
"Sudah cukup semua pemikiran burukmu terhadap suamimu. Dia tidak seburuk yang kau bayangkan Syma... "
"Ap-apa maksud Ibu? Jangan membuatku bingung. Katakan ada apa sebenarnya." Syma menatap mereka secara bergantian. Dengan pandangan menuntut tak sabar.
"Maafkan Ibu Syma...
Sebelum Ersad pergi meninggalkanmu. Dia sempat menemui Ibu. Dia meminta agar Ibu membantunya tetap terhubung denganmu dan juga anak-anak disaat dia pergi jauh untuk menyelesaikan semua masalahnya.
Saat itu pikirannya sedang kalut. Dia tidak punya pilihan lain selain pergi bersama Hariz ke Italy. Karena Revan tidak akan bisa dihentikan jika tidak melihat kalian berpisah. Apalagi di saat kalian sedang terpuruk. Revan akan semakin gencar melakukan aksinya.
Sebab itulah dia pergi. Bukan hanya untuk mengambil semua hak nya. Melainkan menjaga kalian dari pengaruh buruknya. Menjaga agar rumah tangga kalian tetap utuh." Syma tidak bersuara. Membiarkan Ceyda meneruskan kembali ucapannya.
"Saat kau berpikir bahwa dia tidak ada disaat kau membutuhkannya. Disaat kau sedang berjuang antara hidup dan mati, melahirkan Gokhan. Ersad menyempatkan waktunya untuk datang meski hanya sebentar Syma. Dia melihat dari kejauhan dengan berlinang air mata melihat kau kesakitan. Sampai akhirnya Gokhan lahir kedunia. Dia sempat menggendongnya sebentar sebelum akhirnya kembali ke Italy menjalankan tugasnya."
"Kenapa dia tidak menemuiku? Kenapa harus melihatnya dari jauh... " Ada rasa tidak percaya didalam diri Syma mendengar penuturan Ceyda.
"Dia tidak ingin mengambil resiko. Jika kau tahu dia disana, sudah pasti kau tidak akan mengijinkannya pergi. Dan Ersad begitu lemah dihadapanmu. Dia tidak akan bisa menolak permintaanmu.
Dan sebab itu jugalah kami membiarkan Revan sibuk mengejarmu, sementara Ersad menghancurkannya secara perlahan, sehingga Revan lengah dan tidak menyadarinya.
Kau pasti bingung, bagaimana bisa Gokhan langsung dekat dengan Ersad. Padahal mereka baru saja bertemu.
Tanpa sepengetahuanmu, Ibu menghubungi Ersad melalui video call. Dari sanalah Gokhan mengenal ayahnya. Bahkan sejak dia masih bayi." Syma terperangah mendengarnya. Dia baru menyadarinya sekarang. Ternyata Ibu mertuanya juga terlibat dalam hal ini.
Syma memalingkan wajahnya. Mencoba mengingat-ingat wajah sendu Ersad ketika menatapnya. Ada rasa sesak dihatinya karena selalu mengabaikan pria itu.
"Dia memang tidak memberimu nafkah. Tapi apa kau tahu siapa yang memesan ratusan simit setiap harinya?"
"Jangan katakan bahwa itu juga karena ulahnya?" Syma langsung menyela.
"Sayangnya itulah kebenarannya. Efsane adalah orang suruhannya untuk memesan ratusan simit untuk dibagikan kepanti asuhan.
Jika dia memberimu nafkah, sudah pasti kau akan menolaknya. Hanya itu cara yang dia bisa agar kalian bisa tetap bertahan hidup. Meski jauh dari kalian, namun Ersad tidak bisa berhenti memikirkan kalian. Percayalah Syma...
Ersad juga tersiksa karena jauh dari kalian. Aku Ibunya...
__ADS_1
Aku tahu bagaimana perasaan putraku." Ada raut kesedihan diwajah Ceyda dan mengatakannya. Dan Syma hanya terdiam seribu bahasa.
"Syma...
Kau pasti tidak percaya mendengar ini. Tapi... Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku saat ingin menemuinya di apartemen. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat dia menangis.
Menangis didalam sujudnya. Aku memang tidak mendengar doa nya. Tapi aku yakin dia pasti sedang mendoakan kalian. Dan itu hampir setiap malam Syma. Sejak saat itulah, aku semakin bertekad membantunya. Bukan hanya tentang misi pembalasan. Tapi juga misi menyatukan kalian seperti dulu lagi." ucapan Hariz membuat air mata Syma mengalir. Tak dapat terbendung lagi, betapa besar perjuangan suaminya untuk menyelamatkan rumah tangganya.
"Sekilas, memang perbuatannya begitu kejam dan brengsek. Siapapun pasti berpikir dia itu pengecut. Karena mencoba lari dari masalah.
Tapi tidak ada yang tahu, bahwa itu adalah bentuk perjuangan besarnya. Tidak mudah baginya selama lima tahun terpisah dari anak dan juga istrinya.
Sama sepertimu Syma...
Dia juga tidak kalah terpuruknya. Jika saja aku tidak datang malam itu, mungkin saat ini dia sudah di penjara karena kasus pembunuhan.
Ya.
Saat itu dia sangat ingin membunuh Revan dengan tangannya sendiri. Namun aku mencegahnya."
'Ya Robb...
"Ini belum terlambat Syma. Segeralah temui suamimu dan selesaikan semuanya."
Syma mengangguk setuju dan segera pergi meninggalkan mereka. Dengan perasaan bercampur aduk didalam benaknya. Syma sangat ingin bertemu dan memeluk suaminya saat ini juga.
******
Azan telah berkumandang.
Syma telah mencari Ersad kemana-mana, tapi tidak berhasil dia temukan. Tinggal satu tempat yang belum dia kunjungi, namun Syma memilih mengerjakan sholat ashar terlebih dulu.
Dia singgah di salah satu masjid terdekat disana sebelum melanjutkan perjalanannya.
Dia datang disaat orang-orang telah selesai mengerjakan sholat. Hanya tinggal beberapa orang lagi saja.
__ADS_1
Ketika Syma telah memasang mukenanya. Tiba-tiba matanya terpaku pada punggung seseorang yang sangat familiar baginya.
Dia sangat yakin bahwa itu adalah suaminya.
"Mas Ersad?" gumamnya.
Syma mengikuti arah kemana Ersad pergi. Rupanya pria itu sedang mengambil tempat barisan sholat. Syma menatapnya dari kejauhan dan secara diam-diam menjadi makmum dibelakangnya.
Mereka akhirnya mengerjakan sholat secara berjamaah. Dengan memanjatkan doa mereka masing-masing.
Setelah selesai mengerjakan Sholat. Syma masih belum memiliki keberanian untuk menghampiri Ersad. Dia masih memperhatikan gerak gerik suaminya yang sedang bercengkrama dengan salah satu tokoh agama disana.
Syma segera bersembunyi dibalik tembok saat menyadari bahwa Ersad akan segera pergi.
"Kenapa anda bersembunyi Nyonya?" Tanya ustadz yang tadi berbicara dengan Ersad.
Syma terjingkat kaget saat seseorang menegurnya.
"Em, tidak ada. Anda sepertinya sangat mengenal pria tadi. Apa dia sering kesini?" Syma bertanya penuh selidik.
"Ya. Dia memang sering kesini. Setelah beberapa tahun menghilang, akhirnya dia menyempatkan diri untuk datang lagi kesini."
Beberapa tahun? Itu artinya Mas Ersad sudah sering kesini sebelum pergi ke Italy? Apa ini sebabnya dia selalu menghilang setiap kali aku ingin mengajaknya sholat? batin Syma.
"Apa anda mengenalnya Nyonya?"
Syma diam sejenak. Sebelum akhirnya mengangguk. "Ya, dia suami saya... "
"Ternyata benar dugaan saya. Dia sering menemui saya setiap kali ada masalah. Dia selalu bertanya dan meminta bimbingan dalam menyelesaikan masalahnya. Dan akhir-akhir ini, terlalu banyak beban yang dia pikul seorang diri.
Masalah rumah tangga kalian memang urusan kalian. Tapi Nyonya, jika saya boleh memberi nasihat. Tolong jangan biarkan suami Anda memikulnya seorang diri. Dia cukup tertekan. Komunikasi adalah cara terbaik dalam menyelesaikan masalah. Bicaralah baik-baik pada suamimu sebelum menyelesaikan masalah. Karena saat ini, saya yakin dia sedang mengambil keputusan yang salah."
"Keputusan yang salah?"
****
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE