TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
EPS 83 HARIZ&AINA: JENGKEL


__ADS_3

Tidak bisa dibayangkan betapa kesalnya Hariz saat ini.


Dia memejamkan matanya sejenak, untuk menenangkan hatinya. Namun bayangan tentang kejadian tadi masih terlintas dikepalanya.


Bagaimana tidak.


Dia pikir kebutuhan biologisnya akan segera dipenuhi oleh istrinya. Namun kenyataannya sangat berbanding balik.


Dia terpaksa menghentikan aksinya saat sadar Aina meringis menahan sakit. Bukan karena Hariz merasa iba. Hanya saja, nafsunya tiba-tiba reda melihat wajah kesakitan dari wanita itu.


Sebab itulah dia menghentikan kegiatannya. Dan menyisakan rasa jengkel yang teramat sangat.


"Aina buatin kopi buat Mas Hariz. Siapa tahu keselnya ilang." Aina menyodorkan segelas kopi pada Hariz. Pria itu menerimanya. Namun raut wajahnya masih saja tidak berubah.


"Diminum Mas. Kopi itu tidak akan habis kalau cuma diliatin."


Hariz menyesap sedikit minuman yang diberikan Aina padanya. Namun saat itu juga dia menyemburkannya keluar lagi, sampai Aina terkena cipratan dari air itu.


"Kenapa dikeluarin lagi, Mas?"


"Kamu mau racunin saya, ya? Kopi pait begini kamu kasih kesaya?"


"Ya kan kopi memang pahit!"


"Kan bisa dikasih gula, Aina. Otak kamu itu isinya apa sih?"


"Kenapa Mas Hariz marah-marah terus sih? Bukannya berterimakasih sudah dibuatin kopi! Padahal Aina sudah berusaha supaya Mas Hariz lebih tenang. Tapi sepertinya percuma... " Aina nampak begitu kecewa, hingga wanita itu keluar meninggalkan Hariz yang menatap heran padanya.


Merasa tidak ada tanggapan dari Hariz, Aina menghentikan langkahnya dan menatap Hariz dengan wajah kesal.


"Kenapa Mas tidak menghentikanku?"


"Untuk apa? Kalau mau pergi ya pergi saja. Kau bukan anak kecil lagi yang harus dibujuk dan dirayu. Kau sudah besar, punya otak untuk berpikir dan memilih pilihanmu sendiri." Hariz menyahuti dengan acuh. Seakan memang tak perduli dengan Aina. Padahal dalam hatinya sedikit kesal karena Aina ingin pergi begitu saja.


"Kau memang suami kejam! Tidak berperasaan! Aku sangat membencimu," ucap Aina sebelum melanjutkan langkahnya.


"Dan kau istri menyebalkan! Aku lebih membencimu... "


********


"Aina, siapkan makan malam untukku."


'Dasar tukang perintah! Apa dia tidak tahu, kalau aku masih marah?'


"Aina masih marah sama Mas Hariz," ujar Aina ketus.


"Marahnya nanti saja dilanjutin lagi. Sekarang saya lapar dan siapkan makanan." Hariz segera pergi setelah mengatakan hal itu.


Sementara Aina sendiri semakin jengkel dibuatnya. 'Sesulit itukah minta maaf pada istri sendiri? Astaga... Suami macam apa yang aku nikahi saat ini!" rutuk Aina.


Wanita itu segera turun dan menyiapkan makanan untuk suaminya.


Saat hidangannya selesai, mereka hanya makan dalam diam.

__ADS_1


"Besok sore, saya tunggu kamu dihotel X. Ada acara pertemuan dan diantaranya ada beberapa rekan kerjaku. Mas ingin mengenalkanmu pada mereka."


"Mas Hariz yakin mau mengenalkan Aina sama mereka?"


"Sebenarnya tidak yakin. Tapi mau bagaimana lagi, berhubung istriku baru kamu seorang!"


"Baru aku? Apa itu artinya Mas Hariz punya rencana menikah lagi? Jangan main-main sama Aina ya Mas! Aina tidak akan pernah sudi dimadu. Lebih baik Aina pulang kepanti dan mencari suami baru. Dari pada harus menahan sakit hati karena dimadu."


"Kau ini bicara apa Aina? Punya istri satu saja kepalaku sudah mau pecah rasanya. Apalagi punya dua istri... bisa mati muda saya!"


"Jangan mati dulu Mas..."


"Saya pikir kamu malah senang kalau saya mati!"


"Bukan. Maksud Aina, kalau Mas Hariz mau mati bilang dulu sama Aina. Biar nanti semua aset Mas Hariz dipindahin dulu atas nama Aina. Baru Mas Hariz boleh mati!" ucap Aina mengulum senyumnya. Dia sengaja menggoda Hariz agar bertambah kesal karenanya.


Dan benar saja.


Hanya dengan ucapan seperti itu, Hariz sudah sangat kesal.


"Kau memang istri durhaka!! Aku lupa kalau aku harus me ruqiyahmu hari ini."


"Hahahahhahahahaha."


Untuk pertama kalinya. Hariz melihat Aina tertawa lepas. Aina sampai menahan perutnya karena geli. Wanita itu tertawa seolah tidak memiliki beban dan masalah hidup sedikitpun.


Sejenak, Hariz terpaku dengan tawanya. Sosok wanita kasar yang biasa dia kenal, ternyata bisa bersikap hangat dan menggemaskan.


"Sudah puas tertawanya?"


Aina mengangguk.


"Sekarang cuci piringnya. Itu hukuman untukmu karena telah menertawaiku!"


"Tidak bisa seperti itu. Kan Aina sudah masak buat Mas Hariz. Dan sekarang giliran Mas Hariz yang cuci piring. Aina mau istirahat."


"Hey, aku ini suamimu! Kau harus patuh karena aku ini adalah Raja."


Aina berdecak. "Kalau Mas Hariz Raja. Seharusnya Mas Hariz memperlakukan Aina seperti Ratu. Kalau diperlakukan seperti pembantu, itu bukan Raja namanya tapi penjajah!" saut Aina.


"Bagaimana kalau kita main batu gunting kertas saja. Siapa yang kalah dia yang cuci piring," Hariz mencoba memberikan saran.


"Oke Aina setuju!"


Mereka akhirnya bermain batu gunting kertas. Dan terlihat Aina menggerakan jarinya seperti gunting sementara Hariz menggumpal seperti batu.


Tentu saja Hariz girang karena dia berhasil mengalahkan Aina. Aina hanya pasrah dan terpaksa mencuci piring bekas mereka makan.


"Kau kalah Aina. Sekarang cuci piringnya, ya... "


Plakk


MAS HARIZ......!!

__ADS_1


Aina berteriak kesal, saat Hariz dengan sengaja menepuk bokong Aina sebelum pergi meninggalkan Aina bersama dengan cuciannya.


Pria itu hanya terkikik kecil mendengar teriakan Aina.


******


"Selamat datang Pak Hariz. Dimana istri Anda?" tanya salah satu rekan kerjanya.


"Istriku akan menyusul nanti. Dia sedang ada urusan penting."


"Oh, begitu."


Hariz mengambil ponsel disakunya. Mencoba menelpon Aina. Mungkin saja wanita itu lupa, hingga sampai sekarang dia tidak juga muncul dipertemuan itu.


'Aina, kau dimana? Apa kau lupa dengan yang saya katakan semalam?'


("Maaf Mas. Aina lagi membantu Kak Syma mengirim laporan data penjualan selama Aina menjaga kedai. Jagi agak lama.")


'Saya tidak mau tahu Aina. Kau harus datang kesini sekarang juga. Atau kau akan tahu akibatnya.'


Hariz segera memutuskan panggilannya. Dia sangat tidak suka menunggu lama. Padahal Aina sudah dia ingatkan seblumnya.


*****


"Pergilah Aina. Biar Kakak selesaikan sendiri saja. Yang penting datanya sudah ada."


"Ah, biarkan saja pria itu. Dia memang suka begitu Kak."


"Aina. Hariz adalah suamimu. Patuhi dia karena memang sudah menjadi kewajibanmu. Setelah kau menjadi istrinya, kami tidak berhak lagi kau utamakan. Jadi pergilah.... Siapa tahu itu memang penting.


Lagi pula kau beruntung, suamimu mau mengenalkanmu dikhalayak ramai. Itu artinya dia mengakuimu sebagai istrinya."


Ting


Ting


Ting


Beberapa pesan dikirimkan dari Hariz. Tentu saja untuk menyuruh Aina segera pergi ke acara itu.


"Pergilah Aina. Hariz sudah berkali-kali menghubungimu. Jangan membuatmu dalam masalah." Lagi-lagi Syma memperingatinya.


"Baiklah kalau begitu. Aina pergi dulu. Maaf, Aina tidak bisa membantu banyak."


"Tidak masalah Aina."


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Syma menatap kepergian Aina yang terburu-buru. Dalam hatinya berdoa, semoga rumah tangga Aina diberikan keberkahan dan dilimpahkan ridho dan rahmat dari sang Illahi.


Syma juga berharap, Hariz benar-benar bisa mengubah sikap Aina menjadi istri sholehah seperti yang pria itu inginkan. Sehingga mereka bisa melengkapi satu sama lain dalam kekurangan maupun kelebihan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2