
"Mbak, mau pulang sekarang? Tapi saya mau beres-beres dulu," ujar Langit menanyai Bening.
"Enggak! Kalau saya pulang, mau pulang sama siapa?! Mang Juri udah pulang duluan!" ketus Bening.
"Jadi Embak mau pulang sama saya?" Langit merasa kurang yakin. Tapi Bening mengangguk.
Pria itu melepas topi dan menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. "Gimana ya? Saya pulang ke rumah Mamak dulu sambil dorong gerobak bakso. La terus nanti Embak gimana? Kalo jalan bareng ke rumah Mamak apa gak capek? Gak malu?"
"Udah gak usah banyak mikir. Cepetan beres-beres!" suruhnya.
Langit membereskan berapa mangkuk bakso untuk dicuci, lalu menata kembali ke tempat penyimpanan. Meja dan kursi ditata dan diletakan saling berdekatan. Lalu melepas tenda orange dan menggulungnya.
Lumayan lama Bening melihat Langit membereskan semuanya. Apa dia membantu? Tentu saja tidak! Wanita itu duduk mengamati dari tempat sedikit jauh. Melihat Langit nampak lelah dan berkeringat, Bening mengambil tisu dalam tasnya dan memberikan pada Langit.
Langit yang akan membuang air dalam ember terhenyak melihat Bening tiba-tiba muncul. Hampir saya air itu di siram ke badan sang istri. Beruntung tidak! Jika terjadi, bisa dipastikan dua minggu wanita itu akan menggila dengan amukannya. 'Untung aja' batin Langit.
"Mbak ngagetin. Untung aja gak ke siram."
"Mentang-mentang saya belum mandi mau nyiram saya pakek air cucian!" Bening terlihat garang.
Langit menyengir. "Bukan gitu! Cuma Embaknya muncul tiba-tiba jadi saya kaget. Untung aja tangan saya punya rem pakem. Selamat deh."
Bening menyodorkan tisu di depan Langit.
"Buat apa, Mbak?"
"Dimakan!" sahut Bening cepat.
"Hah?"
"Ya buat lap keringat kamu, Rengit!" Gigi Bening bergemeletuk.
Langit berubah tersenyum manis. "Oh. Makasih. Perhatiannya istriku. Abang makin cinta," seloroh Langit.
Bening melirik. "Saya juga cinta. Tapi kadang sulit buat enggak marah sama kamu. Apalagi kalo kamu kumat egoisnya. Huh, pengen getok kepalamu biar gak keras kepala lagi!"
Langit dibuat tertawa dengan tingkah dan sikap Bening sore ini. "Getoknya jangan pakek palu. Tapi pakek cintamu aja ya, Mbak. Biar isi kepala saya adanya cuma Embak."
"Heh, malah saingan ngegombal. Buruan siap geh. Capek tau di sini terus. Gerah lagi."
"Iya, Nona Bos. Sebentar lagi selesai. Nanti let's go pulang."
Tisu yang disodorkan Bening tadi dilewati begitu saja. Langit lupa jika sang istri berniat membersihkan keringatnya.
"Dasar Rengit!" desis Bening.
Beberapa saat Langit sudah selesai, dia mulai bersiap mendorong gerobak bakso dan pulang. Tapi teringat dengan Bening. Dia mendekat. "Embak gimana? Yakin mau jalan bareng? Gak capek? Gak malu?" Langit meruntut pertanyaan.
"Enggak! Mau gimana, gak ada pilihan lain."
"Kalau Embak mau biar di jemput Habibah, nanti saya telponin dulu."
"Bareng cewek ingusan itu? Pens berat kamu itu? OGAH!"
"Sama dia gak sah cemburu, Mbak. Dia dah kek adek saya."
__ADS_1
"Bisa aja ngeles! Adek apaan? Jelas-jelas dia ngejar-ngejar kamu kek cewek ganjen. Dia bukan kek adek, tapi kek rival buat saya!"
"Pens saya Embak cemburuin semua. Jangan-jangan saya deket sama Mamak, Embak cemburu juga?"
"Jangan gila, Rengit! Saya masih waras."
Langit terkekeh. "Oh, kalo enggak saya telponin Kasep atau Teddy buat jemput Embak pakek motor!"
Bening memutar bola mata. "Kamu gak cemburu, istrimu ini dibonceng pria lain?" Bening memanas-manasi.
"Mereka temen saya, gak bakal slending tekel. Lagian, mereka gak akan berani lama-lama sama Embak. So, Embak galak dan ...."
"Rengiiit!!! Dan apa?! Hah?! Awas kamu, malam ini gak ada jatah! Kamu tidur diluar! Dan gak ada tawaran cuma **** pentol a'co aja. GAK ADA!" sungut Bening.
"Waduh. Ancaman lebih berbahaya daripada orang gak punya duit. Jangan kejem sama suami. Ntar nyari mangkuk tetangga gimana?"
"Maksud kamu?"
"Ya kalo mangkuk istri gak mau di masukin, terpaksa dong masuk ke mangkuk tetangga!"
"Reeeengggggiiiiiiiit!!!" Bening berteriak frustasi.
Langit justru terbahak-bahak.
Senja hampir menghilang. Bias jingga sedikit demi sedikit tergulung awan hitam. Namun, pemandangan menawan masih bisa dinikmati dengan mata telanjang.
Netra Bening melihat warna jingga yang sangat sayang untuk dilewatkan. Membayangkan di sore indah akan bergandengan mesra dengan sang suami, jalan berdua menyusuri jalanan dengan banyaknya kendaraan berwara-wiri.
Tapi bayangannya memudar saat netranya turun dan menatap lurus. Di mana sang suami justru sedang susah payah mendorong gerobak bakso. Au' bayangan romantis seketika buyar.
"Mbak," panggil Langit.
"Apa?! Saya capek, tau!" jawab Bening. "Sampek rumah bakal lecet, nih." Bening menggerak-gerakan kaki yang terbungkus high heels setinggi 8cm.
Langit memberhentikan gerobak bakso dan menghampiri Bening. Pria itu langsung berjongkok di depan lutut istrinya untuk melihat keadaan kaki Bening. "Di lepas aja. Ganti sendal jepit biar enak." Langit melepas high heels Bening dan menggantinya dengan sendal jepit miliknya.
Bening tidak menolak karena kakinya mulai lecet dan terasa sakit.
Sepanjang pulang ke rumah Mamak, Langit tidak menggunakan alas kaki. Dia berjalan dengan kaki telanjang. Itulah pria baik, pengertian dan perhatian, tak membiarkan istrinya kesakitan barang sekecil apapun.
Susah payah, dengan perjuangan melelahkan, akhirnya mereka sampai.
"Nak Bening?" Mamak yang sedang mengangkat jemuran kerupuk nasi terkejut melihat menantunya ikut pulang bersama Langit.
"Mak, Be, kangen." Bening memeluk Mamak dari samping.
"Mak juga kangen. Sehatkan?"
"Sehat, Mak."
Mamak dan Bening terlibat obrolan, sedangkan Langit membereskan dagangan. Lalu menyiapkan air untuk Bening mandi.
Malam hari.
Bening duduk di sofa, Langit yang baru usai menjalankan kewajiban seorang muslim ikut menyusul duduk di samping istrinya.
__ADS_1
Bening menyandar di sofa dengan mata terpejam.
"Mbak capek? Mana kakinya yang sakit?" Langit mengangkat kaki Bening.
"Eh, apaan. Malu." Bening berusaha menurunkan kakinya. Dia malu dan tak enak.
"Gak apa, mau saya kasih obat." Dengan telaten Langit mengoles obat. Setelah selesai dia melanjutkan memijat kaki Bening.
"Rengit, gak usah!"
"Gak apa, Mbak. Kaki Embak capek gara-gara saya. Biar saya pijitin."
'Astaga ... sweet. Dia baik pakek banget, sih.' Bening menekuni wajah Langit tanpa berkedip.
"Maafin, saya," ujar Bening tiba-tiba.
Langit mendongak dan tersenyum. "Gak apa, Mbak. Manusia kadang gak bisa kontrol emosi. Tapi, gak semuanya salah Embak. Saya juga salah. Mungkin perkataan Mbak benar, saya egois."
"Kamu egois, tapi saya lebih egois," balas Bening.
"Tapi saya lebih egois, Mbak. Saya keras kepala."
"Saya yang lebih egois," ucap Bening tak mau kalah.
"Saya yang egois, Mbak."
"Saya yang egois!"
"Bukan Embak, tapi saya."
"Saya yang egois, Rengit."
"Saya!"
"Saya!"
"Iya. Kamu egois!" kata Langit.
"Kamu ngatain saya egois."
"Lah, kata Embak gitu kan? Dari pada kita tengkar gara-gara rebutan Bang Gois. Mending saya ngalah. Jadi, emang Mbak yang egois parah."
Buk ....
Bening memukul tangan Langit.
"Ya gak gitu juga! Masa saya aja yang egois. Gak adillah! Yang adil, kita berdua yang egois."
"Nah, itu baru betol!" sela Langit antusias.
"Betol-betol!" sungut Bening.
"Lah, saya salah lagi?"
"Gak taulah! Gak selesai kalo debat ma kamu mah."
__ADS_1