
Dia memilih berlalu ke kamar mandi daripada terus-terusan disuguhi pemandangan yang menggoyahkan iman. Tidak! Dia tidak boleh tergoda dan melakukan sesuatu konyol. Seorang suami memperkosa istrinya sendiri?! Heh, konyol, bukan? Terlepas apapun keadaannya, harusnya sah-sah saja jika suami meminta hak batin dari istrinya, toh, mereka pasangan halal. Hanya saja, dia bukan pria pecundang yang melanggar janjinya untuk tidak menyentuh Bening sebelum wanita itu ikhlas memberi haknya.
Badan Langit menggigil, gigi-gigi saling beradu saking terserang rasa dingin. Langit seperti itu bukan karena meriang, melainkan hasil pilihannya sendiri. Dia memilih mengguyur badannya dengan air dingin demi menyurutkan naf su yang menggebu. Pria itu menjatuhkan diri di sofa dengan badan terbungkus sarung dan handuk putih di atas kepalanya. Kedua netranya merem melek dengan mulut mendesis-desis.
Di atas ranjang, tubuh Bening menggeliat penuh, hingga suara cukup keras mengalihkan perhatian Langit.
Gubrak!!!!
"Au' ...." Bening berteriak.
"Bebhm ...." Langit sekuat tenaga menahan suara tawa, kejadian yang menimpa Bening sangat lucu tapi sayang dia tidak bisa bebas mengekspresikan tawanya.
Bening mengelus pantatnya yang barusaja mencium kerasnya lantai. Terdengar gerutuan dari bibir polos tanpa olesan lipstik.
Pluk ....
Tangan meraih pinggiran ranjang, dia berusaha ingin bangun kembali, tapi tak sengaja bola mata sipitnya menangkap bayangan sesuatu.
"Aaa' ... Setan!!!!" teriakkan Bening menggelegar di tengah malam. Nyawa wanita itu dipaksa berkumpul dan secepatnya berlari keluar, sedangkan Langit melongo di tempat. Bingung, terheran-heran dan aneh dengan istrinya sendiri yang barusaja kocar-kacir keluar kamar. Dia hanya berpikir, ah, mungkin masih ada bayangan mimpi buruk, hingga Bening berlari demikian kencang.
Beberapa saat, Mama Has menarik tangan puterinya untuk kembali masuk ke kamar. Penasaran dengan kebenaran cerita Bening yang mengatakan ada hantu di dalam kamarnya, padahal selama bangunan itu berdiri tak ada kejadian apapun atau penampakan apapun. Wanita paruh baya itu jelas tidak percaya dan ingin membuktikannya langsung.
"Ma, takut," kata Bening ogah-ogahan mengikuti langkah Mama Has yang terus menggiringnya kembali ke kamar.
"Ada Mama, gak usah takut! Lagian Mama gak percaya kalo di kamar kamu ada hantunya."
Kriet ....
Pintu dibuka pelan, Mama Has lebih dulu masuk dan meraba dinding untuk mencari saklar lampu utama.
Tak ....
Lampu sudah nyala terang benderang menyinari kamar Bening, tak ada yang aneh sampai Mama Has melihat badan Langit teronggok di atas sofa dengan sebagian wajahnya saja yang terlihat. Hidung dan mulut.
"Aaa' ... itu hantunya, Ma!" teriak Bening menunjuk ke arah sofa.
Pluk ....
__ADS_1
Mama Has menepuk pelan pipi Bening. Tersenyum dan menghembus napas pelan. "Mana hantu? Kamu gak bisa bedain mana hantu, mana suami sendiri?!"
"Heh ...."
"Liat! Itu bukan hantu, tapi Langit." Mama Has menertawai Bening.
Bola mata Bening melotot. Sialan! Dasar kamp ret!. Hidung Bening kembang kempis dengan menatap tajam pria yang menjadi suaminya beberapa hari lalu itu.
Mama Has berjalan menghampiri Langit. Menepuk pundak pria itu beberapa kali. "Langit! Lang, ngapain kamu tidur di sini?"
"Eum, eh, Ma." Langit membuka matanya, meski kelopak mata terasa lengket akibat kantuk berat.
"Ngapa kamu tidur di sini?" ulang Mama Has. "Kenapa gak tidur di sofa? Kalian tidur gak satu ranjang?" selidik Mama Has, melirik Langit dan Bening bergantian. Mata itu mengintimidasi keduanya.
"Adek!"
"Langit!" Mama Has sangat penasaran.
"Kami satu ranjang."
Jawaban berbeda membuat Mama Has makin bingung dan penasaran. Terlihat jelas ada sesuatu yang disembunyikan.
Hei, Rengit!!! Kenapa kamu jawab begitu, Oon! batin Bening geram.
Aduh, aku salah jawab. Macan itu bakal ngamuk gak, ya? Perasaan Langit ketar-ketir.
Kali ini tatapan Bening mengintimidasi Langit, membuat pria itu kelojotan bingung dan takut. Bisa dipastikan macan betina itu bakal ngamuk dan menyerangnya membabi-buta.
"Kalian suami istri, harus tidur satu ranjang. Apapun alasannya! Lagian, kalo kalian tidur terpisah, kapan Mama bisa dapet cucu." Mama Has aktif berbicara, sedangkan Langit dan Bening aktif dalam perang mata. Bening melotot sedangkan Langit berkedip-kedip untuk memberi kode satu sama lain. Bening menyuruh Langit yang menjelaskan, sedangkan Langit bingung harus menjelaskan bagaimana.
"Eum, kami tidur satu ranjang, kok, Ma. Langit tidur di sofa gara-gara pulangnya kemaleman, takut ganggu tidur Mbak Bening, makanya milih di so ... Cing ... hacing ... hacing!" Langit terserang flu.
"Ih, kamu pilek! Nular ini! pasti nular!" sela Bening mengibaskan tangan di depan wajahnya.
"Kamu habis mandi, Lang?" tanya Mama Has, menelisik rambut Langit yang masih terlihat basah. "Tengah malam, bahkan hampir pagi kamu mandi?"
Langit menggaruk kulit kepala yang sudah pasti tidak gatal karena ketombe sudah dikeramas dengan shampo import milik Bening. Pria itu jelas kebingungan mencari alasan.
__ADS_1
"Kamu kedinginan, makanya flu," lanjut Mama Has memilih mengedepankan kesehatan Langit daripada rasa penasarannya. "Dek, coba kamu bikinin wedang jahe buat Langit. Besok pagi biar badannya lebih enak!"
"Tapi, Ma ... suruh bikinin Bibik aja, ya. Bening gak bisa," tolak Bening dengan mencoba berkilah.
"Bukan gak bisa. Tapi karna kamu gak mau!" tandas Mama Has.
Bening mendengus sebal. Mau tidak mau dia beranjak ke dapur.
Dua puluh menit kemudian.
Bening sudah kembali dengan secangkir wedang jahe yang masih mengepul asap. Dilihat Mama Has mengobrol santai dengan suami yang amat menyebalkan baginya.
"Mama kembali ke kamar, ya," pamit Mama Has, saat Bening sudah meletakkan wedang jahe tadi. "Itu cepet diminum mumpung masih panas, Lang!" perintah Mama Has yang sudah berdiri.
"Iya, Ma." Langit mengambil cangkir wedang jahe, meniup-niup uap panas dan menyeruputnya. Mulut Langit terbuka lebar dengan mata melotot sempurna.
"Kamu kenapa?" tanya Mama Has yang belum jadi beranjak.
"Ini, Ma ... wau-wau!" ujar Langit.
Mama Has mengernyit aneh. Ternyata Bening menginjak telapak kaki Langit yang tertutup meja.
"Kenapa?"
"I-ini, wedang jahe buatan Mbak Bening enak banget. Hi hi ...," bohong Langit dengan menyengir.
"Ough, kira ada apa. Abisin, dong. Biar besok pagi badan kamu enakan."
Habisin??? Bisa-bisa aku yang habis, Ma! Mampus, besok pagi bakal jadi penghuni kloset. Langit miris bin sedih.
"Iya, bener itu kata Mama. Ayo, abisin, dong. Hargai aku yang udah capek-capek bikin wedang jahe buat kamu," sela Bening dengan senyum menyebalkan.
Mbak Bening pasti sengaja!
"Iya, ini masih panas, nanti aku habiskan. Makasih buat wedang jahe yang beda dari lainnya."
"Ayo, minum lagi, geh!" perintah Bening. Karena Mama Has masih memperhatikan, terpaksa Langit menyeruput lagi. Sungguh, mulut dan lidahnya hampir terbakar. Setelah Mama Has keluar, Langit segera menjulur-julurkan lidahnya. "Ssstt, hah ... hu hah!!!"
__ADS_1