Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Nelen bakso bulat-bulat


__ADS_3

"Ah kelamaan! Hayuk, ah!" Langit menarik selimut sampai menutupi tubuh mereka. Seujung pun tidak ada yang terlihat.


"Ehem ... Mbak ...," bisik Langit sangat lirih di dekat daun telinga Bening. Perempuan yang tengah menahan degup jantungnya itu merinding dibarengi gelenyar aneh saat Langit menggesekkan bibirnya yang terasa lembut namun menggelikan.


"Embak cantik banget, malam ini. Embak harum. Bibir Embak manis," rayunya. Sumpah. Jantung Bening benar-benar berdentam-dentam tidak karuan. Perasaannya membuncah bahagia sekaligus malu.


Tangan Langit bertumpu untuk menyangga badan. Tangan sebelah digunakan menggerayangi tubuh Bening dari leher ke bawah. Mencoba membangkitkan gelora panas.


"Rengit, geli," ujar Bening menggeliat tidak jelas.


"Tahan Mbak. Gelinya cuma sebentar, nikmatnya berkepanjangan," balas Langit yang justru semakin menggelikan saat di dengar.


"Emang kamu udah pernah?" jawab Langit cepat.


"Belum?! Terus kayak mana kamu tau nikmatnya berkepanjangan. Jangan bilang dari Mamak!" pungkas Bening.


"Ya gaklah!" sewot Langit. "Ya anggap aja gitu. Kata orang belah duren emang gitu, Mbak."


"Embak ...." Langit kembali memanggil setelah beberapa detik mereka terdiam.


"Em ...."


"Mau diajarin bikin a'co, gak?"


"Udah pernah," jawab Bening malu-malu.


"Praktekin dong!" pinta Langit gemas.


"Dielus-eluskan? Terus digenggam agak kuat," kata Bening.


"Iyes, betul." Langit sangat antusias.


"Ah, malu!" Bening menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Kan udah ditutupin, Mbak. Gak sah malu. Cuma kita ini. Mata saya ketutup, gak bakal tau!" Langit menggenggam telapak tangan Bening, perlahan menuntun untuk menyentuh sesuatu.


"Aa'!!!"


"Sssstttt ... jangan teriak-teriak Mbak! Ntar kedengeran Mama. Astaga ...!"


"Rengit! Gak mau gak mau!" Bening menggeleng dan menutup wajahnya.


"Dosa gak sih gue paksa istri gue! Lama amat pemanasan doang!" omel Langit. Dia membuka selimut yang menutupi badan.


"Eh, kenapa dibuka?" bingung Bening.


"Embak bikin bangun, tapi bikin lemes lagi. Dah keringat gini gak jadi-jadi," sungutnya.


Bening menatap Langit. "Hem, baiklah. Kali ini kita lakukan yang beneran."


"Serius?!"


"Duarius!"


"Oke, cantik. Kita mulai lagi." Rasa kesal sudah berganti senang. Mereka kembali bergumul di dalam selimut. Keringat mulai membanjiri tubuh mereka. Dan ....


Bening membuka selimut.


"Embak ... saya udah setengah terbuka. Udah merem, kenapa selimutnya dibuka?"

__ADS_1


"Tunggu!!! I-ini tanggal 10?"


"Begituan gak usah inget-inget tanggal. Langsung gaspol, belum tentu langsung jadi."


"Hiisss, bukan itu. Kamu tau wanita itu dalam sebulan ada masa itu ...." Bening tidak melanjutkan kalimatnya. Lebih tepatnya dia tidak tega.


Pria yang telah melepas bajunya itu langsung bangkit dengan gerakan cepat. "Jangan bilang kalo Embak lagi! Lagi dipalang!"


"Biasanya tanggal segitu, anu saya kedatangan tamu," ucap Bening tak enak hati.


Pluk ....


Langit menjatuhkan kepalanya di sandaran ranjang. Wajah pria itu benar-benar frustasi. Jika tidak malu, mungkin saat ini akan menangis kencang. Tapi, sesaat kemudian dia duduk tegap. "Jangan-jangan Mbak cuma bohongi saya!" selidiknya tidak percaya.


Bening berubah garang. "Saya gak bohong! Daripada punyamu masuk bukan dapet mayones malah dapet saos merah. Mau?!"


Langit melemas lagi. "Diundur besok pagi bisa gak Mbak? Setidaknya malam ini pentol a'co saya bisa belah duren. Kan dia udah semangat 45 masak loyo lagi. Gak kasihan!"


Buk ....


Bening memukul lengan kokoh Langit. "Mana bisa! Kamu aneh-aneh aja!"


"Saya ngerasa gak nyaman. Asli, tamu bulanan pasti dateng," ujar Bening.


"Saya kudu puasa lagi, dah!" Langit frustasi dengan menendang-nendang selimut. Beberapa saat kemudian. 'Aaahaaa'


Pria itu menoleh cepat ke arah Bening. Wajah frustasinya telah menghilang berubah kesenangan. "Gak ada akar, rotan pun jadi. Gak pakek jalur utama, jalur kedua pun jadi!!!" ujarnya menyengir lebar.


"Apa maksud kamu?!"


Langit memegang tengkuk leher Bening. Berbisik pelan.


"Reeeeeeeeennnnnngggggiiiiiiitttttttt!!!!!!"



Pagi hari.


Setengah enam pagi tubuh Bening menggeliat. Tangannya meraba-raba sesuatu halus dan hangat. Saat mengintip, ternyata da da bidang Langit. Matanya kembali terpejam namun bibirnya menyunggingkan senyum.


Rutinitas pagi.


"Embak! Bibirnya udah bagus pakek warna pink aja. Natural."


"Enggak. Saya suka warna peach."


"Peacis itu jelek. Pucat."


"Peacis peacis! Peach bukan peacis!" Bening membenarkan.


"Aah, ya, itulah."


"Rambutnya gak usah digelung-gelung, malah kek punya Mamak. Saingan pula malahan sama Mamak. Di rumbai aja biar keliatan lebih muda." Langit tak henti mengomentari dandan Bening.


Bening mengembus napas panjang.



"Pagi, Ma."

__ADS_1


"Pagi, Mama." Bening dan Langit menyapa bersamaan.


"Pagi juga, Lang. Pagi juga, Dek." Mama Has tersenyum.


"Paginya pengantin baru kok lemes gitu? Harusnya semangat dong!"


"Gimana mau semangat, Ma. Kita belum jadi pengantin baru," jawab Langit.


"Kenapa?" tanya Mama Has bingung.


"Mbak Bening lagi enggak produksi mayones, tapi saus sambal."


Jawaban Langit menambah kebingungan Mama Has.


"Gimana maksud kamu?" tanya Mama Has.


Langit menggaruk kulit kepala pinggir pelipis. Bagaimana dia akan menjelaskan. "Ya itu. Kita belum jadi pengantin baruan. Kita udah baikan, tapi belum bisa bobol gawang!"


Duk ....


"Au' au' ...."


Bening menginjak kaki Langit. Pria itu mengaduh kesakitan.


Sekuat tenaga Mama Has menahan tawa. Sekarang dia tahu yang dimaksud Langit. Tidak ingin memperpanjang, Mama Has tidak membahas lagi.


"Apa sih, malu, tau!" Bening mencubit.


"Ya tapikan emang bener kan!"


"Ya gak dijelasin juga kaleee! Walau belum jadi, tapi kamu udah merem melek. Semalem maksa buat nelen bakso bulat-bulat!" Gigi Bening bergemeluk mengingat kejadian semalam, pria itu telah memaksanya mengulum sesuatu.


Langit menyengir. "Mbak bakal makan bakso bulat-bulat setiap malem sebelum saus sambalnya ilang!"


"Apa?!!!" Bola mata Bening melotot sempurna.


"Kalian ini," Mama Has menyela. "Oh,ya. Adek, coba kamu konsultasi sama Dodi. Bisa gak buat libur satu minggu."


"Libur satu minggu? Memang ada apa, Ma?"


Mama Has tersenyum. "Mama udah pesenin tiket honeymoon kalian selama satu minggu pergi ke Pulau Raja Ampat."


Bening dan Langit saling pandang.


"Sepertinya itu gak perlu, Ma. Nanti Langit cari tiket sendiri buat kita bulan madu," tolak Langit.


Bening melirik lewat ujung matanya, tapi tak ikut berkomentar.


"Lang, Mama gak ada maksud apa-apa. Anggap ini sebagai hadiah pernikahan kalian. Mama sudah merencanakan ini sebelumnya, tapi melihat kalian belum akur. Makanya kemarin masih Mama tunda."


"Jangan merasa bagaimana. Dan tolong diterima ya. Mama juga pengen cepet dapet cucu dari pernikahan kalian."


Bening yang sedang minum sampai tersedak. Langit menyodorkan air putih.


"Baiklah, Ma. Saya gak nolak karna Langit menghargai Mama. Sebelumnya terima kasih," ucap Langit.


Mama Has mengangguk dan tersenyum senang. "Sekarang tinggal kamu, Dek. Atur jadwal cutimu," ujar Mama Has.


"Coba nanti Adek diskusi sama Sarah dan Dodi," balas Bening.

__ADS_1


__ADS_2