TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
EPS 84 HARIZ&AINA: ADA APA DENGAN PAKAIANKU?


__ADS_3

Semua pandangan tertuju pada sosok wanita yang mengenakan pakaian seadanya. Menyelonong masuk begitu saja, setelah mengucapkan salam. Dan dengan santainya langsung duduk disebelah Hariz.


Penampilan Aina, membuat orang-orang elit disana terperangah kaget. Bahkan tidak sedikit pula yang menatapnya dengan penuh celaan. Termasuk Clara yang tentu saja menghadiri acara itu.


"Pak Hariz, siapa wanita ini? Jangan katakan kalau dia istri Anda!" ucap salah seorang wanita disana.


"Memangnya kenapa kalau saya istrinya?" Aina menaikan dagunya. Seperti biasa sikap kasarnya mulai keluar di hadapan orang-orang yang ingin menindasnya.


"Hah! Yang benar saja. Lihatlah penampilanmu? Apa kau tidak lihat bagaimana cara berpakaian kami. Lihatlah, tidak ada diantara kami yang mengenakan pakaian kumel sepertimu!


Kau benar-benar membuat suamimu malu, dihadapan semua orang."


Aina langsung menoleh kearah Hariz yang diam saja. Entah apa yang dipikirkan pria itu, hingga Aina sendiri bingung.


"Memangnya ada apa dengan pakaianku? Aku mengenakan pakaian bersih tertutup aurat dan pastinya sesuai anjuran agamaku. Suamiku hanya ingin mengenalkan diriku, bukan pakaianku!"


"Sudahlah, untuk apa berdebat dengan wanita seperti itu. Aku sudah sangat berpengalaman sebagai gurunya dulu. Kau tidak tahu saja bagaimana muaknya aku! Pada dasarnya wanita liar tetaplah liar. Tidak akan pernah bisa menjadi wanita terhormat seperti kita," ucap Clara dengan gaya sengaja menyinggung Aina.


Tentu saja Aina geram dan...


PLETAK


Aaaaaaa....


"Wanita sialan! Beraninya kau melemparku dengan benda ini!!"


Ya. Aina melempar Clara dengan sendok tebal yang ada disana. Sendok itu mendarat sempurna didahi Clara hingga nampak jelas bekasnya.


Semua mata tertuju pada mereka. Begitu pula Hariz yang kini mencoba menahan Aina.


"Tentu saja aku berani, dasar wanita culas!! Ya. Kau memang guruku, guru yang tidak pernah memberikan satupun pelajaran. Melainkan hinaan dan makian. Maka dari itu aku berani melawanmu. Apalagi sekarang kau bukan guruku lagi. Jadi, aku tidak akan segan padamu."


"Aina, apa yang kau lakukan? Jangan diambil hati setiap ucapannya." Hariz mencoba meredakan emosi Aina.


"Aku memang tidak suka mengambil hati setiap kali dihina. Aku lebih suka mengambil batu, lalu kulempar kekepalanya! Berhubung disini tidak ada batu, jadi aku lempar dengan apa yang ada saja," sautnya santai.


"Astagfirullah Aina.... "


Hariz segera membawa Aina pergi dari sana. Bukan karena dia malu dengan penampilan Aina. Melainkan dia tidak ingin ada keributan yang akan membuatnya malu sebagai ketua yayasan.


Saat di loby, Aina melepaskan tangan Hariz yang sejak tadi menggenggamnya.


"Apa Mas Hariz malu dengan pakaian yang aku kenakan?"


Hariz menghentikan langkahnya dan menatap Aina dengan teduh. "Tidak Aina. Mas tidak malu. Hanya saja, Mas ingin agar kau menjaga sikapmu."


"Untuk apa menjaga sikap pada wanita yang sudah menghinaku? untuk apa menahan amarah setiap kali orang menghinaku? Mas tidak tahu saja rasanya bagaimana, itu sudah menjadi makanan sehari-hariku dulu. Itu menyakitkan. Aina harus membalasnya, Aina tidak bisa diam saja."


"Jika kita di cela, Atau dihina. Daripada kita hina balik lebih baik diam. Cobalah sekali saja menahan diri untuk tidak membalasnya.

__ADS_1


Kau tidak akan rugi, Aina. Karena Allah akan menaikan derajatmu sama dengan ahli ibadah yang sudah bertahun." Hariz berucap lembut. Kali ini tidak ada lagi nada sarkas yang biasa dia gunakan.


"Aku bukan kak Syma, Mas. Aku tidak semulia itu." Aina menahan sekuat tenaga Air mata yang sudah mengumpul dipelupuk mata.


"Aku tahu, aku ini wanita yang kasar. Aku juga wanita yang keras kepala. Nada bicaraku juga tidak selembut wanita lain pada umumnya. Aku tidak bisa bersikap lemah lembut seperti Kak Syma.


Maaf jika aku tidak bisa menjadi istri yang Mas Hariz harapkan. Aku tidak bisa selembut dan sekalem itu.


Tapi...


Itu adalah caraku untuk kuat melindungi diriku sendiri.


Dari kerasnya hantaman masalah didunia ini."


Pecah sudah, air mata yang sejak tadi ingin Aina tahan. Akhirnya tumpah tak terkendali. Membasahi wajahnya.


"Aina...


Kau adalah istriku. Tanggung jawabku padamu begitu besar.


Kau tahu?


Seorang suami tidak akan berdosa jika istrinya tidak bisa memasak. Seorang suami juga tidak akan dituntut diakhirat nanti jika istrinya tidak bisa bersih-bersih dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.


Akan tetapi, seorang suami akan berdosa apabila istrinya, tidak tahu adab dalam berbicara. Tidak tahu adab keluar rumah. Tidak tahu perkara sholat dan menutup aurat. Dan juga perkara agama lainnya. Dan seorang suami akan berdiri di hadapan Allah kelak. Untuk mempertanggung jawabkan semuanya.


Aina tersentuh. Kini dia sadar sikapnya mungkin bisa melindungi dirinya sendiri dari ancaman manusia. Tapi tidak dengan suaminya dari ancaman diakhirat kelak. Aina sadar bahwa dia tidak boleh egois.


Saat ini dia sadar, beban suaminya begitu berat.


"Baik Mas. Aina akan coba. Aina juga tidak ingin, Mas Hariz di introgasi sama malaikat gara-gara istri macam Aina ini."


"Bagus. Mas suka Aina yang penurut. Istri sholehah selalu patuh pada suaminya. Jadi kalau suami mau poligami, ya sudah nurut saja."


"APA!! Mas Hariz jangan macam-macam ya! Nanti Aina potong anunya Mas kalo berani poligami."


HAHAHHAHAH


"Kita pulang sekarang ya... "


Aina mengangguk setuju. Namun wanita itu belum juga masuk kedalam mobil. Dia masih berharap kalau Hariz akan membukakan untuknya. Seperti di adegan film romantis yang biasa dia tonton.


Sayangnya Hariz tidak seromantis itu. Pria itu bersikap cuek dan masuk duluan kedalam mobil. Membiarkan Aina mematung menatapnya jengkel.


Merasa diabaikan, Aina segera masuk kedalam mobil.


"Kenapa wajahmu ditekuk lagi?"


"Mas ngeselin! Sudah jalan... " ketusnya.

__ADS_1


Hariz menjalankan mobilnya. Sementara Aina duduk manis disebelahnya sesembari sesekali melirik kearah suaminya.


"Kalau mau bicara, ya bicara saja. Tidak perlu menatapku seperti itu. Mas tahu, kalo Mas tampan."


Aina langsung mendengus mendengarnya. "Percaya diri sekali orang ini!"


"Aina... "


"Emm.... " Aina menyahuti dengan acuh.


"Malam ini kita ulangin lagi, ya."


"Ulangin apa?"


"Itu.... "


"Itu apa Mas? Kalau bicara yang jelas!"


"Bercocok tanamnya. Kalau tidak dicoba terus, gimana kebutuhan kita bisa terpenuhi."


Aina mengerti arah pembicaraan Hariz. Sebab itulah dia sedikit bingung.


"Kenapa kebanyakan orang bilang kalau malam pertama itu bagaikan surga dunia ya mas? Padahal Aina tidak merasakan itu sama sekali!"


"Bukan tidak merasakan, Tapi belum. Kalau sudah tahu, nanti kamu akan ketagihan sendiri. Kamunya saja yang sulit diarahkan."


"Sulit diarahkan? Apa Aina sebodoh itu?"


"Kau memang bodoh! Sudah Mas bilang, rileks-rileks. Tapi masih saja tegang. Bagaimana mau masuk!"


"Ya kan, Aina belum berpengalaman. Yang Aina rasa cuma sakitnya saja. Gimana mau....


MAS AWASSS!"


CIIITTTTTT


Teriakan Aina membuat Hariz sadar bahwa ada yang mencoba menyalip mobil mereka. Dia terpaksa berhenti karena ada beberapa mobil yang berhasil mengepung mereka.


"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa mereka menghadang kita... "


.


TO BE CONTINUE.....


SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA YA READERS SEMOGA PUASANYA LANCAR LUNCUR.


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE SEIKHLASNYA


TERIMAKASIH

__ADS_1


__ADS_2