Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Mendebat masalah yang sama


__ADS_3

Hari ini terakhir menapakkan kaki di Pulau Raja Ampat. Langit dan Bening harus kembali ke Jakarta.


"Salsa, makasih. Selama kami tinggal di sini kamu sangat membantu kami," ucap Langit berpamitan dengan Salsa, tour guide yang diutus menemani mereka.


"Iya, Kak Langit. Itu udah pekerjaan saya. Ohya, jangan lupa kasih rate bagus buat saya," pesan Salsa dengan mengembangkan senyum.


"Iya, kamu tenang aja. Kami gak akan lupa untuk itu." Langit tersenyum, lalu menoleh pada Bening, sang istri diam saja dengan wajah ditekuk sedemikian rupa. "Mbak, gak pamitan," ujarnya.


"Makasih, ya," ucap Bening singkat dengan memasang senyum palsu.


"Iya, Kak. Kembali kasih juga. Kak Bening sehat-sehat ya, mudah-mudahan cepet dapet momongan." Biasanya setiap pasangan yang datang untuk honeymoon memang mendambakan keturunan, maka dari itu Salsa mengucapkan demikian.


Bening membuang pandangan, dia tak suka Salsa mendoakannya hamil karena dia belum menginginkan seorang anak.


"Kami pamit. Assalamu'alaikum."


"Walaikumsallam."


Langit menggeret koper menuju ruang tunggu di bandara. Bening berjalan di belakangnya. "Mbak kok gitu. Kita gak ketemu lagi sama Salsa, pas pamitan harusnya lebih care."


Bening terhenti dan membuang pandangan. Terlihat muak. "Lama-lama kamu tuh nyebelin," desisnya. Tapi Langit tak mendengar karena pria itu sudah di depan.


Langit mengetahui Bening terhenti, pria itu berbalik dan menghampiri sang istri. "Mbak, keknya dari kemarin kalem aja?" seloroh Langit, mencoba mencairkan suasana. Tapi, Bening tak memberi reaksi apapun.


Memang sedari kemarin sikap Bening mulai sedikit ketus. Langit sendiri tidak tahu apa penyebabnya.


"Udahlah, males mau bahas!" Kali ini Bening justru mengambil langkah lebar dan meninggalkan Langit dan pertanyaannya.


Di dalam pesawat Bening memilih memejamkan mata, tanpa memperhatikan Langit. Pria mengenakan kemeja navi itu mengembus napas panjang, ini bukan hal pertama yang telah dilalui, sebelum ini sikap Bening justru semakin parah. Mungkin kesabarannya memang harus diuji lagi.

__ADS_1


Dia pernah mendengar, jika pendewasaan itu tidak bisa dilihat dari matangnya umur, melainkan dari sikap seseorang dalam memecahkan persoalan yang dihadapi. Ternyata kalimat itu memang benar, umur Bening memang jauh di atasnya, tapi perempuan itu belum bisa mendewasakan pemikiran.


Sampai di bandara Jakarta, Mama Has dan Mang Juri sudah menunggu kedatangan mereka. Mama Has sangat antusias menyambut. Bening meminta pulang ke rumahnya, dan Langit mengangguk setuju.



"Mbak, kita udah sampek di rumah. Embak gak mau cerita gitu, apa yang bikin Mbak jengkel?" Langit mencoba mendekati Bening. Dia tak enak sikap Bening kembali acuh.


Perempuan yang sudah berganti dengan pakaian santai itu asik mengotak-atik ponselnya. "Saya kemarin gak suka kamu deket sama Salsa. Apalagi terakhir kamu ngobrol sama dia, dia bilang saya egois, tapi kamu gak coba buat bela saya. Memang dia tau apa soal kita! Kamu yang egois, bukan saya! Diamnya kamu malah justru membenarkan ucapannya. Dan saya kesal gara-gara itu!" Bening meletakan ponsel di atas meja dengan gerakan kasar.


"Apa Mbak denger saya ngobrol sama Salsa?"


"Kalo saya gak denger, gak mungkin tau kalo kamu tuh tipikal suami yang gak mau belain istri. Kamu gak mau ngakuin kalo sebenarnya kamu yang egois, bukan saya!"


"Oke, saya minta maaf jika hal kecil itu buat Embak marah. Saya gak tau Mbak kesal gara-gara ini ...." Kalimat Langit terpotong.


"Itu karna kamu gak peka!"


"Alesan!"


"Tapi kalo Embak bilang dari kemarin, saya bakal jelasin langsung sama dia. Sekarang kita udah gak ada hubungan lagi sama Salsa. Jadi gimana? Apa saya masih perlu meluruskan persoalan ini?"


"Gak usah. Dah males mau bahas."


"Kalo gitu, udah dong. Kita baikan? Hem?"


"Tapi saya tuh masih kesel. Bukan itu aja."


"Terus apa lagi? Embak bilang aja semuanya, biar saya tau. Tapi jangan kek gini."

__ADS_1


"Kalo saya bilang pun apa kamu bisa merubah keputusan kamu?! Enggak, kan?!"


Langit membungkam mulut. Pandangannya beralih menerawang ke depan. 'Sangat sulit dijelaskan. Kenapa kamu gak sedikitpun mau ngerti. Padahal aku udah berusaha supaya kita tetap bersama.'


"Maaf. Suatu saat Embak akan tau apa yang saya pikirkan."


"Gak usah sok misterius. Kata kamu kita ini suami istri, harusnya saling terbuka?!"


"Hem." Langit mengangguk. "Saya udah terbuka dengan keputusan saya. Saya belum bisa bernaung di bawah istri. Saya pengen kasih nafkah dari kerja keras sendiri."


"Terus aja junjung tinggi egomu itu!" Bening menyahut cepat.


"Bukankah kita sama-sama egois. Embak minta saya untuk sabar karna gak pengen hamil sekarang, saya setuju walau sebenernya berat. Sekarang kita suami istri sungguhan, Mbak. Coba kita pahami dan dukung keinginan masing-masing. Berpikir rasional, bahwa setiap keputusan pasti udah dipikir matang. Begitu juga dengan keputusan saya."


"Astaga ... dasar kolot! Apa susahnya sih cuma pindah kerja aja! Gak ada bedanya, kan? Di sana, saya bosnya. Apa yang buat kamu khawatir? Saya gak mungkin kasih kamu jabatan OB, bahkan kalo mau, saya bakal kasih jabatan manager, pengurus keuangan, atau menggantikan pekerjaan Dodi, sekretaris saya. Saya bisa usahain itu. Liat perjuangan saya pengen banget kamu naik jabatan. Tapi kamu tuh sulit banget. Gak ngerti sama pikiran kamu!"


"Justru karna jabatan-jabatan tinggi itu yang bikin saya gak mau. Semua orang akan lebih merendahkan status saya. Mereka berpikir, saya cuma bisa sembunyi di belakang istri. Bisa juga orang-orang berpikir saya manfaatin Embak. Apa itu gak lebih memalukan."


"Pikiran kita tu emang beda. Beda!" pekik Bening.


Langit membuang napas kasar. Rasanya lelah memberi pengertian namun Bening tak sekalipun mengerti.


"Baiklah. Tolong beri saya waktu untuk berpikir." Langit melepas genggaman tangannya. "Saya mau liat Mamak dulu," pamitnya.


"Jangan lari dari masalah. Bilang mau liat Mamak, nanti ngilang lagi sebulan!" sindir Bening.


"Enggak. Saya janji, ntar malam pulang." Langit bangkit menuju laci dan mengambil kunci motor. Setelah itu melihat sebentar ke arah Bening, namun istrinya tak mau membalas. Akhirnya dia keluar kamar.


Baru saja menutup pintu, dia dikejutkan dengan usapan di bahu. "Mama mohon, kamu yang sabar ya, Lang, ngadepin sikap Bening. Mama udah sering nasehatin dia. Mama pikir dia udah bisa berpikir dewasa, tapi ... semua salah Mama yang kurang mendidik Bening." Mama Has meneteskan air mata.

__ADS_1


Langit mengambil tangan Mama Has dan mengusapnya lembut. "Langit dah biasa, Ma. Mama jangan salahin diri sendiri. Mbak Bening memang sangat keras dengan pikirannya. Tenang aja, cinta Langit bakal ngalahin kerasnya pikiran Mbak Bening."


__ADS_2