rumit saat bersama Revan. Pria itu pasti akan mengintimidasinya. Menyudutkan dengan kata-kata sarkas tanpa peduli perasaanya. Dan sudah saatnya Mia harus menghadapi hal itu.
Mereka berdua berjalan keluar. Tentu saja Mia merasa khawatir. Bagaimana jika Revan mengetahui siapa itu Zico? bagaimana jika Revan tahu bahwa Zico adalah putranya. Bagaimana jika nanti Revan akan merebut Zico darinya. Sungguh Mia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
Zico adalah dunianya saat ini. Dan bocah kecil itu merupakan kekuatan sekaligus kelemahannya. Jangan sampai Revan menyerangnya menggunakan hal itu.
Revan memberi isyarat pada Mia agar masuk kedalam mobilnya. Mia memilih tempat duduk dibelakang. Namun Revan menolak, dan memaksa wanita itu untuk duduk didepan. Sementara Membaringkan Zico duduk dibelakang. Mia tidak berdaya. Sebaiknya dia turuti saja keinginan pria itu sebelum Revan mengamuk padanya. Karena saat ini tidak akan ada yang bisa menyelamatkan Mia dari situasi ini.
"Lama tak jumpa, istriku!" Revan mulai bersuara. Sementara Mia mendengus memilih tak menanggapi ucapan Revan.
"Rupanya kau bersenang-senang dan menjadikan sepupuku sebagai mangsa. Pintar sekali! rupanya kau bertahan hidup dengan cara yang menjijikan. Sementara suamimu menderita didalam penjara, Apa kau tidak malu dengan perbuatanmu, Huh!!"
Lagi-lagi Mia bungkam. Baginya menanggapi ucapan Revan hanyalah sebuah petaka untuknya. Mau dia jelaskan seperti apapun, Revan tidak akan percaya.
Keterdiaman Mia membuat Revan kesal. Sampai menepikan mobilnya. Dan berhenti dipinggir jalan yang begitu sepi.
"Kenapa diam? BICARALAH!!"
__ADS_1