
Mentari belum sempurna menampakkan wujudnya. Dingin embusan angin menembus tulang belulang membuat seseorang begitu mengeratkan pelukan sampai lawan yang dipeluk kesusahan untuk bernapas.
Mata Langit terbuka paksa karena rasa tidak nyaman di tubuhnya. Namun, bibirnya segera menerbitkan senyum saat membuka mata dan yang dilihat adalah istrinya. Bening memeluknya dengan erat, pria itu tidak berusaha bergerak, takut membangunkan tidur Bening.
"Hoam ...." Bening menguap. Melepas pelukan, merentangkan kedua tangan dan kakinya.
Buk ...
"Auh' ...." Langit mengaduh.
"Eh ... Bang!" Bening tersentak kaget mendengar Langit mengaduh dan tergeletak di lantai.
"Tenagamu sekarang lebih kuat, Be," desis Langit mengusap pinggangnya.
"Ups ... sorry-sorry, Bang," pekik Bening dan bangun untuk membantu suaminya. Saat itu selimut tersingkap. "Aaakh' ... Abaaaang!"
"Ssstttt ... jangan teriak!" Langit segera membekap mulut Bening.
"Nganumu bangun, Bang," ujarnya melongo saat tangan Langit menghilang dari mulutnya.
Arah pandangan Langit turun ke bawah. Pria itu menyengir. "Dia udah bangun dari tadi, Be."
Bening menutup mata. "Abang!"
"Ah, Be. Dia semakin menantang kalau kamu begitu."
"Eh." Bening segera menarik selimut untuk menutupi bagian da danya.
Semalam karena kelelahan, mereka berdua sampai ketiduran sebelum membersihkan diri. Dan pagi ini keduanya bangun dalam keadaan polos.
"Ck." Langit berdecak. Bangun dan kembali duduk di ranjang. Mencari pakaian yang semalam ditendang di ujung kasur.
"Mau nambah?" goda Bening dengan senyum manis dan kedipan matanya.
"Jangan menggodaku atau kita gak akan keluar kamar seharian penuh."
"Ohya? Liat tuh, gak ada pintu. Kalo Mamak atau Mama masuk gimana?"
"Hari ini juga aku pesenin pintu besi. Biar gak bisa didobrak sekalian."
Bening terkekeh. "Mentang-mentang lima bulan gak ketemu, masa iya gituan gak berhenti. Kebanyakan nganu ntar kena stroke."
__ADS_1
"Lima bulan 'kan harusnya dapet jatah 50x lebih. Semalam kita cuma 2x, belum imbang dong. Atau, kita perlu bulan madu lagi?"
Bening menggaruk kulit kepala. "Masa mau bulan madu lagi, Bang. Kita bukan pengantin baru."
"Gak apa. Bulan madu gak musti pengantin baru. Pengantin yang udah puluhan tahun juga sah-sah aja. Kita cetak makhluk kecil lagi, agar kebahagiaan kita bisa sempurna."
Bening tersenyum dan mengangguk.
~
"Mak, harum banget. Masak apa, Mak?" Langit yang sudah berpenampilan rapi menyusul Mamak di dapur. Hal yang sangat dirindukan sejak beberapa waktu lalu.
"Masak opor ayam, goreng kerupuk udang sama kerupuk nasi. Ada tumis kangkung juga," jawab Mamak tanpa mengalihkan pandangan dari wajan di depannya. Tangan Mamak cekatan membalik potongan daging ayam sampai wangi masakan itu menguar ke rumah tetangga.
Langit mendekat. "Lezat itu Mak. Ada sayapnya, Gak?" Wajahnya melongok mengintip pada wajan.
"Ada. Mak siapin banyak sayap buat kamu."
"Asik. Makan enak nih, Mak."
"Selama tinggal di rumah Tuan Bima, bukankah makanan di sana sangat enak."
"Enak apanya, Mak. Pan selama 4bulan tiap hari Lang makan dari infus. Gak ngerasain enak. Lagian, ke ujung dunia pun menurut Lang masakan Mamak lah yang paling lezat."
"Ssstttt. Itu cetakan dari tangan istrimu. Dan kamu yang harus makan," seloroh Mamak.
"Heh. Yang ada gigiku langsung copot, Mak. Itu di e mut seharian penuh juga gak bisa lunak." Langit terkekeh. "Dia banyak berubah, ya, Mak."
"Banyak banget, Lang. Lima bulan dapat merubah istrimu jauh lebih baik."
"Mak. Bang!" Bening muncul dari pintu belakang. Perempuan itu usai menjemur pakaian.
"Nak Bening, Mak hampir selesai masak. Nanti kita sarapan bareng. Ibu Has kemana?"
"Tadi di depan, Mak. Ngobrol sama ibu Ningsih."
"Sayang, ke sini!" Langit menarik tangan Bening mendekat.
"Bang, apaan sih, malu tau!" Bening melirik pada Mamak. Malu saat suaminya itu memanggil sayang, panggilan yang hanya di dengar di dalam kamar, kini Langit tidak malu lagi memanggil di depan Mamak.
Langit membalas dengan menyengir, tapi tak melepas genggaman tangannya. "Kamu tau?! Kata Mamak, kerupuk nasi itu bikinan kamu, dan ... aku yang harus kena imbasnya."
__ADS_1
"Maksud Abang?"
"Kata Mamak, aku yang harus makan. Jadi, sebelum gigiku tanggal, coba kamu dulu yang makan, 'kan kamu yang buat."
Bening menyipitkan mata, menarik sebelah sudut bibir ke atas. "Emang kenapa? Itu buatan perdanaku, kalau mantap, mau ku jual," ujarnya.
Langit menahan tawa. "Ya hayuk kamu coba, mantap, enggak."
"Aku yakin enak." Bening lebih dulu melihat kerupuk itu, memang ukurannya lebih besar dari biasanya. Tangan yang masih sedikit basah ia ulurkan untuk mengambil satu kerupuk tadi. "Ikh ...." Ia mengunyah kerupuk dengan mata mendelik-delik.
"Mantap gak, Dek?"
Bening mengerutkan dahi, terlihat kepayahan untuk menelan kerupuk yang sangat keras itu. "Uhuk-uhuk ...." Akhirnya wanita itu sampai terbatuk-batuk.
"Lang!" Mamak menatap Langit. "Kamu ini. Kasihan istrimu," ucapnya.
Langit segera mengambil cangkir dan mengisi dengan air putih. Memberikan pada istrinya dan mengusap punggung Bening.
"Abang jahat, Mak. Marahin aja tuh!" sungut Bening setelah batuknya mereda.
"Sudah-sudah. Ayo, kita sarapan." Mamak sudah selesai memindah sayur ke dalam rantang, dan menaruh di atas meja.
"Kalian makan dulu. Mamak mau nyari Bu Has." Setelah itu Mamak menghilang di pintu ruang tengah.
"Bang, ini sarapan pertama kita setelah lima bulan kita kepisah."
"Iyes. Pasti nikmat banget sarapan di temani istri."
Bening mengambilkan makanan untuk Langit. "Mau pakek kerupuknya, enggak?" tanya Bening tidak serius. Dia yang sudah lebih dulu mencoba, rasanya tidak layak untuk dimakan.
"Gak jadi makan, nanti batuk terus." Keduanya tertawa.
"Kok, Papa belum ke sini?" Langit bertanya, tapi lebih pada diri sendiri.
"Jadi ke makam, Bang?" Bening berganti bertanya. Raut wajahnya berubah sedih.
"Dari berapa bulan aku gak ziarah ke makam mama, juga anak kita ...."
"Apalagi aku, Bang. Aku belum pernah ke sana." Bening menunduk, bahunya bergetar. Perempuan itu menangis.
Langit berpindah tempat, lalu memeluk Bening.
__ADS_1
"Kemarin aku belum siap, Bang. Setiap mengingat itu aku merasa menjadi ibu paling jahat." Bening tersedu-sedu.
"Sssttt ... hei, bukan kamu aja yang ngerasa jahat. Aku lebih dari itu. Karena aku gak bisa jaga kalian dengan baik, aku penyebab kejadian itu dan buat anak kita pergi jauh. Penyesalanku jauh darimu. Tapi kita gak bisa mengulang waktu, untuk itu, mari kita datang ke rumah anak kita untuk mendoakannya."