
"Jadi pria itu, mantan Embak?" tanya Langit pada saat mereka sudah berada di mobil.
"Udah gak usah dibahas. Kamu tau betul mantan seperti dia akan berakhir di pembuangan sampah," ucap Bening dengan sedikit kekesalan.
Langit diam. 'Pantas aja kadang di mimpi juga manggil nama Bram. Ternyata dia mantannya? Udah, Lang, sepertinya Mbak Bening juga udah gak ada perasaan sama dia. Kamu gak sah cemburu, gak sah mikir aneh.'
Bening melirik suaminya, melihat pria itu diam muncullah sebuah ide pengetesan. "Dulu saya deket banget sama Bram," ujarnya tiba-tiba.
Langit langsung menoleh.
"Cukup lama dia jadi pens berat karena saya gak mudah ngasih hati buat sembarang pria." Bening tersenyum. "Dia berusaha keras buat dapetin hati saya. Jabatan sekretaris yang super sibuk rela dia tinggalkan demi saya. Sweet ya?"
Kening Langit mengerut dengan raut mukanya berubah kesal.
"Hampir tiap hari kami jalan berdua, dia juga gak pernah absen anter jemput ke kantor." Bohong. Padahal Bram jarang sekali menjeputnya.
Langit masih diam dengan gerakan mata kesana-kemari. Jangan di tanya ekspresi wajahnya; terlihat seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
"Kamu tau?" Langit menggeleng. "Bram hampir ngajakin nikah, tapi saya yang belum siap."
"Seserius itu?" Langit terhenyak.
"Iya. Saya sama dia tuh dah digadang-gadang pasangan cocok." Seratus persen yang diucapkan Bening tidak benar karena Bram hanya mengatakan cinta, belum kejenjang serius.
Entah sadar atau tidak, bibir Langit sudah manyun. Dan itu membuat Bening hampir tak bisa menahan tawanya.
"Mang Juri, hawanya panas gak sih, Mang?" Bening beralih menanyai Mang Juri.
"Em, lumayan, Non."
"Tapi kalo buat orang cemburu bukan panas lagi, ya, Mang. Dah kayak kebakar bara api gitu," seloroh Bening cekikikan.
"Ough ... Embak mau balas dendam sama suami sendiri, nih?! Mentang-mentang suami banyak pens, dia ngikut ngetes saya cemburu atau enggak. Iya, kan?! Hayo ... ngaku!!!" tebak Langit dengan hidung kembang kempis menahan kesal sekaligus tawa.
"Haha ...." Bening terbahak. Dia tak bisa menahan suara tawa akibat ekspresi Langit yang menurutnya sangat lucu pas sedang cemburu. "Baru ini liat kamu cemburu. Seru juga."
__ADS_1
"Siapa gak cemburu istrinya ngomongin mantan."
"Emang situ aja yang bisa bikin saya cemburu. Gantian, biar adil."
"Dah kayak apa aja pakek gantian biar adil. Bagi sembako kali pakek adil-adil segala." Langit bersedekap dada. "Hukumannya nanti malem saya tempat Mamak sampek larut. Gak ada jatah, dan jangan rindu pentol a'co saya."
"Bhuahaha ...." Bening bertambah terbahak. "Ough, ngancem nih?" Bening mendekati Langit dan mengedipkan matanya 'ting' "Oke, siapa takut? Jangankan nanti malam, lima malam juga oke-oke aja." Dia tak berhenti mengerjai Langit.
"Mampus. Senjata balik ke tuannya, ini mah?!" lirih Langit menepuk kening. "Eh, saya tarik. Hukumannya di ganti aja. Ntar malam jatah ronde sampek pagi."
"Kalo cuma ronda, ayuk aja."
"Siapa bilang ronda, Sayang ... ronde bukan ronda. Ronde gelut di atas ranjang harus dobel jatahnya."
"Hem ... Non Bening, Mas Langit, kalian nggak kasihan bahas begituan di depan kaum duda? Apa kabar Mamang yang udah hampir lima tahun menduda?" Mang Juri ikut menyahut.
Langit dan Bening saling pandang, lalu keduanya tersenyum malu.
"Maaf, Mang. Kami lupa ada Mamang di depan," ucap Langit.
"Kalian sudah pulang?"
"Iya, Mah. Borong baju dia, capek banget."
Langit tersenyum. "Mbak Bening kalo belanja ngeri gitu, ya, Ma? Khilaf parah, hampir semua di beli," adu Langit.
Mama Has terkekeh kecil. "Adek memang gitu, Lang. Segala barang yang gak perlu ikut di masukin keranjang belanjaan. Dulu papanya sampek kaget setiap bayar tagihan rekening Adek, gak tanggung-tanggung kadang hampir dua puluh juta sekali belanja."
"Dua puluh juta, Ma?" Langit merotasikan bola mata ke atas. "Itu setara dua ratus kali saya jualan bakso, itupun masih kurang."
"Mama apaan, sih, gak setragis itu kalee, Ma. Jangan bikin dia darah tinggi, besok malah gak jadi masuk kantor lagi?" sela Bening.
"Hem ... nggak sebanyak itu, Nak Langit. Tapi hampir mendekati nominal tadi."
"Ma ...." Bening terlihat ngambek.
__ADS_1
"Iya-iya ... ya, udah, makan terus kalian istirahat."
"Tadi udah makan siang. Kita langsung istirahat aja, ya, Ma. Capek."
Mama Has mengangguk, tak beralih melihat anak dan menantunya terlihat akur dan bahagia. Hatinya pun ikut bahagia. Bening dan Langit bersamaan masuk ke kamar mereka.
•
"Embak ...." panggilan manja Langit ke Bening. Wanita yang asik mengecek laporan keuangan kantor itu menanggalkan kaca mata dan beralih melihat suaminya.
"Gak selesai-selesai, sih?" ujar Langit yang sudah lebih dulu berbaring di atas ranjang.
"Iya, bentar lagi," kata Bening.
Langit menguap. "Buru ngantuk, gak jadi indehoi, Mbak." Langit sedikit ngambek.
"Iya-iya, sepuluh menit lagi selesai. Sabar geh." Bening terkekeh kecil melihat Langit cemberut.
"Sepuluh menit ya, jangan sepuluh kali sepuluh ntar jadi seratus menit."
"Astaga ... enggak! Janji, cuma sepuluh menit, gak lebih. Ohya, ambilin pilnya biar saya minum dulu. Tadi lupa belum minum," ujar Bening memerintah.
Langit terdiam sejenak. Dia harus bersabar demi keinginan Bening. Wanita yang dinikahi hampir dua bulan itu kekeh ingin menunda kehamilan, untuk itu Bening begitu rajin mengonsumsi pil KB sebelum berhubungan.
Sebenarnya Langit tak ingin menunda takdir, jika Tuhan memberi momongan dia akan sangat bahagia menerimanya. Meski umurnya masih belum genap 25 tahun, tapi pria tampan itu menyukai anak-anak, dan ingin sekali melihat Bening hamil. Namun, apa bisa dibantah jika Bening sendiri belum menginginkan, dia takut Bening tertekan dan justru membenci keinginannya.
Langit mengambil pil KB dan memberikannya pada Bening sekaligus dengan segelas air putih.
Bening menerima dan segera menelan pil kecil berwarna putih itu. Lalu tersenyum manis pada Langit. "Tunggu bentar, ya. Biar obatnya bereaksi dulu."
Langit membuang napas panjang dan mengangguk. Berusaha menutupi kekecewaannya dengan tersenyum seperti biasanya.
Bukan Bening tidak menyadari raut muka Langit yang terlihat sendu. Hanya saja, dia sendiri sangat belum siap untuk hamil. Banyak proyek yang belum selesai penggarapan: bayangan hamil yang menjadikan dia berubah jelek, belum lagi mengalami morning sickness dan bagaimana proses melahirkan yang sangat menyakitkan. Ah, begitu banyak bayangannya tentang resiko kehamilan. Intinya sekarang dia belum siap.
Dia menikahi pria baik, dia yakin jika Langit akan memahami keinginannya. Dia mau hamil, tetapi bukan sekarang waktunya. Menunggu kesiapan hati agar semua bisa dijalani dengan bahagia.
__ADS_1