
Sejak kehamilan Syma, Ersad begitu perhatian padanya. Ersad juga tidak lagi membiarkan Syma mengerjakan pekerjaan rumah. Semuanya dibebankan pada Asisten rumah tangga baru mereka. Namun Syma yang merasa bosan tidak melakukan apapun, malah jengkel akibat ulahnya.
Bagaimana tidak.
Bahkan untuk makan sekalipun, dia tidak dibiarkan untuk mengambil sendiri. Jika dia ingin makan, maka semuanya sudah tersedia dikamar. Ersad benar-benar mengurungnya dan tidak membiarkannya bergerak sedikitpun.
"Mas. Bukankah ini berlebihan. Aku bisa mengambil makan sendiri," ucap Syma sedikit jengkel.
"Tidak Sayang. Itu tidak perlu, sekarang kau harus makan. Jangan lupa untuk menghabiskan banyak sayuran dan buah yang mengandung asam folat. Oh iya, jangan lupa juga makan kacang panjang. Ini sangat bagus untuk kecerdasan otak." Ersad berucap sembari menyuapi beberapa sayuran dimulutnya.
Untungnya perut Syma bisa menerima semua asupan makanan itu dengan lahap. Apalagi dari tangan suaminya, entah mengapa rasanya jauh lebih nikmat.
"Apa Mas tidak kerja?"
"Aku Bosnya. Terserah aku mau kerja atau tidak."
"Em, aku mau kepanti. Boleh kan?"
"Tidak."
"Astaga, Mas...
Aku hanya hamil, bukan penyakitan. Aku juga butuh bergerak. Bisa mati aku, karena bosan jika terkurung dikamar ini sepanjang hari," rengek Syma.
"Kenapa Kau jadi cerewet sekali Syma. Bukankah selama ini kau tidak pernah membantah setiap ucapanku?" Ersad menghentikan ucapannya dan menatap perutnya. "Aha. Pasti ini ulah anakku, ya? bahkan dari dalam perut saja kau sudah membantah Papa."
Syma menghela nafas beratnya.
"Aku mau kekamar mandi."
"Baiklah ayo aku bantu."
"Masssss...... "
"Baiklah, baik. Aku hanya bercanda. Tapi jika butuh sesuatu maka panggil saja aku," ucap Ersad mengangkat tangannya.
Syma tidak menjawab. Entah mengapa sejak kehamilannya, membuat Syma mudah emosi. Apalagi menghadapi sikap Ersad yang berlebihan padanya. Selalu saja membuatnya kesal.
Saat keluar dari kamar mandinya. Syma menatap ke sekeliling kamar. Tidak terlihat lagi suaminya disana. 'Dimana pria itu? padahal aku ingin sekali mengajaknya sholat berjamaah. Ini sudah masuk waktu Zuhur. Kenapa dia selalu menghilang setiap kali jam sholat. Kesempatanku untuk mengajaknya selalu gagal. Ya Robb... bantu hamba membawa Mas Ersad kembali kejalanmu,'
Syma merentangkan sajadahnya seorang diri. Dikala sujud terakhirnya. Dia tidak lupa meminta kepada Sang Ilahi, agar suaminya diberikan hidayah. Tidak lagi meninggalkan sholat dengan sengaja. Tidak lupa pula dia meminta agar Allah SWT melembutkan hatinya. Segala macam doa dia panjatkan dengan keyakinan dan kesungguhan agar rumah tangga mereka Sakinah dan dijauhkan dari fitnah dunia.
*******
"Mas Revan. Ayo makan, aku sudah masak semua makanan kesukaanmu," ucap Mia dengan lembut. Meski Revan masih saja tidak menganggap kehadirannya, namun Mia tetap sabar menghadapi suaminya. Berharap suatu hari nanti, Revan akan berubah dan ikhlas menerimanya.
__ADS_1
"Aku tidak lapar."
"Tapi Mas belum makan dari semalam."
"Aku bilang aku tidak lapar." suaranya kini sedikit tinggi. Namun Mia tetap tidak menyerah.
"Aku tahu apa yang sedang Kau pikirkan, Mas. Aku mengerti Mas juga belum bisa menerima semuanya. Tapi sekarang Syma sudah bahagia dengan kehidupannya. Berhentilah memikirkan sesuatu yang sia-sia. Itu hanya akan menyakitimu."
"Peduli apa Kau tentang rasa sakit? jika saja bukan karena ulahmu, mungkin sekarang aku yang sedang berbahagia dengan Syma. Bukan pria itu !" ucapnya tanpa mendengar lagi tanggapan Mia.
Mia hanya menatap kepergian suaminya dengan pandangan hampa.
Jika keinginan menyerah itu sudah ada. Mungkin saat ini dia sudah pergi meninggalkan Revan. Namun sayangnya rasa itu tidak pernah ada. Sehingga dia harus bertahan walau bagaimana pun keadaanya, entah sampai kapan.
*******
"Aku pikir Mas kerja," ucap Syma yang melihat suaminya tiba-tiba datang lagi.
"Tidak. Aku hanya keluar sebentar. Apa kau butuh sesuatu?"
Syma menggeleng. "Bukankah Mas bilang ingin membawa Zea ke psikiater hari ini?"
"Ya. Kami akan pergi sebentar lagi."
"Tidak. Kau dirumah saja."
"Jahat sekali ! pokoknya aku harus ikut. Zea akan merasa nyaman jika ada aku didekatnya." Wajah Syma sudah memerah. Matanya mulai berkaca-kaca.
Dan Ersad tentu tidak tega melihat hal itu. Pria itu kini mendekati istrinya. Menangkup kedua pipinya dan menghapus buliran bening disudut matanya.
"Baiklah. Jangan coba-coba menangis. Aku hanya tidak ingin anakku yang didalam perutmu ini ikut bersedih karena sikap ibunya yang cengeng."
AWWW
Syma mencubit perut suaminya, tidak Terima dengan ucapannya. "Jadi hanya bayimu yang dipikirkan? bukan aku?"
"Heheh... tentu saja kalian bertiga,"
"Bertiga?"
"Ya, Zea salah satunya. Aku tidak ingin pilih kasih. Kalian bertiga sama berartinya bagiku."
Syma tersenyum dan memeluk hangat sang suami dengan mesra. Rasa bahagia menyelimuti hatinya.
"Berhenti memelukku, Syma. Aku paling anti diperlakukan seperti ini. Aku harus berpuasa dulu untuk tidak menyentuhmu."
__ADS_1
"Astaga.... " Sontak Syma langsung melepaskan pelukannya. Rasa jengkel kembali melingkupinya. Ersad hanya terkekeh geli melihat wajah istrinya yang kembali cemberut.
"Ayo." Ersad membawa Syma menuju lemarinya.
"Untuk apa?" tentu saja Syma bingung.
"Mengganti pakaianmu," jawabnya santai. Dan Syma langsung melepaskan tangannya.
"YA ALLAH, MASSSSSS.......
Aku bisa memakai sendiri pakaianku. Jangan memperlakukan aku seperti orang penyakitan," Teriaknya kesal.
Tidak pernah Syma meninggikan suaranya sebelumnya. Wanita itu selalu bertutur kata lembut. Namun setelah kehamilannya, semua kelembutannya seakan lenyap. Yang ada, hanyalah singa betina yang kerap kali mengaung.
"Maaf Sayang. Aku lupa,"
Rupanya Ersad sengaja mengobarkan api didalam diri Syma. Hanya untuk kesenangannya sendiri. Wajah marah wanita itu tidak terlihat mengerikan sama sekali. Justru semakin membuatnya gemas.
"Jika saja kau tidak hamil muda, maka aku sudah melemparmu keranjangku saat ini," ucap Ersad yang bahkan sempat-sempatnya menggoda Syma, sebelum keluar dari sana.
"Dasar Suami gila,"
ASTAGHFIRULLAH....
Bisa-bisanya aku memaki suamiku sendiri. Mulut ini, kenapa jadi seperti ini?
*****
"Anak yang mengalami trauma harus diberi perhatian lebih agar trauma yang ia rasakan tidak mengganggu perkembangannya. Sebab dikhawatirkan, jika tidak ditangani, trauma tersebut bisa terbawa sampai ia dewasa.
Dalam dunia kedokteran, gangguan cemas akibat trauma disebut denganĀ post-traumatic stress disorder. Ini adalah gangguan akibat melihat ataupun mengalami suatu kejadian berbahaya atau berat, sehingga memengaruhi kondisi psikologis anak. Dan seperti yang kalian ceritakan saat kejadian itu. Saya rasa Zea memang mengalami trauma. Tapi tidak terlalu dalam dan mengganggu psikologisnya. Kalian cukup beruntung.
Namun meski begitu, Anak yang mengalami pengalaman traumatis memerlukan rasa aman dan dicintai. Setiap orang tua pada dasarnya ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Namun, ketika orang tua tidak mengerti dampak trauma pada anak, mereka bisa jadi salah menafsirkan perilaku anak. Akibatnya, orang tua bisa frustrasi, bahkan kesal. Upaya orang tua untuk mengatasi perilaku anak yang dianggap mengganggu, menjadi tidak efektif. Bahkan dalam beberapa kasus justru memperburuk kondisi anak.
Jadi kesimpulannya disini. Kalian bisa mempraktekkan sendiri dirumah untuk mengembalikan psikologisnya. Zea harus merasa dicintai, disayangi dan dilindungi. Kalian juga harus sering membuatnya tertawa dan bahagia. Dengan cara seperti itu, perlahan dia akan melupakan kejadian buruk yang pernah menimpanya."
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak atas bantuan Anda,"
"Sama-sama."
TBC
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE YA.
AFF REAL š
__ADS_1