TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
EPS 79 HARIZ&AINA : AFTER MARIAGE


__ADS_3

"Disini kau rupanya... "


Hariz menatap jengkel, pada Aina yang tertidur pulas sembari menggulung dirinya dengan selimut seperti seekor kepompong. Wanita itu tidur dengan nyaman, seolah tak memiliki masalah apapun.


Sedangkan Hariz, harus menghadapi cibiran para tamu tentang hilangnya mempelai wanita.


"Dasar manusia tidak punya otak! Bisa-bisanya dia tidur, disaat pernikahannya berlangsung."


Brukk


Hariz menarik kasar selimut Aina, sehingga wanita itu bergelundung dan akhirnya jatuh kelantai.


Aina lansung membuka lebar matanya dan menatap tajam pada Hariz. "Apa yang kau lakukan!! Apa kau tidak punya sopan santun, membangunkan orang yang sedang istirahat!" Teriak Aina begitu kesal.


"Istirahat? Seharusnya kau bilang dulu padaku jika lelah dan ingin istirahat. Jangan membuatku kesal karena cibiran orang-orang karena ulahmu! Aku sudah seperti orang gila, karena bingung harus mencarimu kemana." Hariz nyaris mengeranh saat mengatakannya.


"Bukannya kau memang sudah gila!!" Cicitnya. Membuat Hariz semakin naik darah.


"Belum satu hari menjadi istri, kau sudah mau mendapat gelar istri durhaka! Hah!!"


"Astagfirullah... jangan asal kalo ngomong Pak!"


"Saya bukan bapak kamu!"


Aina memutar matanya. "Jangan asal ngomong Hariz."


"Dasar istri kurang ajar!"


"Apalagi salahku sekarang?"


"Panggil aku Mas. Sayang, atau apa terserah."


'Lidahku terasa gatal,' gumam Aina yang mendapat teriakan keras, dari Hariz.


"AINA!"


"Eh, iya Mas sayang."


Mendengar itu, amarah Hariz perlahan mereda. Hanya tatapan tajam yang masih terlihat jelas diwajahnya. Hariz mengusap kasar wajahnya, sebelum masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan diri.


'Dasar tempramen!'


*******


"Kita mau kemana?"


"Pulang."

__ADS_1


"Kerumahmu?"


"Kebawah jembatan!"


"Uh, kenapa kau pemarah sekali. Mukamu yang sudah tua itu akan semakin berkerut." Aina berucap sembari mendelik.


Hariz tidak menggubris ucapan Aina. Dia sudah terlalu lelah bertengkar dengan wanita itu seharian ini.


Namun Aina sendiri tidak memiliki niat, untuk mengajaknya bertengkar. Dia bermaksud ingin meredakan amarah Hariz. Sebab itulah dia terus menggoda pria itu.


"Ketampananmu akan hilang jika marah terus... " Kali ini Aina berucap lembut sembari menahan tawanya.


Tentu saja hal itu membuat Hariz menoleh kearahnya.


"Perhatikan jalannya, jangan malah menatapku. Aku belum siap mati! Dosaku banyak. Pahalaku yang sedikit saja masih direview sama malaikat. Kalau aku masuk neraka, aku akan menyeretmu!"


"Aku hanya heran, kau ini wanita atau siluman! Jika siluman, akan sangat sulit bagiku menyadarkanmu."


"Aku hanya manusia biasa, yang bercita-cita ingin menjadi asisten malaikat. Supaya setiap kali malaikat menyuruhku mencatat amalmu, maka akan kutulis semua kebaikanmu. Supaya kau masuk surga, dan cepat dipanggil yang maha kuasa," Aina tertawa geli sendiri saat melanjutkan ucapannya. Sayangnya Hariz bisa mendengar semuanya.


"Tidak lucu!"


"Aku juga tidak sedang melawak. Aku hanya bosan."


Perjalanan mereka akhirnya sampai juga ditempat tujuan. Hariz membawa Aina ke Panthous miliknya. Tidak begitu besar, namun cukup mewah dan berkelas.


Saat Aina turun, wanita itu langsung terkesima. Begitu indah dan mempesona. "Kalau seperti ini jadinya, aku tidak akan menyesal sama sekali dipaksa menikah oleh si kadal itu!"


"Kau memang akan tinggal disini. Tapi tidak untuk berleha-leha, Aina sayang...


Kau adalah istriku, jadi tugasmu harus membersihkan, memasak makan untukku. Mencuci pakaianku dan lain sebagainya. Karena disini tidak ada pembantu!" ucap Hariz dengan seringai liciknya.


Aina langsung mendengus. "Sebenarnya kau ini, mencari istri apa pembantu! Bukankah suamiku ini kaya. Tidak mungkin menggaji pembantu saja tidak mampu. Jangan konyol."


"Aku tidak ingin ada orang lain dikediamanku ini. Aku adalah kepala keluarga. Jadi kau harus patuh, karena akulah Rajanya disini."


"Kalau kau Raja, berarti aku permaisuri. Mana ada permaisuri yang disuruh mengerjakan tugas kerajaan. Tugas permaisuri hanya... "


"Hanya?" Hariz mengulang ucapannya sembari mendekat. Tatapan anehnya membuat Aina menelan salivanya. Wanita itu mundur secara perlahan.


"Hanya bersantai," cicitnya.


"Sssttt, tidak sayang. Bukan bersantai. Tapi menemani Raja diatas kasurnya. Kau tahu maksudku, bukan."


"Em tapi.... "


"Tapi aku tidak tertarik menyentuhmu." Hariz menghentikan sejenak ucapannya sembari meneliti keseluruhan tubuh Aina. "Tubuhmu, tidak menarik. Aku sampai berpikir, kau ini niat atau tidak menjadi wanita. Lihat saja dadamu yang rata itu. Seperti jalan tol!" ucap Hariz sebelum masuk kekamarnya. Pria itu tidak berhenti tertawa, karena melihat wajah Aina yang menahan kesal.

__ADS_1


Sontak saja Aina terperangah mendengar hinaannya. Aina bahkan melirik kearah bagian yang dimaksud oleh Hariz. "Brengsekk... Dasar titisan Dakjal. Lihat saja bagaimana aku akan membuatmu menjilat kembali ludahmu itu."


******


Mereka menikmati makan malam dalam diam. Bukan karena fokus pada makanan. Tapi saat ini, justru Hariz tidak bisa fokus dengan apa yang dia makan. Matanya tidak bisa berhenti menatap Aina yang bernampilan berbeda kali ini.


Wanita itu terlihat lebih santai. Untuk pertama kalinya bagi Hariz, melihat sosok Aina yang lain. Dengan hijab yang tidak lagi melekat di kepalanya. Aina juga hanya mengenakan hot pants dan juga tanktop yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ditambah rambutnya yang tergerai indah, membuat jiwa kelelakian Hariz menyeruak.


Pria dewasa mana yang tidak tertarik dengan pemandangan indah yang ada dihadapanya. Apalagi orang itu istrinya sendiri.


Aina bersikap acuh. Meski dia tahu Hariz tidak berhenti menatapnya. Wanita itu hanya bersikap cuek karena merasa Hariz tidak akan tertarik padanya.


Tentu saja ketidak tertarikan itu hadir, karena selama ini Aina selalu memakai pakaian yang menutupi lekuk tubuhnya.


"Mau tambah acarnya Mas sayang... " Aina sengaja berucap dengan nada lembut dan mendayu. Tidak pernah Hariz melihat sisi liar dari wanita ini.


Hariz menggeleng. Sejak tadi dia hanya mengaduk-aduk makanannya. Aina menarik sudut bibirnya dan memangku dagu dengan tangannya. Sengaja menatap Hariz dengan menggoda iman pria itu.


Hariz tahu apa yang dilakukan Aina saat ini. Sebab itulah dia menyeringai. "Kau salah telah menggodaku Aina. Aku tidak akan tergoda."


"Oh ya... " Aina beranjak dari tempat duduknya. Sengaja berlenggak lenggok mendekati suaminya. Perlahan, Aina memberanikan diri duduk dipangkuan pria itu.


Rupanya ide Vio waktu itu, cukup menguntungkan baginya. Dia jadi tahu bagaimana cara menggoda pria.


Aina mengalungkan tangannya dileher pria itu. Hingga darah Hariz mendesir dan aura panas mulai dia rasakan. Jantungnya seakan berdegup kencang tak terkendali. Desisan keluar dari mulutnya, saat bagian bawahnya sudah menunjukan reaksi dan tanda-tanda pemberontakkan.


"Katakan bahwa aku tidak menarik," Bisik Aina ditelinganya.


Hariz hanya diam. Kilat nafsu sudah terlihat jelas dimatanya. Aina juga bisa merasakan hembusan nafas kasarnya. Sehingga Aina hanya bisa menelan ludahnya sembari merutuki sendiri perbuatannya.


'Gawatt... Sepertinya dia akan segera menerkamku!' batin Aina segera sadar dan akan segera kabur. Namun sayangnya saat dia beranjak, Hariz menahan tubuhnya. Dan saat ini Aina merasakan ketegangan yang luar biasa.


Dia sangat belum siap untuk memberikan hak suaminya saat itu juga. Namun dia sendiri bingung bagaimana caranya kabur dari pria ini.


"Aku menyerah.... "


"Se-sepertinya ada tamu yang datang," Bohong Aina.


"Aku tidak mendengarnya.. "


"Karena pikiranmu sedang berkabut."


Hariz melepaskan jeratannya. Dan saat itulah Aina memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dan masuk kedalam kamarnya.


"Kau menipuku, Aina.


AINA!!"

__ADS_1


Brakk


Aina menutup pintu dengan kasar. Tidak lupa dia menguncinya. Aina memegangi dadanya yang masih berdegup kencang. 'Uh, tolol. Apa yang telah aku lakukan. Sialan kau Vio! Rencanamu memang tidak berguna. Hampir saja aku diterkam biawak lapar!' gumam Aina bergidik jijik mengingat perbuatannya tadi.


__ADS_2