Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Berhasil


__ADS_3

Mentari begitu malu-malu menampakan diri, bias hangatnya tenggelam dalam remang awan kelabu. Tetes demi tetes rintik air jatuh membasahi bumi. Semilir angin menjadikan setiap insan enggan beranjak dari ranjang ternyaman mereka. Begitu juga dengan Langit dan Bening, terlelap dalam buai kehangatan masing-masing. Buai cinta yang baru bersemi.


Langit lebih dulu terjaga, matanya melirik Bening. Lalu membenarkan letak selimut hingga sebatas dagu. Pria itu mendekap dengan hangat dan kembali terpejam.


"Hei, udah bangun, malah tidur lagi?!" kata Bening.


Mata Langit terbuka lagi. "Embak udah bangun? Saya kira masih molor." Pria itu cengengesan.


"Udah bangun, tapi dingin mau ke kamar mandi."


"Masih sakit?" tanya Langit dengan senyum lembutnya.


Bening mengangguk manja. Membalas dengan senyum manisnya.


"Kalo mau ke kamar mandi, bilang. Entar saya gendong."


"Apa, ih, manja. Saya bisa sendiri."


"Katanya masih sakit? Saya gak tega liat Mbak meringis kesakitan. Semalam sampek nangis gitu. Dah kek diapain aja."


"Ish ... ya emang sakit, tau! Kan baru pertama. Lagian nangis bukan karna sakit banget, tapi ...." Bening tidak melanjutkan kalimatnya.


Langit mengerutkan dahi. Pria itu belum mengerti penggalan kalimat Bening.


"Tapi, mudah-mudahan semalam keputusan terbaik. Memberikan paling berharga untukmu." Akhirnya Bening melanjutkan kalimat yang belum usai. Membuat Langit bernapas lega.


"Makasih, Mbak, percaya sama saya. Saya janji, akan selalu mencintai Embak. Dan mudah-mudahan saya bisa selalu bahagiain Embak."


"Aamiin."


Pelukan mereka tak merenggang sedikitpun. Tubuh polos yang hanya ditutup selimut itu saling berdempetan. Memberi kehangatan dan kenyamanan.


Semalam.

__ADS_1


Menjelang petang, rambut Bening tergerai indah dengan ujung-ujung yang masih meneteskan sisa air.


Langit sedang sibuk membuat nasi goreng, dilengkapi telur mata sapi beserta tahu dan tempe goreng. Pria itu dengan cekatan menyusun masakan yang sudah matang dan memindahnya ke atas meja.


"Harum banget. Kamu masak apa?" tanya Bening. Jangan ditanya kenapa justru Langit yang menghidangkan makanan, wanita dengan piyama tidur itu tidak akan bisa menghidangkan makanan secara sempurna. Secara, seorang Bening Agistasari tak pernah berkutat dengan dapur, hanya sesekali membuat mie instan sesuai seleranya. Selain itu, semua makanan yang diinginkan sudah tersedia di atas meja. Tentu saja berkat olahan Mama Has dan juga Bibik pelayan di rumahnya.


"Makan malamnya pakek nasi goreng sama lauk seadanya, ya. Di kulkas bahan makanan belum lengkap, jadi saya masak apa yang ada," kata Langit.


"Ini juga keliatannya enak, kok." Bening mengamati masakan yang dibuat Langit. Tidak begitu buruk.


Bening lekas mengambil duduk di samping Langit. Saat pria itu akan mengisi piringnya, Bening segera menyahut. "Kamu udah masak, biar saya yang ganti ambilin."


"Duh, manisnya istriku ini," puji Langit. Bening melirik dengan senyum malu-malu.


"Oh, ya, kita kan suami istri, tapi manggilnya tetep gitu. Gak romantis banget?" cetus Bening.


"Bagi saya panggilan itu udah romantis banget. Malah beda dari yang lain. Nama saya Langit bisa jadi Rengit, tapi kalo Embak yang manggil, kedengerannya tetep romantis."


"Bisa gitu, ya?! Tapi saya juga gitu. Kamu manggil saya Embak, tadinya pengen marah karena berasa kayak udah tua. Tapi, lama-lama udah kebiasaan. Malah pas kamu pergi itu, saya paling kangen kamu panggil Embak," Bening berkata jujur.


Bening memasukkan nasi goreng ke mulutnya. "Hem ... rasanya enak. Kamu pinter masak. Belajar dari Mamak, pasti."


"Pinternya karna kepepet, Mbak. Daripada kelaparan." Langit meneliti rambut Bening yang masih basah. "Embak udah keramas?" antusias bertanya.


Bening mengangguk malu-malu.


"Yes, beneran belah duren nih ntar malam. Eh, gak nunggu malem, abis makan langsung gaspol tanpa kendor." Langit berbinar penuh semangat.


"Ngeri ah. Yang biasa aja, baru pertama juga."


"Beneran baru pertama?"


"Iyalah. Orang ciuman juga yang pertama sama kamu."

__ADS_1


Langit menyendok makanan dengan cepat, nasi goreng penuh di atas piring ludes hanya dalam berapa menit. Bening sampai melebarkan bola mata. "Gitu amat!"


"Gak sabar banget, Mbak. Berapa bulan kita menikah, baru malam ini ibadah kita akan sempurna."


"Cepet diabisin. Dah gak sabar pentol a'conya mau masuk mulut goa."


"Rengit!!!"


"Haha ...."


Makan di piring Bening tak semuanya tandas. Namun Langit sudah sigap menggendong tubuh Bening menuju kamar mereka. Kamar dengan suasana remang-remang.


Tubuh Bening mendarat pelan di atas kasur, Langit duduk di pinggir ranjang, dia membungkuk untuk mencium kening Bening dan membaca doa sebelum melakukan hubungan suami istri.


"Mbak yakin mau begituan?! Gak kepaksa, kan?"


"Yakin."


"Makasih, istriku sayang," ucap Langit dengan meniti setiap inci wajah Bening. Memindai wajah itu tanpa seinci yang terlewat. Betapa dia mengagumi paras sang istri yang begitu cantik dibawah bias lampu remang-remang.


Begitu juga yang dialami Bening, dia begitu terpesona dengan ketampanan Langit. Tatapan pria itu meneduhkan.


Langit memulai mencium kening, kedua mata, pipi, hidung dan terakhir bibir Bening. Semua itu tak luput dari kecupannya. Mata mereka mulai terpejam, menikmati setiap sentuhan yang tercipta. Rabaan dari tangan pria itu membuat tubuh Bening merasakan gelenyar aneh, nikmat bercampur geli. Namun sentuhan itu membawa candu. Ketika tangan Langit terhenti, tubuh Bening seolah mendamba sentuhan lagi. Dia menginginkan lagi-lagi dan lagi. Tak ingin terhenti sebelum mencapai puncak kenikmatan.


Bibir Langit sudah sampai pada leher jenjang Bening. Dengan tangannya mulai melepas satu persatu kancing piyama hingga pelan tapi pasti piyama yang digunakan tanggal satu persatu.


"Embak sangat luar biasa," bisiknya dengan menggigit kecil daun telinga Bening, yang membuat wanita itu mengeluarkan suara aneh.


Dan ... malam panjang mereka berlanjut sampai Bening menangis karena sudah memantapkan hati memberikan sesuatu berharga dalam dirinya untuk Langit. Pria yang berhasil mengusik dan masuk dalam kehidupannya.


"Terima kasih, Mbak. Embak sudah merelakan sesuatu berharga untuk saya. Saya janji akan menjaga cinta Embak sampai maut menjemput. I love you, Bening Agistasari." Terakhir Langit mengecup dahi Bening, saat wanita itu sudah terlelap dalam kelelahan.


'Itu sudah keputusanku. Semoga kita takkan terpisah oleh badai yang sering menggoyahkan dalam rumah tangga. Aamiin,' batin Bening. Wanita itu terlelap dengan mengulum senyum.

__ADS_1


Kesakitan yang berapa saat lalu bermuara, kini telah berganti dengan kebahagiaan yang membuncah. Benar-benar sulit dipercaya, dia yang dulu sangat tak menyukai pria berprofesi sebagai tukang bakso itu tapi kini justru tukang bakso itulah yang telah berhasil mendapatkan sesuatu yang berharga dalam dirinya.


Cinta yang baru terajut mudah-mudahan selalu menyatu, hingga badai yang akan datang takkan mampu memisahkan mereka. Itu doa mereka.


__ADS_2