Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Setiap Ketemu, Ada Saja yang Terjadi


__ADS_3

"Mbak ...," panggil Langit nampak terkejut.


"Mbak-mbak!!! Situ kira saya Mbak kamu!" jawab Bening melirik sinis. Tapi Langit menyengir lebar.


"Mbak duduk aja dulu, nanti saya buatkan pesenan, Mbak," kata Langit.


"Buatin sekarang! Saya gak mau nunggu lama. Waktu adalah uang, saya gak mau buang waktu yang bagi saya dapat menghasilkan uang!" ujar Bening tanpa keramahan.


"Cantik-cantik sombong amat! Kalo gak mau antri, silahkan pergi! Macam orang kaya baru saja!" celetuk salah satu pelanggan tetap di tenda bakso Langit. Wanita bermata empat alias mengenakan kacamata itu melirik sinis pada Bening.


Kedua alis Bening langsung menyatu, menatap garang pada wanita min penglihatan di depannya. "Hati-hati kamu berucap! Saya bisa tuntut kamu ke polisi!" ancam Bening tidak terima.


"Nyolot! Kalem, Mbak! Mau Mbak itu gimana? Asal serobot aja! Kita yang antri dari tadi gak terima Mbak dateng-dateng minta dilayani duluan. Apalagi pesen bakso dengan tidak sopan! Bukankah seperti itu macam orang kaya baru?!"


"Maaf, Mbak-Mbak! Mohon berhenti adu mulut. Bisa menggangu kenyamanan pengunjung lainnya," lerai Langit. Meski begitu, Langit masih cekatan menyiapkan pesanan yang sedari tadi terus bertambah.

__ADS_1


"Aku gak suka Abang dapet pembeli macam orang sombong begini. Gak taat aturan lagi," sindir wanita tadi.


"Astaga ... bukan cuma penjualnya aja yang bikin bete, ternyata pengikutnya lebih ngebetein!" cibir Bening.


"Wah ... udah ditegur masih gak kapok! Mulutnya minta dicabein, nih."


"Enak aja, situ yang mulutnya minta di masukin kuah bakso panas! Biar dower-dower tuh mulut!" balas Bening.


"Dasar orang kaya baru!!!" teriak wanita tadi.


"Aarrggh ...," teriak Langit. Tangan kiri yang baru sembuh harus merasakan sakitnya dipukul.


"Eh ... kenapa kena tanganmu lagi?!" Bening segera menarik tangannya.


"Setiap ketemu Embak! Ada aja yang terjadi."

__ADS_1


"Siapa juga yang mau ketemu kamu lagi, Bang Pentol! Ogah amat!"


"Heh, kenapa jadi Bang Pentol? Nama saya Langit, Mbak. Bukan Bang Pentol! L-a, la, eng-ingi, te, bacanya, Langit!" Langit mengeja setiap huruf namanya, namun Bening tidak menghiraukan. Masih acuh.


"Oh, Langit? Saya kira rengit," ejek Bening.


"Haha ... Mbak malah ngelucu. Langit sama rengit itu beda jauh. Langit itu awan, kalo rengit itu hewan kecil-kecil yang suka menclok di hidung. Apalagi hidungnya pesek, bakal banyak rengit yang menclok." Setelah tadi meringis kesakitan, Langit berganti tertawa lucu.


"Apa sih malah ngelantur! Pesen bakso dapetnya emosi. Ngeselin!" gerutu Bening.


"Mbak duduk dulu disini, saya buatkan pesenan yang tadi." Langit kembali berkutat menyiapkan pesanan bakso.


Pria itu lebih dulu membuatkan pesanan untuk wanita yang tadi hampir bertengkar dengan Bening, dia tidak mau wanita itu kembali menimbulkan keributan seperti tadi.


Awalnya Bening risih ketika duduk di kursi plastik yang tadi diberi oleh Langit. Namun tak ada pilihan lain selain menduduki kursi itu. Apa boleh buat daripada kakinya terserang gempor. Mau tak mau Bening duduk juga di kursi plastik tadi.

__ADS_1


Bening yang kelelahan sepulang kerja sampai ketiduran dengan posisi membungkuk. Lengan tangan kanan digunakan sebagai bantalan, lalu Bening tertidur dengan pulas.


__ADS_2