
Tiga hari Bening berbaring di atas brankar rumah sakit tanpa melakukan kegiatan apapun. Dia harus benar-benar bed rest satu minggu, itupun tergantung kesehatannya. Jika belum pulih, dia masih harus istirahat penuh tanpa waktu yang bisa ditentukan.
Akhir ini mulut Bening sering bungkam, dia tidak suka banyak bicara. Namun, setiap kali hanya air mata yang menggambarkan suasananya. Perempuan yan terlihat pucat itu banyak melamun.
Pagi ini Bening diam dengan pandangan melihat keluar jendela. Lingkar mata menghitam dengan bibir pucat tanpa olesan lipstik seperti biasanya. Kondisi Bening memang sudah tidak histeris seperti waktu pertama dibawa rumah sakit, namun kondisinya memprihatinkan.
Selama tiga hari itu pun Langit tak menemui Bening secara langsung, pria itu tetap menunggui di depan pintu.
Mama Has dan Eyang Putri bingung dengan keadaan Langit dan Bening, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Membiarkan Bening pulih terlebih dahulu.
Berapa saat lalu setelah memakan tiga sendok bubur ayam, Bening meminta waktu untuk sendiri. Ia tak mau diganggu siapapun. Mama Has enggan meninggalkan Bening, tapi ketika Bening mulai marah, maka perempuan paruh baya itu terpaksa keluar dari kamar rawat Bening.
"Lang."
"Ma, Mbak Bening mau makan?"
"Cuma tiga sendok saja, tapi setidaknya ada makanan yang masuk ke dalam perutnya."
Langit mengangguk. Dia berjalan ke pintu dan mengintip Bening sedang melakukan apa. Ternyata istrinya sedang melamun. Ingin. Ingin sekali Langit menghampiri dan memeluk tubuh Bening, tetapi keinginan itu hanya sebuah harapan yang saat ini tak mungkin terlaksana. Ia berpasrah menunggu Bening siap beradu pandang dengannya.
Mama Has sangat kasihan dengan menantunya, tapi ia tak kuasa berbuat apapun. Hanya bisa terus berdoa semoga hati Bening kembali melunak dan mereka bisa bersama seperti hari-hari sebelumnya.
Tanpa sadar tangan Bening terangkat dan mengusap perutnya yang masih datar. Setetes demi tetes berhasil membasahi kedua pipinya. Saat ini pikirannya terlalu keruh, buntu, tidak bisa memikirkan hal positif. Dia takut, dia belum bisa menerima kehadiran makhluk kecil itu. Katakan dia jahat, dia tidak peduli. Karena hanya dia yang tahu seperti apa inginnya.
"Tuhan, kenapa dia harus hadir sekarang? Kau tau pasti aku belum menginginkannya. Kenapa harus sekarang? Kenapa bukan nanti saja ketika aku sudah siap?" Bening kembali terisak.
"Apa aku bersalah? Apa aku berdosa tidak menginginkan bayi ini? Apa aku salah jika menggugurkan bayi ini? Ini bukan mauku."
__ADS_1
Tok ... tok ....
Daun pintu terbuka, ternyata waktunya dokter untuk memeriksa keadaan Bening.
Bening yang tadi terisak segera mungkin meredam tangisan. Dia menyeka pipinya yang basah.
"Selamat pagi, Nona Bening," sapa dokter wanita dengan lembut. Bening hanya diam.
"Buat calon ibu, saya periksa dulu tekanan darahnya, ya."
"Saya tidak mau menjadi calon ibu!" sentak Bening.
"Oh, maaf. Maksud saya, Nona Bening."
"Dok, cepat keluarkan bayi ini. Saya tidak mau!" pekik Bening dengan menahan isak.
Dokter dan perawat saling pandang. Lalu beralih pada Bening lagi.
"Saya tidak tahu permasalahan Anda tidak mau mengandung janin itu. Tapi pikirkan lagi, bahwa menggugurkan janin itu sangat berdosa. Allah akan melaknat dan tidak akan mengampuni orang berbuat zalim. Saya tahu Anda wanita baik, pikirkan semuanya sebelum Allah mencabut nikmat yang telah diberi."
"Maafkan saya telah lancang banyak berbicara. Tapi saya hanya melakukan sebisa saya untuk melindungi hak janin yang harus diperjuangkan."
"Anda punya suami, pikirkan suami Anda juga. Apa Beliau tidak sedih mengetahui Anda ingin menggugurkan buah cinta kalian."
"Dan perlu Anda ketahui, menggugurkan janin lebih sakit dan lebih berbahaya resikonya daripada melahirkan bayi tepat pada waktunya. Banyak calon ibu yang tidak selamat karena tindakan aborsi."
Bening bergeming mendengar semua kata demi kata yang diucapkan dokter itu. Tak ada niat untuk membalas ucapan. Entah apa yang kini dipikirkan oleh perempuan itu.
__ADS_1
Dokter dan perawat meninggalkan Bening yang masih saja diam.
"Suster Ani, apa perkataan saya terlalu berlebihan?" Dokter tadi bertanya pada perawat yang juga ikut masuk ke ruangan Bening.
"Tidak, Dok. Perkataan Anda semuanya benar. Mudah-mudahan setelah ini Nona Bening bisa menerima calon anaknya."
Beberapa saat setelah dokter pergi, Mama Has beranjak masuk ke ruangan Bening. Dia selalu disuguhkan keadaan anaknya yang terpuruk.
"Ma," panggil Bening lirih.
Mama Has berjalan mendekat dan memeluk Bening. "Sudah sayang. Jangan seperti ini, keadaanmu buat Mama sedih, Dek." Dia ikut terisak.
"Ma, Be salah ya kalau mau gugurkan bayi ini?"
Mama Has melonggarkan pelukan. "Sangat. Bukan hanya salah, tapi kamu akan berdosa dan menyesal seumur hidupmu, sayang."
"Tapi Be gak mau, Ma. Be gak mau anak ini."
"Hei, apa yang buat kamu gak mau terima dia? Kamu tidak akan merawatnya seorang diri, ada Mama. Mama akan merawat anak kamu sampai dia dewasa. Ada Langit, dia akan menyayangi bayi ini sampai kapanpun."
"Adek, apa yang kamu khawatirkan? Mendapat amanah mengandung seorang bayi itu anugrah terbesar, sayang. Kamu akan merasakan itu saat bayi dalam kandunganmu bisa bergerak. Hanya wanita pilihan Tuhan yang diberi amanah menjadi seorang ibu. Dan kamu juga salah satu pilihan-Nya. Bersyukur, sayang. Bersyukurlah bisa mengandung makhluk kecil itu."
"Kamu tau, sayang. Bukan hanya itu saja keberuntungan yang kamu miliki. Kamu sangat beruntung memiliki suami sebaik dan sesabar Langit. Dia tetap menemanimu meski kamu telah membuatnya kecewa."
"Langit kecewa, Ma?"
"Tentu saja, sayang. Dia bukan hanya kecewa, dia sakit, dia marah dan dia menyalahkan dirinya sendiri. Mama sangat prihatin melihatnya. Padahal itu bukan kesalahannya."
__ADS_1
Bening menunduk. Bukan dia tak tahu jika Langit selalu menungguinya di depan pintu. Dia juga tahu setiap malam Langit masuk hanya untuk meminta maaf dan mengusap perutnya. Dia rindu, tapi pikirannya masih saja keruh.
"Dek, sebaik dan sesabarnya seseorang, dia punya batas kesabaran. Pikirkan dengan baik, bukan hanya tentang dirimu. Pikirkan juga resiko seperti apa yang akan kamu dapat jika Langit sudah berubah. Mama tidak memaksa, jika kamu mencintai suamimu. Maka pertahankan bayimu, karena itu salah satu bukti cintamu pada Langit. Kamu tidak mau, kan, kehilangan dia? Coba pelan-pelan kamu terima bayi itu, kamu akan merasakan ikatan batin antara ibu dan anak. Setelah itu, kamu akan menyayangi bayimu."