
Setelah semua bujuk rayu dilontarkan pada Ersad. Akhirnya pria itu menurunkan egonya dan setuju untuk tinggal di rumah Ceyda sementara waktu.
Mereka juga dengan semangatnya membuka usaha kecil-kecilan berdagang Salah satu makanan jalanan paling populer di Istanbul, Turki yaitu Simit. Yang mana merupakan kudapan roti renyah berbentuk bundar yang ditaburi dengan wijen sangrai. Untuk menambah rasa, simit akan disajikan bersama minyak zaitun, selai buah, cokelat dan keju.
Sekilas, mereka tampak begitu bahagia. Seolah tidak ada masalah sedikitpun. Syma dengan telatennya membuat simit bersama Ceyda. Sementara Ersad dan Zea sibuk membersihkan tempat jualannya. Mereka semua disibukkan dengan pekerjaan baru mereka dengan penuh kecerian dan canda.
"Berikan padaku, jangan mengangkat barang berat Syma. Ingat, kau sedang hamil!" Ersad segera mengambil alih barang yang dibawa Syma untuk disusun.
"Aku hanya terlalu semangat." Syma tersenyum tulus.
Sementara Ceyda memperhatikan mereka dengan penuh kebahagiaan. 'Surga suamimu memang masih ada padaku Syma. Tapi akan aku pastikan surga itu akan menjadi milikmu... ' gumam Ceyda menatap keharmonisan mereka.
Tanpa mereka sadari. Ada sepasang mata yang tidak suka dengan kebahagiaan mereka.
Siapa lagi kalau bukan Revan. Pria itu menatap dari kejauhan dengan wajah bringas. Amarah yang tak terbendung dan dendam yang membara. Rasa iri hati juga tidak pernah luput darinya. Revan menginginkan kehancuran rumah tangga mereka. Mengambil Syma dan Zea kembali dari Ersad.
Namun apalah daya.
Sesuai ucapan Mia, rupanya Syma tidak terpengaruh sedikitpun dengan masalah yang terjadi.
'Ini belum berakhir, Syma. Kali ini kau benar-benar akan kembali padaku. Kau tidak akan punya pilihan lain lagi. Lihat saja apa yang akan aku lakukan,' gumam Revan dengan amarahnya.
"Syma, aku harus pergi sekarang juga. Ada hal yang harus aku urus." Ersad nampak begitu terburu-buru pergi setelah menerima telepon.
"Baiklah Mas. Hati-hati."
Ersad mengangguk dan segera pergi setelah mengucapkan salam.
******
Aina dan Vio tiba-tiba datang, ketika mendengar kabar bahwa Syma tengah berjualan. Mereka berniat ingin membantu Syma agar semua dagangannya laku.
"Aina? Vio? Kenapa kalian kesini? Seharusnya kalian sekolah, nanti terlambat."
"Kami ingin membantumu Kak. Biar sebagian kami jual di sekolah."
"Tidak perlu repot-repot Aina. Sebaiknya kalian pergi sekolah sekarang. Nanti kalian akan dihukum." Syma berusaha memperingati mereka. Namun bukan Aina namanya jika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sampai akhirnya Syma menyerah dan mengijinkan Aina membawa sebagian dari makanan yang dijualnya untuk dibawa kesekolah.
Mereka membawanya dengan perasaan riang. Dan mulai mengedarkan pada teman-temannya disekolah.
"Cobalah Simit buatan kami, rasanya sangat enak," ucap Aina menawarkan pada siswa yang lewat.
"Hey Aina ini bukan buatanmu. Tapi kak Syma," Sela Vio menyikutnya.
"Sama saja bodoh! Mereka mana tahu Kak Syma itu siapa. Sudahlah jual saja."
"Okeoke."
__ADS_1
"Berapa harga Simitnya?"
"Harganya dua lira."
"Mahal sekali. Aku biasa membeli satu setengah lira."
"Ck, simit buatan kami sangat lezat dan juga terjamin higienisnya. Bahan yang dibuat juga bukan sembarangan. Harganya sudah sesuai dengan rasanya. Sebaiknya kau coba dulu, baru menilai," ucap Aina dengan strategi pemasarannya.
Meski sedikit ragu, namun anak itu mau membeli simit yang dijual Aina. Dan langsung memakannya. "Rasanya sama saja."
Vio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Aina mengangkat bahu tak peduli.
"Apa kau tidak tahu bahwa siswa dilarang jualan disekolah ini Aina," suara Hariz membuat Aina membeku di tempatnya. Bukannya dia tidak tahu, hanya saja Aina tidak peduli dengan peraturan yang menurutnya konyol itu.
"Em, anu Pak. Ini jualan Kak Syma. Aku hanya mengedarkannya."
"Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Perusahaan suaminya bangkrut. Semua aset mereka disita bank. Kak Syma terpaksa berjualan ini untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jadi aku membantu mereka," ucap Aina tanpa ragu sedikitpun.
"Bangkrut? Bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa. Begitulah roda kehidupan, tidak selamanya kita berada diatas. Terkadang kita juga harus merasakan pahitnya berada dibawah."
"Tahu apa kau tentang diatas dan dibawah?" Hariz menaikan sebelah alisnya menatap Aina dengan pandangan aneh.
"...?"
******
Dari kejauhan, mereka menatap heran pada segerombolan orang dan juga anak-anak panti yang berhamburan diluar.
Mereka juga melihat dengan jelas, Syma sedang berdebat dengan orang-orang aneh tersebut.
"Apa yang terjadi?"
Bukannya menjawab pertanyaan Hariz, Aina tiba-tiba saja turun dari mobil dan menghampiri orang-orang itu. Terlihat jelas, bahwa Aina sedang khawatir. Aina bahkan tahu bahwa mereka bukanlah orang baik. Sebab itulah tanpa aba-aba, Aina langsung mendorong orang itu.
"Mau apa kalian!!" Teriak Aina begitu nyaring.
"Aina.... "
"Apa yang terjadi Kak?"
"Aina, mereka ingin menggusur tempat ini."
"Bedebah!" Aina langsung maju untuk mengusir orang-orang bertubuh gempal itu. Tidak ada rasa takut sedikitpun. Syma sendiri khawatir orang itu akan menyakiti Aina.
"Pergi kalian dari sini! Ini tanah wakaf, kalian tidak punya hak untuk menggusur kami!
Badan saja besar, tapi otak kecil," hardiknya. Tentu saja orang-orang itu marah dan hendak memukul Aina.
__ADS_1
Namun tiba-tiba Hariz menarik Aina kedalam pelukannya. Sementara tangan yang satunya menahan kepalan tangan pria itu.
"Memalukan! Apa kalian tidak punya lawan lain, selain anak kecil... "
"Kami tidak ingin membuang waktu lagi. Segeralah pergi dari tempat ini, karena disini akan dibangun pabrik. Tanah ini masih milik pemerintah. Kalian bahkan tidak punya surat kuasa yang kuat.
Kami beri waktu tiga hari. Tempat ini harus dikosongkan secepatnya."
"Apa kalian tidak punya hati! Anak-anak disini jumlahnya banyak. Mau dikemanakan mereka? Bagaimana nasib mereka nanti? Setidaknya pikirkan hal itu!" Syma berteriak histeris.
"Kami hanya menjalankan perintah. Masalah kami bahkan jauh lebih besar, jika kalian tidak mengosongkan tempat ini segera."
Meski telah memohon dan memelas, namun mereka tidak peduli sama sekali. Mereka segera pergi setelah mengirim surat peringatan pada Syma.
Tidak ada yang bisa Syma lakukan. Dia langsung terduduk lemas. Masalah datang menghampiri tiada henti, seakan tidak memberi cela sedikit saja bagi Syma untuk bernafas.
"Tenanglah Syma. Aku akan membantumu mengurus semua ini. Kalian tidak akan kemana-mana."
Entah mengapa, ada sedikit kecewa dihati Aina. Saat Hariz melepaskan pelukannya dan memilih menenangkan Syma. Namun dia langsung menghalau perasaan aneh itu. Dia juga sedang berpikir bagaimana caranya agar mereka tidak digusur.
******
"Mau apa kau datang kesini?" Ersad menatap dingin pada Revan yang tiba-tiba datang menemuinya.
"Aku hanya mengkhawatirkan anakku Zea. Aku sudah dengar berita kehancuranmu. Sebab itulah aku datang untuk memastikan apakah anakku kelaparan atau tidak."
"Anakmu baik-baik saja. Dan aku tahu bukan hanya Zea yang kau maksud. Tapi juga Syma. Meski saat ini kami sedang terpuruk, bukan berarti aku tidak bisa memberi mereka makan. Kau salah besar.
Dan lagi...
Tugas sebagai seorang ayah, aku rasa kau lebih tahu. Tapi kau tidak mau tahu karena setahuku selama ini, kau tidak memberi satu lira pun untuk Zea. Padahal Zea itu masih tanggung jawabmu." Ersad berucap begitu tajam. Namun Revan tidak terusik sedikitpun.
"Kalau begitu kembalikan mereka padaku. Zea akan lebih terjamin jika kembali pada ayah kandungnya. Begitu pula Syma...
Jika kau memang menyayangi mereka. Lebih baik kau lepaskan dan biarkan mereka bahagia bersamaku."
Ersad menggeram marah mendengar ucapan Revan yang begitu lancang meminta kembali anak dan istrinya.
BUGH
Ersad melayangkan bogem mentah diwajah Revan.
"Jika tidak sanggup kehilangannya, sebaiknya kau berpikir dulu sebelum menceraikan Syma. Wanita yang dulu sempat kau hina adalah wanita yang sangat berharga bagiku. Dia sedang mengandung anakku!
Dan sekarang kau ingin kembali memungutnya?
Cih, apa kau sudah tidak punya harga diri lagi?"
TBC
UDAH SENIN AJA NIH
__ADS_1
VOTE SEIKHLASNYA AJA YA 😊