
Meskipun Angga mencegah Bening dan Langit agar tidak jadi pulang, namun Bening yang diselimuti rasa tidak nyaman beserta gugup memilih berpamitan lebih dulu.
"Gak asik lu, Be."
"Ngapain sih cabut cepet? Gak tahan iman, ya?"
"Langsung pulang atau mampir hotel nih?"
"Inget angka umur udah nambah banyak, gak pengen cepet nikah tah?"
"Yang ini udah oke banget, Be. Kite tunggu undangan dari lu."
Berapa teman Bening berseloroh menggoda dengan kalimat candaan. Namun Bening dan Langit hanya menanggapi dengan senyum palsu. Rasanya ingin segera pergi dari tempat membosankan itu.
"Huft ...." Bening berembus napas panjang saat sudah di dalam mobil. Langit menoleh Bening yang sengaja memejamkan matanya.
Namun Langit tidak bersuara sama sekali. Memilih diam untuk menetralkan perasaanya. Pria itu berusaha menyanggah asumsinya sendiri tentang ciuman yang terjadi secara tiba-tiba.
__ADS_1
Ciuman itu gak mungkin ada artinya. Gak, Lang! Kamu gak boleh geer cuma gara-gara dicium sama dia. Dia juga pasti nyesel udah nyium duluan. Lupakan! Anggap ciuman tadi gak pernah terjadi.
Bening memukul-mukul keningnya frustasi. Langit yang tadi terbengong kini berubah kaget. Dia mengira Bening sudah tertidur. Ternyata belum.
Gerakan Bening terhenti. "Ci-ciuman tadi ...." Bening menunda kalimatnya. Menelan ludah susah payah. "Kamu mengira saya wanita murahan 'kan?! Gara-gara saya tadi mencium kamu duluan!" Bening malu dengan kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri. Pipi yang memerah dia sembunyikan dengan membuang muka ke jendela. Tidak mau melihat Langit.
Suasana menjadi canggung. Langit yang biasanya bersikap humble tiba-tiba terserang penyakit diam. Langit kikuk merangkai kata untuk menjawab perkataan Bening. Dia pun tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu diem aja, berati bener dugaan saya, kamu kira saya wanita gampangan 'kan?!" Bening spontan menghujam mata Langit dengan tatapan sinis.
"Saya belum jawab tapi Mbak udah nyerocos terus. Suudzon duluan. Gak gitu, sama sekali gak ada pikiran ke situ. Saya tau kenapa Mbak tiba-tiba nyium saya, pasti gara-gara temen Mbak tadi," tandas Langit.
"Cuma apa?"
"Tadi itu ciuman pertama saya. Harusnya di kasih buat pacar saya, tapi malah keduluan sama Embak," kata Langit dengan menggaruk kulit kepala yang tidak gatal.
"Eh, kamu kira saya udah sering ciuman?! Itu tadi juga ciuman pertama saya, tau!"
__ADS_1
"Iya tah?" Alis Langit menaut, pemuda itu tidak mempercayai ucapan Bening.
"Sumpah. Ciuman tadi juga baru pertama kali buat saya. Sebelumnya, jangankan berciuman, berpelukan aja saya gak pernah."
"Tapi Mbak tadi seperti udah mahir. Gerakan sama hisapannya kek udah handal gitu," ujar Langit.
Buuuukkk ....
"Auh' ...." Langit mengadu kesakitan saat lengan atasnya terkena pukulan tangan Bening. "Sakit, Mbak!"
"Sukurin! Lagian enak aja bilangin saya udah mahir dan handal. Kamu ngejek saya?!" Bening melotot.
"Mbak ini pikirannya gimana? Suudzon mulu!" kesal Langit.
"Kamu yang mancing saya buat berpikir begitu. Saya gak percaya laki modelan kamu gak pernah ciuman sebelumnya."
"Saya berani bersumpah apapun. Rasain ciuman pertama, ya, baru sama Mbak tadi," jujur Langit. "Mbak mencuri ciuman pertama saya," imbuhnya.
__ADS_1
"Bisa gak usah dibahas? Lupain! Anggap ciuman tadi gak pernah terjadi," pinta Bening.
"Gak bisa semudah itu, Marimar! Kata orang, apapun hal pertama yang menimpa kita, itu bakal susah ngelupainnya. Termasuk ciuman tadi," jawab Langit.