Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Harusnya cinta datang dari hati bukan jabatan


__ADS_3

"Puas kamu bikin saya MALU!" pekik Bening.


Suara marah Bening membuat Langit terkesiap. Saat Bening bangkit dari duduknya, wajah wanita itu tampak kacau. Langit tahu jika Bening usai menangis.


"Embak kenapa?" Langit justru khawatir dengan keadaan Bening, tak merespon dengan baik pekikan barusan.


"Kenapa!? Kamu tanya saya kenapa?!" Bening menatap murka. "Liat! Baca!" Ponsel yang masih menyala dia sodorkan di da da Langit dengan gerakan kasar.


Langit yang fokus dengan wajah Bening, mulai beralih melihat ponsel. Bola matanya sedikit membesar saat melihat foto dan balasan-balasan pesan yang masuk. Dia ingat jika rombongan terakhir yang memesan bakso tadi meminta foto bersamanya, dia sudah menolak tapi beberapa orang memaksa. Dia tak tahu jika mereka adalah teman-teman Bening.


Langit menelan saliva susah payah. Pertengkaran siang tadi belum usai, kini bertambah lagi dengan perdebatan baru namun dengan konflik yang sama. 'Astagfirullah'adzim'.


Keduanya sama-sama terdiam. Bening dengan rasa malu, marah dan tangisannya. Sedangkan Langit dengan perasaan lelah, kesal, dan rasa bersalah yang sangat dalam.


Saat ini seorang Langit harus menyalahkan takdir, kenapa dia berjodoh dengan wanita yang jauh di atasnya. Kenapa dia harus mencintai wanita yang sempurna, sedangkan jalan hidupnya sendiri sangat berantakan. Dia sangat bersalah tak bisa membahagiakan sang istri. Pelupuk mata yang biasanya menyorot dengan keteduhan kini mengembun dan berair.


Langit bingung harus memulai perbincangan dari mana.


Pria itu memilih menaruh ponsel di atas meja, dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Kakinya begitu lelah, setelah harian beraktifitas padat, dia berpikir setelah pulang akan langsung beristirahat. Tapi ....


Sewaktu berjalan dan memunggungi Bening, tangannya terangkat untuk menyusut kedua sudut mata yang tergenang cairan bening. Hampir saja lolos jika dia tak sigap menyeka.


Badan yang terasa remuk redam hilang begitu saja, berganti hati yang sesak dan seolah mengganggu pernapasannya.


"Apa yang saya bayangkan, hari ini terjadi." Bening menyandar pada meja dengan melihat ke arah Langit yang sedang menunduk. Ada setitik rasa tak tega, namun amarah membesar dan sulit terkontrol.


"Mungkin Embak udah lelah mendengar kata maaf dari saya." Pria itu mengembus napas panjang. "Saya gak ingat wajah teman-teman Embak. Harusnya saya bisa berhati-hati," ujarnya lirih namun masih bisa di dengar. Dia tak mau Mama Has mendengar keributannya seperti tadi pagi.


"Kalo kamu nurut, dan pindah ke kantor dari kemarin-kemarin kejadiannya gak gini." Setengahnya Bening masih menyalahkan suaminya. "Kamu gak mau ngertiin posisi istrimu. Entah kenapa, kamu tuh kayak bangga banget dengan profesi sebagai penjual bakso. Kalo kamu masih sendiri, oke, saya gak peduli. Tapi sekarang ada saya, istri kamu yang juga harus kamu pikirkan. Kamu gak bisa seenaknya egois!" runtut Bening. Merasa belum usai, wanita itu masih melanjutkan kalimatnya, "kamu gak ngerasain punya banyak teman, rekan kerja, juga bawahan. Makanya kamu gak malu dengan profesimu itu."


"Kehidupan kita emang jauh berbeda, Mbak. Saya emang gak punya banyak teman, saya gak pernah ngerasain bales pesan ke grup seperti Embak. Saya bahkan lupa kapan terakhir kali punya teman di sekolah. Rekan kerja, bawahan, saya gak pernah mengenal jabatan seperti itu. Jangankan seperti mereka, bahkan, ayah atau keluarga pun saya gak punya! Saya hidup sendiri, tapi saya punya prinsip gak mau merepotkan orang lain, gak mau dikasihani orang lain." Langit menahan napas. "Mbak gak pernah merasakan, setiap hari dicaci dan hina dengan kata rendahan karna saya gak punya kemampuan apapun! Dan, apa orang seperti saya punya malu? Enggak! Saya gak pernah punya malu, saya mementingkan kelangsungan hidup daripada mengedepankan rasa malu. Saya butuh uang untuk makan dan berobat Mamak."


Lagi-lagi keduanya saling menatap satu sama lain, namun masih di tempat mereka.

__ADS_1


"Kamu baik. Tapi, egois dan keras kepala!" desis Bening yang masih bisa di dengar.


"Sebenarnya saya bukan keras kepala, tapi teguh pendirian!"


Bening memutus tatapan mereka, wanita itu memilih keluar kamar.


Beberapa kali Langit menghirup udara dan mengembusnya pelan. "Sabar, Lang. Kenapa harus terpancing amarah." Langit mengusap wajah, lalu membuat gerakan menyisir rambut ke belakang. Berkali-kali juga mengucap istigfar dalam hati.



Pagi-pagi sekali Bening sudah pergi ke kantor, tidak sarapan juga tidak membawa bekal.


Kini tinggal Langit yang turun ke lantai bawah seorang diri.


"Pagi, Nak Langit," sapa Mama Has.


"Pagi juga, Ma," balas Langit.


"Sebenarnya kemarin juga udah jualan, Ma."


"Ohya? Apa gak capek?"


"Enggak, Ma. Capek kalo diem gak ngelakuin apa-apa."


"Mama pengen makan bakso buatan kamu. Nanti bawain, ya."


"Iya, Ma."



Di kantor, Bening terus uring-uringan dengan staf bawahan. Siapa yang melakukan kesalahan sekecil apapun, maka tak luput dari kemarahannya. Dia pun tak bisa fokus dengan naskah-naskah yang harus diperiksa, pikirannya terus tertuju pada Langit. Mengambil ponsel dan hanya fokus mencari nomor Langit. "Kamu di mana?" Terkirim, namun hanya centang satu.


Sejak semalam dia belum mengkonfirmasi tentang apapun yang berkaitan dengan Langit. Membiarkan ponselnya penuh dengan pesan teror dari teman-temannya.

__ADS_1


Sampai dua jam berikutnya, pesan yang dikirim masih saja centang satu. "Kemana dia? Kabur lagi? Ngeselin kalo setiap bertengkar kabur terus!" gerutunya.


Sore hari, seperti biasa Bening melewati tenda orange milik suaminya. Dia ragu dan nampak menimang, apakah harus berhenti atau membiarkannya begitu saja?


"Dia jualan lagi!" gerutunya.


"Tunggu, Mang. Berhenti sebentar!" perintah Bening. Mang Juri menurut.


Tenda orange tak pernah sepi, selalu berjubel pembeli yang rela antri demi seporsi bakso atau demi melihat wajah penjualnya. Entahlah, hanya pembeli-pembeli itu yang tahu.


"Embak?" Langit terkejut melihat Bening berdiri di depan gerobak baksonya. Bening diam saja. "Bentar, ya, saya jualin pembeli dulu," ucapnya sambil menyiapkan tempat duduk untuk Bening.


"Hei, Nona Bening Agistasari," sapaan seseorang membuat Bening menoleh.


"Hay, Nyonya Laras." Bening membalas sapaan.


"Pelanggan di sini juga?"


"Em ...." Bening bingung mau menjawab.


"Tidak heran, Nona Bening, walau bakso Bang Lang ini cuma mangkal di pinggiran jalan, tapi rasanya tidak bisa diragukan. Mantap sekali. Keluarga saya semuanya langganan di sini. Saya suka karena selain cita rasanya enak, bakso Bang Lang tidak mengandung campuran bahan pengawet."


Bening hanya tersenyum.


"Kamu tau keponakan saya, Clarissa."


"Clarissa?" Bening mengingat-ingat.


"CEO CVA grup. Dia lagi ngembangin cabang restoran baru, dua kali nawarin Bang Langit buat gabung ke sana, tapi ditolak terus. Bukan itu saja, sebenarnya keponakan saya itu lebih tertarik sama penjualnya. Tapi Bang Lang bilang sudah punya orang spesial." Wanita paruh baya dengan style rapi seperti Bening itu terkikik. Mereka adalah rekan bisnis.


"Keponakan Nyonya seumuran dengan saya, dia juga sangat cantik. Kenapa tertarik dengan penjual bakso itu? Apa dia tidak takut dengan jabatannya?"


"Clarissa tidak punya pemikiran seperti itu. Dia bilang cinta itu datang dari hati, bukan dari jabatan. Tidak tahu akhirnya cinta dengan siapa. Walau sama pedagang asongan pun tidak masalah, yang penting baik dan mencari rezeki yang halal. Bukankah lebih baik begitu, Nona Bening, daripada sesama CEO tapi suka berganti-ganti pasangan dan tidak menghargai wanita."

__ADS_1


__ADS_2