
Satu dokter dan dua perawat baru saja keluar dari ruang rawat Bening. Langit yang mengetahui segera mencegat mereka. "Dok, bagaimana keadaan Mbak Bening?"
"Demamnya masih lumayan tinggi. Kami sudah memberi obat penurun panas dengan dosis lebih tinggi, mudah-mudahan setelah ini demamnya turun dan pasien segera sadar. Lalu, apa suaminya belum datang juga? Pasien terus memanggil nama Rengit."
Mendengar penjelasan dokter, kening Langit berkerut. Beralih melihat Mama Has untuk meminta penjelasan. Dia juga penasaran, bagaimana dokter tahu jika Rengit nama panggilan untuknya.
"Ini suaminya, Dok," sahut Mama Has.
"Oh, ini Mas Rengit? Ganteng-ganteng kenapa di panggil Rengit," ujar dokter.
"Em, itu panggilan sayang mereka, Dok." Mama Has kembali menjelaskan.
Dokter tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, saya permisi dulu. Suaminya sudah datang, putri ibu akan segera membaik."
"Iya, mudah-mudahan saja, Dok."
"Saya permisi," pamit dokter.
Setelah dokter berlalu, Langit dan Mama Has masuk ke ruang rawat Bening secara bersamaan.
Kondisi Bening masih sama, tergolek lemah di atas brankar. Langit mendekat dan duduk di sampingnya. Menatap lekat wajah Bening.
"Dia sangat ingin bertemu denganmu, Lang."
Langit melihat Mama Has dengan kebingungan.
"Memang kenapa Mbak Bening ingin bertemu saya, Ma?"
"Dia kangen kamu."
Kali ini ucapan Mama Has membuat Langit terkejut. Dia menunjukan raut tidak percaya. Mama Has menceritakan semua yang terjadi dari awal hingga akhirnya Bening bisa masuk rumah sakit.
Sungguh, pria yang tak lepas memindai wajah Bening itu hanya bisa diam, tertegun mendengar penjelasan barusan.
"Mama lega, akhirnya kamu sudah kembali, Lang. Bukan hanya Bening yang bingung dan khawatir denganmu, Mama turut cemas karena kamu pergi gitu aja tanpa kabar apapun."
"Lang, kasih kesempatan Bening. Dia memang sering bersikap marah dan kurang peduli, tapi semua itu karena dia bingung harus memulai dari mana untuk mengawali hubungan baik denganmu."
"Dia belum bisa menafsirkan perasaanya sendiri. Mama yakin, kesabaran dan perhatianmu yang akan mengalahkan keegoisan pikirannya." Mama Has menepuk-nepuk pelan pundak Langit. Sedangkan pria itu terus saja diam karena masih sulit mempercayai ucapan Mama Has.
"Maafin Langit, Ma. Kemarin Langit butuh waktu untuk sendiri. Sebenarnya saya sedang memikirkan bagaimana hubungan kami selanjutnya. Mbak Bening gak menginginkan saya, dan ... sepertinya ada pria yang lebih pantas bersama Mbak Bening, tapi bukan saya. Dunia saya terlalu berbeda, saya merasa rendah bersanding dengannya." Pandangan Langit tak lepas dari wajah pucat Bening. Dia mengingat kebersamaan Bening bersama Bram. Sepertinya hubungan mereka lebih dari sekadar teman.
"Kamu salah, Lang. Lihat, dia seperti ini karena kehilanganmu. Dia sudah menyadari perasaanya, saat kamu pergi darinya. Mungkin setelah dia sadar dan melihat kamu di sini, dia akan menunjukan perubahan sikapnya."
"Lang, jawab pertanyaan Mama. Apa kamu memiliki perasaan khusus untuk Bening?"
__ADS_1
Langit diam membisu. Pandangan terarah lekat pada wajah Bening.
Per-sekian detik Mama Has menunggu jawaban Langit. Dia yakin jika keduanya sudah memiliki rasa, namun keduanya belum berhasil mendeklarasikan perasaan mereka. Mungkin sama-sama belum percaya jika hati dapat berubah seiring kebersamaan mereka.
Langit mengangguk samar. "Lang udah memiliki rasa dari pertama kali bertemu Mbak Bening. Meski dia bersikap galak dan sok gak peduli, tapi entah, saya rasa Mbak Bening berbeda dari banyaknya perempuan yang saya kenal."
Mama Has tersenyum. Kisah yang lucu, keduanya saling suka tapi saling memendam perasaan masing-masing.
"Rengit ...!" Bibir Bening kembali memanggil-manggil nama Langit, meski dia belum sadar.
Jam di dinding tepat pukul setengah satu dini hari, Mama Has berpamit pada Langit untuk tidur lebih dulu. Darah tingginya bisa kambuh jika dia begadang sepanjang malam.
Mama Has mulai merebahkan diri dan bersiap tidur.
"Rengit ...!"
"Mbak, saya udah di sini." Langit menggenggam telapak tangan Bening. Ketika menyentuh kening perempuan lemah itu Langit bangkit untuk mengganti kompresannya.
Sepanjang malam Langit merawat Bening, pria itu tersenyum senang. Entah, senang karena mendengar perkataan Mama Has tadi, atau senang karena Bening sebenarnya memiliki perasaan untuknya. Yang jelas jika semua perkataan Mama Has benar, dia yakin akan berjuang lagi di samping Bening sampai cintanya berakhir indah.
Pukul empat pagi, manik Bening mulai mengerjap pelan, berusaha menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke retina matanya.
Tangan sebelahnya terasa hangat dan ada yang mendekap. Dia berpikir itu mamanya.
Ketika tangan Bening berusaha bergerak, saat itu Langit terbangun dan segera menegakan badan. "Mbak ... Mbak udah bangun?"
'Apa aku halusinasi? Apa itu suara Rengit?'
"Mbak ...."
Mata Bening segera terbuka mendengar panggilan Langit yang terakhir. "Rengit?!"
Langit tersenyum senang.
Bening terbatuk-batuk, Langit mengambilkan minum.
"Di mana ini?" Bening bertanya dengan meniti seluruh ruangan, saat melihat cairan infus tergantung di sampingnya. Dia baru paham jika berada di rumah sakit.
"Di rumah sakit. Embak demam tinggi, Mama Has bawa Mbak ke sini."
"Ka-mu ngapain di sini?"
"Eh ...? Apa karna demam tinggi Embak jadi amnesia? Saya disini ya nungguin Embak."
Bening mengalihkan pandangan ke arah lain. "Kemana aja kemarin?!" tanyanya.
__ADS_1
Langit tersenyum. "Kalo galaknya udah kembali, berati Embak udah sembuh," seloroh Langit.
"Saya lemes, jangan jawab yang aneh-aneh."
"Baiklah-baiklah. Kemarin saya pergi ke kampung sodara," balas Langit mencoba menjelaskan.
"Bohong! Kamu pergi karna marah sama saya, kan?" tuduh Bening, meski suaranya lirih, namun penuh penekanan.
"Enggak. Ngapain saya marah sama Embak. Embak gak salah apa-apa."
'Tapi, bukannya dia marah karna Bram jemput aku?'
"Mbak demam karna kangen sama saya?"
Bening melihat ke arah lain, menyembunyikan rasa malu jika sampai Langit melihat raut wajahnya. Jauh dalam lubuk, dia sangat senang bisa melihat pria yang menjadi suaminya itu.
"Idih, pede! Saya sakit ya emang waktunya sakit."
'Duh, apa dia udah baca semua pesanku? Dan dia tau perasaanku sekarang?!' Tanpa sadar Bening membuka mulut dan terkejut.
Langit tersenyum gemas. "Embak begitu karna ingat sesuatu?" tebak Langit.
"Heh? Eng-enggak! Saya gak ingat apapun!" kilah Bening. "Ponsel saya mana?"
Langit menghendikan bahu. "Dari semalam saya gak liat ponsel Embak."
'Aduh, ponsel pakek ilang. Aku pengen hapus pesanku, bisa geer dia.'
"Mbak mau cek pesan?! Nih, cek di wa saya." Langit menyodorkan ponsel dengan senyum lebarnya.
Bening melirik sekilas, lalu menoleh lagi ke samping. Dia tersenyum malu. Bisa ditebak jika pria itu sudah membaca pesannya.
Pluk ...
Langit menepuk tangan seolah memukul hewan yang terbang di depannya, padahal tidak ada.
"Rengit, kamu dimana? Kenapa gak bales wa saya? Kamu marah?"
"Heem ... Rengit, saya kangen kamu."
Langit seolah membacakan isi pesan yang dikirim Bening.
Bening membuka mulut. "Hah?! Rengit! Jangan mulai ngeselin!" Bening menggigit bibir bawah, sungguh, dia sangat malu.
Langit tertawa gemas. Inilah saat-saat yang dia rindukan ketika bertemu dengan Bening.
__ADS_1