Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Semoga berhasil.


__ADS_3

Saat ini Langit sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tuan Bima merogoh kocek sangat fantastis demi mencari pendonor mata untuk Langit.


Tuan Bima selalu mendampingi Langit, pria paruh baya itu selalu memberi semangat supaya Langit semangat dan segera bisa melihat lagi. Bukan hanya itu saja, operasi kali termasuk melakukan penindakan untuk paru-paru yang bocor, hingga terhitung operasi besar.


Meski dokter telah menjamin keberhasilan, tetapi Langit maupun Tuan Bima sendiri tetap dikalungi kecemasan. Sesuatu bisa saja terjadi atas kehendak Tuhan. Semoga terhindar dari hal buruk.


"Pa, doakan semoga operasi Langit berjalan lancar." Langit meminta doa dari papanya.


"Papa selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Lang. Yakinlah, operasimu akan berhasil dan kamu bisa sembuh seperti sebelumnya."


"Aamiin. Makasih, Pa." Langit menggerayangi tangan papanya dan menggenggam telapak tangan itu. "Lang udah gak sabar ingin kembali ke Indonesia."


Mendengar itu Tuan Bima terdiam. Rasanya tidak rela jika putranya itu harus kembali ke negara asal. Dia tidak ingin sendirian lagi.


"Lang, apa setelah ini kamu akan menetap di sana lagi?" tanya Tuan Bima dengan nada terdengar sedih.


"Istriku ada di sana, Lang harus pulang, Pa. Nanti Lang kenalkan dengan menantu papa." Langit antusias ingin memperkenalkan Bening.


"Lang, Papa tahu seperti apa kehidupanmu dengan istrimu. Dia tidak pernah bersikap baik padamu, apa kamu tidak ingin berpisah dengannya?"


Pertanyaan papanya membuat Langit terkesiap. "Papa tidak mengetahui kehidupan Langit sepenuhnya. Awal mula, memang dia gak pernah bersikap baik. Tapi, Langit gak bisa membenci dia, Pa. Langit sangat mencintai Bening. Aku yakin, setelah semua perjuangan dan pengorbananku, dia pasti sudah berubah." Langit mengatakan itu dengan sangat yakin.


Beberapa saat hening, Tuan Bima tidak berkata apapun.


"Pa, kenapa diam? Tolong restui hubungan kami, demi kebahagiaanku. Jika Papa tidak yakin, Langit akan bawa Bening ke hadapan Papa supaya Papa bisa melihat perasaan kami yang saling mencintai."


Tuan Bima mengembus napas panjang. "Jika semua demi kebaikanmu. Papa akan merestui. Papa hanya ingin kamu bahagia, Lang. Papa ingin menebus kesalahan Papa. Jadi, semua akan Papa lakukan demi kamu."


"Makasih, Pa. Saat ini Langit udah sangat bahagia. Terima kasih Papa telah mengupayakan semuanya untuk kesembuhan Langit."


Mobil yang ditumpangi Tuan Bima Wijaya dan Langit telah sampai di rumah sakit, Sam dan ayahnya ikut menghantar Langit dengan mengendarai mobil yang berbeda.


"Sam, aku ada tugas untukmu. Usut semua kecurangan Doddy dan Sarah, semua harta Bening harus kembali padanya. Buat Doddy dan Sarah mendekam di penjara. Dia telah menipu dan berfoya-foya dengan uang istriku. Dia harus membayar mahal untuk semua itu." Perintah Langit.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Kak. Aku akan mengurus semuanya."


Setelah perbincangan singkat itu Perawat membantu Langit untuk berpindah ke brankar rumah sakit, tinggal sebentar lagi operasinya akan di mulai. Tuan Bima dan Edwar menunggu di luar, sedangkan Sam langsung meminta izin pergi melakukan tugas dari kakak sepupunya itu.


~


"Sep, makasih. Berkat kamu Mamak bisa mendengar suara Langit." Mamak kembali menyeka air mata yang menetes.


"Iya, Mak. Gitu tadi di suruh ikut susah banget. Padahal Kasep hanya menjalankan perintah dari Langit," jawab Kasep dengan gerutuannya.


"Maaf, ya, Mamak tadi tidak tahu."


"Iya, Mak. Gak apa. Ayo, Kasep anterin pulang lagi."


Kasep kembali mengantar Mamak pulang. Wajah Mamak tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Di jalan pun terus menyungging senyuman.


~


Sore ini Mamak dan Bening kembali berjualan. Mamak begitu ramah dan semangat melayani pembeli. Setelah sedikit senggang, Bening mendekati Mamak.


"Tidak. Mamak seneng saja, hari ini pembeli cukup ramai."


"Hem. Mamak benar, hari ini lumayan banyak pembeli. Alhamdulillah, ya, Mak. Bening bisa ngumpulin uang buat pergi ke makam Langit."


Mamak langsung terdiam. Ada setitik rasa bersalah menutupi sebuah kebenaran. Tetapi, Langit sudah berpesan agar Bening lebih baik tidak boleh diberitahu. Biar semuanya seperti ini.


"Cuma untuk datang ke makam suamiku, aku harus menunggu selama ini, Mak. Apa Langit sedih, aku belum datang untuk berziarah."


"Mak yakin dia tahu tentang keadaanmu. Dia pun pasti mendoakan kebaikamu dari tempatnya sekarang."


Ingin rasanya Mamak memberitahu, tetapi dia benar-benar harus menahan. Semua akan indah pada waktunya.


"Mbak Be, mau bakso yang besar, ya. Gak usah pakai bihun!" Seorang pembeli datang dan memesan satu mangkuk bakso.

__ADS_1


"Oke. Tunggu sebentar ya, Mbak," jawab Bening dengan ramah. Dia yang dulu sering memarahi seseorang, kini telah berlatih kesabaran untuk bersikap ramah pada pembeli.


Bening Agistasari benar-benar meninggalkan semua sikap buruknya. Egois, suka semaunya sendiri, tidak menghargai orang lain, semua sikap itu perlahan menghilang.


Kini wanita itu menjadi sosok ramah dan senang bergurau dengan banyak orang. Sungguh kehidupan yang sangat jauh daripada yang dulu. Dia menjadi sosok berbeda setelah banyak pelajaran yang telah direnungkan.


"Ini bakso besar gak pakek bihun. Silahkan dinikmati, Mbak." Tanpa sadar Bening tersenyum dibalik masker penutup hidungnya.


Ternyata bersikap ramah itu menyenangkan.


Pukul sepuluh malam Kasep sudah bersiap menjemput Bening dan Mamak. Itu salah satu aktivitas yang dilakukan Kasep selama beberapa bulan ini mendampingi hidup Mamak dan Bening.


Tadinya pria itu memiliki pemikiran untuk menggaet Bening, meski bekas temannya sendiri, setidaknya Bening masih sangat cantik. Tetapi semua itu harus kandas saat Langit menghubunginya. Dia tidak bisa bersama Bening karena suami wanita itu akan segera kembali.


Seperti biasa, Bening memilih berjalan paling belakang. Meski telah lama berlalu, tetapi semua kenangan tentang pria masih sangat utuh dalam memorinya.


Teringat saat dia berjalan di belakang Langit, kakinya harus lecet karena dia menggunakan high lumayan tinggi. Saat itu Langit merelakan sendal jepit yang dipakai untuk dirinya. Dia baru sadar jika semua itu sangat sweet.


"Bang, aku sangat merindukanmu. Aku juga sangat merindukan kebersamaan kita. Merindukan semua sikap menyebalkanmu. Semuanya. Aku merindukan semuanya, Bang."


"Nak Bening," Mamak menjajari langkah Bening. Wanita itu segera menyusut sudut matanya.


"Kamu teringat dengan suamimu?"


Bening membuang napas panjang. Meredakan sesak yang menghimpit dada. "Aku selalu merindukannya, Mak."


'Sabarlah sebentar lagi. Dia pasti datang kepada kita,' batin Mamak.


"Mamak juga sangat merindukannya. Mudah-mudahan Tuhan memberi keajaiban."


Bening menghentikan langkah. "Maksud Mamak?"


"Tidak. Mamak hanya berdoa saja. Semoga ada keajaiban agar mantu Mamak ini bisa tersenyum lagi." Mamak tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bening udah tiap hari senyum, Mak." Bening membuka masker membalas senyum Mamak.


__ADS_2