Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Tega banget


__ADS_3

Usai mengobrol dengan Mama Has dan Eyang Putri, Langit meminta izin lebih dulu untuk masuk ke kamar.


Jam menunjukan pukul 10 malam. Langit membuka pintu kamar dan melihat Bening sedang fokus pada layar laptop. Saat dia masuk tak sedikitpun Bening meliriknya. Namun Langit cuek, dia berjalan menuju busa di sisi sebelah kanan dan duduk di sana.


"Kalo serius gitu keliatan dewasa banget lho, Mbak," ujar Langit.


Bening melirik dengan durasi dua detik, setelah itu fokus kembali pada layar laptop. "Kamu nyindir saya udah tua, gitu maksud kamu?!" sinis Bening.


"Bisa gak, sih, gak galak gitu, Mbak? Kesannya tuh kek gak suka banget sama saya."


"Emang."


"Kok gitu?! Emang salah saya apa, Mbak sampek segininya?"


"Entah kamu yang salah atau takdir kita yang salah. Yang jelas, tiap ketemu kamu ada aja hal sial yang saya alami. Dan sekarang, malah kita jadi pasangan suami istri. Padahal kita cuma orang asing, jangankan cinta, yang ada malah tambah kesal kalo deket kamu!" sewot Bening.


"Ya ampun, Mbak. Mungkin hobi Mbak emang bicara gak enak gini, ya? Kan semua bisa dibicarain baik-baik. Dipikir emang saya paksa Mbak biar nikah sama saya, enggak, 'kan?! Berati bukan salah saya, dong! Walau kita gak saling cinta, setidaknya hargai keberadaan seseorang, karna ini juga bukan salah saya. Saya sih gak ambil pusing. Mungkin ini udah takdir dan saya coba jalani sesuai takdir yang digariskan. Saya cuma percaya bahwa Tuhan itu maha tau, tidak akan salah dalam hal apapun. Termasuk menakdirkan pernikahan kita." Langit berbicara panjang lebar.


"Heh, malah ceramah lagi! Nyebelin. Udah, gak sah ganggu. Saya lagi sibuk." Bening malas menanggapi, dia kembali sibuk dengan laptopnya.


Langit melihat Bening sebentar dan beralih menata bantal untuk rebahan. Bening yang mengetahui gelagat Langit segera mencegah.


"Eh, ngapain itu?"


Kening Langit mengernyit. "Gak ngapa-ngapain. Mau tidur aja. Abis dicuekin sama istri," canda Langit.


"Gak! Siapa ijinin kamu tidur di ranjang bareng saya?!"


"Lah, bukannya emang gini. Kita udah nikah, harusnya sah-sah aja saya tidur bareng Mbak. Bahkan mau ehem-ehem juga udah halal!" Langit cengengesan. Jemari tangan dikerucutkan lalu ditempelkan sebentar seperti orang ciuman. Menaikan sebentar satu alisnya untuk menggoda Bening.


Bening melirik sinis beberapa detik, lalu memutar bola matanya, terlihat jengah. "Sah-sah aja bagi pasangan suami istri sungguhan. Tapi bukan seperti kita! Paham!"


"Wadau, status lajang sama udah nikah sama aja, dong, kalo kek gini!" gumam Langit.


Ya bodo', emang ada bedanya status lajang ama udah nikah? Toh, kita nikah karna kesalahpahaman, bukan karna cinta. Gak akan terjadi apapun antara aku dan kamu. Batin Bening.


"Mbak gak ada pikiran buat nyuruh saya tidur di lantai, 'kan?!" Langit terlihat ketar-ketir. Mudah-mudahan enggak.


Bening nyengir. "Betul sekali. Ternyata kamu pintar menebak maksud saya," ucap Bening.

__ADS_1


Langit membelalakkan mata. "Yang bener aja, Mbak. Cuacanya dingin banget, mau hujan lagi. Nanti kalo saya kedinginan, gimana?"


"Bodo'. Itu bukan urusan saya." Bening mengacuhkan.


"Gini amat punya bini galak." Langit bergumam dengan menggaruk pinggiran pelipis.


"Apa kamu bilang, kamu ngatain saya galak?! Situ berani?!" Bening membuka kacamata yang dari tadi bertengger di pangkal hidungnya. Menantang dengan gerakan wajah. Tangannya berkacak pinggang.


Langit menghirup udara dan mengembuskan pelan. Wanita yang dinikahi siang tadi sangat sensitif. Bentar-bentar marah. Bentar-bentar suudzon. Mengerikan.


Kilat di luar mampu menembus jendela kaca yang belum ditutup dengan gorden. Bening yang terkejut hingga berjingkat ke arah Langit sambil memejamkan mata. "Aakh' ...."


Langit yang tiba-tiba di tubruk oleh Bening hanya diam mematung. Dia pun sebenarnya terkejut. Namun masih bisa menahan diri untuk tidak membalas Bening.


Setelah suara guntur menggelegar dengan dahsyatnya, Bening lantas sadar sedang mengungkung di badan Langit. Pria yang sedari tadi dia marahi. Laptop yang masih terpental ke depan. Beruntung tidak jatuh ke lantai, bisa saja tamat riwayatnya.


Bening segera menjauh. Membuang pandangan ke segala arah demi menutupi kegugupannya.


"Jangan geer! Saya tadi kaget, jadi reflek kek tadi," kilah Bening.


Langit tersenyum tipis. Dia pura-pura sok jaim.


Menyebalkan!!! Ugh, ngapa sih, gini terus!! Bening memasang wajah cuek lagi.


"Kamu ngeselin!"


"Tapi lama-lama bakal nganenin."


"Idih."


"Cius."


"Diam!"


"Ha ha ...."


"Rengit!!!"


"Ha ha ...." Langit makin terbahak melihat wajah Bening bersungut.

__ADS_1


"Kamu ngeledek!! Ngeselin, lho!! Saya tidur sama mama ajalah!" Putus asa, Bening bangkit dan segera pergi dari kamar. Dia lupa jika laptopnya masih menyala.


"Mbak ...," panggil Langit tapi tak dihiraukan. Dia menarik laptop Bening dan mengecek isinya. Namun saat fokus membaca satu persatu kata yang tertata, dia dikejutkan dengan pintu yang kembali terbuka.


"Eh, kamu ngapain pegang laptop saya! Hei, itu isinya data penting semua. Salah pencet bisa musnah kerja keras saya!" sentak Bening.


"Enggak, Mbaaak! Saya gak apa-apain laptopnya. Cuma liat aja, Mbak sedang ngerjain apa," kata Langit dengan nada biasa tanpa marah. Baginya sudah biasa Bening menyentak atau berbicara kasar padanya.


"Mau diliat semuanya juga kamu gak bakal ngerti. Yang kamu ngerti palingan cuma racikan bumbu kuah bakso," cibir Bening menarik sebelah sudut bibirnya. Wanita itu berjalan ke ranjang dan mengambil alih laptop yang ada di depan Langit.


"Mbak bisa aja! Ya, emang itu profesi saya."


Bening duduk di ujung ranjang dan mengotak-atik keyboard untuk mematikan operasional laptop.


"Mbak ngapa balik lagi? Katanya tadi mau tidur sama mama?"


"Gak boleh. Saya malah diusir dan disuruh minta temenin kamu! Nyebelin, 'kan?!"


"Gak nyebelin tuh, kalo Mbak mau malah asik! Apalagi nemeninnya bareng di atas kasur!"


"Ih ... dasar Rengit!!! Jangan bikin mood tambah berantakan. Ogah! Udah kamu tidur di lantai, saya mau tidur sekarang!"


"Yang bener aja bobok di lantai, Mbak?! Dingin banget lho."


"Gini aja deh, saya tidur di sini dan Mbak tidur di sana. Nanti di tengah-tengah kasih pembatas guling. Gimana?" usul Langit.


"Enggak! Kamu mau modus 'kan?!"


"Enggak, Mbak! Saya berani sumpah gak bakal modus. Saya alergi dingin, kulit saya bakal gatel-gatel kalo kedinginan." Langit mengiba. Tapi Bening tetap tidak luluh.


"Kalo saya bilang tidur di lantai, berati kamu harus tidur di sana!" Bening menunjuk lantai di bawah ranjangnya.


"Masa gak kasihan sama saya, Mbak?!"


"Enggak!"


Langit menghirup udara dan mengembuskan pelan. Tidak diberi pilihan lain, dia harus tidur di bawah dengan alas kasur lantai dan bantal saja. Karena selimut tebal sudah dipakai oleh Bening.


"Tega banget," lirih Langit saat merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2