
Pagi bersambut mentari hangat. Sehangat pelukan dua sejoli yang masih terlelap menyelami mimpi. Tidur dalam kehangatan dan kedamaian, namun tak tahu untuk beberapa menit kemudian. Mungkinkah mereka tetap bangun dalam kehangatan dan kedamaian, atau justru dalam pertengkaran dahsyat.
Alarm ponsel berbunyi nyaring, bergetar hebat di atas meja. Namun deringan pertama belum mampu membuyarkan mimpi keduanya. Berapa menit kemudian Bening mulai bergerak. "Tumben gulingnya anget banget," gumamnya tanpa sadar. Tangan itu semakin erat memeluk sesuatu yang dikiranya guling.
Diam-diam Langit sudah terbangun. Pria itu mengulum senyum mendengar gumaman dari bibir tipis Bening. Wajah keduanya sangat dekat, mampu memandang sangat lekat. Langit mengakui, bahwa wanita yang dinikahinya kemarin sore sangat cantik. Bulu mata lentik, hidung bangir dan bibir tipis yang begitu menggoda iman.
Semakin lama memindai wajah Bening, semakin ingin merasai nikmatnya ciuman bersama bibir tipis nan ranum itu lagi. Jiwa lelaki Langit mulai terangsang. Ah, jika dibiarkan bisa bahaya.
Langit memejamkan matanya kembali. Berharap bayangan +21 yang berputar di otaknya bisa terhenti. Meski demikian, pria yang sesekali menahan napas itu tak berani bergerak. Takut menggangu tidur Bening, dan macan betina itu bisa saja mengamuk. Jika sudah begitu akan terlihat mengerikan. Sejauh ini belum ada pawang yang bisa menjinakkan sang macan betina, kecuali Mama Has.
kryuk kryuk ....
Seketika mata Bening terbuka. Suara cacing di perut seseorang membuatnya terbangun. Wanita itu membatu beberapa detik sebelum ...
"Aaaaaaaakkkkkhhhhh ...!!!"
Suara teriakan menggema di kamar persegi itu. Penghuni rumah sampai berlarian demi mengetahui malapetaka apa yang terjadi.
"Adek ...!"
"Ning ...!"
Langit tak mampu berbuat apa-apa selain menutup lubang telinga dengan jari telunjuknya. Begitupun masih berdengung-dengung.
"Mah, lagi-lagi kita datang di waktu yang tidak tepat!" kata Mama Has yang melongo, sama halnya dialami Eyang Putri.
"Iya, Has. Kenapa dari kemarin kita ketipu teriakan si Ning," timpal Eyang Putri.
Mama Has dan Eyang Putri pergi begitu saja, merasa malu sendiri melihat adegan yang tidak semestinya mereka saksikan.
"Renggiiitt!!!" geram Bening sampai gigi-giginya beradu.
Langit tidak menjawab, pria itu bergeming menatap Bening.
"Apa ini?! Kenapa bisa begini?!" Wajah Bening berubah marah. Namun wanita itu lupa jika badannya masih berdempetan dengan badan Langit.
"Rengit! Jawab! Jangan diem aja!" sentak Bening.
"Apa, Mbak? Telinga saya jadi budek denger teriakan Mbak yang kek raungan macan."
"Sstt, huh, kenapa hidupku harus bertakdir dengan lelaki seperti dia, Tuhan?! Tidak adakah pria yang lebih segalanya dari Rengit menyebalkan ini," gumam Bening masih dengan kemarahannya.
"Eh, tunggu!!! Apa kamu bilang, teriakan saya kek raungan singa?! Kurang ajar kamu!!!" Bening memukuli dada bidang Langit yang terekspose.
__ADS_1
"Auh' auh' ... sakit, Mbak!" Pukulan yang dilayangkan Bening cukup kuat, Langit terpaksa mencengkeram pergelangan tangan Bening.
"Lepasin!"
"Kalo saya lepas, Mbak bakal mukulin badan saya lagi."
"Kamu emang pantes dipukuli, kamu mencuri kesempatan 'kan?!" tuduh Bening. Tangannya ingin bergerak memukuli Langit lagi, tetapi cengkeraman Langit tak sedikitpun mengendur.
Duk ....
Terpaksa kaki wanita itu menyepak sesuatu.
"Aaaakkkhh' ... Ya-yang i-ni le-bih dahsyat sakitnya, Mbak!! A-anuku ... A-anuku pasti terkena stroke dadakan!"
"Heh?!"
•
Di ruang makan.
"Astaga, Has. Tadi perempuannya yang teriak. Sekarang ganti lakiknya. Sebenarnya mereka itu ngapain, kok, heboh banget?" ujar Eyang Putri.
Mama Has tertawa sambil mengangkat bahunya. "Has juga gak tau lah, Mah. Tapi mereka masih pengantin baru, wajarlah butuh menyesuaikan diri," balas Mama Has.
"Entahlah, Mah. Kita berdoa aja, moga-moga setelah ini kita dapat kabar baik."
"Aamiin."
•
Kembali ke kamar.
"Rengit?! A-apa itu?!" Seketika perasaan Bening tidak enak. Dia merasa telah menyepak sesuatu ....
"I-itu ... senjata terampuh saya, Mbak. Itu pentol yang paling saya lindungi dalam keadaan apapun. Termasuk ke-originalan-nya. Benar-benar saya lindungi. Tapi dengan dahsyatnya Mbak lumpuhkan dia. Entah masih bisa berdiri atau akan tertidur untuk selamanya," jawab Langit dengan wajah merah masam karena menahan rasa sakit.
Bening terkejut. Bengong dengan mulut terbuka lebar. "Pe-pentol yang dilindungi?! Aaaakkkkhhh' ...." Bening berteriak, menutup wajah dengan dua telapak tangan. "Akh' Rengit!!!"
Langit menelan ludah. Pagi pertama bangun tidur berada di sisi Bening. Namun pagi yang naas karena telinga dan benda berharganya harus cidera.
Bening menarik tubuhnya menjauh dari Langit. Saat ini kedua pipinya merona malu. Bahkan sangat malu dengan Langit.
"Mbak, kalo pentol saya kena stroke, gimana?" ujar Langit memasang wajah ketar-ketir, namun Bening berbalik memunggungi Langit. Malu rasanya harus menghadap pria itu.
__ADS_1
"Bodo' amat! Itu bukan urusan saya!" jawabnya ketus.
"Eh, jelas urusan Mbak, dong! Mbak istri saya, suatu saat bakal ngelakuin kewajiban suami istri, tapi kalo pentol saya kena stroke, lalu gimana? Mbak, sih, dipegang tangannya malah ganti ngeluarin jurus sepak menyepak. Gini 'kan, lumpuh seketika."
"Lagian, itu tadi kenapa gede gitu! Kalo masih kecil mungkin gak kena intinya!" kilah Bening.
"Itu artinya saya pria normal, Mbak. Pentol saya bisa berkembang pas deket sama mangkuknya."
"Akh, Rengit! Ya ampun, kamu ngomong apa sih?!" Bening menggeleng-gekengkan kepala. Rasa malu telah memenuhi kuadrat maksimal. "Otak kamu mesum banget! Hih, jangan bahas ini! Geli tau!"
"Geli lagi kalo udah saling nempel."
"Akh' ... ngomong sama kamu ngeselin!" Bening bangkit dan segera berlalu ke kamar mandi.
Brak ....
Suara pintu yang ditutup dengan kasar. Apa reaksi Langit? Tentu saja terbahak-bahak.
Walau kejadiannya mungkin tidak menggenakan harus menahan sakit, tetapi sangat menyenangkan bisa menggoda wanita galak itu.
Keluar dari kamar mandi pun Bening pura-pura amnesia. Tidak mengingat dan membahas kejadian tadi. Rasa malu belum juga hilang, bahkan bertambah saat Langit menatap dirinya.
"Apa! Mandi sana!" titahnya.
"Masih sakit, Mbak. Susah mau jalan," bohong Langit.
Bening melirik, ingin tahu ekspresi wajah Langit benar kesakitan atau hanya pura-pura.
"Yakin masih sakit?!" Bening mengacungkan kemoceng ke arah Langit. Membuat pria itu berjingkat dan berlari masuk kamar mandi. Jangan lupakan suara tawanya yang memenuhi ruangan kamar.
"Huh ... dasar Rengit!!!"
•
Sarapan pagi.
Seperti semalam, pagi ini Bening kembali diingatkan untuk melayani Langit. Dan tak ada pilihan selain mengerjakan sesuai titah mamanya.
"Ekhem ... kalian ini pengantin baru demennya teriak-teriak terus. Untung gak ada keluarga lain yang nginap di sini, bisa jadi goncang ganjingan mereka lho," seloroh Mama Has.
"Mama gak tau aja gimana ngeselinnya suami Bening. Eh, si Langit, maksudnya," ralat Bening.
"Itu panggilan buat suamimu udah bener, kenapa malah dirubah lagi!"
__ADS_1