
"Nora... aku ingin bicara padamu," suara Ersad membuat Nora langsung memalingkan wajahnya. Menunjukan bahwa dia masih begitu kesal dengan pria itu.
"Bicaralah," sautnya acuh.
Ersad menghela nafasnya. Mengambil tempat duduk berada didekat Nora.
"Aku tidak bermaksud menyingkirkan posisi Erika. Dia tetap akan menjadi wanita pertama dalam hidupku, karena aku sangat mencintainya. Aku menikahi Syma hanya saat Erika masih koma. Ketika dia siuman nanti, aku akan segera menceraikan Syma.
Yang harus kau tahu, Syma hanya menggantikan posisi Erika sementara waktu. Tidak lebih dari itu," ujarnya bersikap selembut mungkin. Jika saja bukan karena permintaan Syma, Ersad tidak akan pernah mau melakukan hal ini.
Dan dia sendiripun bingung, kenapa begitu tidak berdaya menolak keinginan Syma.
Sementara Nora, justru semakin besar kepala akibat perbuatannya ini.
"Bagaimana jika Kak Erika tidak bangun lagi? apa itu artinya Kakak akan bersama wanita itu selamanya?"
"Itu tidak akan terjadi. Erika wanita yang kuat. Aku yakin dia tidak akan pernah membiarkan aku bersama wanita lain,"
"Meski begitu Kakak tetap salah. Tidak seharusnya Kakak tega melakukan hal ini pada Kak Erika. Tapi mau bagaimana lagi... semuanya sudah terjadi.
Aku hanya ingin Kakak berjanji padaku untuk menepati ucapan Kakak. Jika Kak Erika sadar nanti, Kakak harus menceraikan wanita itu secepatnya," tukas Nora.
Ersad langsung mengangguk. "Pasti."
Ketika selesai membicarakan semuanya dengan Nora. Ersad segera pergi dari sana.
Tadinya dia berniat ingin langsung pulang keapartemen. Namun Ersad ingat, bahwa Syma pasti masih di panti. Jadi dia berniat untuk menjemputnya disana.
Ersad tidak bisa berhenti memikirkan Syma disepanjang jalan. Mulai dari wajahnya, senyumannya dan juga sikapnya yang lemah lembut namun tegas. Sesekali dia tersenyum dalam diam ketika ingat, saat dia meminta Syma melucuti semua pakaiannya. Dan secara perlahan, namun terlihat menggoda. Syma begitu patuh pada perintahnya tanpa ada bantahan sedikitpun.
Ersad begitu larut dalam pemikirannya,
sampai tidak terasa, dia sudah sampai di panti asuhan yang pernah Syma katakan padanya.
Cepat-cepat dia keluar dari mobil, dan masuk kedalam sana. Mata hitamnya mengelilingi tempat yang disebut sebagai panti asuhan itu. Dimana tempatnya para anak-anak yang dibesarkan tanpa adanya orang tua kandung.
Sejenak. Ersad terpaku dengan kebahagiaan mereka. Padahal nasibnya juga tidak jauh beda. Ibunya tidak menginginkannya, tapi masih ada kakeknya yang dengan penuh kasih sayang mau merawatnya. Sampai dia menjadi seperti sekarang ini. Apalagi soal harta. Dia tidak pernah kekurangan sejak kecil.
__ADS_1
Namun tetap saja, Ersad merasa dia adalah manusia paling menyedihkan didunia ini. Tidak ada yang semenderita dirinya. Tapi setelah melihat ini...
Melihat anak-anak yang hanya tinggal ditempat sederhana. Bahkan kamar mandinya saja, jauh lebih bagus dari pada panti asuhan ini. Tapi mereka masih bisa tertawa bahagia.
Sementara dia yang dulunya tinggal ditempat yang mewah. Semua yang dia inginkan selalu terpenuhi. Ditambah lagi pelayan yang siap melayaninya dua puluh empat jam. Tapi Ersad masih saja murung.
Kini dia sadar. Sebenarnya hidupnya bukan menderita dan menyedihkan. Hanya saja dia kurang bersyukur. Kebenciannya pada sang ibu, membuatnya gelap mata. Sehingga tidak melihat masih banyak nikmat lainnya yang telah Tuhan berikan padanya.
"Maaf Pak, Anda sedang mencari siapa?" tanya seorang gadis muda bermata coklat yang bernama Aina.
"Em... aku mencari Syma. Apa dia ada?"
"Oh, Kak Syma. Dia ada didalam, dan sepertinya dia juga sedang kedatangan tamu.
Mari saya antar,"
Ersad mengangguk dan langsung mengikuti langkah Aina. Jaraknya yang tidak terlalu jauh, membuat Ersad masih bisa mendengar dengan samar suara Syma yang sedang bicara pada seorang pria.
Dan suara pria itu....
Ketika hampir sampai, dia menghentikan langkahnya. Dan menatap datar kearah Syma. Karena begitu sibuk dengan Revan, Syma sampai tidak sadar dengan kehadiran Ersad disana.
Meski tatapan Ersad datar. Namun siapapun bisa melihat ada rasa kecewa yang teramat sangat disana. 'Rupanya ini hanya alasanmu saja, agar bisa bertemu dengan pria itu lagi !' gumamnya dengan sedikit tawa hambar.
"Pak, kenapa berhenti? itu Kak Syma..." ucap Aina mengarahkan jari telunjuknya kearah Syma.
"Tidak jadi. Sebaiknya aku pulang... aku ada urusan mendadak," ucap Ersad ketus dan segera berbalik untuk meninggalkannya.
Namun baru beberapa langkah. Ersad berhenti, ketika melihat seorang wanita yang datang dengan langkah tergesa-gesa serta amarah yang siap dia ledakan pada siapapun. Wanita itu terlihat mengerikan.
Ersad menatap arah pandangan membunuh dari wanita itu. Rupanya dia menatap murka pada Syma. Tapi kenapa? pikirnya.
Wanita itu berjalan melewati Ersad begitu saja. Dan mendekati Syma dan juga Revan. Sementara Ersad mengikuti langkahnya dari belakang.
"Rupanya kau ada disini?"
"Mia?"
__ADS_1
"DASAR WANITA ULAR ! SUDAH AKU KATAKAN JANGAN GANGGU REVAN LAGI.... TAPI KAU MASIH SAJA MENDEKATINYA." tukas Mia dengan histeris. Merengsek maju hendak menyerang Syma.
Melihat hal itu, membuat Revan berniat untuk menarik Syma agar sedikit menjauh. Tapi sayangnya tubuh Syma sudah lebih dulu ditarik oleh seseorang sampai mendekapnya erat. Lalu tangan kekarnya yang satunya, menahan tangan Mia dan mencengkramnya kuat.
"Jangan coba-coba menyentuh apa yang sudah menjadi milikku!" tukas Ersad dengan pelan. Namun siapapun bisa merasakan ancaman yang kental. Mata hitamnya yang begitu tajam, bukan hanya menatap Mia tapi juga Revan.
Revan hanya terdiam. Namun dia juga menatap Ersad tidak kalah tajam. Begitu bencinya dia melihat pria yang sudah ikut campur dalam urusannya ini. Apalagi mengakui bahwa Syma adalah miliknya. Hal itu sudah cukup membuat darah Revan seakan mendidih.
"Wanita yang kau sebut ular ini, adalah wanitaku! tidak boleh ada yang menghinanya apalagi dihadapanku.
Jika kau berani melakukannya lagi, maka aku akan merobek mulutmu itu!"
Syma begitu terkejut. Dia bahkan tidak tahu sejak kapan dia sudah berada didalam pelukan Ersad seperti ini. Pria itu mendekapnya begitu erat. Seakan tidak membiarkannya bergerak sedikit saja.
"Siapa kau? apa hubunganmu dengan wanita itu?
Dia hanya wanita rendah... suka menggoda suami orang ! padahal aku sudah memperingatinya..." ucap Mia yang masih geram dengan Syma. Apalagi semua orang membelanya, tentu hal itu semakin membuatnya kesal.
"Kau bilang Syma adalah wanita rendah.... Lalu kau sendiri apa, hah?
Lebih baik kau berkaca, sebelum menghina orang lain. Aku sampai heran, kenapa ada mahkluk sepertimu didunia ini!
Bisa-bisanya seorang penggoda mengatakan orang lain penggoda. Cih, benar-benar memalukan!"
"Jangan merendahkan istriku!" tukas Revan yang mulai geram. Mia menatapnya dengan tersenyum senang, akhirnya Revan membelanya kali ini.
Namun senyuman itu luntur, ketika mendengar ucapan Ersad lagi sembari menatapnya dengan sinis. "Jadi perbuatan busuk wanita ini masih belum diketahui olehmu! ckck....
Kali ini aku harus mengatakan kau ini bodoh atau buta?"
*****
TBC
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA BUN😍
AFF REAL 🔥
__ADS_1