
"Bang, tumben sebagian wajahnya ditutupin?!"
"Iya, Neng. Lagi flu, takut ganggu, nular, dan gak higienis."
"Kalo ditutup gitu gantengnya gak kelihatan paripurna dong, Bang. Kite cuma bisa menatap mata indah Abang aja, gak bisa natap hidung mancung dan bibir sexy Abang."
"Ihiw, prikiteuw ...." Teman wanita muda itu menggoda.
Dibalik masker, Langit tersenyum lucu. Hampir setiap hari, pelanggan wanita muda menggoda dan bercanda demikian. Namun dia tidak menanggapi dengan serius. Selorohan itu sudah ratusan kali terdengar sejak dia membuka tenda orange di Jalan Lobak Kemangi.
Hari ini pengunjung tenda orange sangat ramai. Tempat yang di sediakan sampai tidak cukup. Beberapa pembeli memilih membawa kursi plastik pindah di samping tenda. Selain sejuk, ada pemandangan taman kota yang bisa di saksikan dari tempatnya duduk.
Langit ikut mengangkat meja kayu dan meletakan di depan mereka.
"Bang, tempatnya kurang gede. Bikin lagi, napa."
"Iya. Cuma belum sempat ngurus surat ijinnya. Ribet dan lama sih, makanya agak males."
"Ough gitu. Temenku ada usaha restoran, Bang. Mau kerja sama pasti ada keuntungan. Abang ada tempat lebih besar dan keren, temenku ada keuntungan banyak pengunjung."
"Enggak ah, Neng. Gak ada nyali buat gabung di restoran. Apa, cuma bakso ginian pasti banyak saingan. Lagian saya milih buka di sini karna tempat ini belum ada yang jualan bakso, saya pikir lebih strategis di sini. Insyaallah, kalo ada modal saya bikin tempat yang lebih gede'."
Di dalam mobil.
"Non, mau samperin Mas Langit, gak?" tanya Mang Juri.
Bening yang dari tadi memperhatikan Langit dari balik jendela mobil hanya diam saja. Setiap pulang kantor selalu melewati Jalan Lobak Kemangi, Bening menyuruh Mang Juri menghentikan mobil di jarak 10 meter dari tenda orange. Saat ingin turun, disuguhi pemandangan yang seolah membuat hatinya diremas sesuatu tidak terlihat. Sedikit sesak.
Langit, pria yang berstatus suaminya tengah di kerubungi wanita-wanita dari berbagai usia. Sedikit nyeri menggerakan ingatan tentang perlakuannya pada pria itu.
"Apa kita pulang sekarang, Non?" Wajar Mang Juri dari tadi bertanya bagaimana keinginan Bening, kurang lebih satu jam mereka hanya diam dan mengawasi. Mang Juri garuk kepala tidak mengerti lagi keinginan Bening.
"Bisa diam, gak! Tinggal nunggu perintah dari saya, dari tadi tanya terus!" sentak Bening. Meski umur Mang Juri jauh lebih tua, tak lantas membuat Bening segan. Mungkin watak galak itu sudah ada sejak lahir.
Mang Juri menutup mulut rapat-rapat. Mengetahui majikannya sedang ada dalam mood buruk, lebih baik diam.
__ADS_1
"Mamang aja yang kesana, suruh dia bikinin pesanan Mama! Saya males ikut turun."
"Oh, gitu. Baik, Non."
Mang Juri segera turun dan berjalan jauh untuk sampai di tenda orange.
"Mas Langit," sapanya saat sudah sampai.
"Lho, Mang. Mampir ke sini? Kok, jalan? Mamang sendirian?" Langit memberondong pertanyaan.
"Tuh, mobilnya di sana." Mang Juri menunjuk ke mobil yang terparkir jauh dari tenda orange.
"Sama Mbak Bening?" tebak Langit. Dan Mang Juri mengangguk.
"Itu ... tadi disuruh pesenin bakso kesukaan Nyonya. Tapi, maap ...." Mang Juri ragu melanjutkan ucapan.
"Maaf untuk apa?"
"Saya gak dikasih uang sama Non Bening."
"Ha ha ...." Dibalik masker, Langit malah tertawa. "Saya kira ada apa, Mang. Gak apalah, pesenan buat Mama ya gak bayar, Mang. Mamang juga nanti saya buatin. Gratis."
"Udah, Mamang tunggu bentar!"
Setelah meracik pesanan, sedikit lengang karena pembeli sedang menikmati makanannya. Langit berjalan dengan menenteng plastik berisi bakso yang sudah di siapkan tadi.
Tuk ... tuk .... Langit mengetuk kaca mobil.
Sreeek .... Kaca itu terbuka.
"Ngapa gak turun?"
"Males," jawab Bening.
"Ini bakso buat Mama udah saya bungkusin, ada buat Embak juga," kata Langit menyodorkan di depan Bening.
__ADS_1
Bening menjulurkan tangan, menerima bungkusan itu dan ditaruh disampingnya. Bibirnya tidak mengucap suatu apapun.
"Ohya, nanti malam dan seterusnya gak usah nunggu saya pulang. Semua baju udah saya angkut. Saya tinggal di rumah Mamak aja. Dengan begitu Mbak Bening gak uring-uringan lagi."
Bening membatu, beberapa detik kemudian menatap Langit. "Apa gara-gara ucapan saya tadi?"
"Emang itu keinginan Mbak, kan!"
Wajah Langit tertutup masker, Bening hanya bisa menyorot mata Langit. Tetap teduh tanpa ada pancaran amarah. Walau bagaimanapun perlakuannya.
"Bukan begitu juga, sih. Tapi, entahlah." Bingung dengan hati hanya bisa menjawab ambigu.
"Saya ke sana lagi, Mbak. Pasti pada nyariin saya. Cuma mau bilang gitu aja, makanya saya ke sini. Mbak gak usah uring-uringan lagi. Hidup Mbak bakal damai seperti sediakala." Kalimat Langit diakhiri dengan lengkung senyuman, namun sayang Bening tidak bisa melihat. Tidak selang lama pria itu berbalik dan menjauh.
Manik Bening terus menetap pada seluet pria itu. Meski kini menjauh. Ada rasa kehilangan, rasa sedih bercampur bingung dengan perasaanya sendiri. Diapun merasa, bahwa Langit pria baik, tapi entah mengapa kebersamaanya dalam sebuah pernikahan paksa itu belum bisa diterimanya. Belum bisa berpadu dalam waktu singkat. Ego masih tinggi untuk dijunjung. Dia seorang CEO, sedangkan suaminya hanya tukang bakso. Status itulah yang mempengaruhi sikap Bening.
•
Mobil yang ditumpangi Bening sudah sampai di pelataran rumah. Setelah masuki rumah, wanita itu memberikan bungkusan bakso pada asisten rumah tangga untuk disimpan lebih dulu. Dia segera berlalu masuk kamar.
Bum ....
Pintu ditutup dengan kuat. Rasa nyeri di dada masih bisa di rasa. Dia meniti di balik pintu, ransel yang biasa teronggok di sana sudah tidak ada. Lalu ke sofa, tidak ada apapun di sana. Selain nyeri, sebuah kehampaan menyergap meski tak penuh.
Usai membersihkan diri, merebahkan tubuh di ranjang. Sekelebat bayang-bayang bermunculan, apalagi teringat kejadian semalam. "Ah, kenapa kacau gini! Ngeselin!" Bangkit dan keluar kamar mencari Mama Has. Ternyata Mama Has sedang menikmati bakso buatan Langit.
"Ngapa mukanya ditekuk begitu?"
"Tau Ma tadi pas mampir ke tenda bakso, dia bilang mau tinggal di rumahnya," cerita Bening to the poin.
"Maksud kamu Langit pulang ke rumahnya?" terkejut Mama Has sampai melotot.
"Iya."
"Lho, Langit gak pamit sama Mama tuh?!"
__ADS_1
"Eum, maaf, Nya. Tadi Mas Langit mau pamit tapi Nyonya masih di kamar. Di panggil juga gak nyahut, makanya Mas Langit cuma pesen sama saya," sela Bibik.
Mama Has melihat ke Bibik dan kembali pada Bening. "Kenapa lagi?! Kamu usir!" tuduhnya. "Mama gak ngerti lagi sama kamu. Gak tau gimana jalan pikiranmu. Kamu udah cukup umur buat mahamin apa aja yang harus dilakukan dalam berumah tangga. Kalo memang gak ingin, ya, udah, mungkin lebih baik Langit pulang ke rumahnya." Baru ini Mama Has menunjukan kemarahannya pada Bening. Wanita paruh baya itu sudah sangat kesal dengan sikap putrinya sendiri.