
"Kamu simpan aja uangnya. Saya dah ada ATM," tolak Bening.
"Oh, saya lupa. Embak gak pernah belanja pakek uang kek gini," ujar Langit fokus pada uang pecahan yang disodorkan di depan istrinya, tapi Bening justru menolak. Wajah pria itu tentu saja berubah sendu, namun bisa tertutupi dengan senyum simpul.
"Eng-enggak begitu. Maksud saya_____." Bening bingung ingin melanjutkan kalimatnya. Tak enak membuat Langit berubah murung. "Saya pikir uang itu buat pegangan kamu aja. Saya masih ada uang buat kita belanja," lanjutnya. Berharap Langit tak lebih salah paham.
"Walau Embak dah punya uang. Saya tetap wajib bertanggung jawab kasih uang nafkah, seberapapun penghasilan saya, bakal saya serahkan kepada Embak. Apalagi Embak dan saya dah resmi menyatu semalam, saya berdosa kalo gak kasih nafkah lahir."
Mendengar barusan, Bening tak kuasa untuk menolak lagi. Terpaksa dia ambil uang nafkah lahir dari Langit. Uang kertas senilai pecahan.
"Kemarin saya gak begitu mentingin uang nafkah karna Embak dan saya belum melakukan apapun. Tapi semalam Embak dah kasih hak saya sebagai suami, maka saya wajib bertanggung jawab penuh."
Tok ... tok ....
Perbincangan mereka harus berakhir, sepertinya Salsa sudah datang. Saat Langit bangkit membuka pintu, benar saja Salsa sudah bersiap mengantar mereka pergi. "Kak Langit dan Kak Bening sudah siap? Mari, kita berangkat sekarang," ajaknya.
"Eum, yah, kami udah siap dari tadi," balas Langit ramah.
Salsa menolak untuk masuk, akhirnya mereka berangkat begitu saja. Karena cuaca kurang bersahabat; rintik hujan kecil tak mau berhenti, maka itu Salsa mengajak mereka ke pusat perbelanjaan. Jika mengajak ke pasar tradisional, maka keadaanya kurang nyaman.
Asik berbelanja, Bening lupa menggunakan uang dari Langit, wanita itu justru membayar total belanjaan dengan ATM-nya sendiri. Langit hanya diam menahan kekesalan sekaligus kesedihan. Merasa tak dihargai.
Dalam perjalanan pulang, Langit berpura-pura memejamkan mata, dia bergelut dengan pemikirannya. Memang benar Bening telah mencintainya, tapi wanita itu belum mencintai profesinya. Lalu sikap seperti apa yang harus diambil.
Bening dan Salsa saling bertukar cerita, bahkan wanita itu sangat antusias menjabarkan identitas keluarga juga jabatannya. Namun, ketika Salsa menanyakan tentang identitas Langit, Bening segera mungkin mengalihkan topik.
Usai sampai di penginapan, Salsa langsung berpamitan pulang. Mereka membuat janji esok hari akan kembali pergi untuk mengunjungi tempat wisata lainnya di Pulau Raja Ampat.
Setelah kepergian Salsa, Langit langsung mengusung belanjaan membawanya ke dapur.
"Tumben banget hari ini gak bawel?" Bening mengernyit bingung merasakan keanehan yang ditunjukan Langit. Tapi bukan keanehan besar. Dia berpikir, mungkin suaminya hanya lelah dan malas untuk berbicara.
__ADS_1
Bening memutuskan untuk mandi, supaya badannya lebih segar dan bisa nyaman beristirahat. Sampai wanita itu sudah menyelesaikan ritual mandi, tapi tak terlihat sosok Langit di kamar mereka. 'Tumben?'. Bening mencari suaminya keliling rumah, dan menemukan pria itu di halaman belakang, sedang bersantai.
"Hei, saya cariin gak taunya di sini," ujar Bening menghampiri dan duduk di kursi yang berseberangan. Angin pantai berembus cukup kencang, mengibarkan helai rambut juga pakaian yang dikenakan.
Langit tersenyum. "Saya lagi nikmatin pemandangan laut, sayang kalo dianggurin."
Bening melihat sekitaran pantai, penginapan mereka memang berada dipinggir pantai dan rumah-rumah penginapan lumayan jauh jaraknya dari yang lainnya.
"Tapi gak sayang anggurin istri sendiri?" seloroh Bening dengan kekehan kecil.
"Siapa bilang dianggurin. Liat aja ntar malem," balas Langit.
"Ngeri, ih!"
Keduanya terdiam, hanya desus angin yang mengalihkan kebisuan. Mereka menatap hamparan laut berwarna hijau dengan pohon kepala berjajar-jajar menambah kesan keindahan pantai.
"Rengit."
"Bagaimana kalau sepulang bulan madu, kamu berganti kerja di kantor saja. Kamu gak usah mikirin ijasah atau jabatan. Semua biar saya yang urus. Dan kamu jangan salah paham, saya tawarin kerja di kantor biar kita sering menghabiskan waktu bersama. Kamu bisa jaga saya, dan saya bisa kenalin kamu sebagai suami saya." Bening berkata dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Langit seperti waktu itu. Bagaimanapun dia belum melupakan keinginannya. Berharap lambatlaun pendirian Langit dapat berubah.
"Kita udah pernah bahas ini. Dan jawaban saya masih sama, Mbak. Maaf, saya masih belum bisa nurutin Embak atau bahagiain Embak dari segi materi, tapi saya ingin berjuang dengan usaha saya sendiri."
Bening menoleh, dia yang biasanya sangat susah mengontrol diri berusaha sabar agar amarah tak menguasai dan menjadikan hal ini membesar. Dan berujung pertengkaran lagi.
"Baiklah. Saya kira pemikiran kamu udah berubah, ternyata masih sama. Tapi, kapanpun kamu berubah pikiran, kamu bisa bilang ke saya."
"Hem." Langit mengangguk dan memasang senyum untuk menutupi kekecewaan.
•
Hari berlalu dengan indah. Perbedaan pendapat mampu mereka lupakan sejenak demi menikmati waktu honeymoon.
__ADS_1
Hari ini terakhir mereka berjalan-jalan di tempat itu, karena esok hari mereka sudah harus kembali ke Jakarta.
Cuaca begitu mendukung untuk menikmati cuaca sekitar pantai. Salsa sebagai tour guide selalu mengikuti kemana mereka pergi.
Langit menyewa karpet dan menggelarnya di bawah pohon kelapa, mereka bertiga berbincang-bincang seputar apa saja.
"Aduh, tiba-tiba kebelet. Saya ke toilet dulu," pamit Bening. Langit mengangguk.
"Saya juga mau beli camilan juga. Bareng aja Kak Bening," tawar Salsa. Dia tak enak jika hanya tinggal berdua dengan suami orang. Rasanya kurang pantas.
"Hayuk."
Langit tetap diam menikmati laut lepas, beberapa hari ini ponselnya dibiarkan mati. Dia ingin terbebas dari pikiran masa lalunya. Benar-benar menikmati momen bersama Bening. Namun, sejak kejadian waktu itu, hati Langit masih menyimpan suatu rasa yang tak bisa diungkapkan.
"Kak Langit, ini cemilannya." Salsa sudah kembali membawa beberapa bungkusan snack. Mengira Bening sudah kembali, tapi nyatanya belum.
"Iya, makasih."
"Kak, berapa hari ini saya perhatikan Kakak sering melamun. Kurang frees seperti pertama datang?"
"Sebenernya gak ada apa-apa, sih. Biasa, kangen rumah sama keluarga," kilah Langit.
"Saya tau gak cuma sekedar itu yang Kakak pikirkan. Kakak pengantin baru, apa Kakak tertekan?"
Langit langsung menoleh. "Enggak. Sama sekali gak tertekan."
"Maaf, nih, ya. Saya nilai Kak Langit dengan Kak Bening umurnya berbeda jauh. Dan, Kak Bening tipikal orang yang tidak mau memahami orang lain. Bisa dibilang egois." Salsa bisa menilai demikian karena beberapa hari lalu melihat sendiri bagaimana sikap Bening terhadap Langit.
Langit diam tak menjawab.
'Kenapa kamu diem aja?! Kenapa gak belain aku? Apa aku memang egois bagimu? Kalo kamu tau! Aku mikirin hubungan kita kedepannya, Rengit. Kamu yang egois, masih saja menjunjung tinggi gengsimu yang salah itu!' Bening menahan geram. Wanita itu tak sengaja mendengar percakapan Salsa dan Langit.
__ADS_1
Dia ingin marah, tapi bukankah sikapnya justru membuktikan asumsi Salsa bahwa dia yang egois. Padahal menurut Bening, Langit-lah yang egois.