Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Penasaran


__ADS_3

Langit membukakan pintu mobil untuk Bening, setelah itu dia sendiri ikut masuk. Kemarin sore dia meminta bantuan pada Kasep September dan Teddy Bear untuk mengambil motor di rumah sakit dan membawa pulang ke rumah Mamak. Alhasil pagi ini dia ikut nebeng mobil Bening.


Ponsel di saku celana terasa bergetar. Langit melirik sekilas ke arah Bening yang juga melirik ke arahnya. Wanita itu mengernyit nampak penasaran. Tapi Langit segera mematikan suara panggilan.


Baru saja ingin disimpan tapi sudah bergetar lagi. Pria mengenakan kaus merah itu terpaksa menjawab telpon. "Kenapa, Sam?"


"Ada kabar buruk, Ga!" Nada suara di seberang telepon terdengar panik.


"Katakan!" pinta Langit.


Bening mencuri pendengaran. Memang tak begitu menonjol, hanya saja suara Langit terdengar berbeda. Bukan seperti biasanya yang sering berbicara lebai.


"Di-a ... koma."


"Apa ...?!"


Pekikan Langit membuat Bening menoleh cepat, begitupun dengan Mang Juri yang juga melihat sekilas lewat kaca spion.


"Sam! Nanti aja telpon balik. Sekarang lagi diperjalanan," kata Langit mematikan sambungan telpon sepihak. Dia tahu Bening mencuri pendengaran dan penasaran dengan obrolannya. Dia tak ingin wanita itu berpikir aneh. Memilih mematikan telpon dan menyembunyikan perasaan sedih.


"Siapa yang koma?" todong Bening penasaran. Wajahnya kentara ingin mendengar jawaban langsung.


"Sepupu yang kemarin saya datengin. Dia sakit dan sekarang malah koma. Tadi ayahnya yang telpon kasih kabar," terang Langit.


"Astaga ... memang sakit apa?" Rasa penasaran Bening justru semakin tinggi.


"Sakit ... em ... sakit apa ya? Saya gak begitu jelas, cuma sakitnya lumayan parah."


Bening masih mengernyit tapi terlihat Langit tak ingin menjelaskan lagi, akhirnya wanita itu diam.


__ADS_1


Hari-hari berlalu begitu cepat. Malam ini Langit dan Bening menginap di rumah Mamak sebelum besok mereka berdua honeymoon ke Pulau Raja Ampat, seperti keinginan Mama Has.


Tengah malam Langit mengendap-endap keluar kamar saat Bening sudah terlelap. Pria itu menuju ke belakang. Di tangannya membawa satu buah laptop. Begitu layar laptop menyala, pria yang hanya mengenakan kaus singlet dan celana pendek itu sangat fokus mencermati huruf demi huruf.


Terdengar suara krusak-krusuk suara langkah mendekat. Langit memasang waspada dan menyembunyikan laptop dengan menutup kain.


"Lang, ngapain kamu di sini?" tanya Mamak yang sedikit terkejut. Sama halnya dengan Langit sendiri.


"Gak apa, Mak. Biasalah."


Mamak yang berdiri di pintu tengah lalu mendekat. "Besok kamu pergi jauh, siapin energi biar nggak kelelahan, Lang," tutur Mamak.


"Justru itu, Mak. Malam ini harus simpen data biar gak ilang."


"Mak, apa gak apa, Langit pergi selama seminggu? Lang khawatir sama Mamak."


"Ini bukan pertama kalinya kamu akan pergi. Nggak usah khawatir. Ada Habibah yang jaga Mamak."


Langit mengangguk lega. Saat ini hanya wanita berwajah sendu itu yang dia miliki. Orang paling berharga yang selalu ada untuk menemaninya. Dia sangat menyayangi Mamak, tak ingin sesuatu terjadi karena usia Mamak memang sudah tua. Sangat khawatir jika sewaktu-waktu Mamak tutup usia dan dia sedang pergi.


Langit mendengar dengan seksama. "Langit gak akan pergi kemanapun. Kalo Langit kembali kesana, Langit pastiin akan kembali kesini. Lang sayang Mamak, gak mungkin ninggalin Mamak sendirian. Dan tenang aja, Mak. Lang bukan Arga yang bisa mereka sakiti seperti dulu. Mereka gak akan bisa nyentuh Langit. Merekalah yang akan menerima kehancuran. Tapi Lang hampir putus asa, sulit banget buat menyelusup masuk. Ada kemungkinan Langit kembali, kalo dia udah sadar, karna kata Sam dia udah tau dan udah percaya. Tapi sayang, di saat seperti ini semua udah terlambat. Meski Lang mau berbicara dengan dia tapi tak bisa menghilangkan kekecewaan dimasa lalu."


"Mamak percaya kamu sudah bisa menjaga diri. Sebenarnya Mamak kasihan dengan dia. Tapi mungkin dia sedang menerima karmanya."


Langit berubah sendu, pria itu menunduk dalam untuk menyembunyikan genangan air yang hampir menetes. Terakhir Sam memberi kabar tentang seseorang yang sekarang sedang koma, hati Langit diselimuti kemurkaan sekaligus kesedihan. Tak tahu seperti apa yang dirasa, karena pria itupun tak pernah mendeskripsikan perasaanya.


Sreeek ....


Ujung mata Langit melirik sesuatu. "Mak, cerita sinetron itu emang ngena banget, ya. Tengah malem gini ngomongin peran sinetron ikan terbang. Seolah-olah kita yang jadi peran seperti mereka."


"Peran sinetron?" Mamak bertanya bingung.

__ADS_1


"Yang kita omongin tadi seolah jalan cerita kayak di sinetron. Ah, Mamak dah pikun. Kadang ngomong panjang-panjang bentaran aja udah lupa. Dah lah, Lang balik ke kamar, ntar Mbak Bening nyariin kalo bangun." Pria itu mematikan laptop dan kembali ke kamar.


Saat membuka gorden pintu kamar, pandangannya tertuju pada Bening yang tidur miring. Langit mendekat dan mengambil posisi tidur di samping Bening. Dia tahu jika perempuan yang terlelap itu sudah menguping pembicaraannya dengan Mamak.


"Tadi ketiduran, sekarang dah bangun kan? Mau maem pentol a'co gak?" bisik Langit di samping telinga Bening. Wanita itu semakin meringkukan badan.


"Hem, padahal tengah malem gini enak banget buat produksi mayones lho ...." Langit menyengir lebar.


Bening yang memang hanya berpura-pura tidur itu menahan geli. Sewaktu mengobrol dengan Mamak, dia pamit ke kamar lebih dulu demi menghindari mengulum bakso bulat-bulat. Berpikir malam ini dia bebas, tapi nyatanya ....


Tidak! Dia harus bertahan tetap pura-pura terlelap, supaya Langit tak menyuruhnya melakukan sesuatu yang membuatnya lelah. 'Apa tadi dia liat aku nguping, ya? Makanya sekarang berani bangunin aku?'


'Tapi, pembicaraan mereka tadi sangat serius. Sepertinya ada yang disembunyikan mereka. Bukan urusanku, sih. Tapi, penasaran'



Mang Juri pagi-pagi sudah bertandang ke rumah Mamak karena mengantar Mama Has. Wanita paruh baya itu ingin mengantar kepergian Langit dan Bening.


"Adek, di sana jangan mancing pertengkaran. Nikmati bulan madu kalian biar langsung jadi."


"Mama, ih." Bening menyembunyikan malu.


"Tenang aja, Ma. Nanti bakal tokcer." Langit menyahut.


Mama Has tersenyum lebar dengan menganggukkan kepala dan mengacungkan ibu jari di hadapan Langit. Setelah itu, Mama Has berubah serius.


"Lang, Mama titip Adek, ya. Tolong jaga dia. Dan, Mama harap kamu lebih sabar ngadepin sikapnya yang nyebelin."


"Iya, Ma. Langit janji bakal jagain Mbak Bening. Mama gak usah khawatir. Doain semuanya lancar, ya, Ma. Biar gak ada halangan lagi."


"Pasti."

__ADS_1


"Ma." Sekali lagi Bening memeluk mamanya. "Bening berangkat, ya, Ma."


"Iya. Kalian hati-hati."


__ADS_2