
Sesaat setelah kepergian Langit, Bening melihat pada pintu yang baru saja tertutup.
"Aku tuh cinta, aku sayang, aku juga peduli sama kamu. Kenapa kamu gak ngerti! Kamu keras kepala, kamu egois!" Bening mengusap pipi yang basah karena menangis. Dia pun tak senang harus bertengkar dengan Langit. Tapi, menurutnya tetap suaminya yang bersalah, dan pemikirannya tetap benar.
Tuling ....
Ada pesan masuk ke ponselnya, tangan Bening sigap mengambil. Ternyata banyak teman kuliah yang berbalas pesan di grup whatsaap. Beberapa saat lalu, Bening mengirim foto liburannya ke grup alumni kuliah, alhasil semua anggota begitu kepo dengan foto Bening.
"Wah, Be. Kamu liburan ke Raja Ampat, ya? Keren."
"Dalam rangka apa ya, teman lajang kita ini pergi ke Raja Ampat?"
"Sendirian tah? Pasti sama si Bram, tapi malu buat di kirim ke sini."
"Mungkin Be lagi survei tempat buat honeymoon sama si Bram, nih." Di akhir terdapat emoticon dua jari. Tanda damai.
Terpancing dengan obrolan teman-temannya yang mengira dia berlibur dengan Bram, akhirnya Bening mengirim satu foto lagi. Kali ini foto bersama Langit.
Langsung saja mendapat balasan emoticon melongo juga emoticon terkejut.
"Wah-wah, Be, kamu berhubungan serius sama si tampan itu, ya?"
"Ganteng banget, sih, Be. Bikin ngiri."
"Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu ...." Ada juga yang mengirimi sepenggal lirik lagu.
"Gak lama lagi bakal kondangan nih tempat Bening Agistasari."
"Au' au' au' ... si Bram beneran udah gak ada di hati lagi. Patah hati tingkat akut tuh kalo liat foto ini."
__ADS_1
"Be, cariin kembarannya, dong. Gua mau!"
"Ganteng banget, Be. Lu beruntung banget ketemu turunan dewa. Kalo gua, udah pasti gua kasih penanda kalo itu calon suami gua." terdapat emoticon ketawa.
"Kalo gua, gak lama-lama. Langsung ajak ke KUA, yang penting sah dulu. Pesta pernikahan urusan nanti, ngejar status sah dulu." Emoticon love dan orang nikahan.
Bening senyum-senyum sendiri membaca satu per-satu pesan yang masuk. Kekesalan terhadap Langit dapat tersamarkan dengan balasan pesan grup whatsaap.
Jari lentik Bening bergerak lincah untuk mengetik balasan. Tapi dia urungkan saat membaca pesan yang kembali masuk.
"Pacar lu CEO di perusahaan mana, kok, gua gak pernah liat?" Pesan dari Angga membuat Bening kembali teringat akan perdebatannya barusan bersama Langit. Inilah alasan wanita itu kekeh mempekerjakan Langit di perusahaannya. Dia malu jika teman-temannya tahu kalau suaminya hanya tukang bakso. Mau ditaruh di mana mukanya?
Bening menghapus balasan pesan yang tadi akan dikirimkan. Dia menutup obrolan dan memilih merebahkan tubuhnya. Kesenangan yang baru beberapa menit menghampiri kini telah kembali menjadi mode buruk; kesal.
"Kalo kamu jadi aku, kamu bingung gak balesin pesan kayak gitu? Masa iya aku harus bilang kalo suami seorang Bening Agistasari cuma penjual bakso?!" Bening kembali bangun dan meremas bantal dengan tenaga kuat. Imbas dari kekesalannya.
"Coba pekerjaan kamu lebih bagus dikit, aku gak malu banget ngenalin kamu sama mereka. Bahkan setiap hari kamu bisa dateng ke kantorku." Bening bermonolog sendiri. Jika suaminya masih ada di depannya, sudah bisa dipastikan perdebatan mereka akan berlanjut membesar karena mereka tetap berpegang pada keputusan masing-masing.
"Mak, Lang pulang." Begitu turun dari motornya, Langit berteriak memberitahu Mamak.
"Lang, kamu pulang? Alhamdulilah." Mamak keluar dan menyambut Langit.
Pria berkemeja navi itu mencium takzim punggung tangan Mamak.
"Bang Lang ... uh, Bibah rindu sama Abang." Habibah muncul dari dalam hampir saja menubruk badan Langit untuk dipeluknya, tapi Langit segera mundur demi menghindari pelukan itu.
"Bibah, inget! Langit udah menikah." Mamak memperingati.
Habibah menyengir. "Hehe ... iya, Bibah ngelupa, Mak. Abis, sampek sekarang rasanya Bibah belum terima kalo Bang Lang udah nikah. Dia itu dambaan calon imam Bibah, kenapa tau-tau udah nikah aja. Kalo Bibah tau, segala cara Bibah lakuin biar Bang Lang gak nikahin mbak-mbak tua itu! Udah tua, nyebelin pula! Bahkan sekarang kalo harus jadi pelakor, Bibah mau. Semua demi Bang Lang," cerocos Habibah.
__ADS_1
"Hust, kamu ini ngomong apa. Enggak boleh gitu, Bibah. Pamali, segala macem bawa-bawa pelakor," sahut Mamak.
"Mamak gak sakit kan? Keknya pucet?"
"Mamak gak bisa tidur, kepikiran sama Bang Lang, katanya. Mamak mah gitu, setiap Bang Lang pergi beberapa hari, Mak pasti gak bisa tidur. Ini aja Bibah lagi kerokin Mamak. Ngeluh pusing tadi," beber Habibah.
Mata Langit menyorot dengan kekhawatiran. "Kita ke rumah sakit aja, Mak.. Biar Emak segera di periksa."
"Mak gak apa, Lang. Paling cuma kecapean," kata Mamak.
"Mak, Lang gak mau Mamak kenapa-napa, kalo pusing banget mending langsung ke rumah sakit." Langit nampak khawatir melihat Mamak lemas dan pucat.
"Bang, ituh, obat Mamak abis, mungkin karna itu juga Mamak sakit," sela Habibah.
Langit melihat Habibah sebentar dan kembali pada Mamak. "Mamak istirahat di kamar, Lang beli obat dulu," ucapnya.
Habibah menuntun Mamak kembali ke kamar, sedangkan Langit masuk ke kamarnya sendiri. Pria itu duduk dipinggir ranjang dengan pandangan mengarah pada celengan ayam. Apa celengan itu harus dibuka sekarang?
Pria mengenakan jeans behel hitam itu merogoh kantong celana, mengambil sisa uang yang hanya tinggal dua ratus ribu rupiah. Sisa uang yang kemarin diberikan pada Bening, terhitung dia membawa tiga juta rupiah, tapi ludes, hanya menyisakan nominal itu saja yang tak akan cukup untuk membeli obat Mamak.
Langit mengusap wajah kasar. Napas memburu. Pria itu diam sejenak menimbang pikiran. 'Apa aku harus menerima tawaran Mbak Bening untuk kerja di kantornya? Tapi ....'
Langit berdiri dan berjalan pelan menuju meja samping tempat tidur, dia sudah membulatkan tekad memecah celengan ayam demi Mamak; orang yang selama ini telah merawat dan menjaganya.
Namun, Langit terlihat bingung. Bagaimana caranya dia memecah celengan ayam itu. Takut Mamak mendengar dan menjadi beban pikiran.
Dia kembali duduk dengan mendekap celengan ayam tadi. Pandangan Langit lurus menatap jendela yang belum dia buka. Tiba-tiba saja bola matanya memanas, teringat akan suatu kejadian kelam, bahkan amat sangat kelam dan kejam hingga mengorbankan satu nyawa wanita yang sangat dicintai.
Jemari tangan saling menaut dan meremas kuat, bersamaan dengan tetesan air yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Langit rindu. Kenapa lama gak hadir dalam mimpiku?" ucapnya lirih. Suaranya tercekat dengan napas memburu. "Aku sendirian." Da da pria itu semakin naik turun. Pikirannya tak ada yang tahu. Mamak, orang paling dekat sekalipun tak tahu keinginannya, dia selalu pandai memasang topeng kesenangan, padahal hatinya sangat menginginkan keadaan yang dulu. Dia sangat merindukan seseorang. Seseorang yang hanya bisa diingat dalam memorinya, tanpa adanya foto yang tersimpan. Semua hancur, lenyap dan berakhir.