
Pagi sudah menjelang. Tidak ada tanda-tanda munculnya Revan dan juga anaknya Zico. Mia ingat, bahwa sebentar lagi Revan akan pergi bekerja, sebab itulah dia ingin memastikan Revan dikamarnya untuk membangunkannya.
Meski sedikit ragu, namun Mia tetap memberanikan diri membuka pintu kamar suaminya yang tak terkunci. Hanya sedikit dan secara perlahan.
Pandangan yang pertama kali dia lihat adalah sepasang ayah dan anak masih tertidur dengan nyenyak. Terlihat Zico memeluknya dengan erat. Seakan tak ingin Revan lari darinya.
Mia tersenyum. Pemandangan yang tidak dia duga akan terjadi. Sosok ayah sesungguhnya yang dinantikan Zico akhirnya hadir. Perasaan Mia mengembang hingga secara perlahan dia mendekati kedua orang itu. Berdiri di sebelah Revan untuk membangungkannya.
Mia duduk di pinggiran ranjang. Menyentuh Revan dengan lembut agar pria itu bangun namun tidak terkejut.
Sayangnya saat tangan Mia menyentuh bahunya, tiba-tiba saja...
"Ahk!"
Mia memekik kaget, saat Revan menariknya hingga wanita itu juga kini berada dipelukannya. Sama seperti Zico.
Mia menatap Revan yang masih terpejam namun tangannya merengkuh erat tubuh istrinya.
"Mas, kamu kesiangan. Lihatlah jam berapa sekarang!" Mia mencoba menyadarkan Revan. Namun pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas... Kamu bisa-"
"Ssstt.... diamlah. Biarkan seperti ini dulu. Zico bisa bangun jika kau tidak berhenti bicara," Revan menyahuti dengan suara seraknya.
"Tapi-"
Revan membuka matanya. Tatapan mereka langsung bersi bobrok. Membuat Mia merasa kikuk. Jantungnya berdetak keras. Entah kapan terakhir mereka berada dalam posisi begitu dekat seperti ini. Mia bahkan tidak ingat.
"Aku mau mandi."
"Yah. Memang seharusnya begitu sejak tadi."
"Temani aku... " Sontak hal itu membuat Mia membulatkan matanya.
"Tapi aku sudah mandi," ucap Mia menatapnya nanar.
"Aku hanya ingin ditemani. Bukan dimandikan."
"Tapi Mas-"
Belum sempat Mia menyela, Revan sudah beranjak dan menarik pelan Mia agar ikut masuk kedalam kamar mandi. Mau tidak mau Mia harus mengikuti.
Revan mulai melucuti pakaiannya. Membuat Mia seketika memalingkan wajahnya.
'Bodoh!
__ADS_1
Kenapa aku malu? Dia suamiku?' rutuk Mia yang membuat Revan malah terkekeh.
Revan mulai menggosok giginya. Sementara Mia hanya berdiri melihat semua yang suaminya lakukan. Dia sendiri bingung harus melakukan apa.
"Sebaiknya aku keluar, Mas. Disini tidak ada yang bisa aku lakukan." Mia mulai merengek karena bosan.
"Kau sangat tidak sabar rupanya. Peranmu disini menggosok punggungku, ayo lakukan...," titahnya.
Mia tersenyum kecil sembari mematuhi perintah suaminya.
Lama, mereka berada disana. Yang terdengar hanya suara gemericik air. Sampai akhirnya ritual mereka selesai dan diakhiri dengan ciuman panjang.
"Terimakasih."
Mia tersipu malu. Setelah sekian lama. Revan kembali menyentuhnya. Meski hanya sebuah sentuhan bibir. Namun Mia merasa bahagia luar biasa.
Mereka keluar dari kamar mandi. Saat itu juga pemandangan pertama yang mereka lihat, adalah Zico yang sudah terbangun dari tidurnya. Entah sejak kapan anak itu bangun, namun saat ini tatapan bocah itu sepertinya sedang mengintimidasi kedua orang tuanya.
Mia dan Revan saling menatap. Melihat Zico yang sudah terduduk diatas kasur sembari menatap kearah mereka.
"Papa sudah besar. Kenapa minta Mama mandikan?"
Mia tergagap. "Anu, sayang. Mama hanya-" belum sempat Mia menyelesaikan penjelasannya. Tiba-tiba dia memikirkan sesuatu.
'Tunggu dulu... Papa?' Mia menatap kedua orang itu secara bergantian. Sejak kapan Zico memanggilnya dengan sebutan Papa?
"Nanti saja aku jelaskan. Sekarang aku sudah sangat terlambat."
Kini Mia beralih menatap Zico. Rupanya bocah kecil itu juga menaikan bahu seolah tak peduli dengan kebingungan ibunya. 'Astaga... Ayah sama anak sama saja!'
Tanpa Mia sadari, Revan telah selesai dan siap pergi bekerja. Hal yang semakin membuatnya heran, dimana Revan kali ini mencium dahi putranya sebelum berangkat.
"Papa pergi dulu. Jadilah anak baik yang nurut sama Mama."
Bocah kecil itu mengangguk. "Apa Mama tidak baik?"
Revan menautkan kedua alisnya. "Kenapa bicara begitu?"
"Papa tidak menciumnya. Apa Mama tidak baik?"
Mia terperangah mendengarnya. Bisa-bisanya Zico bicara seperti itu. Mia ingin menyela, namun tiba-tiba saja sebuah ciuman panjang mendarat didahinya. Membuat Mia membeku seketika. Dan menatap Revan tidak percaya. Sebelum akhirnya dia tersadar saat mendengar suara lembut dari suaminya.
"Jaga anak kita."
Mia hanya mengangguk, sembari menatap kepergian suaminya. Dengan perasaan bercampur aduk didalam dirinya. Mia tidak menduga hal seperti akan terjadi padanya.
__ADS_1
Apakah ini pertanda bahwa Revan telah kembali padanya? Pria itu mencintainya?
****
Kini Revan telah duduk di kursi kebesarannya. Bersamaan dengan Azkhan yang datang dengan menagih janjinya.
"Waktumu habis, Revan. Kau harus memilih."
Revan hanya diam. Namun Azkhan malah menatapnya angkuh.
"Aku hanya ingin kau menceraikan Mia. Setelah itu semuanya selesai. Apanya yang sulit... Lagi pula kau tidak mencintainya. Jadi, biarkan dia bahagia bersama denganku!"
"Kau keliru Azkhan. Semua pemikiranmu itu salah." Revan menanggapinya dengan sikap yang begitu tenang.
"Kau lah yang salah karena telah menelantarkan anak dan istrimu. Kau egois mempertahankan mereka yang hanya akan menderita jika bersama denganmu."
"Aku akan mengubah semuanya."
Azkhan mendengus. Menatapnya remeh. "Apanya yang ingin kau ubah? Luka yang kau torehkan padanya mungkin memang bisa sembuh. Namun meski begitu pastinya akan meninggalkan bekas. Mia wanita yang baik. Biarkan dia memilih sendiri kebahagiaannya!"
Azkhan semakin kesal, saat Revan malah tersenyum mendengar ucapannya. "Dan kau mau tahu bagaimana pilihannya? Dia memilihku. Dia memilih untuk memberikan padaku kesempatan lagi untuk memulai semuanya dari awal."
"Jangan menipuku!!" Azkhan mulai geram dengan sikapnya.
"Untuk apa aku menipu sepupuku sendiri. Mau sebenci apa kau padaku, kita tetap memiliki hubungan keluarga yang erat. Jika kau mengerti itu, maka kau tidak akan mau mengganggu rumah tangga sepupumu sendiri."
"Aku seperti ini juga karena ulahmu. Jika saja kau memperlakukan Mia dengan baik, aku tidak akan-"
"Kau telah dibutakan oleh cintamu, Azkhan. Sejak awal Mia sudah menolakmu, tapi kau masih saja gencar mengincarnya. Meski Mia tidak bersama denganku, aku yakin dia juga tidak akan memilihmu!" Revan kini menekankan ucapannya. Berharap Azkhan segera sadar dan berhenti dalam ambisinya.
Namun hal itu justru semakin menyulut amarah Azkhan. Hingga pria itu menggebrak mejanya.
"Tutup mulutmu!"
"Aku bicara fakta," saut Revan dengan santainya.
"Brengsek! ceraikan Mia, atau aku ratakan perusahaanmu!!" Azkhan kini menarik kerah baju Revan.
"Itu tidak akan mengubah apapun." Revan masih bersikeras. Dan melepas paksa tangan Azkhan yang telah lancang padanya.
"Baiklah, anggap saja kau mencintainya. Tapi apa yang bisa kau lakukan untuk cintamu itu?! Kalian akan jatuh miskin. Tidak memiliki apapun. Bagaimana kau akan menghidupi Mia dan Zico?
Zico membutuhkan pendidikan untuk masa depannya. Sedangkan Mia... dia sudah cukup menderita selama ini. Lalu penderitaan seperti apa lagi yang ingin kau berikan, dengan mengajaknya hidup susah?
Sadarlah Revan! Satu-satunya cara untuk membahagiakan orang yang kau cintai hanyalah dengan melepaskannya... "
__ADS_1
****