
"Aku tidak mau kerumah sakit!"
"Kalau tidak mau kerumah sakit, sudah. Pulang sana! Jangan merepotkanku... "
Ucapan Hariz membuat Aina semakin kesal. Tanpa perasaanya pria itu selalu saja memperlakukannya seenaknya.
"Tidak mau. Bapak harus bertanggung jawab!"
"Aku tidak menghamilimu. Untuk apa tanggung jawab."
"Motorku rusak parah. Kakiku terkilir. Bapak harus membayar ganti rugi!"
Hariz terkekeh mendengar ucapan Aina yang terdengar konyol baginya. Tiba-tiba saja Hariz menepikan mobilnya dan mendekatkan wajahnya kearah Aina.
Aina bahkan bisa merasakan hembusan nafas dari pria itu. Matanya berkilat tajam menatap Aina. Sementara Aina sendiri sudah begitu tegang.
"Dengar Aina. Seharusnya yang bertanggung jawab itu adalah dirimu. Kau telah menabrak mobilku sehingga mengalami kerusakan. Kau tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk servicenya?
Bahkan jika kau menjual seonggok tubuhmu sekalipun, tidak akan mampu membayar semua biayanya. Jadi, selagi aku berbaik hati. Lebih baik kau jaga sikapmu dan kunci rapat-rapat mulutmu ini. Jika tidak, maka aku tidak akan segan membungkamnya dan melakukan apapun padamu sesuka hatiku.
Paham!"
Aina mengangguk patuh. Ada sedikit ketakutan didalam dirinya. Meski dia sangat ingin sekali berteriak bahwa pria ini tidak boleh merendahkan seorang wanita. Namun Aina tidak punya cukup keberanian untuk itu. Dia masih sangat sayang pada nyawanya.
Pria seperti Hariz tidak bisa ditebak sikapnya. Sehingga Aina harus sepandai mungkin menjaga sikapnya dihadapan pria ini.
"Bagus. Kucing pintar... "
Hariz kembali menjalankan mobilnya. Kali ini dia cukup puas, karena telah membuat Aina terdiam.
"Lalu kita mau kemana?" cicitnya.
"Kerumahku."
"Untuk apa?"
"Apa saja. Terserah aku...
Itukan rumahku!"
"Maksudku, kenapa aku dibawa kesana? Aku ingin kembali kepanti saja."
"Tidak. Kau tidak boleh pulang, sebelum kau bisa berjalan dengan normal dan pulang dengan sendirinya," saut Hariz dingin dan tajam. Nyali Aina lagi-lagi menciut karenanya.
'Astaga pria ini pemaksa sekali! Dia tidak tahu apa, kalau jantungku tidak bisa berdekatan terlalu lama dengannya.'
*****
__ADS_1
Syma memejamkan matanya. Mencoba untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang berkecamuk.
Namun saat dia mulai hanyut dalam mimpinya. Tiba-tiba saja ada yang menyentuh wajahnya. Menelusuri garis wajahnya dengan lembut dan sensual.
Keningnya berkerut. Dia pikir itu adalah mimpi. Namun tangan hangat yang memeluk pinggangnya begitu terasa. Hingga Syma memaksakan diri untuk membuka matanya dan melihat sendiri apakah itu nyata.
Matanya membulat sempurna, saat menyadari bahwa itu bukanlah mimpi. Dia berbaring miring kekanan. Dan melihat tangan kekar sedang melingkar di perutnya. Seseorang sedang memeluknya dari belakang. Syma bahkan bisa merasakan dada bidang yang menyentuh punggungnya.
Saat kesadarannya mulai terkumpul. Syma terperanjat dari tempat tidurnya dan menggeser tubuhnya sedikit menjauh. Matanya berkilat tajam saat mengetahui siapa pelakunya.
"Mas Ersad?"
"Ya Syma. Ini aku...
Aku kembali untukmu," saut Ersad begitu lembut dan sendu. Matanya terlihat jelas bahwa pria itu begitu merindukannya. Namun Syma justru membalasnya dengan tatapan penuh dendam.
"Apa yang Kau lakukan disini? Cepat keluar! Aku tidak pernah menginginkanmu untuk Kembali.
Tidak hari ini. Maupun besok dan seterusnya!"
"Kenapa kau bicara seperti itu Syma? Apa kau tidak merindukanku? Aku ini Suamimu..."
Syma tertawa hambar mendengarnya. Begitu mudah Ersad mengatakan hal itu seakan tidak berdosa sama sekali padanya. Sampai akhirnya Syma merasa muak.
"Rindu?
Dan Suami?
Suami macam apa yang meninggalkan anak dan istrinya. Suami macam apa yang tega membiarkan istrinya berjuang seorang diri melahirkan anaknya? Katakan padaku, suami macam apa yang menghilang tanpa kabar dan selama lima tahun tidak pernah memberi nafkah? Membiarkan istrinya sendiri berjuang untuk menghidupi anaknya.
Apa itu masih pantas disebut sebagai seorang suami?"
Ersad menipiskan bibirnya. Sikap Syma yang dulunya begitu lembut, tidak lagi bisa dia rasakan. Namun dia sadar semua itu juga karena ulahnya. Sebab itulah Ersad berusaha sabar menghadapinya. Dan mencoba menjelaskan semuanya.
"Aku tahu kau pasti membenciku, Syma. Tapi semua yang aku lakukan ini bukan tanpa alasan. Bahkan ini bukan hanya demi dirimu, tapi juga anak-anak kita... "
"Apapun alasanmu aku tidak mau dengar. Sekarang keluar dari sini, atau aku yang keluar!"
Ersad terdiam di tempatnya. Kekeras kepalaan Syma membuatnya kesal. Bukannya menjauh, Ersad malah semakin mendekatinya.
"Aku menyuruhmu keluar, bukan mendekat!" Syma mencoba memperingatinya sembari mundur secara perlahan karena Ersad tidak juga berhenti.
Sampai akhirnya Ersad berhasil mendapatkan wanita itu dan mengungkung tubuhnya.
Tentu saja Syma memberontak. Syma bahkan memukul tubuh keras Ersad yang justru membuat tangannya sendiri terasa sakit.
"Cukup Syma. Hentikan... " Ersad menghentikan pemberontakan Syma dengan menarik tangan Syma keatas kepala dan menyatukan kedua pergelangan tangan Syma. Syma tidak bisa berkutik lagi sekarang. Apalagi kakinya sudah dikunci oleh Ersad.
__ADS_1
"Diam dan dengarkan aku bicara." Ersad sedikit mendesis.
Syma membuang wajahnya. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Syma takut akan tenggelam kedalam rayuan maut Ersad. Yang akan membuatnya kembali lemah.
"Kepergianku bukan tanpa alasan Syma. Aku melakukan ini untuk merebut kembali perusahaanku yang telah dihancurkan berkeping-keping. Dan untuk melakukan itu, membutuhkan waktu yang tidak singkat. Aku harus menyakinkan kembali para investor untuk kembali bekerja sama denganku. Membangun kembali kepercayaan mereka.
Dan itu tidaklah mudah. Aku juga mungkin tidak akan berhasil melakukan semua ini jika tanpa bantuan dari seseorang.
Semua yang terjadi bukan secara kebetulan tapi sudah direncanakan.
Dan Revan lah dalang dibalik semua ini."
Syma menatap kearahnya. Pancaran kepedihan terlihat begitu jelas.
"Aku bukan wanita penggila harta Mas. Aku sudah mengatakannya padamu berkali-kali bahwa kita bisa menghadapi semua itu. Mau bagaimana pun orang ingin mengguncang rumah tangga kita, asal kita selalu bersama maka semuanya akan baik-baik saja.
Aku mencintaimu karena Allah.
Aku bahkan tidak pernah menuntut barang mewah apalagi perhiasan mahal padamu.
Aku hanya memintamu agar selalu setia padaku, sampai tugasku menjagamu didunia ini selesai.
Tapi apa yang kau lakukan? Kau meninggalkan kami begitu saja. Hanya dengan kata maaf....
Lalu apa artinya aku selama ini? Jika kau memang menganggapku istrimu, seharusnya bicarakan dulu hal itu padaku!"
Lagi-lagi air mata Syma mengalir. Ersad segera menghapusnya dengan penuh kelembutan.
"Aku tahu Syma. Aku tahu...
Aku tahu dengan semua ketulusanmu padaku.
Sebab itulah aku tidak bisa membicarakan hal itu padamu. Kau tidak akan mengijinkan kepergianku," ucap Ersad menangkup kedua pipi Syma. Dan menyatukan kening mereka.
TBC
TERIMAKASIH BUAT YANG UDAH NGASIH AUTHOR HADIAH SEMOGA REJEKINYA TAMBAH LANCAR YA...
TERIMAKASIH JUGA ATAS DUKUNGAN DARI PARA READERS. TANPA KALIAN AUTHOR BUKANLAH APA-APA. SEMANGAT DAN DUKUNGAN DARI KALIAN JUGA MEMBUAT MOOD AUTHOR SELALU BAIK.
SEKALI LAGI TERIMAKASIH KARENA TELAH MENYIMAK CERITA INI DENGAN BAIK. SEHINGGA TIDAK ADA YANG GAGAL FOKUS. HEHE...
OKEDEH NANTIKAN TERUS KELANJUTAN CERITA MEREKA YANG MASIH BELUM TUNTAS YA
SE YOU NEXT CAPT😊😊
AFF REAL
__ADS_1