
"Mbak … baksonya masih?"
"Maaf, Mas, baksonya sudah habis." Bening menjawab tanpa berbalik badan.
Perempuan itu merasa tidak asing dengan suara yang barusan di dengar. Bening menepis pikirannya. Dia mungkin sedang terlalu halu dengan kehadiran Langit. Hingga suara seseorang terdengar mirip dengan suaminya.
"Sayang sekali, ya, Mbaaaak! Padahal aku ingin makan bakso buatan Mbak Bening."
Deg ….
Kali ini tubuh Bening membatu, telinganya benar-benar mendengar suara yang dulu sangat familiar. Apalagi panggilan Mbak itu seperti suara suaminya saat memanggilnya dengan manja.
Hanya mendengar suara yang hampir mirip dengan suaminya, kedua matanya sudah hampir banjir cairan bening.
Perlahan Bening berbalik.
Deg ….
Beberapa saat keduanya mematung di tempat masing-masing. Air mata sudah berjatuhan membasahi pipi yang tertutup masker.
Langit tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Be," panggilnya dengan suara lirih.
Panggilan itu. Bening yang terkesiap sampai mundur beberapa langkah. Tubuh kuatnya hampir limbung karena keterkejutannya saat ini.
"Bang …."
"Iya. Ini aku, Be."
"Enggak! Aku sedang berhalusinasi, kan? Gak mungkin ini nyata." Bening menggelengkan kepala pelan.
"Kamu gak halusinasi. Ini aku, Langit. Aku kembali untukmu, Be."
"Abang …?!" Bening benar-benar tidak percaya dengan sosok pria di depannya. Sosok pria yang selama ini dirindukan kini tengah berdiri di hadapannya. 'Ini tidak mungkin.'
Langit mendekat, dia membuka masker dan topi yang dikenakan Bening, saat itu juga dia bisa melihat wajah cantik istrinya.
"Aku merindukanmu, Be."
"Bang, katakan! Aku gak sedang mimpikan?"
"Enggak. Ini nyata, sayang."
"Bang …." Seketika Bening menangis tersedu-sedu, tangan Langit segera merentang dan menyambut Bening dalam pelukannya.
"Abang …." Beberapa kali mulut Bening hanya mampu memanggil nama Langit. Jiwanya masih belum bisa menguasai keterkejutan.
__ADS_1
"Bang, aku merindukanmu."
"Aku lebih merindukanmu."
Langit ingin melonggarkan pelukan, tetapi tangan Bening tidak mau melonggar, sangat erat memeluk pinggangnya. Dia takut jika pelukan itu terlepas maka sosok suaminya itu akan hilang. Tidak. Dia tidak ingin Langit pergi lagi.
"Aku gak nyangka, istriku cantik sekali berdandan seperti ini."
"Bang …." Kali ini pelukan mereka melonggar, tetapi kedua tangan Bening menggenggam ujung kaus yang dikenakan Langit.
"Dari tadi manggilin aku terus. Aku mendengar panggilanmu. Sekarang katakan yang ingin kamu katakan."
"Aku gak percaya ini kamu, Bang. Kamu … kamu …." Suara Bening seolah tercekat di tenggorokan, wanita itu sampai tidak mampu untuk berkata.
Langit kembali memeluk Bening. Dia tahu istrinya pasti sangat terkejut. "Maafkan aku, Be. Kamu harus menggantikan posisi ini," ucap Langit melirih.
"Bang, selama ini kamu di mana? Kenapa kamu tiba-tiba datang, setelah lama menghilang. Aku hampir gak sanggup menjalani semuanya. Aku terus dihantui rasa bersalah. Kamu tega ngelakuin ini sama aku!" pekik Bening tertahan.
"Kamu gak tahu apa yang udah aku alami selama ini! Kamu jahat, Bang. Kamu jahat ninggalin aku begitu saja. Aku sampek bekerja keras demi keinginan untuk ziarah ke makammu."
"Aku masih hidup, Be."
"Aku gak tahu kalo Abang masih hidup," sahut Bening cepat. "Tapi aku senang. Aku sangat senang Abang pulang."
"Baik, Pak. Aku akan pulang dengan istriku," jawab Langit.
Bening melihat supir itu dan beralih pada Langit. Wanita itu pasti sangat penasaran kenapa suaminya dipanggil dengan sebutan tuan.
Langit mengetahui ekspresi istrinya, lalu berkata, "Nanti aku jelasin, di rumah. Sekarang, ayo, kita beresin tendanya dan pulang."
Meski banyak pertanyaan di kepalanya, tetapi Bening mengikuti Langit untuk membereskan tenda itu dan Langit mengambil alih pekerjaan istrinya. Dia mengambil besek tempat menyimpan uang. "Lumayan banyak," ucap Langit dengan melihat ke arah Bening dan tersenyum simpul.
"Alhamdulillah, Bang."
Hati Langit menjadi hangat mendengar Bening mengucap syukur. Di sepanjang perjalanan pulang, Bening mengunci mulut rapat-rapat, namun air matanya tidak mau berhenti menetes. Air mata itu bukan air mata kesedihan seperti beberapa waktu lalu, melainkan air mata kebahagiaan. Dia terus memperhatikan punggung Langit.
Bahagia, suami yang sangat dirindukan ternyata masih berpijak di bumi yang sama. Mereka masih menghirup udara yang sama. Bahkan kini mereka akan terus hidup bersama.
Tidak terasa mereka telah sampai di rumah Mamak, namun wanita itu dibuat penasaran dengan tiga mobil yang terparkir di pelataran rumah Mamak.
"Bang, di rumah Mamak ada apa? Mobil siapa, itu, Bang?" Bening mencoba melihat ke dalam rumah Mamak dari kejauhan, beberapa orang terlihat memenuhi ruang tamu yang sempit itu.
"Aku juga gak tau!" Langit menghendikkan bahu dan pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Bang, jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Mamak atau Mama. Ayo, Bang." Bening menggeret tangan Langit dan memaksa suaminya untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Mak, Ma! Lihat, Bening pulang dengan siapa!" Sampai di teras rumah, Bening sudah berteriak.
Semua yang ada di dalam beralih melihat kedatangan Bening dan Langit.
"Suamiku, masih hidup, Mak, Ma. Langit masih hidup. Lihatlah, Be pulang bersama Abang." Bening kembali menangis di depan pintu, tangannya tak henti menyeka air mata yang semakin bertambah banyak. Meski mata itu sudah menyipit dan memerah, namun tangisan Bening tak kunjung berhenti.
"Be, tenanglah. Mereka udah tau kalo aku masih hidup."
Bening berusaha menghentikan tangisannya. "Mamak dan Mama udah tau?"
"Lihatlah, keluargaku pasti udah menjelaskan. Aku udah dateng dari sore tadi." Langit menjelaskan.
"Apa?"
Mendengar penjelasan Langit, Bening sangat penasaran dengan sosok keluarga suaminya itu. Dia meniti satu persatu orang yang memenuhi ruang tamu rumah Mamak. Dia nampak tidak asing dengan sosok pria paruh baya yang duduk di kursi roda. Pandangan Bening fokus pada Tuan Bima.
Langit yang tahu akan itu, segera berucap. "Dia mertuamu. Sambutlah kedatangannya."
"Maksudnya?"
"Dia ayah kandungku, Be. Dia papa mertuamu." Langit menjelaskan.
"Bu-bukankah … dia …." Bening tentu paham siapa pria paruh baya itu. Pemilik cabang perusahaan yang tersebar hampir di penjuru dunia. Bahkan perusahaanya dulu pernah kalah tender dengan perusahaan Galacy Grup.
"Dia Tuan Bima Wijaya, pemilik Galacy Grup, Kakak Ipar. Kak Arga, eh, Kak Langit itu anak kandung Tuan Wijaya yang waktu itu pernah di usir dari rumah." Sam ikut menjelaskan.
"Jadi suamiku …."
"Be, biasa aja. Ekspresimu sangat lucu," bisik Langit yang mampu menyadarkan Bening.
Buk … buk ….
Tangan Bening memukuli badan Langit. "Kamu jahat! Kamu jahat, Bang!" seru Bening.
"Au' …. Sakit, Be!"
"Kakak Ipar, jangan! Suamimu baru usai melakukan operasi paru-paru!" Sam ikut berseru.
Bening langsung menghentikan gerakannya. Dia pergi begitu saja dengan tangisannya.
"Be, tunggu!" Langit mengejar langkah istrinya.
"Kamu jahat, Bang! Jahat banget."
__ADS_1