Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan

Terpincut Abang Tukang Bakso Tampan
Hubungan baru


__ADS_3

Deg ....


Tatapan Bening terpaku menyorot pada netra Langit. Meyakinkan diri sendiri bahwa pria itu tak serius dengan ucapannya. Langit yang dikenal tak seperti ini. Dia pria baik dan selalu sabar menghadapi sikapnya. Pria mengenakan jaket hitam itu hanya becanda, ya ... semacam prank!!!


"Rengit, kamu gak serius, kan?! Ba-barusan cuma becanda, kan?!" Suara Bening tercekat.


Langit membalas dengan tatapan sendu. "Saya serius, Mbak!"


Deg ....


Jantung Bening seolah terhenti. Tidak! Dia benar-benar tidak mengira Langit memiliki pemikiran demikian. Netra Bening memanas, kristal bening menggenang di pelupuk mata. Hati terasa sakit dan sesak. Dia menggigit ujung bibir dengan kuat, tak tahu harus bagaimana.


"Mbak bakal bahagia dengan____" ucapan Langit terpotong suara Bening.


"Stop!!! Kamu gak usah sok tau saya bahagia dengan siapa!" Bening memekik tertahan. "Kamu gak tau kalau saya mulai bahagia dengan kamu? Kamu gak tau kalau saya mulai terbiasa dengan kehadiranmu. Dan ... kamu gak tau kalau kebahagiaan saya cuma denganmu!" Tangis yang ingin ditahan, tapi pada akhirnya tumpah ruah membanjiri pipi. Hati tak mampu menahan kesakitan. Menyangkal. Ini bukan kenyataan, tapi halusinasi. Jika akhirnya Langit akan pergi, seharusnya pria itu tak usah kembali.


"Dan, kamu gak tau, kalau pada akhirnya saya ...." Dalam isak tangisnya Bening berkata lirih. Namun, terlihat ragu untuk melanjutkan.


"Saya apa, Mbak?" pancing Langit.


"Saya ... sa-saya udah kepincut sama tukang bakso," lanjut Bening cepat.


Perempuan yang tadi terisak kini menahan malu di antara kesedihannya. Merasa terpojok dan kepepet, dia memberanikan diri mengungkap isi hati. Sudah demikian tapi Langit justru mengerutkan dahi.


"Rengit!"


"Hem?!"


"Kamu diem aja?!"


"Mbak kepincut sama tukang bakso mana?"


"Apa maksud kamu!!" tangis Bening terhenti. "Jangan-jangan kamu gak maksud?!"


Langit menggeleng.


"Hua ....!!!" Bening sangat kesal. Padahal dia sudah menahan malu setengah mati. "Tukang bakso yang saya maksud tadi, ya, kamu! Saya ... baru sadar kalau ternyata ... saya suka sama kamu." Sangat gamblang Bening mengungkap isi hati. Rasa malu dan ego disingkirkan karena tak mau kehilangan Langit lagi.


Satu bulan tanpa pria itu, rasanya sangat kehilangan. Apalagi jika Langit benar-benar memutuskan hubungan pernikahan mereka, dan pergi sejauhnya ....


"Mbak suka sama saya?!" tanya Langit amat sangat tak percaya. Dia menunjuk diri dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Bening mengangguk dengan setetes air mata jatuh membasahi pipi. Ada kejujuran di matanya.


"Mbak ngigau, nih! Atau karna demam tinggi makanya ngelantur. Oh, atau jangan-jangan Mbak amnesia?"


"Langit! Berhenti bercanda! Saya beneran cinta sama kamu! Jangan katakan lagi, kalau bahagia saya dengan orang lain. Kamu salah! Karna bahagia saya hanya sama kamu! Jangan relakan saya untuk pria lain. Karna saya gak mau! Saya maunya sama kamu, Langit!" Bening tersedu-sedu.


Langit diam mendengar pengakuan Bening. Bahkan pria yang masih terlihat tampan meski baru bangun tidur itu menyembunyikan rasa bahagianya. Baru ini wanita yang dinikahinya memanggil namanya dengan benar. Mungkin hal sepele, tapi hati Langit bahagia.


"Kamu udah baca semua pesan saya harusnya tau isi hati saya."


"Tapi, Mbak!"


"Saya gak mau dengar kata tapi-tapian. Saya yakin kamu juga punya rasa seperti yang saya rasakan. Iya, kan?!"


"Kalo saya bilang enggak!" kata Langit.


Bening menatap lekat dua bola mata Langit, hidungnya kembang kempis, lalu beberapa saat kemudian Bening bangkit dan menekuk kedua lutut untuk dijadikan tumpuan. Dia kembali menumpahkan tangis.


"Mbak ...." Langit menggenggam telapak tangan Bening dengan hati-hati.


Bening menggeleng. "Pergilah! Menghilanglah saat mata saya gak melihat. Saya anggap semua ini hanya mimpi. Biar semua kembali seperti kemarin. Saya terlambat menyadari perasaan saya. Saya ...."


Tiba-tiba tubuh Bening merasakan dekapan hangat yang pasti berasal dari pelukan Langit. Karena tak ada siapapun di ruang itu.


"Ssssttttt ...."


"Pergi Rengit! Pergi!!! Saya gak mau liat kamu pergi! Saya gak akan sanggup ...."


"Saya gak akan pergi kemanapun, Mbak." Langit membimbing kepala Bening untuk menyandar di da danya.


Terdengar isak tertahan.


"Bagaimana saya pergi, jika jantung saya berada di sini." Langit tersenyum.


"Maksud kamu?!" Perlahan Bening merubah posisi. Dia mendongak.


"Sekarang saya udah yakin kalo Embak emang cinta sama saya. Saya tadi cuma ngetes. Pesan yang Mbak kirim kemarin benar atau hanya emosi sesaat. Barusan Mbak mengatakan semua isi hati Embak, dan sekarang saya udah percaya."


"Rengit! Kamu jahat!!!" Tangis Bening lebih keras dengan memukuli da da Langit.


"Au', au'!!!" Langit mengaduh dengan tertawa lebar.

__ADS_1


"Jadi ... kamu cuma ngerjain saya?"


"Bukan ngerjain, Mbak. Lebih tepatnya meyakinkan. Bener gak, Mbak suka sama saya. Atau, Mbak cuma sedih aja pas saya pergi. Menurut saya, sulit dipercaya, seorang Mbak Bening, perempuan dengan karir cemerlang, bisa suka dengan tukang bakso seperti saya. Dalam mimpi aja saya takut membayangkan."


"Alah, lebai-lebai! Dah lah, gak usah begitu. Apapun bisa terjadi. Saya juga gak tau bagaimana bisa suka sama kamu. Tapi, kamu pergi gak ada kabar rasanya nyiksa banget."


"Aduh, Mbak juga lebai-lebai! Baru juga pergi gak ada sebulan dah kek disiksa apaan."


"Kamu gak ngerasain kek saya."


"Kata siapa saya gak ngerasain. Yang saya rasain lebih dari yang Mbak rasain."


"Mbak!"


"Hem?!"


"Boleh saya peluk Embak lagi?"


"Rengit!" Bening memukul lengan pria di sampingnya hingga mengaduh kesakitan. "Kamu udah peluk saya tadi! Kalo mau peluk ya peluk aja, gak sah nanya! Kan saya malu!"


Langit justru menertawai sikap malu-malu Bening.


"Asik, dah boleh peluk-peluk, nih." Langit kembali memeluk seperti tadi. Bibirnya tertarik untuk menerbitkan senyum lebar. Sama halnya dengan Bening, dia melingkarkan tangan di pinggang Langit. Meski awalnya canggung, tapi lama-lama sangat nyaman. Kehangatan Langit merasuki jiwanya.


"Ehem ...." Ternyata Mama Has sudah berdiri di depan pintu, tak sendirian, karena di sampingnya ada dua perawat yang juga fokus ke brankar Bening. "Sus, sepertinya kita salah waktu," ucap Mama Has dengan tersenyum.


Bening segera menarik tangannya dari pinggang Langit. Malu sudah ke greb dengan Mama Has dan perawat.


Langit bergeser tapi tangan sebelahnya masih berada di pundak Bening.


"Ma ...."


"Sus, sepertinya mereka tidak kenapa-napa."


"Iya, Bu. Kami permisi." Dua perawat mengurungkan untuk memeriksa Bening. Keduanya berbalik dan pergi.


"Heem. Ada yang sudah baikan, ya. Yang sakit langsung sembuh karna dokter hatinya sudah dateng," seloroh Mama Has mendekat.


"Mama, ih!" sahut Bening malu.


"Bener-bener mujarab obat penawar rindumu, Lang. Adek langsung sembuh gitu."

__ADS_1


Langit ikut tersenyum malu.


"Selamat menjalani hubungan baru, ya."


__ADS_2