Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Takut Mbak Kun


__ADS_3

"Marimar-Marimar, seenak jidatmu aja ganti nama orang!" sinis Bening tidak terima pria di samping sebelah kanan itu menyebutnya dengan Marimar.


"Em, masih mending 'kan saya ganti Marimar, mirip nama artis luar. Daripada saya panggil Supi'ah."


"Bener-bener, ya, rasanya pengen tak, hhiiiihhh." Bening terlihat geram hingga gigi-gigi putihnya saling beradu. Kedua telapak tangan yang juga terkepal seolah ingin menyerang dan memukuli wajah Langit sampai babak belur.


Jika seperti itu, Langit justru menarik sudut bibir hingga melebar. Bukan marah, tapi gemas dan merasa lucu dengan reaksi Bening.


Padahal lubang hidung Bening kembang-kempis dengan tatapan menghujam. Sama sekali tak membuat Langit takut.


"Kalo Mbak sering kek gitu, bakal cepet tua sebelum waktunya," seloroh Langit masih menunjukan deretan gigi beserta ginsulnya, membuat Bening makin gereget.


Buuukkkk ....


"Auh' sakit tau, Mbak! Hobi banget mukul orang!"


"Bodo'!!! Emang umur saya udah tua. Kenapa mang? Ngaca, muka kamu kek apa! Malah kek bocah."


"Saya emang masih bocah, Mbak. Kata orang, saya tuh masih unyuk-unyuknya. Umur saya belum genap 24 tahun."


"Heh, yang bener? Pantes, kek bocah ingusan! Itu bukan unyuk-unyuk, tapi mirip kunyuk-kunyuk gitu maksud mereka. Haha ...." Bening membalas selorohan Langit. Skor menjadi satu sama.


"Hihi ...." Lagi-lagi bukan marah, Langit malah terkikik geli.


Sedangkan Mang Juri yang sesekali mengintip dari spion terkadang menggelengkan kepala, merasa heran dengan sang majikan yang bersikap demikian. Biasanya Bening akan diam tanpa mau meladeni siapapun dan obrolan apapun jika kurang mood dengan seseorang. Namun sepanjang Langit berkata, Bening justru selalu meladeni.


Seakan laju mobil melambat, Bening yang ingin segera sampai tak bisa memaksa kehendak saat mobil terjebak kemacetan.


"Ada apa, Pak?" tanya Langit ketika mobil tidak bergerak sama sekali.


"Kayaknya di depan ada penertiban lalu lintas, Mas. Banyak polisi patroli."


"Ough."


"Ada-ada, aja!" sela Bening sambil menggerutu.


"Pak, nanti lewatin gang rumah saya 'kan?"


"Tadinya mau lewat jalur lintas, Mas. Emang kenapa?"


"Kalo lewat Jalan Lobak Kemangi saya mau turun di gang rumah saya aja biar gak bolak-balik. Kayaknya cuaca gak bersahabat buat pengendara motor, bentar lagi mau turun hujan, tadi lupa gak bawa mantel."


"Alesan!" sahut Bening.


"Suudzon lagi," balas Langit.


"Baik, Mas, kalo gitu lewat Jalan Lobak Kemangi juga gak apa," sela Mang Juri. Jika perkataan mereka tidak diberi jarak, pasti akan berlanjut dengan adu mulut.

__ADS_1


Hampir jam 12 malam Langit baru turun dari mobil mewah milik Bening. Tak ada ucapan apapun karena Bening sudah tertidur.


"Makasih, ya, Pak," ucap Langit pada Mang Juri.


"Sama-sama, Mas Rengit."


Langit langsung mengerutkan dahi, kenapa supir pribadi itu ikut memanggilnya dengan sebutan Rengit. Menjengkelkan! Jika dibiarkan namanya akan sungguhan berganti dengan Rengit yang tak lain adalah nyamuk kecil-kecil atau agas.


"Mas Rengit hati-hati! Kalo ada yang manggil atau mau anter Mas pulang, jangan lupa utamakan liat dulu ke bawah," pesan Mang Juri dengan senyum lebar.


Langit memasang wajah bingung, tidak mengerti maksud Mang Juri itu. "Emang kenapa harus liat dulu ke bawah? Ntar dikira saya gak sopan. Bicara sama orang bukan liat mukanya malah liat sendalnya," ujar Langit.


"Iya kalo itu orang, kalo bukan?! Maksud saya liat dulu kedua kakinya apa nampak di atas tanah atau cuma ngegantung. Hati-hati, secantik apapun wanita yang mau nganterin pulang kalo kakinya gak nampak tanah, berarti nama dia cuma satu, yaitu kuntilanak," Mang Jupri meringis.


"Elah, Mang Jurik bisa gitu! Ngeri ih, nakut-nakutin! Jam 12 malam udah sepi, mana masuk gang ada pohon jengkol umur puluhan tahun. Pasti ada yang nungguin, sejenis begituan." Langit bergidik takut.


Mang Juri melotot, "Namanya gak pakek akhiran K, cukup Mang Juri gitu aja. Kalo dikasih K malah jadi jurik yang artinya setan. Situ ngatain Mamang setan!"


"Lah, Mang Juri juga manggil saya Rengit, giliran gantian gak mau!" balas Langit.


"Emang nama Mas, Rengit 'kan?"


"Enak aja, rengit itu nama hewan kecil-kecil. Masa saya disamain hewan agas. Nama saya Langit, Mang. Bukan Rengit," ralat Langit, supaya Mang Juri tidak memanggilnya dengan sebutan hewan kecil itu lagi.


"Eh, iya tah? Kata Non Bening, nama Mas itu Rengit. Jadi saya tahunya nama situ beneran rengit. Kalo gitu maaf ya, Mas. Saya gak tau," ucap Mang Juri.


"Ya udah, Mang, saya turun dulu. Mang hati-hati juga bawa mobilnya. Gak usah ngebut, santai aja, kalem. Kalo bisa stand by di kecepatan 70km/jam."


"70km/jam?! Mungkin jam 2 pagi nanti baru sampek."


Langit terkekeh. "Sekali lagi makasih ya, Mang."


"Iya, Mas."


Mang Juri segera melanjutkan perjalanan. Langit terdiam dan mengamati keadaan sekitar. Jalan raya memang selalu padat kendaraan, namun tatapan mata pria itu mengarah pada lorong gang rumahnya, terlihat sempit dan gelap. Satu manusia macam apapun tidak ada yang lewat, membuat Langit sedikit takut.


Sebenarnya dia bukan tipe pria yang parno berlebihan tentang hal-hal mistis. Namun, melihat keadaan jalan yang akan dilewati membuat nyalinya goyah. Pasalnya ada berapa pohon besar yang tumbuh di sisi gang. Terlihat rimbun dengan pemandangan seram.


Malam ini juga terlihat sepi, malam minggu tidak ada anak muda yang nongkrong di sepanjang jalan. Kemungkinan mereka sedang apel pacar, ada yang sudah pulang dan ada yang masih dijalan. Entah, Langit juga tidak tahu. Karena malam hari dia jarang keluar rumah, pemuda itu keseringan menghabiskan waktu dengan meracik bahan jualan. Membuat pentol bakso, mengiris bawang merah lalu digoreng untuk dijadikan taburan kuah bakso.


Lain dari itu, Langit tidak tega membiarkan Mamak yang sudah tua harus dirumah sendirian. Takut jika sewaktu-waktu pegel linunya kambuh dan tidak bisa meminta bantuan siapapun.


Jika urusan bahan jualan sudah selesai, Langit memilih menghabiskan waktunya di depan layar laptop. Entah mengerjakan apa, yang jelas, setiap malam dia bisa berjam-jam memantau layar laptop.


Langit mulai menyeberang jalan, kini memasuki gang sempit. Angin malam semilir menerpa pori-pori kulit membuatnya makin bergidik.


"Permisi ... Mbah numpang lewat, cucumu gak ganggu juga jangan diganggu." Langit mengucap ijin saat melewati satu pohon besar.

__ADS_1


Mamak sering mengajarkan seperti tadi, meminta ijin ketika melewati tempat sepi atau tempat yang bersangkutan dengan hal mistis. Untuk itu Langit selalu ingat dan juga selalu mempraktikannya.


"Tolong ..." Terdengar suara sedang meminta tolong. Langit ragu, melanjutkan jalannya atau mencari sumber suara itu.


"Siapapun yang lewat, tolong ....!" Suara itu kembali terdengar.


Langkah Langit berhenti, dia yakin jika itu suara manusia, bukan suara jurik.


"Siapa, ya?" Langit memberanikan diri bertanya. Tapi matanya tidak menemukan siapapun.


"Tolong saya, Mas." Kini suara itu mulai terisak.


Langit sekuat tenaga menghilangkan rasa takutnya, demi sebuah rasa penasaran tinggi. Nuraninya bergejolak, menolong atau berlari.


Jika tidak ditolong, dia takut dosa. Juga takut jika tadi suara orang lain sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Tapi jika ditolong, dia dihantui perkataan Mang Juri.


"Kamu siapa? Manusia atau hantu? Kamu butuh pertolongan atau cuma mau ngerjain saya?"


"Saya manusia. Saya butuh pertolongan. Mas lihatlah ke atas, saya ada di atas Mas."


"Hah? Di atas? Dia beneran manusia atau apa? Ngapain tengah malam ada di atas?" Bingung Langit.


"Mas, tolong. Kalo gini saya takut kaki saya patah. Saya gak kuat lagi, Mas."


Bulu kuduk Langit meremang. Takut, penasaran dan heran, semua menjadi satu.


Namun rupanya rasa penasaran lebih besar, akhirnya kepala Langit mendongak untuk melihat ke atas.


Wanita mengenakan pakaian putih dengan mengkalungkan tas di lehernya tengah ongkang-ongkang di atas ranting pohon, tepat berada di atas kepalanya.


"Astagfirullah hal'adzim. Inalillahi wa inalillahi raji'un. Demit model apapun, tolong menyingkir. Jangan ganggu saya, Mbak Kun! Saya cuma numpang lewat." Badan Langit gemetaran. "Allahu Akbar! Allahu Akbar!"


"Mas, saya manusia bukan demit. Tolong saya, Mas."


"Kamu itu demit! Seratus persen demit! Kakimu gak nampak di tanah, kamu pasti demit!"


"Kaki saya tidak nampak karna saya sedang nangkring di atas pohon, Mas. Kalo Mas bantu saya untuk turun, nanti kaki saya bakal nampak di tanah."


"Maaf saya gak bisa nolong. Cari warga lain saja untuk dimintai pertolongan, jangan saya!" tolak Langit.


"Gak ada warga lain, Mas. Tolong saya, Mas."


"Enggak! Jangan ganggu saya, Mbak Kun! Permisi!" Langit berlari terbirit-birit menuju rumahnya. Tidak perduli jika jas mahal atau celana mahalnya robek. Yang terpenting dia bisa kabur dari tempat itu.


"Mas ...! Tunggu! Tolong saya, Mas!!!" Wanita yang membutuhkan bantuan itu berteriak-teriak tapi tak dihiraukan oleh Langit. Pria itu sudah lari kocar kacir menjauh dari gang sempit.


Sial bagi wanita tadi, dia terpisah dan ditinggal pacarannya karena mereka kencan ditempat gelap dan dikejar-kejar anjing, takut di gigit, si wanita nekad berbuat susah payah naik ke atas pohon besar yang tidak terlalu tinggi. Saat sudah sampai di atas, dia justru ditinggal oleh pacarnya yang ngebut mengendarai motornya.

__ADS_1


__ADS_2