
Dua Minggu telah berlalu dengan cepat, tetapi tetap terasa lambat bagi Langit. Dia harus memulihkan kondisi tubuh sebelum melakukan perjalanan jauh.
Hari ini saatnya membuka perban yang membebat kedua bola matanya. Dia sudah tidak sabar ingin melihat indahnya dunia. Tuan Bima, Edwar dan Sam juga menunggu momen bahagia Langit bisa melihat lagi.
"Tuan Langit sudah tidak sabar, ya," ujar Dokter.
"Sudah terlalu lama aku dalam kegelapan, Dok. Saatnya aku ingin melihat indahnya dunia lagi."
Dokter membuka perban dengan hati-hati. Saat bebatan itu sudah terlepas, jantung Langit berdebar untuk sekedar membuka matanya.
"Buka dengan perlahan, Tuan."
Langit mulai membuka mata dengan perlahan. Saat itu wajah orang-orang dari masa lalu langsung menyambut penglihatannya. Langit tersenyum dengan mata mengembun.
"Pa ...."
"Putraku." Tuan Bima merentangkan tangan untuk memeluk putranya. "Kamu berhasil," ucapnya.
"Semua berkat Papa. Makasih, Pa. Sekarang Langit bisa melihat Papa, melihat Om Edwar dan si Tengil Sam."
"Hei, Kakak! Kau ini tidak tahu terima kasih. Siapa yang selama ini membantumu! Kau malah mengataiku si Tengil. Keterlaluan!" Sam mengomel namun bibirnya tersenyum.
"Orang sepertimu memang pantas di panggil begitu!" Langit senang mengejek adik sepupunya itu.
"Kalian ini, dari lahir memang tidak pernah akur!" sela Edwar. Mereka semua tertawa.
~
"Pa, kapan aku pulang?" tanya Langit. Pria itu sudah kembali ke rumahnya papanya. Mereka sedang duduk di ruang keluarga.
"Papa hanya menunggu kesiapanmu. Jika kondisimu sudah membaik dan bisa melakukan perjalanan jauh, kapanpun kamu ingin pulang, Papa akan suruh anak buah buat mempersiapkan semuanya."
"Bagaimana jika dua hari lagi?" Langit meminta persetujuan.
Melihat Langit sangat antusias ingin kembali ke Jakarta, Tuan Bima hanya mengangguk menyetujui permintaan putranya itu. Terlihat sekali binar kebahagiaan yang terpancar dari wajah Langit.
"Apa, Papa tidak mau ikut aku ke Jakarta. Setidaknya Papa bisa berziarah ke makam almarhum mama dan cucu Papa." Langit sangat berhati-hati saat mengatakan itu. Dia takut menyinggung perasaan papanya.
__ADS_1
"Kamu benar, Lang. Papa ingin sekali meminta maaf dan berziarah ke makam mamamu. Papa akan konsultasi dengan dokter dulu."
~
Pagi ini Langit menatap pantulan diri di dalam cermin. Dia tersenyum bahagia, hari ini dia akan kembali ke Jakarta. Menemui orang-orang sangat di rindukan. Empat bulan lebih dia tidak melihat Mamak, Mama Has dan istrinya, entah seperti apa mereka.
"Duh ... bahagianya yang akan bertemu istri tercinta." Sam, si Tengil itu sudah bersedekap dada dan bersandar di sisi kusen pintu.
"Diam kamu, Sam!" sentak Langit.
"Semua sudah siap, tinggal nunggu kamu, Kak," ujar Sam memberitahu.
"Hem. Aku juga sudah siap." Langit melangkah keluar bersama Sam.
"Pa, yakin kondisi Papa tidak apa untuk melakukan perjalanan jauh?" Langit menanyai kesiapan ayahnya.
"Kamu tidak perlu khawatirin Papa. Ada dokter William yang akan ikut." Benar saja, sosok dokter berwajah kebule-bulean sudah sigap mendampingi papanya.
Langit mengangguk. Setelah itu mereka semua masuk ke dalam mobil untuk menuju bandara.
"Tenang saja, kita tinggal menunggu berita penangkapan mereka. Setelah kita sampai di Jakarta, mereka pasti sudah masuk berita." Sam mengangkat kedua alisnya, lalu tersenyum puas.
"Adik tengilku selalu bisa diandalkan." Langit menepuk bahu Sam dan membalas tersenyum puas.
"Hei, kau ini! Sekali lagi mengataiku tengil, aku tidak akan mau membantumu lagi."
"Ohya? Bukankah selama ini aku juga sering membantumu. Atau ... kamu ingin aku mengatakan semuanya pada Om Edwar?" Langit sangat senang menggoda.
"Hist ... aku menyesal telah membantumu. Dasar Kakak sialan!" desis Sam terlihat kesal.
Perjalanan panjang tak terasa sudah dilalui, kini pesawat Tuan Bima telah mendarat di bandar udara Jakarta.
Berapa tahun Tuan Bima tidak menginjakan kaki di tanah itu, sejak pria paruh baya itu sakit-sakitan tidak bisa mendatangi perusahaanya yang dibangun di Jakarta.
Sedangkan Langit mengembangkan senyum bahagia, sebentar lagi, yah ... hanya sebentar lagi dia akan pulang ke rumah Mamak.
Dia telah menghubungi Kasep dan melarang Mamak untuk ikut Bening berjualan. Mengetahui Langit akan pulang, tak henti Mamak mengucap syukur dan sangat bahagia.
__ADS_1
~
Langit menyuruh papanya dan rombongan yang lain untuk lebih dulu datang ke rumah Mamak, sedangkan dia akan memberi kejutan untuk seseorang.
Langit berpenampilan seperti biasanya, mengenakan kaus, celana jins dan topi. Sangat mirip dandanan saat akan berjualan bakso.
Mobil yang ditumpangi semakin mengantarkannya ke jalan Lobak Kemangi, Jalan yang setiap hari dia lalui. Dari jarak berapa meter netra Langit dapat melihat tenda orange berdiri di pinggir jalan. Beberapa pembeli terlihat antri. Sejauh mata itu melihat, dia belum menemukan sosok wanita yang dicari.
Saat menyuruh sopir lebih mendekat, senyum di bibirnya segera terbit. Bukan hanya itu saja, kedua bola matanya ikut mengembun. Meski wajah Bening tertutup topi dan masker, tak membuat Langit lupa akan ayunya wajah Bening.
Dia seolah tidak percaya melihat Bening berjualan bakso seperti yang dia lakukan sebelumnya. Dia yakin jika Bening telah berubah.
"Mbak Be, pesen bakso dua mangkuk jangan di kasih irisan bawang goreng! Yang satu gak pakek daun kemangi, ya."
'Daun kemangi?' Bening langsung tersenyum, seketika dia mengingat waktu pertama kali memesan bakso, daun seledri yang dia tahu adalah daun kemangi.
"Tunggu sebentar, saya akan buatkan."
Hingga senja yang memancarkan bias orange keemasan menghilang, Langit masih betah dalam persembunyiannya. Pria itu masih betah mengawasi kegiatan Bening. Kegiatan baru yang dilakuan oleh istrinya selama beberapa bulan terakhir.
"Mungkin keadaan sulitmu banyak memberi pelajaran hidup. Kamu bisa lebih menghargai orang lain, kamu bisa belajar sabar dan iklhas."
"Tuan Langit, apa Anda tidak ingin turun sekarang?" Supir yang sedari tadi hanya ikut mengawasi kini mulai lelah. Pasalnya hampir 3 jam mereka bersembunyi di dalam mobil. Engap dan kesal.
"Sebentar lagi, Pak," jawab Langit. Pria itu tak beralih pandang dari tenda orange yang mulai hampir sepi dengan pembeli.
Bening terlihat duduk di antara pembeli yang belum usai menyantap bakso. Sejak dia mengamati kegiatan istrinya, belum sekalipun Bening membuka maskernya. Padahal Langit sangat ingin melihat wajah Bening.
"Sudah jam delapan, kenapa belum menutup tendanya?" ujar Langit melihat jam dipergelangan tangannya. Pria itu ingin menunggu Bening sendirian.
Dua orang pembeli terakhir terlihat akan meninggalkan tenda. Langit antusias ingin segera turun. Dia membuka pintu, saat itu jantungnya sudah berdebar kencang. Tidak sabar untuk melangkah.
"Makasih, ya, Mbak. Besok jangan lupa mampir ke sini lagi," ucap Bening pada pembeli yang akan meninggalkan tendanya.
"Mbak ... baksonya masih?"
"Maaf, Mas, udah habis." Bening menjawab tanpa berbalik badan.
__ADS_1