Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Kebaikan yang membuat terkesan


__ADS_3

Motor matic yang dikendarai Langit sudah sampai di parkiran khusus sepeda motor.


Bening turun dan mengamati sekitarnya. Wanita itu melotot, mengernyit, lalu merotasikan bola mata mengambsen kesana kemari. Di umur sampai sekarang belum sekalipun dia menginjakan kaki di pasar tradisional. Pemandangan sekitar membuat Bening bergidik. Melihat banyak orang dari berbagai kalangan: rendah, biasa, lumayan di atas rata-rata, tapi kalau untuk orang sederajat dengan levelnya, tidak ada.


Langit sudah selesai melepas pengaman kepala, dia meminta Bening untuk melepas helm yang ada di kepala wanita itu.


"Susah. Bantuin, dong!"


Langit mendekat dan membantu. Dia mendekatkan wajahnya untuk meneliti tombol klik.


"Gak usah sedeket ini juga, Rengit!" Bening tidak nyaman ketika wajah Langit terlalu dekat.


"Kalo gak deket gak keliatan, Mbak. Deket juga kenapa? Mbak grogi, ya?" goda Langit dengan menyengir.


Bening memutar bola mata. "Siapa juga yang grogi! Gak enak aja!"


"Gak enak gimana?"


"Gak enak mandangin wajahmu yang jelek!"


"Astaga, Mbak. Ganteng gini dibilang jelek? Mbak pemecah rekor, lho, ngatain saya jelek. Dari yang tua, muda, nenek-nenek dan cucunya semua bilang saya ganteng. Baru Mbak ini yang ngatain saya jelek. Pendapat Mbak beda dari yang lain." Langit sudah berhasil melepas helm yang digunakan Bening. Dia menyimpannya di stang motor.


"Saya emang beda sama orang-orang yang ada di sekelilingmu. Mata saya normal untuk bedain mana yang ganteng dan mana yang jelek."


"Percaya, sih, bidadari secantik Mbak yang deketin pasti dari kalangan cowok-cowok level tinggi. Saya mah, apa atuh. Di jejerin mereka cuma kek upil yang nyempil. Hi hi ...." Langit kembali menyengir.


Bening menatap Langit sekilas, pria di hadapannya nampak baik-baik saja tanpa tersinggung. Padahal kata-katanya lumayan menyakitkan.


"Ayo, kita belanja dulu!" ajak Langit tidak membahas yang dibicarakan tadi. Apa dia merasa sakit hati? kecewa? Tentu saja. Tapi, lagi-lagi dia sangat pandai menyembunyikan perasaan itu.


"Ma-masuk ke sana?!" Bening menunjuk bangunan pasar tradisional yang dari luar saja sudah terlihat kumuh dan jorok—menurutnya.

__ADS_1


"Iya ke sanalah, Mbak! Mang kemana lagi?!"


"Gak ada tempat lain, tah? Ke Mall, kek. Ke super market, kek. Liat aja jalannya becek gitu. Belum lagi baunya pasti bikin mual!"


Langit menepuk jidat. "Ohya, saya lupa. Mbak tunggu sebentar, ya. Sebentar aja. aya mau beli masker di toko itu!" Langit menunjuk salah satu toko toserba yang berjajar di pinggir bangunan pasar.


"Tap____" Sebelum Bening menyelesaikan kalimatnya, Langit sudah lebih dulu ngacir. Bening hanya mendengus sebal.


Matahari pagi menyentuh permukaan kulit Bening yang tidak tertutup pakaian panjang. Bulir keringat mulai tercetak disela pori-pori. Dia merasa bodoh berdiri di parkiran motor tanpa melakukan apapun dan pandangannya hanya mengekor lalu lalang orang yang lewat. Hal baru yang dilakukan, ada senang, ada pula kejenuhan dan kekesalan. Tapi, tindakan Langit yang penuh perhatian mulai menghantui perasaanya. Diingatnya secara bergantian, mulai dari hal kecil pun mampu membuatnya terkesan.


"Nih." Langit sudah kembali dan menyodorkan masker di depan Bening. "Kalo udah pakek masker, Mbak gak mual lagi."


"Tapi, saya gak pernah masuk ke pasar seperti itu," keluhnya dengan wajah tidak enak.


"Justru gak pernah, makanya ayo di coba. Pasti dapet pengalaman baru," bujuk Langit.


"Kaki saya gimana?!" Bening menunduk menatapi sepatu tinggi yang digunakan, terlihat sangat ribet ketika dipakai di jalan becek. "Sepatu saya mahal banget. Keluaran dari Eropa dengan edisi terbatas. Hanya memproduksi dua puluh pasang aja! Bahkan sama gerobak bakso kamu jauh berharga sepatu saya!"


Langit menghela napas panjang. Pria itu berjongkok di kaki Bening.


"Mbak gak mau sepatu sangat berharga ini rusak atau kotor, kan?" Langit mendongak. "Kalo gitu dilepas aja dan simpen dulu." Langit melepas ikatan tali sepatu. Bening membiarkan saja.


"Kalo dilepas, saya pakai apa?" tanyanya.


"Mbak pakek sendal saya."


Bening melihat kaki Langit. "Pakek sendal jepit itu?!" tanyanya tidak percaya. Langit mengangguk.


"Ogah! Mana ada saya pakek sendal jepit? Kulit dan kuku saya bakal rusak!"


Langit berdiri. "Mbak mau sepatu mahalnya yang rusak, kaki dan kuku yang rusak, atau mau cari alternatif lain?"

__ADS_1


"Alternatif lain apa?"


"Alternatifnya saya harus cari sepatu boot buat Mbak. Atau Mbak di sini dulu, nunggu saya selesai belanja." Langit mencoba bersabar.


"Huh, pilihan kamu semuanya gak enak! Saya di sini ajalah!" dengkusnya sebal.


"Kalo di sini, di palak preman pasar atau di jahilin anak-anak jalanan yang suka rese', Mbak harus bisa lawan. Kalo gak, bakal jadi bully-an. Dan, jangan harap ada yang mau peduli." Langit berkata menakuti.


"Emang gitu?!" Antara percaya dan tidak.


"Terserah, Mbak." Langit menghendikan bahu. Beberapa saat pria itu menanti keputusan dari Bening. "Jadi gimana nih? Mau ikut, enggak?! Kalo ikut sepatu Mbak saya lepas."


"Ya dah, saya ikut."


Langit kembali berjongkok. Selesai melepas sepatu Bening, dia melepas sendal jepit yang dipakai dan menyuruh Bening memakainya. Pria itu membuka bagasi motor dan menyimpan sepatu mahal Bening di sana. "Ayo!" ajaknya.


"Eh, kamu pakek alas apa?" tanya Bening melihat kaki Langit tanpa alas apapun.


"Dah gak apa. Nanti saya beli sendal jepit lagi di dalam pasar."


"Kenapa gak beli sekarang aja? Kakimu bakal sakit kena krikil, juga kotor kena kubangan air."


"Saya dah biasa, Mbak. Kita harus hemat waktu. Dari tadi dah lama banget ngobrol di sini. Panas juga." Langit melangkah, tapi Bening bergeming. Kenapa hatinya mesti terkesan dengan kebaikan dan perhatian kecil dari berondong muda yang menjadi suaminya itu.


Langit berbalik karena tidak mendapati Bening di belakangnya. Dia kembali lagi mendekati Bening di tempat tadi. "Eh, malah bengong. Bisa-bisa jam satu siang baru kelar belanja, Neng! Ayo, geh, keburu siang." Langit menjentikkan jari di depan Bening. Setelah itu mengulurkan tangan.


Bening menatapi telapak tangan Langit.


"Kali ini kita harus bergandengan tangan. Takut ke pisah, ke sasar dan malah ngilang," ujar Langit.


Dengan gerakan pelan dan sedikit ragu, akhirnya Bening mau menerima uluran tangan Langit. Setelah itu Langit membimbing Bening masuk ke dalam pasar.

__ADS_1


Sesekali tatapan Bening melihat ke bawah, pria itu sungguh baik merelakan sendal jepit dipakai olehnya. Sedangkan Langit rela berjalan tanpa alas kaki.


Saat masuk ke dalam, Bening segera menyuruh Langit membeli sendal yang sama agar kaki pria itu tidak terluka.


__ADS_2