TERPAKSA MENJADI SIMPANAN

TERPAKSA MENJADI SIMPANAN
TMS EPS 62: RUMAH TANGGA ATAU RUMAH DUKA?


__ADS_3

Lima tahun telah berlalu.


Sejak kelahiran bayi laki-laki yang dia beri nama Gokhan Destara. Sejak saat itulah Syma bertekad tetap berjuang hidup untuk anak-anaknya. Sejak saat itu pula dia tidak pernah berharap lagi tentang suaminya Ersad.


Meski sulit, namun perlahan dia mulai menerima keadaannya. Mencoba melupakan semua kepahitan yang pernah dia alami dulu. Dengan membuka lembaran baru bersama kedua anaknya dan juga Ceyda dan Mina.


Mereka menjalani hari seperti biasa. Toko kecil mereka juga telah berubah menjadi cukup besar. Mereka juga memiliki pelanggan setia yang setiap harinya memesan ratusan Simit. Tentu hal itu membuat Syma terpaksa menyewa beberapa pekerja untuk membantunya.


Sama seperti Syma, Aina juga perlahan telah melupakan Hariz yang juga tak kunjung kembali. Aina tidak berharap, namun juga tidak membenci pria itu. Baginya tidak ada satupun alasan untuknya membenci pria itu.


Aina juga tumbuh menjadi gadis cantik yang juga bekerja dikedai Syma. Sebagai pegawai kepercayaan Syma.


"Aina, apa nyonya Efsane sudah mengambil pesanannya?"


"Sudah Kak. Stok yang ada dikedai juga tinggal sedikit lagi. Apa aku harus menyuruh pegawai kita membuat simit lagi?"


"Tidak perlu. Kita tutup lebih awal hari ini. Kakak harus kepanti. Biarkan mereka beristirahat."


"Baiklah... "


Syma segera bersiap menuju panti asuhan. Yang kini sudah nampak aman dari orang-orang yang mengancam untuk menggusur tempat itu. Syma sendiri heran, mereka tiba-tiba saja tidak pernah datang lagi sejak hari itu.


Tapi bagaimanapun juga, setidaknya dia bersyukur karena panti asuhan, dimana tempat dia dibesarkan tidak jadi digusur.


Saat telah sampai di panti, Syma dikejutkan dengan kehadiran Mia disana. Yang sedang bercengkrama dengan anak-anak.


"Mia?"


"Oh Hai Syma. Bagaimana kabarmu?" Mia segera bangkit saat menyadari kehadiran Syma.


"Alhamdulillah aku baik. Kau sendiri bagaimana?"


"Aku...


Oh haii Gokhan... Kau lucu sekali! Putramu sangat lucu dan menggemaskan Syma." Mia mencoba mengalihkan pertanyaan Syma dengan memusatkan perhatiannya pada Gokhan.


"Sayang wajahnya sangat mirip dengan pria itu!" Syma mendelik saat mengucapkannya.


"Pria itu? Maksudmu Ersad?


Tentu saja mirip dia, karena Gokhan putranya."


Syma tidak menanggapi ucapan Mia. Meski wajah Gokhan sangan mirip dengan Ersad. Namun dia tetap mengatakan bahwa Gokhan hanya anaknya.


"Apa yang membuatmu datang kesini, Mia?"


"Tidak ada. Hanya sebuah pelarian, dari pada aku stres dirumah, lebih baik aku kesini."


Syma sedikit terkekeh mendengar ucapan Mia. Sejak Syma melahirkan Gokhan, Revan semakin gencar mendekatinya. Dan Syma yakin sebab itulah mereka sering bertengkar.


"Maaf jika penyebab pertengkaran kalian adalah aku." Syma berucap tulus.


"Kenapa kau yang minta maaf. Kau sudah melakukan hal yang benar. Hanya saja, suamiku itu yang tidak tahu malu dan keras kepala. Sepertinya kepalanya harus sedikit dibenturkan agar sedikit waras," ucap Mia mencebik kesal.


"Yah, kali ini aku setuju denganmu. Kepala suamimu itu sepertinya sedang bermasalah."

__ADS_1


"Em Syma. Apa kau tidak berniat untuk mencari pendamping lagi? Maksudku, lihatlah putramu... Tidakkah kau berpikir bahwa dia membutuhkan sosok ayah!"


Syma mendengus mendengar pernyataan Mia. Wajahnya terlihat dingin dan hampa.


"Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu lagi. Bukan karena aku setia menanti suamiku kembali. Hanya saja aku terlalu lelah untuk mencintai lalu akhirnya tersakiti lagi.


Aku lelah untuk kecewa.


Sejak suamiku memilih untuk meninggalkan kami. Saat itu pula aku tidak percaya dengan yang namanya cinta lagi. Bagiku cinta dari pria lain hanyalah omong kosong.


Yang aku tahu, cintaku hanya untuk anak-anakku. Keluargaku dan juga hidupku." Syma menatap lurus kedepan. Namun Mia tahu bahwa pikiran wanita itu sedang terbang entah kemana.


"Aku mengerti perasaanmu Syma. Kita sama-sama memiliki perasaan hampa dalam mencintai. Kau bersyukur masih punya anak sebagai penyemangat hidupmu. Sedangkan aku?


Jika saja mati itu bukan dosa besar, maka sudah kulakukan sejak dulu."


"Bukan hanya dosa besar yang akan kau tanggung jika kau coba-coba untuk bunuh diri. Tapi sakitnya sakaratul maut yang terdengar mengerikan akan kau rasakan."


"Apa setelah kematian akan ada kebahagiaan?"


"Entahlah, aku tidak berniat mati dalam waktu dekat. Kasihan anak-anakku jika aku juga meninggalkan mereka.


Hei, kenapa pembicaraan kita jadi menyedihkan seperti ini?"


"Hahaha... Karena memang kita menyedihkan. Aku bahkan sempat berpikir, ini rumah tangga apa rumah duka? Kenapa selalu saja membuat kita sedih... " Mia berucap sembari tertawa.


Syma sendiri ikut tertawa mendengarnya.


*****


Syma menghentikan kegiatannya yang sedang mengganti pakaian Gokhan kecil. Bukan karena tertarik dengan ucapan Zea, hanya saja Syma sudah terlalu muak, mendengar ucapan Zea mengenai Papanya.


"Cukup Ze. Sudah berapa kali Bunda bilang, itu bukan Papa. Kalau dia Papamu, kenapa dia tidak muncul!"


"Lalu dimana Papa? Kenapa dia tidak kembali?"


Syma menghela nafasnya. Entah alasan apa lagi yang harus dia buat agar Zea berhenti bertanya tentang Ersad.


"Apa Ze sudah mengerjakan pr?" Syma mencoba mengalihkan pembicaraan.


Zea menggeleng sebagai jawaban.


"Kerjakan pr Ze sekarang juga. Biar nanti bisa cepat main. Bunda ingin melihat kedai dulu sebentar."


Zea memperhatikan kepergian Syma. Matanya menatap polos sementara sekelebat bayangan tentang sosok pria yang dia lihat tadi masih terlintas diingatannya. Zea sangat yakin bahwa itu adalah Ersad.


'Jika Papa sudah kembali. Kenapa Papa tidak menemui Ze... Ze sudah sangat rindu. Papa harus pulang, agar Bunda bisa tersenyum lagi,' gumam Zea dengan wajah murungnya.


*****


"Ada apa Aina? Kenapa kau terlihat gusar."


"Begini Kak. Ada seseorang memborong semua Simit. Dia juga sudah membayar semuanya. Tapi dia ingin barangnya diantar oleh pemilik kedai ini sendiri."


"Siapa?"

__ADS_1


"Entahlah. Dia memberikan alamat ini... " Aina memberikan sebuah kartu pada Syma.


"Baiklah. Kakak akan kesana."


"Gokhan tidak perlu diajak. Biar aku saja yang menjaganya."


"Baiklah, Kakak pergi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Syma segera pergi dengan memesan taxi untuk membawa semua simit ke alamat yang sudah tertera disana. Jaraknya cukup jauh dari kediaman Ceyda. Syma sendiri tidak begitu paham dengan jalan disana karena sangat jarang sekali dia lewati.


Tempat itu sepertinya dikhususkan untuk para orang kaya.


Bagaimana tidak.


Dari lingkungannya saja terlihat begitu indah. Rumah yang ada disana begitu besar seperti istana. Syma sampai tidak yakin, bahwa dia akan mengantarkan simit itu kesana.


"Kita sudah sampai Nyonya," ucap supir itu membuyarkan kekagumam Syma.


"Oh benarkah disini tempatnya?"


"Sesuai alamat yang tertera disana. Disinilah tempatnya Nyonya."


Syma segera turun dan membawa barangnya. Didepan gerbang terlihat seorang penjaga yang siap siaga menerima tamu.


"Maaf Pak. Saya ingin mengantar pesanan Tuan Anda. Apa saya titipkan saja disini?"


"Tidak Nyonya. Bawa saja masuk dan temui sendiri Tuan saya didalam. Mari saya antar.."


Syma mengangguk dan mengikuti penjaga itu dari belakang. Sembari mengagumi rumah yang begitu besar dan juga mewah. Bahkan untuk naik ke lantai atas, mereka harus menggunakan lift khusus.


"Disini Nyonya," ucap penjaga itu menunjuk sebuah ruangan yang ada di hadapan mereka.


"Kenapa tidak Anda saja yang memberikan. Kenapa jadi repot seperti ini. Aku punya anak kecil yang aku tinggalkan dirumah."


"Maaf Nyonya, tapi Tuan hanya ingin Anda yang mengantarkan kedalam. Buka saja pintunya, tidak perlu diketuk lagi." Penjaga itu segera pergi meninggalkan Syma yang kebingungan disana.


'Astaga, aku ingin mengantar pesanan. Kenapa jadi seperti ingin menemui direktur! Ini berlebihan sekali," Rutuk Syma dengan kesalnya.


Dia tidak punya pilihan lain. Terpaksa dia membuka pintu dan masuk begitu saja.


"Assalamu'alaikum.... "


Syma sedikit terpaku melihat punggung seseorang yang berbalutkan jas. Bahkan dari bentuk tubuhnya nampak tidak begitu asing baginya. Namun Syma mencoba untuk menghalau pikiran itu.


Keterkejutannya semakin menjadi, saat orang tersebut berbalik badan dan menghadapnya.


Sontak saja semua barang yang Syma pegang, terjatuh menyedihkan dilantai. Syma begitu kaget sampai lidahnya terasa keluh untuk berucap. Tubuhnya menegang dengan perasaan sakit yang kembali menyeruak.


Syma tidak tahan lagi berada terlalu lama disana. Dia segera berbalik untuk melarikan diri. Namun langkahnya terhenti karena pria itu mencegahnya.


"Tunggu Syma.... "


TBC

__ADS_1


__ADS_2