Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Ayo kita berteman


__ADS_3

Bahan-bahan seperti: daging sapi, daun bawang, daun seledri, bawang merah, cabe rawit, kantong kresek, dan bahan dapur lainnya sudah dibeli semua. Kini Langit mengajak Bening ke tempat penggilingan bakso.


"Capek, ya, Mbak?" Langit meminjam kursi plastik dan menyuruh Bening duduk di sana. Walau barang belanjaan cukup banyak dan berat, namun tidak sekalipun Langit meminta bantuan Bening untuk membawakan. Seberat dan sebanyak apapun, tetap dia yang membawa. Sedari tadi, wanita berwajah lelah itu hanya diam mengekori.


Bening mengangguk. Dia menyeka keringat yang tidak surut dari dahinya. Terlihat sekali rasa lelah yang terpancar dari wajah sayunya.


Jumlah kursi yang terbatas, Langit memilih berdiri di depan penggilingan, meski terkadang terkena cipratan bahan bakso, dia tetap menunggui karena tidak ada tempat lain.


Pria itu mengambil tisu dari saku celananya dan diberikan pada Bening. "Maaf. Tadi lupa kalo ada sisa tisu kemarin."


Bening mengambil tisu tanpa berkata. Lalu sibuk mengelap keringat disekitar dahinya. Cuaca panas membuat tubuh lengket dengan keringat. Entah seperti apa keadaan wajahnya sekarang. Mungkin berubah kemerahan seperti udang rebus. Masih beruntung sebagian wajah tertutup masker, jika tidak, semua orang bakal melihat aneh padanya.


Bening bergeming dalam lamunan. Tidak sekalipun terbayangkan berada di situasi sekarang, meskipun hanya dalam mimpi. Seorang Bening Agistasari, CEO di perusahaan Permana Grup bisa blusukan di pasar tradisional. Dan semua itu karena pria berondong bernama Arga Bima Langit yang tidak lain suaminya sendiri. Ugh ... sulit dipercaya.


Dalam lamunan Bening, banyak sekali hal yang dipikirkan. Yang utama mengenai kebaikan dan perhatian Langit. Baru ini dia dekat dengan pria yang jauh di bawah derajatnya. Dan itu membuat perbandingan antara kebiasaan hidupnya dengan pria itu.


"Mbak sini bentar, ya. Saya usung sebagian belanjaan ke motor kita tadi biar saya nanti gak keberatan." Kalimat Langit membuyarkan bayangan Bening.


"Gak usah! Nanti saya di sini sama siapa?" ujar Bening.


"Cuma bentar doang. Sendiri juga berani. Kalo ikut saya nanti capek bolak-balik. Orang-orang sini dah akrab sama saya, mereka gak bakal aneh-aneh. Oke!"


Langit memilih belanjaan yang akan diusung lebih dulu, tapi Bening menarik ujung jaket Langit. "Saya gak mau di sini sendirian. Ikut ajalah!"


"Nanti capek?"


"Dari tadi udah capek gini! Dari pada saya di sini kayak orang bego', mending ikut kamu! Sini saya bantu bawa."


Heh, Langit melongo mendengar Bening ingin membantu untuk membawakan belanjaan. Tumben banget, kan, yak?!


"Gak sah, Mbak! Biar saya bawa sendiri gak apa. Nanti tangan Mbak sakit bawa belanjaan berat."


"Enak aja bawa belanjaan yang berat. Saya cuma mau bantu bawa daun bawang aja, kok," jelas Bening.


Heum. Jika tangan Langit tidak penuh belanjaan, tentu digunakan untuk menepuk jidat. Pria itu tersenyum lebar. "Saya kira mau bantu bawa setengah barang-barang ini. Gak taunya cuma daun bawangnya aja," cibir Langit.


"Eh, ini dah syukur-syukur saya baik hati mau bantuin. Dari pada enggak sama sekali!" dengusnya.


"Ha ha ... oke-oke, keturunan bidadari."

__ADS_1


"Ngeledek!" sahut Bening sinis, namun bibirnya tersenyum samar. Langit bertambah gemas dan lucu dengan wanita di depannya.


"Ya dah, ayo!"



Semua sudah selesai. Langit dan Bening sudah kembali ke parkiran sepeda motor untuk yang kedua kalinya. Tujuan mereka kali ini hanya kembali pulang.


"Kita mau langsung pulang apa kemana dulu, Mbak?" tanya Langit.


"Pulanglah. Memang kemana lagi?"


"Yah ... mau mampir ke taman atau ke tempat lain, gak? Mumpung hari libur, tempat seperti itu pasti rame."


"Terserahlah. Yang penting sekarang cepet pergi, panas banget ini," keluh Bening.


"Iya-iya, ayo, naik!"


Saat Bening sudah naik ke atas motor, Langit mulai melajukan motor maticnya menuju jalan raya. Sepeda motor bagian depan penuh dengan belanjaan. Meski begitu tidak membuat Langit kesusahan. Hatinya terlalu senang, mengalahkan kesulitan yang dihadapi.


Ckiiittt ....


"Kenapa berhenti di sini?" bingung Bening.


"Ngadem dululah, Mbak. Capek banget." Pria itu mengajak Bening berjalan menuju pohon rindang yang ada di taman kota.


"Ngapa gak pulang aja. Istirahat di rumah."


"Ah, hari Minggu gini Mbak gak tau di rumah seperti apa. Pokoknya kita ngadem dulu di sini bentar, mumpung masih ada waktu kurang lebih satu jam."


"Emang setelah satu jam mau ngapain?"


"Ya saya harus siapin semua bahan dagangan."


"Saya cari minuman dulu, ya."


Bening menatapi punggung Langit yang menjauh. Dia melepas masker yang membuat napasnya pengap.


Langit kembali membawa satu eskrim dan satu es cendol santan. Memberikan eskrim pada Bening dan es cendol santan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Saya gak tau Mbak suka rasa apa. Biasanya wanita suka vanilla, jadi saya beli vanilla toping coklat."


"Saya gak mau ini. Saya mau yang itu aja!" Bening meminta es cendol santan. "Saya haus banget."


"Yakin mau minum ini? Gak mau eskrim?"


Bening menggeleng. Mengambil es cendol santan dan langsung menyedotnya.


Langit duduk di samping Bening, namun menjaga jaraknya. Eskrim tidak langsung di lahap dan dibiarkan tergenggam ditangannya.


"Mbak pasti kesal dan marah sama saya," ujar Langit memulai berkata. "Mbak gak pernah begini, kan? Blusukan ke pasar dan kaki Mbak kotor penuh lumpur." Keduanya melihat ke titik yang sama; kaki Bening.


Reaksi tidak terduga ditunjukan Bening. Bukannya menyemprot Langit dengan kata pedas dan hinaan, wanita itu justru tertawa. "Kesal dan marah udah hilang dari tadi. Eum, awalnya ngeselin, tapi unik dan, yah ... lumayanlah. Ada pengalaman baru."


"Mbak kalo ketawa gitu tambah cantik, deh," ujar Langit tiba-tiba yang membuat Bening gelagapan mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan wajahnya.


"Apaan sih! Baru tau, tah? Dari kemarin kemana aja, gak ngakuin saya cantik?" balas Bening sewot untuk menutupi perasaan anehnya.


"Pertama ketemu itu kelihatan tua. Abis itu, ketemu di Solo baru deh kelihatan cantik. Saya suka liat Mbak pakek baju biasa gini, keliatan lebih muda dan cantik. Kalo pas kita ke acara reuni itu Mbak keliatan luar biasa, cuuaantiknya kebangetan."


Ah ... sial! Apaan coba dia muji-muji kayak gini. Kontrol diri, Be. Jangan salting. Rengit tetep aja Rengit. Berbeda dengan Bram.


"Apaan sih, sok muji-muji."


"Terserah dianggap muji berlebihan. Tapi itu kenyataan, kok."


"Eskrimmu leleh," kata Bening mengalihkan.


"Yang penting jangan hati Mbak yang leleh."


"Rengiiittt ... mulai deh, ngeselinnya!"


"He he ... liat Mbak kesel itu menyenangkan."


"Eh, kamu gak takut sama saya?!"


"Enggak! Sekarang dah biasa ngadepin kekesalan Embak."


"Ayo, kita temenan." Langit mengulurkan tangan di depan Bening.

__ADS_1


__ADS_2