
Tiga jam kemudian, mata Langit mulai bergerak dan mengerjap pelan. Seluruh tubuh terasa kaku dan kebas. Dia begitu kesulitan hanya untuk menggerakkan telapak tangannya. Mata yang sempat terbuka tadi memejam perlahan, lelehan cairan bening membasahi sudut mata dan menetes membasahi pinggiran pelipis. Ingat, beberapa detik kemudian teringat penyebab dia terbaring di ruangan serba putih itu. Dia ingat kemalangan yang terjadi.
"Be." Bibir itu bergetar. Bagiamana keadaan istri dan calon anaknya? Dia tak menghiraukan diri sendiri, kini yang diingat dan dikhawatirkan hanyalah mereka berdua.
Langit ingin berteriak memanggil seseorang agar bisa menanyai keadaan Bening dan calon anaknya, tetapi tak ada satu orang pun yang ada di sana.
Mama Has dan Mamak sedang menunggui bayi yang lahir tanpa nyawa di ruang jenasah. Mereka meminta pada pihak rumah sakit agar menunggu ayah dari calon anak itu siuman dan memperlihatkan bayi itu di depan Langit. Setidaknya pria yang juga terluka parah itu harus melihat calon anaknya sebelum dilakukannya proses pemakaman.
Di ruangan sunyi sepi, Langit hanya diam dengan tangisannya. Hanya bisa menunggu ketika Mamak atau mama mertuanya datang. Dia akan bertanya tentang dua nyawa yang paling dia sayangi. Berharap mereka baik-baik saja.
Pintu ruangan terbuka, satu perawat datang dan mendekat. "Mas Langit sudah sadar?"
"Dimana keluarga saya, Sus?"
"Tunggu sebentar, saya panggilkan mereka." Perawat sudah hampir berbalik, tetapi Langit mencegah dengan suaranya.
"Tunggu, Sus. Gimana keadaan istri dan calon anak saya?"
"Nanti akan dijelaskan. Saya panggilkan mereka dulu." Perawat itu tidak mau menjelaskan membiarkan pihak keluarga saja yang berwenang memberitahu.
Perawat menuju ruang jenazah, memberitahu jika Langit sudah sadar. Mamak bermusyawarah dengan Mama Has dan sepakat untuk langsung membawa bayi itu kepada Langit. Sudah lama mereka menunggu Langit atau Bening siuman, kasihan jika terlalu lama menunggu, bayi tanpa nyawa itu lebih baik segera dimakamkan. Namun, setidaknya salah satu dari mereka harus ada yang melihatnya.
Mamak masuk lebih dulu, sedangkan Mama Has dan yang lain menunggu di depan ruang rawat Langit. Mereka akan masuk jika Mamak sudah mengijinkan. Mamak akan memberitahu pelan-pelan, agar Langit tidak histeris.
"Lang, kamu sudah sadar, Nak?" Bertanya seperti itu mata Mamak sudah berkabut tebal dengan cairan yang akan jatuh di detik berikutnya.
"Mak, gimana istri dan anakku?" Langit bertanya lirih.
Mamak mengelus lengan tangan Langit. Air matanya kini sudah berderai. "Allah, sayang padamu, Lang. Kamu diberi musibah seperti ini lagi. Nak, apapun yang terjadi, semua umur sejatinya hanya milik Allah, maka semua akan kembali pada-Nya, meski tidak tahu kapan waktunya. Kita harus ikhlas ketika Allah mengambil kembali yang menjadi milik-Nya."
__ADS_1
Deg ....
Perkataan Mamak sudah mengiris hati Langit, pria itu menebak hal buruk yang terjadi, detik berikutnya ikut meneteskan air mata.
"Kamu kuat, Lang? Kalau kamu kuat, Mamak akan beritahu keadaan buruk yang harus kita terima."
"Katakan, Mak!" pinta Langit lirih.
"Calon anakmu sudah kembali pada yang Maha Kuasa, Lang."
Deg ... Deg ....
Langit langsung memejamkan mata, bibir pria itu bergetar lalu terdengar isak tangis. Seorang Langit yang selalu mampu menutupi kesedihan, detik ini dia tak mampu lagi untuk bersandiwara. Detik ini pria itu menangis pilu, tergugu dengan kenyataan pahit mendengar calon anaknya telah pergi sebelum dia sempat menggendong dan mendengar suara tangisannya.
Jika selama ini dia mampu menutup kesedihan dengan senyuman, tapi tidak untuk kali ini. Kali ini dia benar-benar sakit seperti yang dialami beberapa tahun lalu ketika ibunya meninggal.
Cacian dari Bening, sikap egois dari istrinya masih bisa di tahan, tetapi untuk kehilangan calon anaknya, dia benar-benar tak mampu untuk menegar.
"Kehidupan hanya Allah yang memiliki, Lang. Tabah dan ikhlaskan, calon anakmu akan tenang meninggalkan kedua orang tuanya."
"Mak ... ini terlalu, sakit. Allah, selalu mengambil yang aku sayangi." Langit berkata dengan memejamkan mata. Rasa sakit di dada tak dihiraukan, hatinya lebih merasakan dari itu.
"Calon anakmu sudah meninggal di dalam perut istrimu, jadi dokter melakukan operasi Cesar untuk mengeluarkannya."
Langit bergeming mendengar penjelasan Mamak, masih terdengar isak tangisan.
"Sudah tiga jam kami menunggu kamu sadar. Mamak dan ibunya Bening belum melakukan pemakaman, kami menunggu kamu atau Bening sadar agar salah satu dari kalian ada yang melihat calon anak kalian."
Langit membuka mata. "Di mana calon anakku, Mak?"
__ADS_1
Mamak berjalan keluar untuk memberitahu Mama Has dan memintanya masuk.
"Lang." Baru memasuki ruangan, Mama Has kembali terisak, tubuhnya terlihat lemas. Bibik menyangga bayi itu supaya tidak terlepas dari tangan Mama Has.
Mama Has mendekatkan bayi tanpa nyawa itu di depan calon ayahnya. Tentu saja membuat Langit kembali terisak.
'Sayang, kamu yang selalu ayah perjuangkan. Dari awal kehadiranmu ayah selalu memperjuangkan hak mu untuk tetap tumbuh di rahim ibumu meski ibumu sendiri gak ingin kamu hidup. Kenapa kamu gak mau bertahan, Nak? Maafin ayah yang buat kamu pergi.'
Mama Has meletakan bayi itu di samping Langit. Pria yang dipasang alat medis hampir di sekujur tubuhnya tak bisa berbuat apa-apa, bergerak pun kesulitan. Langit mengecup kening calon anaknya. 'Kamu pilih nyerah dan ninggalin kami. Maafin ibumu yang gak menerimamu di awal kehadiranmu. Ayah ikhlas, Nak. Tidur yang tenang di samping nenekmu. Setelah ayah sembuh, ayah akan dateng ke rumah barumu.'
Langit memandang Mama Has dan mengangguk. "Lang udah ikhlas, Ma," ucapnya lirih.
"Dia sangat cantik. Wajahnya mirip denganmu, Lang," ujar Mama Has terdengar sesak.
Langit mengangguk dan kembali meniti wajah calon anaknya. Betapa dia akan menjadi bayi menggemaskan jika umurnya tidak sesingkat ini.
"Kamu yang sabar, Lang. Semua yang terjadi atas takdir dari-Nya. Jangan menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan siapapun. Musibah ini tidak ada yang menyangka. Mungkin, Allah, punya rencana indah. Tabah dan ikhlas, insyaallah hatimu tidak akan larut dalam penyesalan," sela Mamak.
Langit mengangguk meski hatinya masih sulit menerima, tapi dia tetap menyembunyikan perasaanya.
"Kamu ikhlas jika calon anakmu dimakamkan sekarang?"
"Ikhlas, Ma." Langit memandang Mama Has. "Apa istriku belum sadar?"
Mama Has menggeleng.
"Walau belum sadar, tolong antar bayiku menemui ibunya," pinta Langit.
Mama melihat ke arah Mamak, meminta pendapat dan langsung mendapat anggukan.
__ADS_1
Sebelum Mama Has kembali menggendong bayi mungil itu Langit mencium kening anaknya untuk terakhir kali. Dalam hati terus mengucap kata maaf karena tidak bisa lagi memperjuangkan kehidupan anaknya. Allah, lebih sayang pada calon anaknya.