
"Itu hanya pertemuan bisnis. Dia wanita asal Eropa. Kami hanya membicarakan bisnis dan disana juga bukan hanya ada kami berdua, Tapi berlima. Saat itu memang posisinya wanita itu sedang duduk disebelahku, bukan karena kami memiliki hubungan khusus. Hanya saja mereka sudah terbiasa bercengkrama dengan lawan jenis sedekat itu."
Syma merubah ekspresi wajahnya. Kini matanya berkilat tajam. Nampak jelas kecemburuan diraut wajahnya.
"Ya. Dan karena Mas nya juga gatel, jadi sekalian mumpung ada kesempatan. Karena kalau Mas tidak mau, pasti Mas akan memilih tempat duduk lain. Dan lagi... Pertemuan bisnis, kenapa harus ditempat seperti itu. Masih banyak tempat lain seperti Cafe atau apalah. Memangnya Mas bisa denger, kalau bicara sama orang disanakan dentuman musiknya keras?"
Ersad mengangkat sebelah alisnya. Dia mengulum senyum saat tahu istrinya tengah cemburu. "Benar juga ya? Kenapa aku tidak memilih tempat duduk lain. Padahal jika aku duduk ditempat lain, mungkin wanita yang ada disana bisa-bisa duduk dipangkuanku, karena merasa aku tidak datang bersama siapapun."
"Apa?" Kini Syma sadar kenapa Ersad tidak beralih ketempat duduk lain. Bahkan tanpa perlu menjelaskan Syma sudah paham. Sebab itulah dia menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Kau tahu Syma. Sejak kau masuk kedalam hidupku. Banyak hal yang berubah. Aku sendiri bingung, kenapa aku bisa berubah sejauh ini. Apalagi sejak kematian Erika. Dulu hal seperti itu sangatlah biasa bagiku. Bergonta-ganti pasangan tanpa rasa berdosa sama sekali.
Tapi sekarang....
Meski Allah menghalalkan seorang lelaki untuk menikah lebih dari satu kali. Tapi aku tidak akan melakukan hal itu padamu. Aku tetap akan memilihmu sebagai satu-satunya istriku.
Bukan karena aku takut padamu.
Tapi karena aku takut tidak akan mampu berlaku adil. Dan besarnya tanggung jawab diakhirat nanti."
Ucapan Ersad seolah merupakan puisi yang indah ketika didengar oleh telinganya. Begitu merdu sampai masuk kedalam hatinya. Istri mana yang tidak bahagia mendengar penuturan seperti itu dari suaminya.
Seulas senyum terbit diwajah Syma. Dan tiba-tiba saja, dia merasakan tubuhnya diangkat oleh Ersad dan didudukkan diatas meja. Secara refleks Syma mengalungkan tangannya dileher suaminya itu sebagai pegangan.
"Hari ini jangan kemana-mana... "
"Kenapa?"
"Aku akan mengajak kalian kesuatu tempat."
"Kemana?"
"Kau akan tahu nanti."
__ADS_1
*******
"Jadi, siapa yang kau sebut tua bangka?"
Aina berdiri kikuk saat merasa tatapan Elang dari Hariz yang begitu menusuk. Dia bahkan cepat-cepat mengalihkan pandangannya karena tidak ingin menatap matanya.
"Anu Pak. Itu... "
"Anu, itu apa? Bicara yang benar!"
"Pah Hariz yang tua bangka. Tapi aku suka!" Aina tersenyum manis, menunjukkan giginya yang berbaris tidak begitu rapat karena ada satu gingsul. Namun hal itu lah yang membuat wajahnya terlihat manis.
"Suka? Kau menyukai si tua bangka ini, huh!" Hariz menatapnya dengan tersenyum smirk.
"Benar. Tapi suka bukan dalam artian seperti itu."
"Lalu seperti apa?"
Aina mundur perlahan, saat Hariz tiba-tiba saja maju. Jantungnya berpacu begitu cepat. Entah mengapa disituasi seperti ini, Aina terlihat semakin gugup.
"Memangnya apa yang ingin kulakukan? Aku hanya ingin membawa anak nakal sepertimu, yang tidak pernah berhenti mencari masalah. Ayo ikut aku kekantor sebelum guru yang lainnya yang menghakimimu!"
Aina tidak punya pilihan. Dia terpaksa mengikuti langkah Hariz yang membawanya untuk dihakimi.
Rupanya didalam ruangan Hariz, sudah hadir beberapa guru dan juga orang tua murid yang membully Aina. Aina menyunggingkan sedikit senyumannya melihat mereka menatap Aina dengan tajam.
"Saya tidak mau tahu. Anak setan itu harus dihukum seberat-beratnya. Lihatlah anakku babak belur seperti ini dia pukuli. Anak tidak terdidik sepertinya tidak pantas berada disekolah mewah ini!" Maki orang tua Leona dengan kesal.
"Dasar kuntilanak! Kau bilang aku anak setan? Kalau begitu putri kesayanganmu itu anak iblis... " balas Aina tidak kalah tajam.
"AINA! JAGA BICARAMU.
Sikapmu memang tidak pernah menunjukkan bahwa kau ini telah dididik dengan benar. Kau membuat kami malu sebagai gurumu." Bu Clara yang memang sudah tidak menyukai Aina, kini mendapatkan alasan untuk ikut memakinya.
__ADS_1
"Sikapku memang tidak pernah menunjukkan bahwa aku ini telah terdidik dengan benar. Karena memang aku tidak pernah merasakan di didik dengan benar disekolah ini. Kalian para guru tidak pernah sekalipun bertanya, kalian selalu saja menghakimi tanpa mau sekalipun mendengarkan penjelasanku.
Kalian juga tidak pernah sekalipun menegur kesalahanku dengan cara baik-baik, tetapi kalian menghina dan mencaci maki ku dikhalayak ramai sehingga membuatku harus menanggung malu.
Apa itu yang kalian sebut dengan didikkan benar!
"Cukup. Bukan begini cara menyelesaikan masalah yang benar.
Clara. Jika aku tidak menyuruhmu untuk bicara, aku harap kau diam dan dengarkan saja." Hariz mencoba menengahi mereka. Dan menunjuk Aina untuk bicara terlebih dulu.
"Ya, memang aku yang memukuli Leona beserta kedua temannya. Sampai mereka terlihat menyedihkan seperti ini. Aku tahu sebagai orang tua, kalian pasti sedih melihat anak kalian babak belur. Tapi, apakah kalian tidak pernah terpikir untuk bertanya kepada anak kalian sendiri, apa yang membuatku sampai memukuli mereka?
Aku ini memang nakal. Tapi aku tidak gila. Mana mungkin aku memukuli seseorang tanpa alasan.
Saat itu aku sedang makan. Mereka tiba-tiba datang membullyku. Menumpahkan minuman lengket ketubuhku. Lihatlah, bahkan bajuku masih berwarna. Belum sempat aku membersihkannya.
Jika kalian berada di posisiku, apa yang akan kalian lakukan saat sedang enak-enak makan lalu ada yang mengganggu?"
"Dia bohong! Jangan percaya ucapannya Ma... " Leona mulai ketakutan melihat perubahan raut wajah orang tuanya.
"Baiklah, anggap saja aku berbohong. Tapi apa CCTV bisa berbohong? Ini sekolah mewah bukan? Tidak mungkin tidak ada cctv disana. Dan aku yakin itu sudah terhubung dikantor ini. Silahkan buka dan lihat sendiri," Aina berucap dengan santainya. Sementara Leona sudah sangat ketakutan mendapat amukan dari orang tuanya.
"Baiklah, kita akan lihat bersama." Hariz mencoba membuka rekaman cctv, namun suara Leona menghentikannya.
"Tidak. Aku tidak mau lihat. Terserah apa yang mau kalian lakukan!" Leona segera berlari keluar dari sana, karena tidak ingin menanggung malu atas perbuatannya.
Tentu saja orang tuanya merasa tidak enak hati. Meski rasa sombong itu masih ada, sehingga mengucapkan kata maaf saja sangat berat bagi mereka.
"Aku telah biasa melihat korban pembullyan. Beberapa dari mereka ada yang sampai stress. Ada juga yang memilih untuk mengakhiri hidupnya. Karena apa? Karena tidak ada satupun yang akan membela mereka. Mereka lemah, mereka miskin dan mereka bodoh.
Mengadu kepada guru, mereka diancam. Apalagi pada orang tua mereka. Yang bisa mereka lakukan hanyalah pasrah dan menerima semuanya. Bahkan untuk melawan sekalipun mereka tidak punya keberanian.
Miris sekali bukan?" Aina berucap sembari menatap Clara.
__ADS_1
"Baiklah Aina...
Aku akan mengurus peraturan baru disekolah ini. Aku juga akan memperketat agar tidak ada lagi korban pembullyan. Dan untuk orang tua siswa. Tolong didik anak kalian dengan benar dirumah. Jangan terlalu memanjakan mereka, dengan memberikan apapun yang mereka inginkan. Karena itu berpengaruh buruk pada anak kalian sendiri."