Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Lima Bulan


__ADS_3

Waktu tak pernah berhenti; detik, menit, jam, hari dan bulan terus berganti, menyisakan kenangan yang tersimpan dalam memori.


4 bulan telah berlalu. Suka cita terlewati penuh kesabaran dan juga perjuangan. Rumah tangga mereka dimulai dengan kegiatan baru. Paling sering di lakukan ialah berbincang sambil mengelus perut Bening yang mulai membuncit.


Menginjak usia kehamilan lima bulan, tubuh Bening mulai berisi dengan bagian perut membesar. Setiap mematut diri di depan kaca, wanita itu akan mengomel dan mengerucutkan bibir.


"Astaga ... gendut banget?"


"Aku jadi jelek? hiks ... hiks ...."


"Kenapa gak perutmu aja, sih, yang gede'!"


'Siapa yang hamil coba? Masa suaminya yang purutnya gede'. Langit membatin dengan kekehan kecil.


"Semua baju gak muat! Tiap hari pakek daster mulu."


"Besok beli baju baru kalo yang lama dah gak muat." Seperti itulah Langit, selalu menanggapi gerutuan sang istri dengan kesabaran.


"Malu mau ke mall."


"Biar aku aja yang beliin."


"Kamu mana bisa milih."


Langit mengembus napas panjang. Bagaimana pun beradu perkataan, tetap Bening yang selalu menang. "Terus gimana?"


"Tau!" Bening kepalang enteng dengan mengangkat bahu, lalu bersedekap.


"Kenapa hamil harus selama itu?! Sekarang 4 bulan 2 minggu, masih kurang 4 bulan lebih. Hu hu .... Lama beut!"


Mendengar gerutuan Bening bisa satu jam lebih, terkadang masuk dari telinga kanan dan keluar dari kiri. Jika di tanggapi, hanya berujung perdebatan sia-sia yang membuat Bening bisa ngambek seharian penuh. 'Menghadapi sikap bumil emang harus extra sabar.'


"Aaakh!" Tiba-tiba Bening memekik terkejut dengan bola mata melebar sempurna. Wanita itu mematung di depan cermin membuat Langit hampir terserang jantungan.


"Kenapa, Be?" Gerakan cepat dia menghampiri istrinya dan memegang kedua bahu Bening. Fokus pandangan mengarah pada perut wanita di depannya. Khawatir jika terjadi sesuatu.


"Jangan bikin aku khawatir!" runtut Langit menggoyang pelan bahu istrinya.


"Ternyata benar," ucap Bening masih dengan wajah terkejutnya.


"Benar apa?!"


"Ba-bayi di dalam perut itu bisa bergerak. Ta-tadi aku ngerasain." Kedua mata Bening berkaca-kaca.

__ADS_1


"Yakin?" Langit ikut terkejut. Segera mungkin menempelkan telapak tangan di perut Bening. "Gak ada. Sama sekali gak gerak," ujar Langit tidak percaya. Pasalnya saat telapak tangan menempel, dia tak merasakan apapun.


"Bener. Tadi dia gerak. Kuat banget kok." Bening hampir menangis.


"Be, nangis? Apa gerakannya menyakitimu?" Langit tak bisa menyimpulkan ekspresi Bening yang hampir menangis karena gerakan calon anaknya menyakiti atau karena perasaan haru.


Tangan Langit mengusap-usap lembut. Pada saat itu bayi dalam perut Bening kembali bergerak, membuat sang calon ayah itu ikut terkejut dan melebarkan bola mata.


"Be, dia beneran gerak. Di-a, menendang tanganku," kata Langit dengan wajah tertegun.


"Iya. Aku juga ngerasain."


Seketika bibir mereka merekahkan senyuman. Langit mencium kening Bening dan langsung berjongkok. "Kamu udah bisa gerak, ya, Nak? Ayah seneng banget bisa merasakan tendanganmu." Pria dengan bola mata berkaca-kaca itu menciumi perut sang istri. Rasa bahagianya sampai tak mampu diungkap lewat kata-kata. Ungkapan rasa syukur terus terucap dalam hatinya.


"Kalo dia udah remaja. Apa kamu masih seneng di tendang sama dia?"


"Heh?"


Bening terkekeh. "Ada gitu orang tua seneng banget pas di tendang anaknya? Kalo masih di perut, oke aja. Nah, kalo udah remaja. Apa gak langsung masuk UGD pas kena tendangannya."


"Kamu aneh aja. Ya, aku cuma nunjukin ke dia kalo ayahnya seneng banget pas dia udah bisa gerak di dalam perutmu. Kata dokter, berati dia berkembang baik dan sehat."


"Kalo ngomong itu yang spesifik."


Bening kembali terkekeh. Mungkin di awal kehamilan dia sangat berdosa tidak menginginkan bayinya. Sempat terbesit ingin menggugurkan darah dagingnya sendiri, tetapi berlalunya waktu dia mulai menyayangi keberadaan calon anaknya. Tentu saja berkat kesabaran dan ultimatum dari suaminya yang tak henti memberi kalimat pembelajaran dan penyemangat.


Walau dia sendiri menyadari belum seratus persen berubah, setidaknya Langit masih tetap bersikap sama, menjadi suami siaga yang selalu menemaninya setiap saat. Memberi dukungan fisik dan mental.


Beruntung sekali dia memiliki suami sebaik Langit. Rela melakukan apapun demi dirinya, melakukan segala cara agar dia selalu bahagia. Tak pernah marah dan emosi saat di maki dan di tuntut ini dan itu. Terkadang dia sendiri bingung, terbuat dari apa hati suaminya itu sampai memiliki kesabaran luar biasa.


Setiap saat tak pernah lupa mengingatkannya untuk minum vitamin, mengambilkan makanan dan menyuapi. Setiap malam tak pernah absen mengelus dan mengajak bicara calon anaknya. Sungguh, pemikiran pria itu lebih dewasa dari umurnya.


"Be," panggil Langit.


"Hem?" Bening tersadar dari lamunan.


"I love you."


Bening tersenyum lebar, hampir setiap saat dia mendengar tiga kata penuh makna itu, tapi dia tak pernah bosan. Wajahnya selalu berseri-seri.


"Too."


~

__ADS_1


"Jadi ikut?"


"Hem. Aku penasaran. Setiap akhir bulan kamu rajin pergi ke pemakaman umum. Emang itu makam siapa?" Wanita mengenakan daster bunga-bunga itu bersandar di pilar teras rumah, sedangkan Langit asik menggosok body motor dengan cair sabun.


"Itu makam wanita yang paling aku cintai."


Deg ....


Wanita berperut buncit itu membatu. Bola mata seketika memanas dengan detak jantung mulai berdetak kencang.


Tak mendengar sahutan lagi, Langit menoleh pada sang istri yang masih mematung. "Enggak, Be. Hei, suamimu ini cuma becanda. Astaga ... istriku sampai menangis." Langit terkesiap dan langsung menghampiri istrinya. Mencium pipi Bening.


"Kamu jahat! Ngapain jawab kek gitu! Kamu mau aku lahiran sekarang!" Tangannya memukul dengan membabi buta.


"Enggak-enggak. Niatnya cuma becanda. Besok aku ajak kesana biar kamu tau. Dia emang wanita yang aku cintai."


"Jangan-jangan aku dulu nikahin duda! Bukan bujang! Iya?!"


Langit terbahak.


"Enggak. Aku bujang ting-ting. Waktu pertama nganu sama kamu masih ada segel perjaka. Serius."


"Ish, malah bahas perjaka segala! Jelasin! Makam siapa itu!"


"Lang, Nak Bening, ayo, sarapan dulu." Kedatangan Mamak menghentikan perbincangan mereka.


"Iya, Mak." Langit beranjak ingin menyelesaikan aktivitasnya mencuci motor, tapi kaus belakangnya ada yang menarik.


"Jelasin dulu!" sungut Bening.


"Iya, nanti Abang jelasin."


"Abang-Abang! Abang apaan!"


"Liat itu motornya belum selesai dimandiin, sabun pada jalan kemana-mana. Nanti di jelasin."


"Janji!"


"Iya, Ayang."


Bening mengacung kepalan tangan di depan Langit. Pria itu justru terbahak. Sesaat kemudian Bening masuk ke dalam rumah.


Ya, sampai saat ini Langit belum mengenalkan siapa wanita paling berpengaruh dan paling di sayangi sampai akhir hidupnya. Berapa bulan terakhir terlalu fokus pada aksi ngidam Bening sampai dia lupa akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2