
Selesai dengan ritual mandi, Bening masuk ke kamar Langit untuk berganti baju. Dia memilih baju panjang karena ingin melakukan sesuatu. Selesai memakai baju, wanita itu beralih berhias di depan cermin. Bibir meronanya tersenyum saat merasakan gerakan-gerakan kecil dari calon anaknya.
"Sehat-sehat ya, Nak. Sekarang Mimi sayang sama kamu. Mimi gak sabar pengen kamu lahir dan liat kelucuanmu. Maafin Mimi sempat gak terima waktu pertama tau kamu hadir di rahim Mimi. Mimi jahat, Mimi bersalah. Tapi, untuk sekarang dan kedepannya, Mimi akan selalu jagain kamu. Terima kasih sama Pipi, dia yang selalu nyadarin Mimi betapa berharganya kamu. Love you, Baby." Bibir Bening kembali merekah saat perutnya kembali bergerak. "Kamu dengerin Mimi, ya? Em, calon anak pintar, nih."
"Aamiin," sahut Langit yang baru masuk ke kamar.
Bening menoleh. "Ngikut aja, deh," ucapnya, tapi sejurus kemudian bibirnya tersenyum.
"Kan, calon ayahnya ngikut aminin, gak apa dong." Kini pandangan Langit fokus pada penampilan sang istri. "Be, kenapa dandan begitu? Kamu bakal di rumah aja lho, Yang."
"Aku mau ikut."
"Mang Juri gak ada. Siapa yang mau anter."
Beberapa saat lalu mereka berdebat mengenai kepergian Langit ke makam seseorang. Bening memaksa ingin ikut, tapi Langit melarangnya karena dia hanya mengendarai sepeda motor yang sudah pasti akan membuat Bening tidak nyaman, sedangkan Mang Juri sedang menjemput Mama Has yang berkunjung ke rumah temannya.
"Bonceng motor sama kamu." Bening menaikan kedua alisnya cepat.
"Enggak, Be. Kamu gak akan nyaman naik motor." Langit mendekat dan mencoba memberi pengertian lagi.
"Aku penasaran itu makam siapa." Bening mencebik.
Langit menghirup udara dan membuangnya pelan. "Itu makam mama kandung aku."
"Hah?" Bening sangat terkejut. "Ma-mama kandung?" Dia menelan ludah kepayahan. Pikirannya sedari tadi sangat negatif tentang makam yang sering dikunjungi suaminya, ternyata dia salah sangka. Sedari tadi dia meyakini jika makam itu adalah makam istri pertama Langit atau makam pacar yang masih disayangi oleh suaminya itu. Ternyata salah besar. 'Ini benar-benar mengejutkan.'
__ADS_1
"Jadi, Mamak bukan mama kandungmu?"
Langit menggeleng pelan. Tubuh Bening melemas dengan pandangan menerawang. 'Ternyata Mamak bukan mama kandungnya, tapi dia sayang dan peduli banget sama Mamak,' batin Bening mengagumi.
"Sekarang udah tau. Besok aja ke sananya kalo Mang Juri dah dateng." Langit memberi pengertian dan menggenggam tangan Bening.
"Kamu gak pernah cerita ini," ujar Bening.
Arah mata Langit bergerak tak menentu, sedetik kemudian pria itu menunduk. Melihat tangannya yang masih erat menggenggam tangan Bening. "Aku nunggu waktu yang tepat buat cerita. Ini sulit, Be. Sangat sulit." Tanpa di sangka, Langit menangis di depan Bening. Wanita itu kembali terkejut. Pasti ada sesuatu kejadian buruk yang dilewati suaminya itu bersama almarhum ibunya.
Isak tangis Langit membuat Bening iba, tanpa sadar dia ikut menangis.
"Di tanggal ini aku gagal nyelamatin nyawa mama. Dan di tanggal ini mama pergi ninggalin aku selamanya." Suara Langit bergetar, pria itu terisak memilukan. Setiap mengingat kepergian mamanya, dia tak pernah berhasil berdiri tegar. Dia selalu menangis. Menangis dalam kesakitan, kebencian dan penyesalan.
Air mata Bening ikut lolos. Dia melepas genggaman tangan Langit dan beralih mengelus punggung suaminya. Saat ini pria itu duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan kursi rias yang dia duduki.
"Kami telah melalui kepahitan. Aku, mama dan Mamak pindah ke kota ini sejak umurku menginjak usia 15 tahun. Ini adalah rumah warisan suaminya Mamak. Mamak orang yang merawatku dari kecil, ketika hal besar terjadi, mengharuskan aku dan mama pergi, Mamak berbaik hati dan dengan suka rela menawariku tempat tinggal di sini."
"Satu bulan aku tinggal di sini, mama jatuh sakit dan di vonis terkena kanker hati. Saat itu aku sangat frustasi, aku hampir mengakhiri hidupku karena gak sanggup dengan ujian yang ku lalui. Aku gak punya uang, aku gak punya pekerjaan. Bahkan kami makan dari upah Mamak buruh nyuci tempat tetangga."
"Tunggu! Umur 15 tahun harusnya masih sekolah, kan?"
Langit tersenyum kecut. "Aku sekolah, berbeda dengan yang lainnya. Aku belajar private dengan seseorang untuk mempelajari sesuatu."
Ekspresi Bening berubah-ubah, penasaran, terkejut, bingung, sedih, miris, iba dan aneh.
__ADS_1
"Intinya. Aku gak bisa bawa mama berobat."
"Lalu, dimana ayah dan keluargamu?" tanya Bening yang masih sangat penasaran untuk cerita selanjutnya.
"Dah, cukup segini. Lain kali aku ceritain. Tapi sekarang aku mau ke makam mama dulu." Langit membersihkan cairan bening di sudut matanya. Sesaat lalu pria itu menangis, tapi kini telah tersenyum kembali. 'Luar biasa. Ternyata dibalik sikapnya dia melalui cerita yang menyedihkan.'
Bening tersadar dari lamunan. "Aku ikut. Sembilan bulan jadi istrim, aku belum pernah ke sana. Bahkan aku baru tau kalo mama kandungmu udah ...."
"Ya udahlah kalo kamu maksa terus. Aku pikir kapan-kapan lagi aja ikutnya, soalnya aku bawa motor, takut kamu gak nyaman."
"Kamu selalu mikirin kenyamanku. Padahal aku gak pernah kepikiran tentang kenyamanmu," balas Bening dengan tatapan sendu.
~
Langit memarkirkan motor di gerbang masuk pemakaman. Dia menggandeng tangan Bening untuk masuk lebih dalam. Bunga mawar dengan lili putih di letakan di atas makam dengan bertuliskan nama Hanaya Wijaya.
"Ma, Lang dateng, tapi kali ini dateng bersama menantu mama. Perempuan yang sering Lang ceritakan tempo lalu. Ma, dia ... Bening Agistasari, istri Lang." Langit menoleh pada Bening yang fokus menatap batu nisan.
"Dan yang masih di dalam rahim Bening adalah cucu mama. Doakan kami selalu bahagia, ya, Ma. Lang sering cerita kalo istri Lang egois dan pemarah, tapi alhamdulillah sekarang udah dapet hidayah."
Bening melirik sekilas. 'Apa-apaan ngatain aku dapet hidayah. Asem ... ngadu apa aja dia?'
Langit tersenyum dan merangkul pundak sang istri. "Dia egois dan pemarah, tapi Lang sangat mencintainya, ma. Sangat."
Bening berubah tersenyum. 'Dia ini sukanya gitu. Abis ngeselin, bikin senyum dengan gombalannya.'
__ADS_1
"Assalamualaikum, mama mertua. Saya Bening. Maaf baru mengunjungi makam mama kalo Bening gak maksa, anak mama ini gak akan ngasih tau keberadaan mama. Jahat dan ngeselin, kan? Ups, maaf. Maksud Bening ngeselin kok gak pernah cerita hal penting gini."
"Ma, maafin aku, dulu sering nyakitin Langit. Aku egois dan banyak menuntut hal pada putramu. Tapi Bening mau ngucapin terima kasih karena mama udah lahirin pria sebaik, sesabar, seikhlas dan sehebat Langit. Dia pria paling betah berada di sisiku dan pria yang mampu merubahku lebih baik. Aku mencintai putramu, ma."