TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 30: AMARAH


__ADS_3

Ersad mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Tidak perduli dengan Syma yang ketakutan karena lajunya mobil seakan ingin terbang.


Kedatangan Ersad sebelumnya bukan tanpa sebab. Dia ingat saat ingin mencari keberadaan Syma di panti. Dia tidak menemukan wanita itu sama sekali. Disana hanya ada Aina bersama Zea.


Ketika ditanya, bukannya menjawab Aina justru bingung.


Lalu tidak berselang lama. Kevin datang dengan tergesa-gesa karena mendapat petunjuk bahwa Syma bersama dengan Hariz. Saudara tirinya.


Hal itu semakin membuat Ersad geram dan langsung menemuinya disana.


"Mas....


Bisa dipelankan sedikit! Ini berbahaya. Bukan hanya bagi kita, tapi juga akan membahayakan orang lain," ucap Syma sedikit mengeraskan suaranya.


Sayangnya Ersad tidak tertarik sama sekali, untuk mendengarkan ucapan Syma. Amarahnya sudah berada diubun-ubun. Dia sangat ingin sekali meledakkan amarahnya.


Syma akhirnya bisa bernafas sedikit lega, karena mereka telah sampai di apartemen mereka. Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama, melihat wajah Ersad yang masih memerah menahan amarahnya.


Dengan tergesa-gesa, Ersad langsung menarik tangan Syma dengan kasarnya. Tanpa memperdulikan ringisan Syma yang nampak menahan sakit di pergelangan tangannya.


Belum sempat Ersad membawa Syma masuk kedalam kamarnya, terlihat Nora disana yang sedang menghadang mereka. Menatap Syma dengan penuh kebencian.


"Kenapa kau masih disini, Nora?" ucap Ersad dengan dingin.


"Tentu saja untuk membalas wanita ular ini," jawab Nora menunjuk Syma.


"Sudah kukatakan, biarkan aku saja yang melakukannya. Kau tidak perlu ikut campur," ucap Ersad menekankan ucapannya.


Mendengar ucapan Ersad itu, membuat Nora terbahak.


"Kakak pikir Aku ini bodoh! Bagaimana jika Kakak berbohong padaku? Dan lagi... Bagaimana jika wanita ini menggoda Kakak lagi dan membuat Kakak berubah haluan?


Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku akan tinggal disini, untuk memastikan sendiri bahwa ucapan Kakak itu benar." Nora berucap dengan angkuhnya sembari menyilangkan tangannya didada.


Ersad hanya menatapnya dingin. Merasa jengah dengan wanita keras kepala satu ini.


"Terserah...... " ucapnya sembari menarik Syma masuk kedalam kamarnya. Meninggalkan Nora yang masih menatap mereka dengan tajam.


Syma sendiri sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Untuk melawan sekalipun, tidak akan bisa. Yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa.


"Katakan padaku, ada hubungan apa Kau dengan pria itu?" Ersad bertanya sembari memegang kedua bahu Syma dan mengguncang nya keras.

__ADS_1


"Aku tidak punya hubungan apapun dengannya, Mas. Percayalah.... "


"Percaya?


Bagaimana bisa aku percaya, sementara segala macam tuduhan mengarah padamu, Syma? Tidak ada satu alasan yang membuatku harus mempercayaimu!"


"Hariz adalah teman sekolahku dulu... "


"Sebab itulah kalian bersekongkol? Begitu?" ucap Ersad menyela Syma.


"Untuk apa aku...... "


"Lalu kenapa Kau bisa bebas begitu saja? Katakan Syma!"


Bukannya menjawab. Syma malah menatap Ersad dengan penuh kelembutan. Wanita itu dengan beraninya menyentuh telapak tangan suaminya yang membuat Ersad nyaris lemah. Namun Ersad langsung menepis tangan lembut itu dengan kasar dan memalingkan wajahnya, seakan jijik dengan istrinya itu.


"Marah boleh, Mas. Tapi marah berkepanjangan itu sudah ada campur tangan setan. Jika sudah seperti itu, berwudhu lah. Maka amarahmu akan segera hilang."


"Berhenti menceramahiku! ucapanmu sungguh manis. Penampilanmu, memang seperti wanita sholeha. Tapi sayang... semua itu hanyalah topeng busuk atas semua kemunafikan.


Dan aku muak...


Aku muak dengan semua yang ada didalam dirimu."


Syma langsung terduduk lemas dilantai. Air matanya lagi-lagi mengalir deras.


Perasaannya bergejolak. Selama ini dia memang bisa menguatkan orang lain, namun kenyataannya dia sendiri tidak bisa menguatkan dirinya. Terkadang Syma ingin menyerah dengan keadaan, dan sangat ingin sekali meledakkan amarah karena memang bukan dia pelakunya. Namun bayangan tentang nasihat Alma membekas di ingatannya.


Dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya itu.


*****


"Kau sudah puas menguping bukan?"


"Tidak.


Aku tidak puas jika Kakak tidak menyiksa wanita itu. Kakak harus menyiksanya sampai dia mati secara perlahan. Baru aku akan merasa puas.... "


Ersad hanya menatapnya datar, sebelum kemudian masuk kembali untuk melihat apa yang dilakukan Syma. Dia terlalu malas untuk meladeni Nora dan sikap iblisnya yang mengerikan.


Ketika pintu terbuka, matanya langsung tertuju pada sosok yang sedang meringkuk memeluk dirinya sendiri sembari memejamkan matanya. Sembab dimatanya sudah cukup membuat Ersad yakin bahwa wanita itu habis menangis.

__ADS_1


Tidak bisa dipungkiri bahwa Ersad terhenyak melihatnya. Bawah sadarnya sangat ingin memeluk wanita ini. Namun sayang hal itu tidak bisa dia lakukan.


'Aku tahu bukan Kau pelakunya Syma...


Maafkan aku tidak bisa melakukan apapun untukmu. Karena sebelum aku bisa mengumpulkan bukti yang kuat. Aku tetap akan memperlakukanmu seperi ini.


Ini lebih baik, dari pada Nora memenjarakanmu.


Dan Hariz....


Aku tidak tahu apa yang dia inginkan darimu. Aku tidak akan pernah membiarkan dia merebut lagi apa yang menjadi milikku. Sudah cukup dia merampas segalanya. Kau hanya milikku, Syma..


Hanya milikku.' gumam Ersad menyentuh lembut wajah Syma yang terlelap dalam tidurnya itu. Wajah lelah wanita itu membuatnya luluh.


Ersad segera menarik kembali tangannya. Dia sadarJika Nora mengintip dan melihat apa yang dia lakukan saat ini. Entah apa lagi yang akan wanita itu lakukan. Dia sangat paham dengan sikap Nora yang mengerikan dan tidak kenal belas kasih.


Ersad segera masuk kedalam kamar mandi untuk menenangkan dirinya sejenak. Dengan berendam air hangat.


*****


Syma membuka matanya. Dia ingat bahwa dia merasakan ada yang menyentuh wajahnya. Namun dia tidak kuasa untuk bangun karena terlalu lelah. 'Mungkin hanya mimpi,' pikirnya.


Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Dia melihat Ersad keluar dari sana. Wajah basah dan segar sehabis mandi membuat Syma sedikit terpaku. Lalu dia segera sadar dan menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Ersad tidak mencegahnya. Namun juga tidak menanggapinya. Tatapan pria itu tetap saja dingin dan datar. Tidak tertarik sedikitpun untuk memakai pakaian yang dipilihkan oleh Syma. Tentu hal itu membuat Syma kecewa. Namun wanita itu hanya menghela nafasnya dan segera beranjak untuk berwudhu.


Dia lebih memilih Sholat. Karena hanya dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.


Ya.


Syma ingin menenangkan hati dan pikirannya dengan mengingat Sang Maha Kuasa.


Karena dia yakin,


Shalat dapat menenangkan hati, pikiran, dan jiwanya yang gundah juga fisik yang letih akibat tenaga terlalu banyak diforsir. Sebab, dalam shalat, seseorang sejatinya tengah menghadap Allah SWT, meninggalkan sejenak kesibukan duniawi untuk memberikan kesempatan bagi rohani atau jiwanya untuk berkomunikasi dengan-Nya.


TBC


JIKA SUKA JANGAN LUPA KASIH LIKE, KOMEN YANG POSITIF SERTA DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE.


TERIMAKASIH

__ADS_1


AFF REAL


__ADS_2