TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 61: AKU SANGAT MEMBUTUHKANMU


__ADS_3

"Dulu aku memang kuat Bu. Tapi sekarang kekuatan itu hilang begitu saja seiring dengan kepergian Mas Ersad. Apa yang harus aku lakukan tanpanya.


Bagaimana aku bisa membesarkan anak-anak tanpa kehadiranya disampingku." Tubuh Syma bergetar bersamaan dengan isak tangis yang seakan tiada hentinya.


"Kenapa semua orang meninggalkanku? kenapa tidak ada satupun yang percaya padaku? Apa aku ini pembawa sial bagi mereka!!


Katakan padaku Bu, apa kesalahanku sehingga orang yang aku sayangi selalu saja meninggalkanku?"


"Tidak ada yang meninggalkanmu Nak. Masih ada Ibu dan Zea disini. Bersabarlah sedikit lagi, Ibu yakin semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang sial dalam hidup ini. Semua ini atas kehendak Allah. Percayakan semuanya hanya kepada Allah nak. Mungkin Allah sedang merencanakan hal indah untuk kalian setelah ini.


Kau hanya perlu bersabar... "


******


Aina memegang sebuah kotak makanan ditangannya. Makanan yang dia buat dengan tangannya sendiri.


Matanya mencari-cari sosok pria yang seringkali membantunya akhir-akhir ini. Dia ingin memberikan makanan itu untuk Hariz. Entah sebagai bentuk terimakasih atau ada hal lain. Dia sendiri bingung.


Sayangnya dia tidak melihat sosok yang ingin dia temui itu. Namun Aina tidak menyerah begitu saja. Dia mencoba untuk mencarinya ditempat lain.


"Aina, kau masak apa hari ini? Kebetulan aku lapar, boleh aku minta sedikit?" Tangan Vio bergerak untuk mengambil kotak makanan itu, namun Aina segera menjauhkannya. Dan memukul pelan tangan Vio.


"Kau ini apa-apaan sih! Aku membuat ini, khusus untuk seseorang," ucap Aina ketus.


"Apa? Kau bercanda ya! Memangnya kau ingin menyogok siapa? Karena kalau untuk pacarmu, aku sangat yakin kau tidak punya pacar. Mana ada pria yang mau dengan gadis sepertimu!"


"Apa aku semengerikan itu?" bisiknya.


Vio mengangguk.


Aina menghela nafasnya. Hal itu membuatnya jadi ragu untuk memberikan makanan itu.


"Jadi, makanannya untukku saja ya."


"Tidak.


Niatku sejak awal membuat ini untuk seseorang. Mau dia Terima atau tidak, ya terserah. Yang penting niatku kan baik."


"Ck, memangnya kau mau memberikannya untuk siapa? Pak Hariz?"


'Sial! ucapan Vio kenapa selalu tepat.' gumamnya.


Aina mendengus kesal. Sedangkan Vio sudah yakin bahwa dugaannya benar.


"Kalau itu benar. Sepertinya memang makanan itu ditakdirkan untukku. Karena Pak Hariz cuti keluar Negri untuk beberapa tahun."

__ADS_1


"Apa?"


"Aku yakin kau tidak tuli, Aina. Pak Hariz pergi keluar Negri. Untuk beberapa tahun." Vio menekankan kembali ucapannya.


"Ke-kemana? untuk apa?"


Tidak bisa dipungkiri ada rasa sesak didadanya. Tidak rela dengan kepergian Hariz.


"Mana aku tahu. Aku rasa dia kesana mungkin mencari calon istri. Secara umurnya kan sudah sangat matang untuk menikah," ucap Vio sembari memperhatikan raut wajah Aina yang berubah murung.


"Sudahlah, kemarikan makanannya. Biar aku saja yang makan. Dari pada mubazir." Kali ini Aina tidak menghalangi Vio memakan makanan yang dia buat khusus untuk Hariz. Pikirannya melayang memikirkan pria itu.


Sementara Vio dengan lahapnya makan tanpa memikirkan Aina yang nampak bersedih dengan kepergian Hariz.


*****


Syma merasakan sebuah denyutan dari perutnya. Rasa sakit yang sudah sejak tadi malam dia rasakan. Namun karena kesedihannya dia tidak terlalu memperdulikan denyutan itu. Dia pikir itu hanyalah kontraksi palsu yang akan hilang dengan sendirinya.


Namun sepertinya dugaannya salah. Kontraksi itu dia rasakan semakin teratur. Sampai akhirnya dia menghentikan kegiatannya yang sedang membuat simit untuk dijual.


"Assalamu'alaikum."


Syma menoleh ke sumber suara yang begitu familiar baginya.


"Ayah," pekik Zea begitu senang dengan kehadiran Revan disana.


Syma menghela nafas beratnya. Dia mencoba untuk tidak memperdulikan kehadiran pria itu. Karena baginya tujuan Revan kesana hanyalah untuk menemui Zea. Jadi dia tidak punya urusan.


"Bagaimana kabarmu Syma?"


"Untuk apa kau tahu." Syma berucap tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.


"Aku hanya khawatir."


"Kau bisa melihat aku masih bernafas dan hidup. Itu artinya aku baik-baik saja. Kekhawatiranmu tidak mendasar pada istri orang lain. Sebaiknya kau tanyakan itu pada istrimu, bukan aku!"


Revan menipiskan bibirnya. "Aku tahu. Tapi aku tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkanmu. Karena Zea bersamamu."


"Mertuaku selalu ada untukku. Dan aku juga masih punya Mina yang siap siaga kapan saja. Tentu Zea akan baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu," sautnya.


Syma tidak berniat lagi untuk menanggapinya. Dia lebih fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya dan pergi ke panti untuk melihat keadaan disana. Sejauh ini pria yang mengancam mereka seperti kemarin tidak terlihat lagi.


"Aku tidak melihat suamimu, dimana dia?"

__ADS_1


Sontak pertanyaan itu seakan menoreh kembali luka dihati Syma. Wanita itu menghentikan kegiatannya dan menatap lurus kedepan dengan hampa. Revan sendiri bingung dengan ekspresi wajah Syma yang berubah murung.


Dan yang semakin membuatnya khawatir, Tiba-tiba saja Syma mengerutkan wajahnya sembari memegang perutnya. Syma merasakan kontraksi dengan jarak yang sudah dekat kali ini. Dan dia sepertinya tidak bisa menahannya lagi.


"Syma, kau baik-baik saja nak?"


"Syma, kau kenapa?" Revan bertanya dengan cemas.


"Ibu, sepertinya aku mengalami kontraksi." Syma berucap sembari menahan denyutan di perutnya.


"Kalau begitu kita kerumah sakit sekarang juga. Ibu akan menutup tokonya."


Ceyda dan Mina bergegas membereskan tokohnya dan tidak lupa membawa perlengkapan Syma dan bayinya untuk persalinan.


"Naiklah ke mobilku. Aku akan mengantar kalian."


Mereka tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran Revan. Ceyda tidak mungkin mementingkan egonya sementara membahayakan keselamatan Syma.


Sementara Syma sendiri hanya menurut tanpa ada penolakkan sama sekali. Dia menahan sakit diperutnya dengan zikir dan istighfar sebanyak-banyaknya.


Air matanya kembali mengalir. Bukan karena sakit akibat kontraksi. Namun karena kesedihan yang mendalam, karena ketidak hadiran sang suami untuk menemaninya berjuang selama persalinan.


Rasa sedih, sesak dan kecewa berpadu menjadi satu.


'Tega sekali kamu Mas. Kau membiarkan aku berjuang seorang diri menyambut kehadiran anakmu. Padahal disini aku sangat membutuhkan doa dan dukungan darimu untuk menguatkanku.' batin Syma sembari tiada henti menagis. Ceyda dengan setia mengusap air mata Syma yang tidak berhenti mengalir.


"Ibu tahu perasaanmu, nak. Bersabarlah..."


"Bertahanlah Syma. Kita akan segera sampai," ucap Revan sembari menjalankan mobilnya dengan kecang.


"Sakit Bu.... Rasanya sakit sekali." Syma merintih disela rasa sakit yang dia rasakan.


"“Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin” Ceyda menuntun Syma untuk mengucapkan doa nabi yunus, agar dipermudahkan dalam persalinannya.


Syma mengikutinya sembari menahan sakit. Meski Syma sudah pernah mengalami sakitnya melahirkan saat melahirkan Zea. Namun rasanya tidak sesakit ini.


Mungkin karena saat ini tidak adanya seorang suami yang mendampinginya. Sehingga rasanya seolah berkali-kali lipat dibandingkan sebelumnya.


TBC


YUK TINGGALKAN JEJAK BERUPA LIKE KOMEN DAN VOTE.


TERIMAKASIH


AFF REAL

__ADS_1


__ADS_2