
"Be, tunggu!" Langit mencekal tangan Bening. Dia kembali membimbing Bening dalam pelukannya.
"Kamu jahat, Bang." Bening terisak. "Kebenaran macam apa ini?! Kenapa kamu gak pernah cerita ini!"
"Aku gak cerita karna aku sendiri tidak yakin dengan jalan hidupku."
"Kamu gak adil menyembunyikan semua ini. Saat ini aku merasa jadi istri paling kejam. Aku selalu merendahkanmu tapi kenyataannya kamu jauh di atasku."
Langit melepas pelukannya dan memegang kedua sisi pipi istrinya. Dia menggunakan kedua ibu jari untuk membersihkan sisa air mata itu. "Aku gak pernah memikirkan semua itu. Semua yang udah berlalu biar berlalu. Sekarang, kita jalani yang baru. Semua yang berlalu, tapi enggak buat cintaku. Cintaku tetap di sini untukmu. Semua gak ada yang berubah."
"Setulus itu kamu mencintaiku, Bang?" Bening menatap lekat, mencari jawaban di mata pria teduh itu.
Langit mengangguk penuh. "Cintaku sangat tulus. Aku udah pernah bilang, seburuk apapun perlakuanmu, aku gak bisa membencimu. Sampai kapanpun, aku tetap mencintaimu, Embak Bening Agistasari."
Bening mengembangkan senyum. "Dasar Rengit!" desis Bening yang justru dibalas tawa oleh Langit.
"Hei, apa kalian akan semalaman berdiri di sana?" Suara Edwin menyadarkan jika mereka tengah berpelukan di tengah jalan.
"Astaga ... malu-maluin." Bening menggaruk pelipis. Langit ikut menunduk. Malu tengah terciduk berpelukan.
Langit mengajak Bening untuk kembali ke rumah Mamak. Sampai di sana, Bening tampak enggan dan takut dengan Tuan Bima.
"Kamu yang namanya Bening? Menantuku?" ujar Tuan Bima memulai untuk menyapa.
"I-iya, Om."
"Bukan Om, Be. Panggil dia Papa." Ralat Langit.
"Pa." Bening mengulang memanggil. Tuan Wijaya tersenyum.
Mata Langit mengarah pada Mamak. "Mak, Langit kangen." Pria yang menghilang selama kurang lebih lima bulan itu memeluk tubuh Mamak.
Wanita lanjut usia itu senang hati membalas pelukan Langit. "Mamak juga kangen, Lang. Mamak kira, setelah kamu kembali ke sana, kamu gak akan menemui Mamak lagi," ujar Mamak dengan tangisan.
"Walau Langit pulang ke sana, Langit gak akan lupa dengan Mamak. Lagian, Langit tetap Langit, si penjual bakso di jalan Lobak Kemangi." Selorohan Langit membangkitkan gelak tawa Mamak.
"Kata siapa setelah ini kamu tetap jadi si penjual bakso! Kamu akan menjadi penerus pemimpin Galacy Grup," sahut Tuan Bima.
"Pa, sejujurnya Langit lebih suka menjadi penjual bakso daripada bekerja di kantor," jawab Langit.
__ADS_1
"Kenapa dia suka menjadi penjual bakso, karena dia punya banyak pens, Pa," adu Bening.
Gelak tawa kembali menggelegar di teras rumah Mamak. Rumah sederhana yang ternyata mampu mempertemukan mereka dalam kebahagiaan.
"Tuan, sudah sangat larut. Waktunya Anda harus istirahat," dokter Wiliam yang bertugas mengawasi kondisi Tuan Bima memperingatkan.
"Lang, Papa menginap di hotel, besok pagi akan kembali ke sini dan kita akan mengunjungi makam mamamu juga anakmu," ujar Tuan Bima.
"Baik, Pa."
~
Setelah rombongan itu pergi, Langit mengajak mereka untuk masuk. "Ma ... Mama sehat?" Langit sampai lupa menyapa Mama Has.
Mata Mama Has berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu memeluk Langit. "Ini benar-benar keajaiban, Lang. Mama gak nyangka dengan keadaan ini. Mama senang. Mama bahagia kamu kembali dengan keadaan baik."
"Iya, Ma. Maafin Langit buat semuanya khawatir. Tapi Lang sendiri koma selama empat bulan, jadi gak bisa memberi kabar. Begitu udah operasi mata dan keadaan lekas membaik, Lang langsung pulang ke sini."
"Kamu pulang membawa kejutan luar biasa, Lang. Mama juga gak nyangka, ternyata kamu orang sangat berpengaruh. Kamu keturunan tuan Bima Wijaya. Pasta saja, meski kamu hanya penjual bakso tapi wajahmu berbeda," ujar Mama Has menepuk bahu Langit.
"Tapi, Lang, saat ini profesi penjual bakso itu sudah di gantikan dengan istrimu. Dia giat lho menjadi penjual bakso."
"Yang kaya itu papaku, aku tetap Langit si penjual bakso. Jadi, apa yang bisa dimanfaatin," balas Langit.
"Sudah-sudah! Jauh ditangisi, sudah dekat malah berdebat." Mamak melerai.
~
Langit dan Bening bersamaan memasuki kamar mereka. Pria itu meniti setiap sudut kamarnya, semua tidak ada yang berbeda, masih saja sama.
"Berapa bulan kita kepisah, Be?"
"Udah banyak bulan. Emang kenapa?" Bening melepas kemeja yang dikenakan, kini menyisakan tank top putih yang membungkus tubuhnya.
"Kamu lebih kurus dan hitam."
"Semua ini gara-gara kamu. Gitu malah senyum-senyum ngetawain aku," sungut Bening.
"Kenapa belum berubah? Masih aja suka nyalahin. Padahal kata Mamak kamu udah banyak berubah." Langit beralih duduk di tepi ranjang, dekat dengan Bening.
__ADS_1
"Entahlah, itu bakal kambuh kalo deket sama kamu," Bening bercanda.
"Tapi, Bang. Selama beberapa bulan ini aku sangat berusaha keras menjadi seperti kamu. Aku merasakan begitu beratnya menjadi kamu. Rasanya aku hampir nyerah, Bang. Tapi, kalo aku nyerah, bagaimana nasib Mama dan Mamak. Aku benar-benar ngerasain bagaimana menjalani profesimu yang berat dan melelahkan."
"Semoga istriku ini bisa berubah. Kamu bisa menghargaiku dan waktu." Langit menggenggam tangan istrinya yang juga dibalas oleh Bening. "Insyaallah, aku sudah berubah, Bang. Semua kejadian, perjuangan dan pengorbananmu memberikanku banyak pelajaran."
Langit tersenyum bahagia, begitu juga dengan Bening.
"Be."
"Hem."
"Kamu gak kangen sesuatu?"
"Sesuatu, apa Bang?"
"Sesuatu ... nganu."
"Nganu apa, sih?"
"Sesuatu itu lho yang bikin merem melek. Kamu udah jadi penjual bakso beneran, pasti sekarang lebih handal megang a'co nganu!"
Buk ....
Bening memukul lengan suaminya, detik berikutnya wanita itu tersipu. "Abang apaan, sih."
"Lima bulan, Be. Gak tahu masih bisa tegak atau enggak," ujar Langit yang membuat Bening kembali tersipu. 'Ah, baru pulang juga udah mesum!'
"Jangan-jangan dia belum sadar dari komanya," Bening menjawab dengan candaan.
"Hus!!! kamu ini ngawur. Enggaklah. Perlu di tes. Ayo, kita coba. Saatnya kita bikin makhluk kecil yang nanti bisa gerak di perutmu."
"Abang, ih, baru juga ketemu, masa udah gitu aja. Liat kondisinya, Bang. Mama tidur diluar, ntar kedengeran."
"Ya, kamu jangan teriaklah biar gak kedengeran."
Bening menghirup udara dan membuangnya panjang. Belum mempersiapkan diri tapi Langit sudah menyerang bibirnya. Dia hanya mampu memejamkan mata untuk merasai kenikmatan dan kebahagiaan itu lagi.
Semoga semua ini menjadi awal yang baik untuk hubungan kedepannya. Dan semoga mereka segera mendapat pengganti malaikat kecil untuk melengkapi kebahagiaan yang ada. Kali ini. Kali ini Bening berjanji akan menerima dan menjaga calon anaknya jika Tuhan kembali memberi takdir dia mengandung.
__ADS_1
'Ya Tuhan, terima kasih telah mengembalikan suamiku. Aku berjanji akan merubah sikap dan menghargai keberadaanya.'