Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Rapuh saat sedang sendirian


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Langit diam membisu. Pria itu berhenti sejenak di taman kota. Sebagian sudut taman kota masih ada beberapa kumpulan para remaja pria yang nongkrong di tengah malam. Mereka tampak bersenang-senang dengan suara gitar dan nyanyian serentak mereka. Meski suaranya tidak merdu, mereka tampak bahagia bersama teman yang lain. Yang penting kebersamaan dan kesenangannya, mungkin begitu menurut mereka.


Langit tersenyum kecut, saat teringat akan masa remajanya yang bahkan tidak pernah merasai kesenangan seperti mereka. Hidupnya terlalu mengenaskan hanya demi berjuang melawan rapuhnya hati.


Manik Langit memandangi sekitar, setelah tadi mengingat masa remajanya yang tidak perlu di ingat. Kini pria yang tengah sendu dengan perasaannya sendiri, kembali teringat tentang kejadian beberapa jam lalu.


Bertanya-tanya, apakah tindakannya tadi sudah benar atau justru salah besar. Dia mengakui status diri hanya sebagai penjaga rumah Bening, bukan sebagai seorang suami.


"Saya penjaga rumah Mbak Bening. Di suruh nyari Mbak Bening karna udah malem belum pulang."


"Oh, cuma penjaga rumah." Terlihat pria yang bersama Bening di dalam cafe tadi mencibir. Pandangannya pun seolah merendahkan penampilan Langit.


"Rengit!" Raut wajah Bening menunjukan tidak setuju dengan jawaban Langit. Tapi Langit memberi kode mengangguk pelan.


"Be, kamu mau pulang. Kamu nggak bawa mobil, kan? Ayo, aku antar." Pria tersebut menawari Bening tumpangan.


Bening dan Langit saling pandang. Keduanya memiliki banyak pertanyaan tapi keadaan sekitar tak membuat keduanya leluasa saling berbicara.


Melihat Bening diam saja, pria tersebut kembali mengajak Bening. "Be! Ayo, aku antar. Sudah lama aku nggak anter kamu pulang."


Kali ini tatapan Langit terarah pada pria tersebut. Ternyata benar dugaannya bahwa Bening sudah mengenal pria itu. Dan, entah se-akrab apa hubungan keduanya.


"Iya, Mbak. Mbak pulang bareng temen mbak aja. Tugas saya cuma disuruh nyari Mbak. Dah ketemu, dan baik-baik aja. Berati tugas saya udah selesai."


"Enggak! Saya pulang bareng kamu aja!" sahut Bening.


"Be, yang bener aja. Masa kamu pulang naik motor! Kamu nggak malu semisal ada temen atau rekan bisnis yang liat kamu boncengan motor. Apalagi bocengan sama penjaga rumahmu sendiri?! Ha ha ... come on, Bening Agistasari. Hidupmu bagaikan ratu. Aku tau dari kamu lahir sampai sekarang belum pernah kamu naik motor!" Pria itu menyela dan tidak percaya saat Bening ingin pulang bersama penjaga rumahnya sendiri. Dia berpikir, itu tindakan konyol, karena dia tahu Bening seperti apa. Tidak mungkin menurunkan image-nya yang tinggi.


"Diam kamu, Bram!"


Oh, pria ini yang bernama Bram. Pria yang sering disebut istrinya dalam alam bawah sadarnya. Langit tersenyum masam. Hati yang sempit itu kian menyesak lagi.

__ADS_1


"Mbak pulang bareng Mas ini aja. Kalo bonceng saya takutnya masuk angin. Saya juga harus pulang ke rumah."


Langit tidak menunggu Bening bergerak, dia lebih dulu meninggalkan parkiran dan sama sekali tidak menoleh lagi ke belakang. Membiarkan istrinya bersama orang lain. Membiarkan istrinya pulang di antar pria lain.


Di taman kota Langit menunduk. Sepuluh jarinya memainkan kunci motor dengan membolak-balikan kunci tersebut hingga puluhan kali. Pria itu sedang dilanda perasaan yang luar biasa.


Seorang pria akan menegarkan hati di depan banyak orang, tapi ada kalanya merasa rapuh saat sedang sendirian.


Mata sendunya mengembun. Dada terasa terhimpit dan menyesakan. Bibir membisu namun hati bergemuruh melayangkan banyak pertanyaan untuk Tuhan-nya.



Lelah menunggu putrinya datang, Mama Has sampai ketiduran di sofa ruang depan.


Bening yang baru memasuki rumah segera membangunkannya.


"Syukur alhamdulillah, Adek udah pulang. Mama tadi khawatir banget sama kamu sampek jam segini belum pulang. Ohya, Langit mana?"


"Eum ... dia ...." Bening bingung untuk menjawab. Harus jujur atau berbohong. Dia mengira pria yang menjadi suaminya itu sudah sampai lebih dulu.


"Eum, dia ijin ke rumah Mamak dulu. Katanya ada yang ketinggalan," bohong Bening.


Mama Has mengangguk. Dia tidak tahu apa-apa dan percaya begitu saja ketika Bening menjawab demikian.


"Mama pindah ke kamar aja. Kayaknya udah ngantuk banget. Bening mau bersih-bersih dulu."


"Iya, tumben malam ini mata mama lengket banget. Nanti kalau kamu mau makan minta siapin sama Bibik, ya. Langit juga kalau udah pulang di tawarin makan atau buatkan minuman. Kasihan dia pasti capek muter-muter nyariin kamu tadi."


Mama Has dan Bening menuju ke kamar masing-masing. Pikiran Bening sedikit kacau memikirkan Langit. Saat membuka pintu tidak menemukan siapapun. Dia mengembus napas panjang, berharap kebohongannya tadi tidak nyata dan dia mendapati Langit sudah duduk di sofa atau rebahan di atas ranjangnya.


Tapi, kebohongan yang diucap tadi justru benar. Langit tidak pulang ke rumahnya. Hampa dan kosong. Dia mengobrak-abrik isi tas, segera mengisi daya baterai ponsel. Dia butuh ponsel pintar itu untuk menghubungi Langit. Ingin tahu suaminya itu sedang di mana.

__ADS_1


Ponsel belum juga menyala, Bening memutuskan membersihkan diri lebih dulu.



"Mak, Langit pulang!"


Brak ... braaakkk ....


"Sebentar, Lang!" Mamak tergopoh-gopoh membuka pintu. "Kenapa jam segini udah pulang? Kamu pulangnya kepagian!" seru Mamak.


"Tadi perginya kecepetan, Lang lupa kalo ada sesuatu yang mau dikerjakan."


"Belum selesai?" tanya Mamak.


Langit menggeleng. "Belum, Mak. Kalo gak di pantau bakal makin rumit. Langit belum tau caranya buat datang ... mudah-mudahan cepet sembuh."


Mamak mengelus punggung Langit. Setetes air mata lolos membasahi pipi keriput Mamak. "Kamu anak baik, Lang. Mamak seneng kamu masih peduli dan mau mendoakan ...."


"Lang gak peduli, Mak! Seperti dia yang gak peduli sama Langit." Sisa kesedihan masih dibawa pulang oleh Langit. Pria itu mengedip-ngedipkan mata ke atas, menyembunyikan cairan yang kembali mengembun. Dia tidak mungkin meneteskan air mata di depan Mamak.


"Mamak istirahat lagi. Maaf, Lang ganggu tidur Mamak."


"Kamu juga tidur. Nggak perlu ngoyo melihat semua perkembangannya. Inget, Lang, kita juga punya Tuhan, Dia akan membantu memecahkan segala masalahmu."


Langit mengangguk dan menyusut sudut matanya. Kalimat sederhana dari Mamak sedikit membuatnya nyaman.



Matahari masih malu-malu menampakan diri. Namun pria berpakaian rapi dengan kemeja hitam dan celana levis hitam itu sudah berdiri gagah di salah satu area umum. Wajah sendu tak menghilangkan ketampanannya, masih terlihat teduh dengan songkok hitam yang menutup sebagian rambutnya.


Baru ini air matanya benar-benar lolos. Dia meletakkan bunga mawar putih di atas gundukan tanah yang sebagian ditumbuhi rumput liar.

__ADS_1


Dia pandangi papan nisan dengan ukiran nama wanita yang paling dia sayangi. Setiap kali menginjakan kaki di makam itu, dia selalu terisak. Teringat kembali bagaimana wanita itu pergi untuk selamanya.


Ponsel yang sejak semalam tidak aktif, baru dia aktifkan beberapa menit lalu saat turun dari motor dan menuju pemakaman umum. Ada beberapa kali panggilan masuk dari nomor 'Mbak Bening' tapi masih enggan untuk menjawab.


__ADS_2