
"Percuma Be bisa melihat kalo semua udah berakhir, Ma!"
"Dasar keparat Doddy dan Sarah! Memaanfaatkan keadaan sakitku untuk mengalihkan semua harta kita, Ma."
"Bajingan kedua manusia biadab itu! Lihat saja, aku akan datangi mereka dan buat perhitungan! Be gak bisa tinggal diam begitu saja!" Usai memaki dengan umpatan kasar. Kedua tangannya terkepal kuat dengan keadaan semakin terpuruk.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi, ini. Karma apa yang sedang kami tanggung." Mama Has benar-benar sudah tak sanggup dengan semua keadaan buruk yang secara bergilir harus diterimanya. Sungguh, dosa dan karma apa yang sedang mereka tanggung hingga terasa menyesakkan.
"Apa karena aku terlalu membanggakan kekayaan dan jabatan sampai semuanya diambil begitu saja, Ma," lirih Bening.
"Mungkin saja." Mama Has tak kalah melirih. "Sekarang kamu tahu, kan, jika kekayaan dan jabatan itu tidak abadi. Semua bisa hilang dalam sekejap. Lalu apa yang bisa kamu banggakan jika sudah begini? Apa lagi yang akan kamu pamerkan dan kamu agungkan di depan suamimu. Bahkan dia yang tidak punya apa-apa jauh lebih dermawan dari kamu, Be! Dia berusaha tanggung jawab meski sangat kesulitan mengimbangi keinginanmu."
Mama Has selalu saja teringat dengan kebaikan dan kesabaran Langit, saat ini pria itu sedang berjuang hidup setelah perjuangannya mengorbankan kornea mata untuk istrinya.
"Apa ini karma, aku selalu merendahkan suamiku? Tuhan murka dan mengambil semua yang ku punya?"
"Mama sering kali menasehatimu, meski jabatanmu lebih tinggi dari suamimu, tapi dia memiliki keridhoanmu. Sedikit saja kamu melukai hatinya, Allah, bisa memberi teguran. Dan mungkin ini salah satu teguran dari Allah jika selama ini kamu sangat berdosa dengan suamimu. Kamu selalu merendahkan pekerjaanya, dan kamu justru mengangung-agungkan jabatanmu. Sekarang, apa yang bisa kamu lakukan."
Bening menunduk. Penyesalan, yah ... yang tersisa hanya tinggal penyesalan. Kenangan buruk saat sering kali dia merendahkan suaminya.
'Bagaimana seorang CEO sepertiku menikah dengan penjual bakso sepertimu.'
'Kamu egois! Kamu gak ngerasain jadi aku. Aku malu punya suami sebagai penjual bakso!'
'Kamu kampungan'
'Uang itu kamu simpan saja, aku udah ada ATM buat belanja kebutuhanku.'
'Ini semua gara-gara kamu. Harusnya aku tidak naik motormu dan aku gak akan buta. Aku juga gak akan kehilangan anakku.'
Masih banyak lagi kalimat tak pantas yang dia lontarkan untuk Langit. Semua begitu buruk. Apa benar semua ini karma yang dia tanggung karena keburukannya pada Langit.
"Ma, di mana Langit? Aku ingin bertemu," ucap Bening lirih.
"Kamu tidak bisa menemuinya saat ini."
Deg ....
"Kenapa, Ma? Be, ingin minta maaf."
"Meski kamu minta maaf, dia tidak akan menjawab perkataanmu."
__ADS_1
"Maksud, Mama?"
Dokter dan perawat masuk. Mama Has izin ke kamar mandi sebentar untuk membasuh wajah, sedangkan Bening menyeka air mata dengan kedua punggung tangan.
"Nona Bening, saatnya kita buka perbannya," ujar Dokter.
Bening hanya mengangguk.
Dokter di bantu perawat mulai membuka perban. Perlahan dan sangat hati-hati.
"Nona, coba buka mata Anda perlahan!" perintah Dokter.
Bening menurut, dia mulai membuka kelopak mata dengan sangat pelan. Kerlip cahaya mulai masuk ke retina matanya.
Mama Has yang baru keluar dari kamar mandi mematung di depan pintu.
Bening melihat mamanya dengan tersenyum sekaligus meneteskan air mata. "Ma, aku udah bisa lihat lagi."
'Kamu memang bisa melihat lagi, tapi mata itu milik suamimu, Be. Dia yang menggantikan keadaanmu kemarin. Kamu bisa melihat sinar, tapi Langit berganti ditemani kegelapan. Langit justru semakin memburuk.' Mama Has kembali terisak.
Bening masih tersenyum. Dia mengira mamanya menangis haru. Padahal berbeda dari perkiraannya.
"Terimakasih banyak, Dok. Berkat pertolongan Dokter, saya bisa melihat lagi," ucap Bening.
"Dok, apa saya boleh mengetahui siapa yang mendonorkan kornea mata ini?"
Sayang sekali, dokter itu menggeleng. "Kesepakatan tetap menjadi kesepakatan, Nona."
Setelah dokter berpamit pergi, Mama Has mendekati Bening dan memeluknya. "Jaga mata itu baik-baik, Dek. Seseorang rela menggantikan kegelapanmu. Kamu harus mensyukurinya dengan baik."
"Aku sangat berterima kasih dengan orang itu, Ma. Sayangnya Bening gak bisa ngucapin secara langsung." Bening melepas pelukan. Perempuan itu celingukan melihat ke pintu.
"Ma, Langit kenapa tidak datang? Aku udah pesan, saat pertama kali aku bisa melihat lagi, aku ingin liat wajahnya. Tapi, kenapa sampek sekarang dia gak kelihatan? Coba di telpon, Ma."
Mama Has diam dengan pandangan menerawang.
"Ma, kenapa diam aja? Kalau Mama gak mau telpon Langit, biar aku yang telepon."
"Be, meski kamu menelpon sampek ratusan kali, dia tidak akan menjawab teleponmu." Mama Has memekik dalam tangisannya.
"Kenapa, Ma? Emang Langit kenapa gak bisa jawab teleponku?" runtut Bening yang tiba-tiba diserang kecemasan.
__ADS_1
"Ayo, Mama antar kamu menemui Langit, tapi kamu harus sabar dan janji harus menjaga kondisimu, kalau tidak, dia akan semakin sedih."
Ucapan Mama Has berhasil membuat Bening takut, wanita itu menerka hal buruk telah terjadi dengan suaminya. Apakah kondisi paru-paru Langit sudah semakin parah?
Di bantu perawat dan Mama Has, Bening sudah berpindah ke kursi roda. Mama Has menyuruh perawat mengantar ke kamar rawat Langit.
"Ma, apa Langit kembali di rawat? Apa paru-parunya semakin parah?"
"Kamu akan tahu sendiri."
Sejauh mereka memandang, bola mata mereka dapat melihat Mamak sedang di papah oleh Kasep. Bening semakin cemas.
"Mak!" panggilan Bening mengejutkan Mamak.
"Nak Bening dan Bu Has, bisa tahu kami di sini?"
"Maaf, Mak. Saya kemarin melanggar kesepakatan karena sangat penasaran. Dan saya ingin membuktikan kecurigaan saya. Ternyata ... semua benar."
"Jadi, kalian sudah tahu?"
"Bening belum tahu. Tapi, biarkan dia tahu. Dia harus tau perjuangan suaminya yang sangat luar biasa demi kebahagiaanya." Mama Has terisak. "Biar Bening tahu jika dia sangat beruntung punya suami sebaik Langit. Biar dia tidak lagi merendahkan suaminya, Mak. Meski entah semua sudah terlambat atau belum, tapi biar dia berganti menyemangati Langit supaya dia tidak semakin menyesal jika terjadi sesuatu dengan suaminya." Panjang lebar Mama Has berkata.
"Ma, apa maksud Mama? Ada apa ini? Kenapa Mama berbicara seperti itu?" Bening menuntut penjelasan mamanya.
"Bu, jangan! Semua permintaan Langit sendiri."
"Maaf, Mak, tapi Bening harus tau."
"Be, mata yang bisa membuatmu melihat dunia ini adalah mata Langit."
Deg ...
Tubuh Bening membatu. Air mata menetes tanpa di perintah. Sejenak dunia terasa terhenti dengan deru napasnya yang juga hampir terhenti.
Jantungnya berdetak kencang namun tubuhnya berubah melemas.
"A-apa yang Mama katakan?"
"Bukan itu saja. Kamu tahu, sekarang Langit sedang koma."
Detik berikutnya, mata yang baru terbuka itu kembali terpejam. Bening kembali tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Bu, keadaan Nak Bening akan kembali memburuk."
"Tidak apa, Mak. Dia wajib tahu bagaimana keadaan suaminya."