Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Bertemu Bram


__ADS_3

Hari-hari telah dilalui dengan berbagai perdebatan, kekonyolan, kelucuan, kekacauan, keseruan, keegoisan, keuwuan dan keromantisan mereka.


Weekend Minggu ini mereka sengaja menghabiskan waktu untuk berbelanja, tapi bukan belanja bahan dagangan melainkan belanja berbagai pakaian yang mereka inginkan.


Saat Bening membayar total tagihan menggunakan ATM, ada rasa tak enak dan segan karena membeli sesuatu menggunakan uang istri. Namun, sebelum mereka berangkat telah menyetujui kesepakatan yang dibuat Bening, jika semua total tagihan akan dibayar menggunakan uang tabungannya.


Padahal tabungan itu dari uang belanja yang dikasih oleh Langit. Tiga ratus ribu, empat ratus ribu, enam ratus tiga puluh lima ribu, dan masih ada lagi, semua itu Bening kumpulkan hingga mencapai nominal kurang lebih lima juta rupiah lalu ditambah dengan uangnya sendiri.


"Makan, yuk!" ajak Bening telah menggeret tangan Langit menuju salah satu cafe yang masih di dalam mall. Langit tak bisa menolak, hanya pasrah mengikuti, dengan kedua tangan penuh paper bag belanjaan.


Keduanya duduk di samping jendela kaca dengan pemandangan lalu lalang orang yang berbelanja mengitari mall.


Langit diam saja. Atribut topi dan masker masih lengkap menempel pada hidung dan atas kepalanya. Pria itu belum melucutinya.


"Ngapa, sih, tegang gitu?" tanya Bening.


"Gak nyaman, Mbak. Takut banyak orang tahu."


"Di sini emang tempatnya orang. Ya, biarin aja mereka tau."


"Saya takut ntar temen atau bawahan Mbak ada yang liat kita," ucap Langit dengan pandangan melirik sekitaran mereka.


"Dahlah, biasa aja. Temen-temen dah pada tau. Kalo bawahan belum ada yang tau, sih, tapi itu urusan nanti. Kita makan dulu, laper banget," ujar Bening santai.


"Eh, tumben Mbak gak begitu peduli?"


"Biarin, ah. Capek debat itu terus. Yang penting besok kamu dah mau masuk kantor. Saya dah seneng," ujar Bening tersenyum.


"Tapi Embak gak lupa dengan kesepakatan kita. Setelah pulang kantor saya tetap jualan bakso." Langit mengingatkan, siapa tahu istrinya lupa akan perjanjian yang telah disepakati.


Ya, malamnya mereka memang membuat kesepakatan. Langit bersedia bekerja di kantor Bening, tapi dengan syarat jika dia tetap ingin berjaulan bakso setelah pulang bekerja.


Awalnya Bening berat untuk menyetujui, tapi mereka bersepakat juga untuk belajar memahami keinginan masing-masing.


Lalu perempuan itu mengangguk pasrah dengan bayangan jika suatu saat pria itu akan berhenti jualan bakso dengan sendirinya.


Waiters memberi menu makanan yang bisa di pesan, dan Bening memesan dua porsi makanan. "Minumnya es jeruk sama jus melon aja," kata Bening.

__ADS_1


"Baik, Kak. Tunggu sebentar, ya." Waiters segera pergi untuk menyiapkan pesanan.


Beberapa saat pesanan datang, mereka langsung menyantap makanan.


"Ini ada campuran baksonya, tapi rasanya beda sama yang kamu buat," ujar Bening.


"Bakso yang saya buat resep asli dari suaminya Mamak. Jadi, rasanya dijamin oke. Dulu suaminya Mamak katanya pernah buka warung tenda juga di daerah Jawa. Dah lama, sih, tapi resep itu masih Mamak kembangkan. Dan tenda Pak Suwito dulu paling laris juga terkenal dengan cita rasanya yang beda dari resep lain. Makanya laris terus. Sampai Mamak nyuruh saya jualan, dan alhamdulillah, saya pun punya banyak pelanggan." Panjang lebar Langit bercerita.


Tanpa diketahui jika dahi Bening mengerut. "Suaminya Mamak ... bukankah ayah kamu?"


Cetak ....


Sendok di tangan Langit terjatuh. Pria itu langsung terdiam dengan pandangan kesana kemari. "Em, i-iya. Maksud saya emang Ayah saya." Suara Langit terdengar bergetar. Entah karena ragu atau gugup.


"Jadi, ayah kamu namanya Suwito?"


Langit mengangguk dengan senyum singkat.


Bening mengangguk-angguk. "Oh. Selama ini kamu jarang cerita tentang ayah kamu atau kenangan bareng keluargamu."


"Hem, saya gak begitu deket sama Ayah. Beliau selalu sibuk bekerja dan sibuk dengan urusannya sendiri."


'Andai ayahku beneran hanya penjual bakso, aku pasti lebih banyak waktu dengan keluarga. Hidupku gak akan kek begini.' Langit diam dengan mengaduk-ngaduk makanan.


"Kalau saya justru lebih dekat dan manja dengan Papa. Sesibuk apapun Papa mengurus perusahaan, tapi Papa gak pernah mengurangi waktu bersama keluarga. Papa pria paling baik sedunia, Papa selalu bisa bikin istri dan anaknya seperti seorang ratu dan putri kerajaan. Pokoknya kalo nyeritain kebaikan Papa, satu minggu gak akan selesai." Bening tersenyum dengan binar bahagia.


Langit menatap Bening dan ikut tersenyum bahagia. Meski dalam hatinya menyimpan kesedihan yang membuat ulu hatinya sesak. Namun, semua tak ada yang tahu.


"Tapi sayang, umur Papa gak lama." Bening berubah sedih. "Dan sekarang saya gak bisa ngerasain dipeluk atau di manjain Papa lagi. Hem ... ngomongin Papa, bikin kangen, deh. Andai Papa masih ada, saya gak akan biarin Papa sendirian."


Langit menunduk. Kalimat terakhir yang diucapkan Bening bagai sindiran untuk dirinya sendiri. Sudahlah, hanya pria itu yang tahu.


"Kamu tau, gak?" kata Bening.


Langit mendongak. "Tau apa?"


"Gak sabar liat kamu pakai baju-baju itu. Pasti keren." Bening mengacungkan ibu jari di depan Langit.

__ADS_1


"Bagi Mbak keren, bagi saya pasti lucu."


"Kok, gitu?"


"Iya, soalnya saya gak pernah pakai baju kek gitu. Lucu kali."


"Kata siapa. Waktu itu, kan, udah pernah pakai."


"Yang itu saya rugi banyak Mbak."


"Kenapa?"


"Saya harus ganti rugi karna celananya sobek."


"Haha ... kok, bisa?"


"Iya, gara-gara pas masuk gang itu ketemu dedemit. Saya ngacir aja. Tau-tau nyampek rumah celananya sobek pas diitunya. Orang yang punya loundry marah dan saya suruh ganti rugi satu juta." Langit bercerita sambil terkekeh menertawai kelucuannya sendiri. Ah, itu gara-gara 'Mbak Kun' waktu itu.


Bening terbahak-bahak. Pria yang menjadi suaminya itu memang lucu karena kadang bersikap konyol. "Masa cowok takut setan."


"Ya kalo Embak jalan sendiri tengah malem terus ketemu begituan saya yakin Mbak juga akan takut."


"Be," panggilan seseorang mengalihkan Bening dan Langit.


"Bram?" Bening terkejut melihat Bram berdiri di samping mejanya. Bukan hanya itu, di samping Bram ada perempuan yang menggandeng tangan pria itu.


"Dia adik sepupuku yang baru pulang dari Swiss." Bram menjelaskan tatapan Bening. Lalu, pria itu berganti menatap aneh pada Langit. Dia tersenyum miring. "Sejak kapan seorang Bening Agistasari jalan sama penjaga rumahnya sendiri?"


"Tapi, sepertinya hubungan kalian bukan sekedar majikan dan pelayan. Kamu gak malu, Be, makan dengan pria berstatus rendahan seperti dia?" Bram tersenyum mengejek.


"Diam kamu, Bram!" sahut Bening marah.


"Kamu lupa Be, hubungan kita belum resmi putus."


Bening berganti tersenyum miring. "Hubungan kita udah lama putus, Bram! Kamu lupa, kamu sendiri yang menghilang begitu lama. Selama itu aku tidak tau kamu dekat dengan perempuan mana saja. Dan sekarang kamu mau mengklaim kita masih pacaran?! Aku gak bodoh! Gak bisa kamu tipu lagi."


Bening mengambil dompet. Mengambil uang dan menaruh di atas meja, lalu mengajak Langit untuk pergi.

__ADS_1


"Be, tunggu, Be!!!" Bram berteriak, tapi Bening tak menghiraukan.


__ADS_2