Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Gara-gara alergi dingin, bisa tidur dengan kehangatan


__ADS_3

Langit mencoba memejamkan mata namun beberapa saat kembali terbuka. Dimulai dari leher, satu bentolan sudah muncul. Sangat gatal jika tidak digaruk, akhirnya tidak bisa menahan diri untuk menggaruk bagian itu. Leher bagian kanan, lalu melebar ke sebelah kiri dan lama-lama menyebar ke seluruh badan.


Langit sampai merem melek merasakan gatal di seluruh badannya. Mulut mulai mendesis.


Bening yang belum terlelap mengernyitkan dahi mendengar pria di bawahnya krasak-krusuk. Matanya terbuka kembali dan bergerak kesana kemari, ingin memastikan tapi pikirannya mencegah. Jika dia menunjukan perhatian, pria itu bisa geer.


"Ssstttt, auh' ... gatel banget," desis Langit tak henti kedua tangannya bergerak lincah menggaruk bagian yang bisa dijangkau.


Tak tahan menahan rasa penasarannya, Bening melongok ke bawah dan mendapati Langit kelimpungan menggaruk-garuk badannya. Bening segera bangkit dan duduk.


"Rengit, kamu kenapa?"


"Sstt, badanku gatel semua, Mbak." Bagian sensitifnya juga terserang rasa gatal. Wajah, tangan dan badan Langit banyak bentolan dan memerah.


Bening memundurkan kepala dan mengernyit. "Kamu beneran alergi dingin?" tanyanya memastikan.


"Iya, Mbak. Tadi saya udah bilang gitu," jawab Langit menggaruk daun telinganya yang tak luput terserang gatal-gatal.


Rasa bersalah seketika menyelimuti. Bening menyusul Langit duduk di bawah. "Ka-kalo begini, terus gimana?" Bening benar-benar merasa bersalah. Kini wajah tampan Langit banyak bentolan juga memerah, bahkan bagian leher sampai lecet-lecet.


"Ya, gak gimana-gimana, Mbak. Saya pas gak bawa obat." Kedua tangan Langit tak henti menggaruk, bentol-bentol di badannya makin bertambah. "Biasanya Mamak rebusin daun-dauan tapi saya gak tau apa namanya."


"Setau saya, kalo orang biduran itu gak boleh digaruk terus, nanti malah nular kemana-mana."


"Iya, sih. Tapi saya gak tahan, gatel banget, Mbak." Tangan Langit beralih menggaruk punggung, namun pada bagian atas pinggang tangannya sangat sulit menjangkau.


Bening mengamati, tak tega juga melihat keadaan Langit demikian. "Balik badan, biar saya bantu!"


"Udah, Mbak tidur aja! Saya udah biasa kayak gini," ucap Langit. Tak sedikitpun menyalahkan atau mengungkit penyebab dia terkena alergi gatal. Padahal semua itu penyebabnya karena Bening yang menyuruh dia tidur di lantai.

__ADS_1


Bening justru makin merasa bersalah. Kenapa Langit malah menyuruhnya tidur. Padahal dia yang harusnya bertanggung jawab atas keadaan Langit sekarang.


"Apa kamu pikir saya bisa tidur kalo kamu kayak gini?! Ini gara-gara saya gak dengerin keluhan kamu!" Tanpa sadar Bening menyalahkan dirinya sendiri. Dia menyadari kesalahannya tadi.


"Cepetan balik!" perintahnya memaksa dengan mendorong bahu Langit. Pria itu tak lagi membantah, rasa gatal semakin menyiksa tubuhnya.


Tangan Bening menggantung di udara. Awalnya ragu untuk membantu Langit, padahal dia sendiri yang tadinya menawarkan bantuan. Tetapi melihat pria itu kewalahan menggaruk belakang badannya, dia mengesampingkan rasa tidak sukanya pada Langit. Akhirnya tangan lembut Bening menyentuh kulit Langit yang masih terbalut kaus oblong. Hitung-hitung ini sebagai bentuk penebusan rasa bersalah.


"Mbak, boleh saya buka baju?" izin Langit. Tadi sore Bening melarangnya buka baju di depannya, tapi apa boleh buat, keadaanya lagi genting.


"Ter-terserahmu," jawab Bening ragu, tapi sama halnya dengan Langit. Dia juga tidak punya pilihan lain. Jika tetap kekeuh dengan larangannya, Langit akan semakin tersiksa. Begitu pula jika Mama Has atau Eyang Putri tahu keadaan Langit, maka tamatlah riwayatnya. Bisa dipastikan gendang telinganya akan panas mendengar ocehan Mama Has dan Eyang Putri sehari semalam.


Langit membuka kaus yang tadi membungkus badannya. Kini punggung kekar Langit terpampang di depan Bening. Wanita itu menelan saliva. Sekujur punggung Langit banyak bentol-bentol dengan kulit putihnya yang berubah memerah.


"Separah ini?!" kata Bening. "Ayo, kita ke rumah sakit aja!" panik dan bingung.


"Udah jam 12 malam, malah ganggu Mama dan Eyang Putri. Gak apa, nanti sembuh sendiri. Tapi saya gak tahan gatel banget," tolak Langit.


Otak-atik otak-atik. "Liat, di sini katanya harus di kompres pakek air dingin," celetuknya.


"Eh, bukannya air hangat, ya?" sahut Langit. "Kalo Mamak pakek air hangat."


"Duh, yang bener yang mana, nih?!" Bening kembali bingung.


"Ya udah, coba ikutin kek di pencarian." Langit memberi usul.


"Oke, tunggu sebentar!" Bening gegas keluar kamar untuk mengambil yang diperlukan. Tak lama sudah kembali dengan baskom stainless dan juga handuk kecil. Air dingin di tambah dengan es batu kecil-kecil menjadikan suhu air makin dingin. Tanpa persetujuan, Bening langsung mengompres wajah dan Langit.


Makin lama makin lama, "Aduh, Mbak. Dingin banget. Malah tambah gatel!" rintih Langit.

__ADS_1


"Eh, apa iya?!" Bening setengah terkejut. Dia menghentikan kompresannya. "Tunggu-tunggu! Ya ampun, Rengit! Saya salah baca artikel." Bening menggigit ujung bibir. Panik karena semakin bersalah. "Bener yang kamu bilang, harusnya pakek air hangat," ujarnya lirih.


"Huh, pantes! Bukannya hilang, malah tambah gatel." Langit mengaduh.


Tanpa bicara, Bening kembali sibuk keluar masuk kamar untuk mengganti air kompresan. Tak lama kembali lagi dengan air hangat.


"Ayo, pindah ke atas. Biar gak tambah kedinginan!"


"Tapi, Mbak____"


"Gak tapi-tapian! Cepet!"


Langit berpindah ke atas ranjang, Bening kembali menempelkan beberapa handuk kecil pada wajah dan badan Langit. Setelah dingin, dia kembali mencelupkan ke baskom dan memerasnya.


Setiap tangan Langit ingin menggaruk tapi tangan Bening mencegahnya. "Jangan digaruk terus. Nanti tambah gatel! Tahan dulu!"


"Sssttt ... gatel, Mbak! Saya gak tahan."


"Kamu bisa nahan! Bentar lagi gatelnya ilang. Kalo bisa, kamu tidur aja!"


Langit memejamkan mata. Tanpa sadar, tangan keduanya saling menggenggam. Jika tangan Bening melepaskan, maka tangan Langit akan kembali menggaruk badannya. Dan bisa saja semalaman gatal-gatal itu tidak hilang.


"Hoam ...." Bening menguap. Jam menunjukan pukul satu malam. Rasa kantuk menyerang tanpa bisa dicegah. Bening sampai terkantuk-kantuk dengan kepalanya yang menunduk dan hampir terjatuh.


Dilihat Langit mulai tenang, Bening melepas genggaman tangannya, tapi Langit menggenggamnya dengan kuat. Akhirnya dengan satu tangan dia memindahkan baskom ke atas meja, lalu memakaikan selimut tebal pada Langit, dari ujung kaki hingga sebatas dagu.


Di luar sepertinya masih diguyur hujan, namun kilat dan guntur sudah tidak seperti tadi.


"Sssttt ...." Dalam tidurnya Langit masih sering mendesis seolah menahan dingin. Bening inisiatif menimpali tubuh Langit dengan tubuhnya. Mungkin saja yang dilakukan bisa meredakan rasa dingin. Entah, semua dilakukan tanpa kesadaran penuh. Karena kepanikan, rasa bersalah juga rasa kantuk mendominasi. Hingga egonya yang besar mampu terkalahkan.

__ADS_1


Malam ini mereka tidur dengan damai dan penuh kehangatan. Tapi, tidak tahu ketika mereka bangun esok hari. Mungkin akan ada perdebatan dan pertengkaran hebat.


__ADS_2