
Zico sudah melewati masa kritisnya.
Kabar baik itu membuat Mia sedikit bernafas lega. Meski Zico masih belum membuka matanya, namun setidaknya ada perkembangan baik dari anaknya itu.
"Orang yang menabraknya sudah berhasil ditemukan. Anak buahku sudah membawanya kekantor polisi untuk diminta keterangan." Azkhan mengatakan apa yang baru saja dia dengar dari anak buahnya.
Namun Mia tetap saja murung. "Apakah orang itu harus dihukum. Ini hanya kecelakaan."
"Tentu saja. Orang itu tetap salah karena telah melarikan diri. Biarlah pihak kepolisian yang mengurusnya. Jangan risaukan hal itu. Sekarang, sebaiknya kau makan. Aku yakin kau belum makan."
"Aku tidak sedang berselera makan," ucapnya datar. Namun Azkhan tidak menyerah begitu saja.
"Kau harus makan, Mia. Jika kau sakit, siapa yang akan menjaga Zico? Kau juga harus menjaga kesehatanmu."
Mia terdiam. Tidak dia pungkiri bahwa ucapan Azkhan tidaklah salah. Jika dia sakit, bagaimana dia akan merawat anaknya.
"Baiklah."
Azkhan tersenyum senang. Biar bagaimanapun, posisi Mia tidak akan tergantikan meski Mia tetap memilih suaminya. Azkhan tidak akan pernah menyerah, sampai akhirnya Mia menyadari siapa yang layak dan pantas untuknya.
Sementara Revan sendiri sedang sibuk memikirkan perusahaan yang akan segera diratakan oleh Azkhan. Mana mungkin dia membiarkan usahanya hancur begitu saja. Apalagi hanya karena seorang, Mia? Revan tidak rela hal itu terjadi. Namun disisi lain, dia juga harus memulai kehidupan baru bersama Zico. Mana mungkin Zico mau tinggal dengannya jika Mia tidak ikut.
"Aaarrghhh, sial! Apa yang harus aku lakukan?!" Revan mengerang kesal. Mengingat sebuah pilihan yang begitu berat.
Lalu matanya menangkap sosok yang kini sedang berjalan kearahnya. Revan terkejut karena sudah sangat lama sekali tidak melihatnya.
Orang itu berjalan dengan raut tak terbaca. Menatap datar kearahnya entah apa maksud dan tujuannya.
Dan saat ini, orang itu telah berdiri dihadapanya.
__ADS_1
"Syma...?" gumam Revan yang masih bisa didengar olehnya.
"Kau telah melakukan kesalahan besar, Revan."
"Apa maksudmu?" Revan menatapnya bingung. Sorot mata Syma begitu tajam dan menusuk hingga membuatnya berpikir keras. Apa yang sedang Syma bicarakan?
"Mia, dan anaknya. Kau telah melakukan kesalahan dengan menyia-nyiakan mereka. Orang yang seharusnya kau berikan cinta malah kau jadikan sebagai pelampiasan amarahmu. Kau tidak layak mendapatkan mereka, Revan. Kau tidak akan pernah bahagia jika caramu tetap saja sama seperti dulu."
Revan merasa keluh. Lidahnya terasa kaku untuk menjawab. Hingga akhirnya Syma kembali berucap. "Apa kau tahu, alasan seorang wanita meninggalkan pria yang sangat dicintainya? Dia selalu menyepelekan hal yang selalu membuatnya sakit. Dia selalu melakukan hal yang sama lagi dan lagi. Dan dia juga menyepelekan teguran yang setiap kali diberikan. Awalnya dia akan menerima. Tapi aku yakin setelah itu dia akan memutuskan untuk menyerah. Mia mungkin sangat mencintaimu, tapi tidak dengan cara berpikir dan perilakumu.
Jadi... Bersiap-siaplah untuk hancur yang kedua kalinya. Kali ini kau tidak akan mendapatkan apapun lagi. Baik itu wanita yang mencintaimu dan juga keluarga yang menyayangimu. Kau tidak akan pernah mendapatkannya Revan." Syma berucap tegas sembari menekankan setiap katanya.
Membuat Revan membeku ditempatnya. Mendengar apa yang baru saja Syma katakan. "Mia mencintaiku? Apa itu mungkin? Apakah masih ada kemungkinan wanita itu mencintai pria sepertiku?"
"Apa kurangnya seorang Azkhan? Dia tampan, kaya, ahklaknya baik. Tapi Mia tidak menaruh sedikitpun hati padanya. Kau mau tahu kenapa? Karena si bodoh Mia masih sangat mencintaimu. Mulutnya memang berkata tidak, tapi sorot matanya tidak bisa menipuku. Sorot mata yang menyimpan luka sekaligus cinta secara bersamaan."
Sebelum Revan mengeluarkan suara. Syma kembali menjelaskan. "Kau selalu menghakiminya. Hanya karena kesalahan dimasa lalu membuatmu gelap mata. Semua orang bisa berubah, Revan. Kau memang tidak tahu bagaimana rahasia ALLAH SWT bersama hambanya. Kau tidak pernah tahu bagaimana Mia menangis di setiap malam, disaat semua orang sedang hanyut dalam mimpinya. Wanita itu memilih bersujud dihadapan sang Illahi untuk memohon sebuah ampunan. Kau tidak akan tahu hal itu!
Mungkin hanya itulah jalan satu-satunya untuk menyadarkanmu betapa sulitnya menjadi wanita yang kuat seperti Mia."
Syma berlalu pergi. Meninggalkan Revan dengan perasaan hampa. Apakah benar selama ini dia telah menyia-nyiakan wanita itu? Apakah dia telah melakukan kesalahan lagi?
Revan menarik kasar rambutnya. Sekelebat bayangan muncul di kepalanya. Bagaimana selama ini dia memperlakukan wanita itu dengan tidak manusiawi. Tapi Mia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Mia selalu sabar menghadapinya meski seringkali disakiti.
'Apa aku sekejam itu? Pada wanita yang telah melahirkan anakku?'
****
Revan kembali keruangan anaknya dirawat. Setelah mendapat kabar Zico telah sadar membuatnya begitu tak sabar ingin melihat buah hatinya. Mia, Azkhan dan Syma sudah berada disana. Pandangan Revan langsung jatuh pada Mia yang kini dengan senyuman hangat bercengkrama dengan anaknya. Revan menipiskan bibirnya. Azkhan ada disana menemaninya, mereka bagaikan keluarga yang harmonis. Sangat cocok dan nampak sangat bahagia.
__ADS_1
Revan hanya berdiri kaku. Sampai akhirnya suara lembut Mia menyadarkannya. "Mas... Zico sudah siuman." Seolah mereka tak pernah bertengkar sekalipun. Mia membagi kebahagiaan padanya. Revan hanya menatapnya. Membuat Mia kembali menunduk merasa Revan tidak suka dengan sikapnya.
Dan hal itu tidak luput dari perhatian Syma. Syma tahu saat ini Revan merasa bersalah. Baik pada Mia maupun Zico, putranya.
Revan mendekati Zico. Menggenggam erat tangan anaknya sembari sesekali mengecupnya. Zico sendiri bingung apa yang dilakukan oleh Revan padanya.
"Paman?"
Revan mengangkat wajahnya. Mendengar Zico masih memanggilnya dengan sebutan itu membuatnya sedikit teririis. Sementara Azkhan dia sebut dengan panggilan papa. Tentu hal itu terjadi karena Zico belum tahu siapa dia sebenarnya. Namun entah mengapa Revan juga belum siap menjelaskan.
Hingga Revan hanya menanggapinya dengan seulas senyuman hangat sembari mengusap puncak kepala anaknya dengan penuh kelembutan.
"Apa masih ada yang sakit?"
"Tidak juga, cuma kepala Zico yang masih pusing." Anak itu menyahuti dengan ciri khasnya sendiri.
"Sebentar lagi sakitnya akan hilang."
"Mama, Zico mau pulang...," rengek Zico melihat kearah Mia.
"Iya sayang, kita memang akan segera pulang. Zico yang sabar ya."
"Jagoan Papa harus sembuh dulu. Setelah ini Papa akan mengajak Zico ke taman bermain dan membeli banyak mainan disana," ucap Azkhan menyahutinya. Zico langsung bersorak senang.
"Terimakasih Papa."
Deg
Perasaan Revan tak terbendung lagi. Begitu sakit dia rasakan melihat ketiga orang itu bercengkrama seolah mereka adalah keluarga. Sementara dirinya diabaikan oleh anaknya sendiri.
__ADS_1
Apakah ini artinya dia tidak pantas berada di tengah-tengah mereka? Apakah benar bahwa Mia dan Zico akan lebih bahagia bersama Azkhan dari pada dirinya?
Selama ini aku tidak pernah memberikan kebahagiaan padamu, Mia... jika dengan menebus dosaku dengan melepaskanmu bersama pria lain membuatmu bahagia, maka akan aku lakukan. Tapi yang menjadi pertanyaannya? Apakah aku sanggup? Apakah aku bisa tanpa kalian?